Mengenal Siapa Sebenarnya Ibnu Sina dan Penyimpangannya

18 September 2011
Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu
-Ibnu Sina-
Siapa yang tak mengenal Ibnu Sina? Seorang saintis timur tengah juga menjadi kebanggaan kebanyakan kaum muslimin saat ini. bagaimana tidak, penguasaannya di bidang pengetahuan dan keahliannya di bidang iptek tidak lagi menjadi perdebatan. Pengaruhnya yang luar biasa besar diakui hingga ke dunia Barat. Sampai-sampai buku karangannya dijadikan buku teks kedokteran dan pengetahuan lain di Eropa hingga berabad-abad lamanya.
        Ibnu Sina memang luar biasa, namun siapa yang menyangka bahwa ia bukanlah seorang ulama Islam melainkan hanya saintis. Siapa yang menyangka bahwa di balik kelihaiannya dalam menyembuhkan orang ternyata ia memiliki virus yang bisa meruntuhkan aqidah Islam.

          Biografi Singkat
          Bernama lengkap Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Lahir di Afsyahnah (Uzbekistan) pada 980 M dan wafat 1037 M. Menghapal Qur’an semenjak muda namun bersentuhan pula dengan pemikiran Aristoteles dan Al Farabi. Mengarang berjilid-jilid buku yang kebanyakan bertemakan kedokteran dan filsafat. Menguasai hampir seluruh bidang pengetahuan sehingga dijuluki Syaikhur Rais. Hingga seorang sejawahwan dari Belgia menyatakan tentang pribadi Ibnu Sina,
Ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu
-George Sarton-
          Bukunya yang paling terkenal adalah Al Qanun fi At Thibb atau dikenal juga sebagai The Canon of Medicine tentang kedokteran. Sementara itu bukunya yang menyoroti filsafat adalah Kitab Asy Syifa An Nafs dan dikenal di Eropa pertengahan dengan nama Sufficietia, dan Kitab Al Isyarat wa at Tanbihat.
      Sempat menjadi dokter penguasa di Bukhara dan di akhir hayatnya Ibnu Sina disebut-sebut menjadi guru di sebuah sekolah di Hamadan, Iran.
          Pendapat Ulama Mengenai Ibnu Sina
         Al-Ghazali menkafirkan Ibnu Sina dan Al Farabi dalam bukunya, Al Munqidz min Adh Dhalal. Dalam bukunya yang lain, At Tahafut Al Falasifah, beliau membantah Ibnu Sina dalam dua puluh majelisnya. Ada tiga poin yang ia sebut sebagai kekeliruan dan kesesatan para filsuf yang mengaku Islam,
          Yang pertama, Alam ini dahulu
          Yang kedua, tidak ada tempat kembali bagi jasmani
      Yang ketiga, sesungguhnya Allah tidak mengetahui hal-hal yang sifatnya juziyyah (partikel kecil)
          Adz Dzahabi dalam Mizanul I’tidal berkata,
        “Saya tidak mengetahui kalau dia meriwayatkan sesuatu dari ilmu dan seandainya dia meriwayatkan, belum pasti riwayat itu darinya, karena dia adalah filosof aliran yang sesat”
          Ibnu Hajar menukil dari Adz Dzahabi dalam kitab Al Lisan,
          “Allah tidak ridha padanya”
      Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitabnya, Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wa An Naql, tentang aliran ahli bid’ah dalam menyikapi nash-nash para nabi:
          Yang pertama, aliran Tabdil (perubahan): pembuat takhayul, tafriif (penyelewengan), dan ta’wil.
          Yang kedua, aliran tajhil (pembodohan)
    Para pembuat takhayul adalah mereka yang mengatakan bahwa para nabi menceritakan tentang Allah dan hari akhir. Disebutkan, bahwa Ibnu Sina berjalan di atas metode ini kemudian dia menulis karya Al Adhhuwiyah.
          Dia berkata di akhir ucapannya, “sesungguhnya mereka mengatakan, bahwa para nabi sengaja memahamkan orang banyak dengan cara berdusta dan berbuat batil untuk kemaslahatannya dan syaikhul Islam menganggap mereka itu filosof yang kafir”
          Dalam kitabnya yang lain, Al Istiqamah, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa Ibnu Sina adalah shabiah (penyembah bintang) yang mencampuradukkan agama dengan filsafat.
          Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan tentang kerancuan filosof secara umum dan Ibnu Sina secara khusus, “Ibnu Sina adalah seorang lelaki yang mu’atthil (meniadakan sifat-sifat Allah), musyrik, menginkari kenabian, serta tidak percaya dengan adanya awal permulaan, akhirat, rasul, dan tidak memercayai kitab suci”
          Dalam kesempatan lain, Ibnul Qayyim berkata, “Ibnu Sina sebagaimana yang diberitakannya sendiri pernah mengatakan, ‘aku dan ayahku termasuk pengikut ajakan penguasa’, sedangkan penguasa saat itu termasuk pengikut Qaramithah (Syi’ah) yang tidak percaya dengan permulaan, tempat kembali (akhirat), Tuhan pencipta, rasul yang datang dan diutus dari sisi Allah”
          Dan di tempat lain, Ibnul Qayyim menyebutkan, “Ibnu Sina adalah pemimpin orang-orang mulhid (kafir/menyimpang/tidak percaya pada Tuhan)”. Beliau berkata juga, “kesimpulannya, orang-orang mulhid ini serta para pengikutnya dari kaum mulhid adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari akhir”
          Imam Ibnu Shalah ditanya tentang kelompok dari kaum muslimin yang menisbatkan diri pada ahli ilmu dan tasawuf. Apakah boleh bagi mereka menyibukkan diri dengan karya tulis Ibnu Sina dan menelaah buku-bukunya, apakah boleh bagi mereka berkeyakinan bahwa dia itu ulama atau bukan? Imam Ibnu Shalah menjawab,
          “Hal itu tidak boleh bagi mereka dan barangsiapa berbuat demikian, maka dia telah menipu agamanya dan akan terbuka fitnah yang besar. Dia tidak termasuk ulama, bahkan ia adalah salah satu setan dari setan-setan manusia. Dia berada dalam kebingungan dalam banyak hal”
          Kesimpulan
         Setelah membaca uraian di atas, maka sudah sepatutnya kita sadar bahwa Ibnu Sina bukanlah orang yang berjalan di manhaj salafushshalih atau Ahlussunnah wal Jama’ah. Kita tahu dan harus mengakuinya bahwa beliau adalah salah satu manusia jenius yang menyumbang banyak dalam ilmu pengetahuan. Namun bukan berarti ia adalah panutan kita sepenuhnya. Ambil yang baik dan buang yang tidak baik. Hendaknya kaum muslimin tidak sepenuhnya mengidolakan atau membangga-banggakan beliau. Sesungguhnya beliau adalah manusia biasa yang masih banyak memiliki ketergelinciran
          Wallahu a’lam.
          Sumber Penulisan
          Buku:
         ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan, Kutubun, Akhbarun, Rijalun, Ahadits Tahtal Mijhar
          Muhammad Razi, 50 Ilmuwan Muslim Populer
          Situs:
          Id.wikipedia.org
          kolom-biografi.blogspot.com

Bogor, 18 September 2011
Artikel Cafe Sejenak


         
         

Artikel Terkait



19 komentar:

  • Menarik untuk diteliti lebih lanjut mengenai kehidupan Ibnu Sina, karena selama ini kita mengenal Ibnu Sina hanya dari mulut ke mulut yang belum tentu benar.

  • azizah nur wahidah

    O.O

  • Setahu saya, di akhir hidupnya Ibnu Sina bertaubat. Penulis perlu mencari referensi tentang taubat Ibnu Sina lagi deh.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    Saya sudah mencarinya, namun tidak ada yang menjelaskan mengenai taubatnya beliau. atau mungkin karena memang saya belum menemukan kisah tersebut. Wallahu a'lam. setahu saya seorang ilmuwan yang bertaubat sebelum kematiannya adalah Imam Al Ghazali.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    Terima kasih atas saran dan kritiknya. Jazakallah khair

  • Dihara Kosu

    @Jundullah Abdurrahman Askarillah
    Benarkah Regin Iqbal Mareza lahir tahun 1995? Jika benar maka artinya blog ini dibangun saat masih berumur 14 tahun. Hebat bener... :P

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Dihara Kosu
    Betul. Regin Iqbal Mareza lahir tahun 1995. Kenapa hebat? biasa aja kok.

  • Sudirman Priyo Utomo

    Kutip:
    Al-Ghazali menkafirkan Ibnu Sina dan Al Farabi dalam bukunya, Al Munqidz min Adh Dhalal. Dalam bukunya yang lain, At Tahafut Al Falasifah, beliau membantah Ibnu Sina dalam dua puluh majelisnya

    Kutip:
    Saya sudah mencarinya, namun tidak ada yang menjelaskan mengenai taubatnya beliau. atau mungkin karena memang saya belum menemukan kisah tersebut. Wallahu a'lam. setahu saya seorang ilmuwan yang bertaubat sebelum kematiannya adalah Imam Al Ghazali.

    "Anda mengambil pendapat Al-Ghazali sekaligus anda menyerang Al-Ghazali"

    "Memang benci dan cinta itu tipis sekali batasnya"

  • halaaah kampret semua cuma pada bisa komen dan cuap2 doang, tapi mana sumbangsih kalian buat agama Islam

  • Setujuu. Bicara jelek ke org yg banyak sumbangsihnya dan mengangkat nama Islam.. btw, emangnya kalian sdh bikin apa?? apa Anda2 lebih hebat dr beliau.. ?? Persoalan ibadah org itu hanya Allah Yang Maha Tahu.. kita manusia gak punya hak menilai /menjudge org lain, apalagi sekaliber Ibnu Sina..

  • Uyung Hamdani

    Perseteruan Ghazali dan Ibnu Sina bisa saja didasari atas perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, bisa saja Ghazali tidak memahami dengan utuh pokok pikiran Ibnu Sina. Diluar perseteruan itu, Ibnu Sina tetap ilmuwan yang membawa banyak perubahan untuk kedokteran dan menjadi dasar kedokteran modern. Soal keyakinan, biarlah Allah SWT yg memutuskan.

  • Salman Al Farizi

    Tolong sebutkan dalam kitab apa Al Imam Al Ghozali taubat di akhir hayatnya??? Kalau orang dengan kualitas ilmu dan amal seperti imam Ghozali dikatakan "taubat" (dari kekufuran?)...., maka saya, anda dan kita semua tdk bisa baca/posting blog atau melakukan kegiatan lainnya, KECUALI TAUBAT....

  • Satria Widiatiaga

    hnya karena Ibnu Sina dari Iran Syiah, kita tidak mengakui kehebatannya????

  • makcik melah

    memang betul hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Kita takde hak untuk judge manusia.Tapi you kena tahu mencari ilmu itu adalah jihad ke jalan Allah.tidak salah untuk mengkaji.jika penulis salah sila betul kan.one more thing can you explain me who is Ibnu Sina?the real one?kalau takde ilmu takde ilmu di dada, jangan berlagaka alim pandai.belajar dengan orang yg muktabar ilmu agamanya.terima kasih.kalau saya salah saya minta maaf.

  • makcik melah

    memang betul hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Kita takde hak untuk judge manusia.Tapi you kena tahu mencari ilmu itu adalah jihad ke jalan Allah.tidak salah untuk mengkaji.jika penulis salah sila betul kan.one more thing can you explain me who is Ibnu Sina?the real one?kalau takde ilmu takde ilmu di dada, jangan berlagaka alim pandai.belajar dengan orang yg muktabar ilmu agamanya.terima kasih.kalau saya salah saya minta maaf.

  • Gozali sempat ikut ikutan terperosok tasawuf. Mempelajari tasawuf untuk menyangkal tasawuf namun malah terperosok. Namun menjelang wafat beliau telah bertobat...pada saat wafat tangannya sedang memegang kitab bukhari muslim

  • Lisa Liestiani

    Sejarah itu untuk dibaca, dipahami, di telaah, dan diambil baik serta buang buruknya untuk kedepannya...jangan malah pada ambil kesimpulan sendiri n saling serang...rusuh banget ci org indonesia...persis banget ni posisi nya ibnu sina kayak kondisi pemerintahan dki sekarang....yang tahu kebenarannya hanya ALLAH SWT dan yg bersangkutan yg tau...xixixixi

  • Unknown

    Hari-Hari Terakhir Ibnu Sina Pada hari-hari terakhirnya, Ibnu Sina mandi, bermunajat mendekatkan diri pada Alloh, menyumbangkan hartanya untuk fakir-miskin, membela orang-orang yang tertindas, menolong orang yang lemah, memerdekakan budak, dan tekun membaca Al-Qur’an, saking tekunnya beliau bisa menamatkannya tiap tiga hari sekali. Semua itu terus ia lakukan hingga ajal menjemput. Beliau wafat di Hamadzan pada hari jum’at di bulan Ramadhan 428 H dalam usia 58 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kota tersebut dan hingga sekarang masih ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia. Sungguh besar jasa Ibnu Sina bagi umat manusia. Semoga Alloh SWT menerima amalnya dan mendapat balasan yang terbaik di sisi-Nya. Amin. Wassalamualaikum Wr Wb. Ini yg saya temukan di halaman sebelah. Benar atau tidak tolong jelaskan saya juga tidak tau

  • Download Game Android Gratis

    Informasinya sangat bermanfaat.
    Semoga Allah SWT menuntun kita ke jalan yang lurus

  • Poskan Komentar