Karena Semua Ada Hikmahnya

12 Juli 2012
Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barangsiapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya
-HR. Tirmidzi-
Kini, mari kita sejenak menengok sejarah kita di belakang. Kita mundur kembali ke masa Daulah Bani Umayyah. Saat itu hiduplah seorang lelaki yang tinggal di Bashrah. Ia merupakan salah satu komandan perang bawahan Ubaidillah bin Ziyad (gubernur Kufah dan Bashrah). Suatu hari lelaki itu jatuh dari atap rumahnya hingga menyebabkan kedua kakinya patah. Tak ayal, hal itu merupakan musibah yang berat bagi sang komandan. Bayangkan, sebelumnya ia adalah seorang komandan perang yang gagah perkasa, namun dalam sekejap berubah menjadi seorang yang bahkan berdiri saja tidak bisa.
Maka Abu Qilabah datang untuk menjenguknya, ia berkata pada sang komandan, “Aku berharap semoga engkau mendapatkan kebaikan.” Ia menjawab, “Wahai Abu Qilabah, kebaikan apa yang didapatkan dari dua kakiku yang patah semua?” Abu Qilabah menjawab, “Apa yang tertutupi dari dosa-dosamu jumlahnya akan lebih banyak.

Setelah tiga hari berselang, tiba-tiba datanglah surat dari Ubaidillah bin Ziyad yang memerintahkan untuk ikut berperang bersamanya melawan Husain. Ia berkata kepada utusan Ibnu Ziyad, “Apakah engkau tidak melihat apa yang menimpa diriku?” akhirnya sang komandan perang ini pun absen dalam memenuhi perintah atasannya.
Tak lebih dari seminggu berlalu, datang kabar mengenai terbunuhnya Husain bin Ali. Maka lelaki yang patah kedua kakinya itu berujar, “Sungguh benar apa yang dikatakan Abu Qilabah. Semua ini (musibah dua kakinya patah) menjadi kebaikan buat diriku (sehingga tidak ikut membunuh Husain)[1]
-----00000-----
Orang yang baik maupun yang jahat tidak akan terlepas dari yang namanya musibah, demikian pula orang beriman atau yang tidak. Bedanya, orang yang beriman senantiasa menghadapi musibah dengan ridha dan ketenangan yang memenuhi hatinya, lantas membawanya kepada Allah, karena dia tahu apa yang menimpanya tidak akan meleset dan yang Allah jauhkan tidak pernah menimpanya. Karena sesungguhnya sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang yang beriman adalah ridha atas kehendak Allah yang menimpa dirinya.
Mereka yang ridha adalah yang dapat menghayati hikmah dan kebaikan Dzat yang mendatangkan ujian, dan mereka pun tidak berburuk sangka kepada-Nya. Bila kita telah meminta kepada Allah, lalu Allah justru memberikan kita yang lain yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka yakinlah firman Allah,
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216)
Menuai Hikmah Lewat Ridha
Ridha adalah berlapang dada atas ketetapan Allah dan membiarkan keberadaan rasa sakit, walau ia merasakannya. Keridhaannya meringankan deritanya karena hatinya telah dipenuhi oleh ruh keyakinan. Bila ridha semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita.
Dengan ridha inilah seorang hamba mampu memetik faidah yang banyak. Diantaranya,
Yang pertama, ia mengimani takdir Allah atas seluruh hamba-Nya.
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan takdirnya” (QS. Al Qamar: 49)
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan: 30)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah mati, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk[2]
Bila seorang hamba ridha atas apa yang menimpa dirinya, maka hal ini adalah salah satu buah keimanan kepada takdir Allah. Ia percaya bahwa yang menimpanya tidak lepas dari takdir Allah.
Yang kedua, menumbuhkan keyakinan kepada Allah.
Ingatlah firman Allah,
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216)
Sama halnya seperti kisah seorang komandan perang yang telah disajikan di atas. Ketika seorang hamba ridha, maka seharusnya yang ia lakukan ialah yakin bahwa hal itulah yang terbaik baginya. Meski pun awalnya ia menangisi musibah tersebut, mungkin suatu saat nanti ia akan mensyukuri apa yang menimpanya.
Di tahun 2000-an di sebuah perusahaan, ada seseorang yang sudah hampir dilantik menjadi kepala unit di kantornya. Upacara pelantikan tersebut sudah siap, sang calon kepala unit ini pun sudah siap dengan setelan lengkap dan rapi, keluarga di rumah pun sudah menyajikan hidangan spesial menyambut kenaikan pangkat tersebut. Namun ternyata yang terjadi beberapa menit sebelum pelantikan adalah adu mulut antara yang ingin dilantik dengan direkturnya. Akibatnya, pelantikannya pun tak jadi. Keluarga di rumah menyesal dengan sedalam-dalamnya. “Aduh, seandainya tadi kamu gak usah debat sama direktur, pasti kamu udah jadi kepala unit”. Ya, si keluarga menangis, namun ada beberapa orang yang tetap berkeyakinan bahwa inilah jalan terbaik.
Beberapa minggu berselang, terjadi pergolakan di perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan itu. buruh-buruh dan para pekerja lapangan melakukan protes besar-besaran. Dan mereka mengincar orang yang jabatannya kepala unit sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Ya, bila seandainya orang tadi jadi dilantik, maka entah bagaimana nasibnya yang tidak tahu apa-apa tapi justru dihakimi massa.
