Membangun Identitas Peradaban

12 Desember 2010
Bukankah sebagai seorang muslim, maka kita harus memiliki sebuah identitas? Layaknya seorang pelajar yang tengah menghadapi ujian nasional. Apabila ia tidak memiliki tanda pengenal, kartu peserta, atau suatu hal yang menunjukkan identitasnya, maka apa yang terjadi? Bisa jadi pelajar itu tidak bisa mengikuti ujian nasional, minimal akan dipersulit.
            Begitu pula dengan kita, kaum muslimin. Sesungguhnya kita hidup di dunia ini adalah ujian. Dan apabila kita hidup tanpa suatu tujuan yang jelas, tanpa sebuah identitas yang menunjukkan “siapa kita, siapa mereka” di mata Allah dan di hadapan seluruh makhluk, maka apakah kita akan meraih sebuah hasil yang memuaskan? Hasil dari perjuangan, ibadah, dan kerja keras kita di dunia seumur hidup kita. Maka apakah kita mau nanti menjadi orang yang merugi? Na’udzubillah min dzalik.
            Sesungguhnya kita adalah ummat yang beradab, berhasil membangun sebuah peradaban terbesar yang pernah dikenal oleh sejarah. Tentunya, kita memiliki cara hidup sendiri bukan?
            Kita punya tanda pengenal, dan tanda pengenal kita adalah akhlak dan adab. Seorang yang dari lahirnya saja sudah berkelakuan buruk, maka itulah identitasnya. Sebagai orang yang tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain. Lain lagi dengan seseorang yang memiliki perangai yang lemah lembut, ramah, dan bersahaja. Maka bukankah ia telah menjadi seorang insan yang baik? Yang telah mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia
(HR Thabrani dan Daruquthni, dishahihkan oleh Al-Albani)
          Don’t Judge a Book by It’s Cover?
            Sering kita mendengar pernyataan itu. Benarkah demikian? Sebenarnya, perbuatan kita, kelakuan kita, akhlak, adab, dan perangai kita yang tampak lahirnya adalah cerminan diri kita dari dalam.
            Akhlak Tercermin dari Sikap Refleks
          Sadar atau tidak, sebenarnya akhlak itu tercermin dari reaksi refleksnya terhadap sesuatu. Seseorang bisa saja tampak baik dalam keadaan biasa, tetapi ketika dihadapkan kepada salah satu hal yang mampu membuat ia refleks, maka sikap refleks itulah yang benar-benar ada pada bagian terdalam dirinya.
            Sebagai contoh, seseorang terlihat baik ketika di jalan. Tetapi ketika tiba-tiba ia ditusuk duri (atau apa pun yang menyebabkan ia gerak refleks), maka terdengarlah umpatan-umpatan dari mulutnya. Hal itu tentu merupakan pelajaran. Bahwa kita harus tetap menjadikan akhlak kita terjaga. Jangan sampai dirasuki oleh gelapnya akal.
            Beradablah!
            Seperti yang telah diuraikan, bahwa adab dan akhlak adalah identitas kita yang sebenarnya sebagai seorang muslim. Namun, di zaman sekarang rupanya adab itu telah banyak dilupakan.
            Pantaslah bila disebut bahwa zaman sekarang adalah zaman yang biadab (zaman tanpa adab). Nilai-nilai peradaban yang luhur ditinggalkan, pakaian yang bernama rasa malu itu telah ditanggalkan dan manusia telah banyak mengenakan pakaian hedonisme, sebuah sampah peradaban.
            Dalam sejarah sebenarnya telah jalas. Peradaban mana yang menang. Peradaban berakhlak mulia atau peradaban tanpa malu. Penaklukkan Iraq, Mesir, dan Palestina di zaman Umar, penaklukkan Pulau Siprus di zaman Utsman bin Affan, hingga jatuhnya Konstantinopel di tangan Muhammad al-Fatih. Telah membuktikan pada kita bagaimana peradaban yang berlandaskan akhlakul karimah, yang terikat dalam satu aqidah, yang bersatu dalam kuatnya ukhuwah, berhasil menumbangkan kebudayaan dan peradaban yang dibangun tanpa akhlak, yang berlandaskan akal, dan yang hidup dalam kenistaan.
            Peradaban dengan akhlak itu telah berhasil mewujudkan dunia yang maju pesat. Bertengger di puncak kekuasaan selama 13 abad.
            Namun, peradaban yang kuat itu akhirnya runtuh. Akibat banyaknya penyelewengan dan banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat dan pejabatnya.
            Di akhir masa Utsmaniyah berkuasa, negara saat itu tengah kolaps. Dengan berbagai korupsi merajalela. Menjadikan negara itu sebagai “Sickman of Europe”. Selain itu, perdagangan terlarang merajalela. Impor serta penyelundupan rokok dan miras marak terjadi. Hingga membuat generasi muda Turki bejat moralnya. Dan akhirnya apa? Utsmani dirongrong oleh gerakan Turki muda, dan benar-benar runtuh karena aksi Mustafa Kemal Attaturk yang terkenal dengan akhlaknya yang jelek.
            Padahal beberapa abad sebelumnya, peradaban itu maju pesat. Didukung oleh generasi emas yang memiliki adab, akhlak, dan tingkah laku yang luar biasa baiknya. Generasi mudanya seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Zaid bin Tsabit. Generasi tuanya sebijak Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Bukankah mereka adalah pembesar dunia dan akhirat? Yang memiliki akhlak yang begitu mempesona, hingga dunia pun bertekuk di hadapan mereka.
            Kesimpulannya, jadilah generasi beradab, karena dari adab itulah sebuah peradaban bermula.
            Wallahu a’lam.   

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar