Bagaimana Jilbab yang Benar dan Sesuai Syari'at

24 November 2012 0 komentar

“Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya”
-HR. Abu Daud dan Ibnu Majah-

Beberapa saat yang lalu di saat libur tahun baru 1434 H, penulis menyempatkan dirinya untuk pulang kampung ke Bogor. Banyak hal yang dilalui penulis selama libur tersebut, diantaranya jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di Bogor, Botani Square. Lama tidak bertemu mall selama kuliah di Surabaya, penulis merasakan kejut budaya (rasanya). Penulis melihat begitu banyak wanita berjilbab dengan berbagai hiasan-hiasan besar di atasnya. Entah itu sekedar manik-manik saja, hingga hiasan bunga yang bahkan ukurannya lebih besar daripada kepala wanita itu sendiri. Yah, itulah yang kini sering disebut hijaber. Penulis tidak tahu, apakah hijaber adalah istilah baru atau lama. Tapi yang jelas penulis merasa heran dengan adanya fenomena hijaber tersebut (disamping istilah jilbab gaul yang sudah lama terdengar gaungnya)

Semestinya memang harus disyukuri, ketika muslimah sudah memutuskan untuk mengenakan hijab sebagai sebuah bentuk pengamalan dari syariat yang mulia ini. Tetapi ketika syariat yang diturunkan dari langit itu bertubrukan dengan mode yang berkembang di kolong langit ini, maka masihkan pengamalan itu disebut murni?

Definisi, Dalil, dan Penjelasan Mengenai Sunnah dan Bid'ah

4 November 2012 0 komentar
“Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”
-HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah-
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad , beserta keluarganya, para sahabatnya, serta pengikutnya yang istiqamah di atas sunnahnya.

Hadits yang disebutkan di atas merupakan hadits yang memiliki pesan makna yang sangat dalam. Ya, apalagi untuk kita, kaum muslimin di era modern ini. Ketika kita yang hidup di zaman yang ilmu merupakan barang langka di masyarakat kita, kita yang mengaku kaum muslimin ini rasanya gampang sekali terbawa arus fitnah dunia kala ini. Dan kini ketika kita menengok kembali wasiat dari pembimbing kita, Rasulullah , di sana kita temukan wasiat untuk berpegang kepada sunnah dan menjauhi bid’ah. Namun yang menjadi masalah kita saat ini, apa itu sunnah yang harus kita pegang? Dan apa itu bid’ah yang harus kita jauhi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka simaklah pembahasannya dalam artikel ini.

Mulia Sebagai Seorang Muslim

28 September 2012 0 komentar
“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita”
-Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah-

Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata. 

Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi dengan kedudukannya merasa hina ketika turun langsung menuntun kendaraannya, Khulafaurrasyidin ini dengan ‘rendah hati’nya berjalan seorang diri, menyeberangi sungai sambil menuntun untanya.

Karena Kita Butuh Hidayah

26 September 2012 0 komentar
Kebutuhan seorang hamba pada hidayah melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu, dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas
-Imam Ahmad bin Hanbal, Miftah Daaris Sa’adah-
Sebagai seorang muslim, kita sudah seharusnya tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Ya, jika hidup tanpa tujuan maka apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita usahakan? Sesungguhnya, tujuan hidup kita di dunia ini hanya satu: Beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya,

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku(QS. Adz Dzariyat: 56)
Setelah mengetahui tujuan kita tersebut, lantas apa yang kita butuhkan? Apa yang kita perlukan untuk mencapai tujuan tersebut? Tentu saja yang kita butuhkan adalah petunjuk. Ya, bayangkan ketika seseorang berjalan menuju suatu tempat tapi tidak memiliki petunjuk arah, maka sungguh ia akan tersesat. Begitu pun hidup kita. Sebagai seorang muslim, maka tujuan kita adalah beribadah kepada Allah, dan dalam menuju tujuan tersebut, kita butuh petunjuk. Atau dalam bahasa kita disebut sebagai hidayah.

Antara Ibnul 'Arabi dan Ibnu 'Arabi

21 September 2012 1 komentar
Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?
-Ibnu 'Arabi, Al Futuhat Al Makkiyah-
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Suci Dia dari segala yang diucapkan oleh penurut hawa nafsu. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, berserta keluarganya, para shahabatnya, dan ummatnya yang istiqamah di atas sunnahnya hingga akhir zaman. Amma ba'du.
Sebuah hal yang baru bagi kami, untuk menukil sebuah perkataan yang dengan jelas menampakkan kesesatannya. Ya, perkataan itu adalah perkataan dari seorang sufi atheis bernama Ibnu 'Arabi. Ia merupakan salah satu pentolan pendukung paham wihdatul wujud (penyatuan antara Rabb dan hamba, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sangka).

Ketika Ibadah Menyelisihi Sunnah

27 Juli 2012 3 komentar
Ibadah itu tauqifiyah, maknanya ia tidak disyari’atkan sedikit pun kecuali dengan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Dan apa pun yang tidak disyari’atkan dianggap bid’ah yang tertolak
-Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan-
  Suatu hari di saat setelah terbit fajar, ada seorang lelaki yang shalat di hadapan Sa’id bin Musayyab rahimahullah (wafat 94 H). Lelaki itu shalat lebih banyak daripada dua rakaat dan ia memperbanyak ruku’ dan sujudnya. Sa’id bin Musayyab pun melarang hal tersebut, maka kemudian lelaki itu bertanya, “Wahai Abu Muhammad (panggilan Sa’id bin Musayyab), apakah Allah akan menyiksaku karena shalat?”
              Kemudian Sa’id bin Musayyab menjawabnya, “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah” (Sanadnya Shahih: Diriwayatkan Ad Darimi, ‘Abdurrazzaq, dan Baihaqi. Lihat Irwaul Ghalil, Syaikh Al Albani)

Karena Semua Ada Hikmahnya

12 Juli 2012 0 komentar
Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barangsiapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya
-HR. Tirmidzi-
Kini, mari kita sejenak menengok sejarah kita di belakang. Kita mundur kembali ke masa Daulah Bani Umayyah. Saat itu hiduplah seorang lelaki yang tinggal di Bashrah. Ia merupakan salah satu komandan perang bawahan Ubaidillah bin Ziyad (gubernur Kufah dan Bashrah). Suatu hari lelaki itu jatuh dari atap rumahnya hingga menyebabkan kedua kakinya patah. Tak ayal, hal itu merupakan musibah yang berat bagi sang komandan. Bayangkan, sebelumnya ia adalah seorang komandan perang yang gagah perkasa, namun dalam sekejap berubah menjadi seorang yang bahkan berdiri saja tidak bisa.
Maka Abu Qilabah datang untuk menjenguknya, ia berkata pada sang komandan, “Aku berharap semoga engkau mendapatkan kebaikan.” Ia menjawab, “Wahai Abu Qilabah, kebaikan apa yang didapatkan dari dua kakiku yang patah semua?” Abu Qilabah menjawab, “Apa yang tertutupi dari dosa-dosamu jumlahnya akan lebih banyak.

Di Manakah Allah?

11 Juli 2012 15 komentar
Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna
-Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Al Qaulus Sadid, hlm. 110-
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dengan kesempurnaan cinta dan kehinaan diri. Apa itu cinta? Cinta tidak bisa didefinisikan. Jika didefinisikan maka akan semakin rancu. Apabila diakatakan ‘cinta’ tentu semua orang bisa memahaminya. Allah Ta’ala dicintai bukan karena sesuatu yang lain, Allah dicintai dari berbagai sisi. Seluruh hati diciptakan dengan tabiat cinta kepada siapa saja memberinya nikmat dan bersikap baik kepadanya. Maka bagaimana dengan dzat yang seluruh kebaikan berasal darinya? Tidak ada satu nikmat pun yang dirasakan makhluk kecuali berasal dari-Nya.

Mengapa Tauhid Harus Dibagi Tiga?

26 April 2012 1 komentar

Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifatNya, dan hak-hakNya atas hambaNya
-Syarh Ushulil Iman, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin-
Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa tauhid itu terbagi dalam tiga bagian: Tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid Asma’ wa shifat.
        Seperti yang diketahui, bahwa Tauhid rububiyah adalah penetapan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi Rezeki dari segala sesuatu. Dan juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Kemanfaatan dan Kemudharatan, yang Maha Esa dalam mengabulkan doa bagi orang yang membutuhkan. BagiNya-lah segala urusan, dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagi-Nya sekutu dalam hal tersebut. Dan ke-imanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini[1]

Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma' wa Shifat

25 April 2012 7 komentar

Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu!”
(QS. An Nahl: 36)
          Tauhid secara bahasa, adalah kata benda (nomina) yang berasal dari perubahan kata kerja wahhada–yuwahhidu, yang bermakna ‘menunggalkan sesuatu’. Sedangkan berdasarkan pengertian syariat, “tauhid” bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diriNya. Lebih lanjut lagi tauhid berarti meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifatNya. Adapun kekhususan itu meliputi rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat.[1]
          Tauhid Rububiyah
          Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan.[2] Dalam definisi lain dijelaskan lebih lanjut bahwa Tauhidu rububiyah adalah penetapan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi Rezeki dari segala sesuatu. Dan juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Kemanfaatan dan Kemudharatan, yang Maha Esa dalam mengabulkan doa bagi orang yang membutuhkan. BagiNya-lah segala urusan, dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagi-Nya sekutu dalam hal tersebut. Dan ke-imanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini.[3]

Dan Inilah Ikhwanul Muslimin...

21 April 2012 25 komentar
Serukanlah kepada kami karena sesungguhnya kami membawa suatu kebaikan, kumpulkanlah kepada kami manusia maka akan kami bacakan kepada mereka dzikir, kami akan menjadi dokter bagi yang sakit, akan diam penduduk dunia jika tidak mendengar semboyan kami; “Allah adalah tujuan kami, Rasul adalah pemimpin kami, Al-Quran dustur kami, jihad adalah jalan hidup kami, mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami…
-Hasan Al Banna-
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta segenap keluarganya, para sahabatnya. Amma ba’d. Sebelumnya, kami berterimakasih kepada yang telah memberi komentar, masukan, dan saran di posting kami yang sebelumnya. Karena itu, kami berusaha menyempurnakan penjelasan tentang IM yang telah dibahas sebelumnya agar kaum muslimin semakin yakin dan mantap bahwa masih banyak orang-orang IM yang masih jauh dari kebenaran meski mereka terus mendakwahkan apa yang mereka namakan kebenaran itu sendiri. Semoga bermanfaat.
Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan salah satu gerakan dakwah terbesar di dunia, telah menyebarkan pengaruhnya ke seluruh penjuru bumi. Banyak orang mengira, dengan jumlah pengikut yang besar maka gerakan dakwah itu adalah gerakan dakwah yang benar. Banyak yang mengira, dengan orang-orang berengaruh dari IM maka gerakan itu adalah gerakan orang-orang yang lurus. Banyak yang mengira, dengan metodenya yang memesona maka dakwah mereka adalah dakwah yang mulia.

Inilah Malu, Akhlak Seorang Muslim

18 Maret 2012 0 komentar
Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya
-Al Junaid, Madaarij As Salikin II/270-
Sebagai seorang muslim, maka tentunya kita memiliki sebuah kepribadian atau ciri khas yang menjadi penunjuk bahwa kita memang seorang muslim. Selain bertauhid, ciri seorang muslim yang lainnya adalah seorang muslim sudah seharusnya memiliki akhlak yang baik. Dan diantara akhlak yang paling mulia di dalam Islam adalah malu, di mana rasa malu ini sudah sangat jarang kita temukan di antara kaum muslimin. Karena itu, lewat risalah ini penulis berharap mampu memberikan dorongan bagi kaum muslimin untuk kembali memiliki rasa malu sebagai penghias akhlak mereka.
Definisi Malu
         Secara bahasa, malu adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik[1]

Menguak Fitnah Fanatisme

22 Februari 2012 0 komentar
Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya: Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian?!
-Ibnu Abbas. Atsar Shahih: HR. Ahmad 1/337 dan Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/145-
Kisah Pertama
Alkisah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang yang sedang memaparkan nasabnya. Salah seorang berkata diantara keduanya, “Saya adalah Fulan bin Fulan.” Lalu dia bertanya (dengan nada merendahkan), “lalu kamu siapa? Engkau tidak memiliki nasab (dalam riwayat lain disebutkan ‘engkau tidak mempunyai ibu’)?”
          Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh di zaman Nabi Musa ada dua orang yang menyebut nasab mereka. Salah satunya berkata, ‘Aku adalah Fulan bin Fulan (sampai ia menyebut leluhurnya yang kesembilan). Lalu kamu siapa? Engkau tidak memiliki nasab?” Lalu orang kedua menjawab, “Aku adalah Fulan bin Fulan bin Islam

Berbagai Kesalahan Bacaan Doa dan Dzikir Dalam Berwudhu

6 Februari 2012 2 komentar
Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak
-HR. Muslim no. 1718-
     Wudhu merupakan salah satu kunci ibadah kita. karena dengan ada atau tidaknya wudhu maka ibadah kita bisa sah atau pun tidak. Wudhu terbaik adalah wudhu yang sempurna, sesuai dengan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun ketika ada beberapa orang yang sudah mulai berani berinovasi (membuat-buat) dalam ibadah ini dengan menambah-nambah syariat maka tentu kesempurnaan ibadah itu akan ternoda.
      Dalam kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin ketika berwudhu terkait dengan dzikir, doa, atau pun bacaan-bacaan tertentu. Mulai dari ketika hendak wudhu hingga selesai berwudhu. Semoga bermanfaat.

Sabar Dalam Berdakwah

20 Januari 2012 0 komentar
  Syawwal, 3 tahun sebelum hijrah. Dua orang berjalan 60 mil dari Makkah menuju Tha’if. Mereka berdua berjalan kaki, berdebu di jalan Allah, demi menyampaikan risalah kebenaran. Tatkala sampai di Thaif, mereka berdua mendatangi tiga orang pemuka kabilah Tsaqif: Abd Yala’il, Mas’ud, dan Habib. Ketiganya putera Amr bin Umair Ats Tsaqafi. Kepada mereka bertiga disampaikanlah ajakan untuk memeluk Islam lewat lisan paling mulia. Tapi, jangankan sambutan atau balasan yang hangat dan damai, yang diterima oleh pendakwah ini malah makian dan cacian.
    Salah seorang dari mereka berkata, “Jika Allah benar-benar mengutusmu, maka Dia akan merobek-robek pakaian Ka’bah
    Seorang yang lain menimpali, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?
    Orang terakhir tidak mau kalah, “Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu! Jika memang engkau seorang rasul, sungguh engkau terlalu agung untuk dibantah ucapanmu dan jika engkau seorang pendusta terhadap Allah, maka tidak patut pula aku berbicara denganmu

Terimalah Kebenaran dari Manapun Asalnya

7 Januari 2012 2 komentar
Ambillah hikmah dari orang yang kamu dengar. Sungguh, ada orang yang berkata dengan hikmah padahal dia bukan ahli hikmah, sehingga hikmah yang diucapkannya itu laksana anak panah yang dilontarkan oleh seseorang yang bukan pemanah
-Abdullah bin Abbas, Shifatush Shafwah I/757-
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkap seraya mengancamnya, “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” Orang yang mencuri itu berkata, “Aku butuh makanan sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yg sangat.”
Karena alasan tersebut aku melepaskannya. Di pagi hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat tawananmu semalam?”, “Wahai Rasulullah ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepada hingga aku melepaskannya” jawabku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Dia akan kembali.”

i-Muslims, Untaian Mutiara Kata Penuh Hikmah

5 Januari 2012 0 komentar

Maka jika kamu tetap ingin berteladan , maka ambillah contoh dari yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah
-Abdullah bin Mas’ud, Al Lalaikai 1/93 no. 130 dan Al-Haitsamy dalam Al Majma’ 1/180-
Tantangan dakwah di masa kini tampaknya semakin berat. Terlihat betapa banyak orang yang jiwanya gersang dengan siraman nasihat dan pencerahan rohani sehingga membuahkan pribadi yang buruk akhlaknya. Berbagai macam metode berdakwah pun terus dikembangkan agar semakin mampu diterima oleh masyarakat. Mulai dari rekaman kajian, audiovisual, radio, majalah, dan sebagainya.
     Tapi kini, -alhamdulillah, dengan izin Allah- telah hadir sebuah cara baru untuk memasyarakatkan petuah-petuah dan untaian mutiara kata dari Qur’an, Hadits, dan kalam ulama salaf di tengah masyarakat yang tampaknya berjiwa gersang. Kini telah hadir blog yang berusaha menyegarkan jiwa kita dengan mutiara kata yang bisa memberikan inspirasi bagi kita. Blog yang dimaksud adalah i-Muslims yang baru saja dibuat pada 4 Januari 2012 lalu.

Hikmah Diciptakannya Malaikat Meski Allah Tahu Segalanya

4 Januari 2012 1 komentar

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)
-QS. Al Infithaar (82): 10-
Allah menciptakan seluruh makhluk dalam keadaan berbagai rupa. Ada manusia, bumi, bintang, pohon, gunung, binatang, dan lain-lain. Lalu ada satu makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya, yang selalu taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat kepadaNya yaitu malaikat.
Malaikat-malaikat yang Allah ciptakan ini tentu memiliki tugas, dan satu diantaranya adalah mencatat amal perbuatan manusia. Namun, ada beberapa orang yang mungkin heran dan memiliki pertanyaan, “untuk apa para malaikat itu diciptakan? Bukankah Allah telah mengetahui seluruhnya?”