Karena itu, sikap sebagai seorang muslim adalah yakin bahwa apa yang menimpa dirinya adalah yang terbaik menurut Allah.
Yang ketiga, Mencari Hikmah
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (hanya sia-sia saja). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS. Shaad: 27)
Inilah perbedaan antara sikap orang kafir dan orang yang beriman. Hanya orang kafirlah yang berputus asa dan menganggap apa yang terjadi adalah sia-sia. Sementara itu orang beriman adalah orang yang mau membuka matanya atas apa yang terjadi agar ia menemukan hikmahnya.
Yang keempat, berprasangka baik kepada Allah
Ketika seorang hamba mencari hikmah dan terus berharap kepada Allah bahwa yang menimpanya adalah yang terbaik baginya, maka otomatis ia sudah berprasangka baik kepada Allah.
Allah berfirman (dalam hadits qudsi),
Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang kelima, tidak membuka pintu-pintu Syaithan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Jika engkau ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan, ‘Seandanya saya melakukan demikian, tentu tidak akan begini dan begitu’, melainkan katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah. Apa yang diinginkan-Nya pasti terjadi.’ Karena ucapan ‘seandainya’ membuka peluang (pintu) perbuatan setan” (HR. Muslim)
Seorang yang ridha tidak akan mengatakan ‘seandainya...’ karena ia yakin bahwa yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah, dan ini juga termasuk kesempurnaan beriman kepada takdir.
Yang keenam, diridhai Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barangsiapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan kemurkaannya[3]
Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah –dengan keadilan dan ilmunya— menjadikan kesejahteraan dan kegembiraan pada yakin dan ridha, serta menjadikan kesusahan dan kesedihan pada keraguan dan kekesalan dan kemurkaan.”
Allah berfirman,
Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan menunjuki hatinya” (QS. At Taghabun: 11)
 Mengenai ayat di atas, Alqamah rahimahullah (wafat 62 H) berkata, “Ini tentang musibah yang menimpa seseorang yang mengerti bahwa musibah itu datang dari Allah, lalu ia pasrah kepada Allah dan ridha[4]
Nasihat dan Kata Mutiara Salaf Mengenai Ridha
Abu Darda berkata, “Sesungguhnya jika Allah menetapkan sesuatu, Dia senang jika diridhai”
Ibnu Aun berkata, “Seorang hamba tidak akan dikatakan betul-betul mencapai derajat orang yang ridha, sebelum keridhaannya dengan kefakiran seperti keridhaan dia dengan kekayaan. Bagaimana kamu layak meminta keputusan Allah untuk urusanmu, kalau kamu merasa marah pada takdir-Nya yang tidak sesuai dengan kemauanmu. Padahal mungkin saja yang kamu inginkan itu, bila Allah takdirkan untuk menjadi milikmu, justru akan membinasakanmu. Demikian juga ketika kamu hanya ridha dengan takdir-Nya, bila sesuai dengan kemauanmu, kamu tidak akan disebut bijak dan tidak akan mencapai derajat orang-orang yang ridha”[5]
Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ridha adalah pintu Allah yang terbesar, surga dunia, dan tempat istirahatnya para ahli ibadah”
Hasan Al Bashri berkata, “barangsiapa ridha terhadap bagiannya, Allah akan meluaskan dan memberkahinya. Begitu pula sebaliknya”
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku tidak lagi memiliki kebahagiaan selain menerima apa yang ditakdirkan bagiku”[6]
Kesimpulan: Seluruh yang menimpa seorang hamba pasti ada hikmahnya dan berbuah kebaikan bila hamba itu ridha atas ketetapan Tuhannya.
Wallahu a’lam
Sumber penulisan:
Al Qur’an Al Karim
Aina Nahnu min Akhlaq As Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al Jalil dan Bahauddin bin Fatih Uqail. Edisi Indonesia: Belajar Etika Dari Generasi Salaf. 2005. Jakarta: Darul Haq
Fatawa Tata'allaqu bil Qadha wal Qadar, Dakhilullah Bukhait Al Muthrafi. Edisi Indonesia: Fatwa-fatwa Tentang Takdir. 2007. Surabaya: Pustaka Elba
Meniru Sabarnya Nabi, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali. 2009. Bogor: Pustaka Darul Ilmi
Syarah Al Kabair lil Imam Al Hafizh Adz Dzahabi, Abu Abdurrahman Adil. Edisi Indonesia: Syarah Al Kabair. 2009. Solo: Aqwam
Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kamaa Yuqarrirruhu ‘Ulama As Salaf, Dr. Ahmad Farid. Edisi Indonesia: Tazkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salafushshalih. 2010. Solo: Pustaka Arafah.
Bogor, 12 Juli 2012. Diselesaikan ba’da ashar
Artikel Cafe Sejenak






[1] Shifatush Shafwah, 3/238
[2] HR. Bukhari (50), Muslim (1009)
[3] HR. Timidzi dalam Az Zuhd VII/77. Beliau berkata “Hadits Hasan Gharib”. As Suyuthi menghasankannya dalam Al Jaami’ Ash Shaghir II/459
[4] Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kamaa Yuqarrirruhu ‘Ulama As Salaf, Dr. Ahmad Farid
[5] Shifatush Shafwah, 3/311
[6] Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kamaa Yuqarrirruhu ‘Ulama As Salaf, Dr. Ahmad Farid

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar