Cinta dan Nikmatnya Dunia

23 November 2010

            Sebenarnya, mengapa banyak orang merasa nikmat ketika sedang jatuh cinta? Bahkan entah sudah berapa banyak lagu dan lirik picisan yang dibuat untuk menggambarkan indahnya percintaan itu. Cinta saat ini sudah banyak dipuja, terutama oleh kawula muda.
            Namun, rupanya keindahan cinta yang mereka lihat itu hanya sedikit yang mampu menjabarkan keindahan cinta tersebut. Keindahan yang mereka gambarkan hanyalah keindahan semu yang hampir disuguhkan di tiap roman picisan. Sebenarnya, apa esensi dari keindahan cinta tersebut? Dan bagaimana mewujudkan keindahan cinta itu dalam kenyataan hidup yang kita lalui?
            Ibnul Qayyim al-Jauziyah, salah seorang ulama yang juga ‘dokter hati’ punya penjelasan yang sangat baik tentang indahnya cinta dalam hati manusia. Hal ini dimuat dalam salah satu kitabnya yang termasyhur, ad-Daa’ wa ad-Dawaa’.
            Seharusnya, ada dua hal yang harus diperhatikan oleh setiap insan yang berakal. Yaitu sempurnanya kelezatan, kegembiraan, kesenangan, kenikmatan hati, dan keceriaan itu mengikuti dua perkara,
            Yang pertama, kesempurnaan dan keindahan dzat yang dicintai, yakni kecintaan kepadanya lebih diutamakan dibandingkan terhadap selainnya.
            Ini namanya awal mula cinta. Cinta itu akan tumbuh dihati seseorang apabila keindahan itu ada pada yang dicintainya.
            Hal ini tentu sudah banyak terjadi di kehidupan sehari-hari. Di mana banyak manusia terlena oleh keindahan lawan jenisnya. Menjadikan hatinya tertambat terus mengikuti tiap langkah sang pujaan hati.
            Hal inilah yang membuat cinta itu indah namun semu. Karena memang, keindahan wajah atau bentuk tubuh lawan jenisnya bisa jadi membutakan matanya akan keindahan lain yang seharusnya ia lihat dan ia syukuri.
            Yang kedua, Kesempurnaan cinta kepadanya, berupaya keras mencintainya, dan mengutamakan kedekatan dengannya di atas segala sesuatu.
            Ini namanya totalitas cinta. Di mana kita benar-benar merealisasikan benuk rasa cinta kita kepada yang dicintai. Rasa cinta ini akan terus menyita banyak waktu dan menguras banyak tenaga. Demi sebuah penilaian di mata yang dicinta.
            Hal ini tentu dipandang indah oleh orang yang sedang kasmaran, menumbuhkan adanya romantisme berbalut dilema demi cinta. Tapi sayang, entah sudah berapa banyak orang yang tersesat lantaran hal ini.
            Cinta dan Kelezatan Dunia
            Cinta dipandang sebagai pelezat dan penyedap dunia. Dan hal itu memang tidak bisa dipungkiri. Karena memang, dunia tanpa cinta itu bagaikan sayur tanpa garam: hampa.
            Namun, tahukah anda bahwa sesungguhnya kelezatan dunia itu dibagi tiga. Kelezatan dunia itu antara lain:
            Yang pertama, kelezatan yang terbesar dan paling sempurna, yaitu sesuatu yang mengantarkan kepada kelezatan akhirat, karena manusia mendapatkan pahala seutuhnya atas kelezatan tersebut.
            Kelezatan dunia yang diraih karena totalitas cinta dan berujung pada kelezatan akhirat. Mungkinkah hal itu terjadi?
            Tentu saja! Bahkan generasi salafusshalih telah mencontohkannya kepada kita. Karena mereka adalah print-out dan bentuk nyata rasa cinta yang membuat dunia indah dan bermuara pada kenikmatan akhirat.
            Masihkah kita ingat tentang bagaimana cinta menyatukan kaum muhajirin dan anshar? Menyatukan para pendatang dan para penolong? Menyatukan antara kaum Aus dan Khazraj? Dan mereka akhirnya hidup saling melengkapi satu sama lain. Mewujudkan sebuah harmoni yang indah tentang kehidupan.
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung
(QS al-Hasyr: 9)
            Yang kedua, kelezatan yang menghalangi kelezatan akhirat dan menyebabkan kepedihan yang jauh lebih besar daripada kelezatan tersebut.
            Hal ini adalah kelezatan yang semu dan tiada artinya. Hanya kelezatan sesaat yang mengundang kepedihan di akhirat. Merekalah yang mencintai ‘berhala-berhala’ dan tidak mencintai Allah. Mereka tidak mencintai kebenaran yang datang dari Rabbnya dan mereka lebih mencintai kenikmatan sesaat yang menipu mereka di dunia.
Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami." Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)." Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.
(QS Al-An’aam: 128-129)
            Pada hakikatnya, kelezatan tersebut hanyalah istidraj (tipu daya) yang agar nantinya mereka merasakan kepedihan yang paling dahsyat.
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.
(QS Al-A’raaf: 182-183)
            Yahya bin al-Mutsanna (riwayat Abusy-syaikh dalam ad-Durrul Mantsuur) menafsirkan bahwa “setiap kali mereka melakukan dosa, maka Kami memberikan kenikmatan pada mereka”.
            Cinta itu memang indah, namun hati-hati terhadap buah cinta itu sendiri. Bisa jadi buah itu manis, atau mungkin menjadi sangat pahit.
            Cinta yang semu, yang ujungnya tidak jelas, memang di awal terlihat manis. Merayu dan menggoda banyak hati manusia untuk turut menikmatinya. Namun sayang, hal inilah yang justru sangat berbahaya. Tidakkah kita ingat fenomena perzinahan di zaman, di mana setiap pelakunya ingin merasakan ‘manisnya’ cinta mereka. Tapi apa yang mereka dapat? Sebuah kehinaan yang nyata.
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
(QS Al-An’aam: 44-45)
            Yang ketiga, kelezatan yang tidak menyebabkan kepedihan atau kelezatan di negeri abadi, juga tidak menghalangi kelezatan akhirat meskipun menghalangi kesempurnaannya.
            Inilah yang isebut kelezatan yang mubah namun tidak menolong untuk mendapatkan kelezatan akhirat. Waktu kelezatan ini amat sedikit hingga jiwa tersibukkan oleh perkara lain yang lebih baik serta lebih bermanfaat.
            Hal ini seperti sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
Setiap permainan yang dimainkan oleh seorang lelaki adalah kebathilan, kecuali melepaskan anak panahnya dengan busur, melatih kudanya, dan mencandai isterinya. Semua itu termasuk kebenaran
(Hadits Shahih, ditakhrij dalam Juz Ittiba’ as-Sunan karya adh-Dhiya’ al-Maqdisi)
            Wallahu a’lam
            -Disarikan dari kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ dalam Bab Al-‘Isyq (mabuk asmara) karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah-

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar