Karena Kita Butuh Hidayah

26 September 2012
Kebutuhan seorang hamba pada hidayah melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu, dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas
-Imam Ahmad bin Hanbal, Miftah Daaris Sa’adah-
Sebagai seorang muslim, kita sudah seharusnya tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Ya, jika hidup tanpa tujuan maka apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita usahakan? Sesungguhnya, tujuan hidup kita di dunia ini hanya satu: Beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya,

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku(QS. Adz Dzariyat: 56)
Setelah mengetahui tujuan kita tersebut, lantas apa yang kita butuhkan? Apa yang kita perlukan untuk mencapai tujuan tersebut? Tentu saja yang kita butuhkan adalah petunjuk. Ya, bayangkan ketika seseorang berjalan menuju suatu tempat tapi tidak memiliki petunjuk arah, maka sungguh ia akan tersesat. Begitu pun hidup kita. Sebagai seorang muslim, maka tujuan kita adalah beribadah kepada Allah, dan dalam menuju tujuan tersebut, kita butuh petunjuk. Atau dalam bahasa kita disebut sebagai hidayah.

Mengejar Hidayah 

Bayangkan hidup seseorang yang tujuannya misal hanya dunia, maka yang ia kejar hanyalah kebutuhan materinya saja. Betapa banyak kita saksikan selama ini orang bekerja siang dan malam, banting tulang dari pagi hingga pagi lagi, tujuannya hanya memenuhi hasrat dunianya semata. Di matanya, hanya ada tujuan: harta, tahta, wanita.

Duhai, apakah itu adalah jalan hidup seorang muslim? Tidakkah ia sadar bahwa apa yang ia butuhkan bukanlah dunia?

Seperti yang dijelaskan di atas mengenai tujuan kita, ketika kita mengetahui tujuan maka yang kita usahakan saat ini ialah apa yang kita butuhkan. Ketika kita bertujuan beribadah kepada Allah, maka yang kita butuhkan adalah hidayah! Jika orang-orang mengetahui prinsip ini maka mereka akan tahu, bagaimana ruginya orang-orang yang hanya mengejar dunia.

Kita sering mendengar banyak orang mengejar harta, mengejar tahta, mengejar-ngejar wanita, namun apakah kita pernah mendengar orang yang mengejar hidayah? “Loh, kok hidayah itu dikejar?” Ya, dikejar. Sungguh mengherankan bagaimana wanita yang tidak berjilbab ditanya, “Kapan mau pakai jilbab?”, maka dijawab “Nanti, tunggu hidayah dari Allah”. Subhanallah! Begitu mudahnya ia berkata demikian. Jika seorang yang berakal menyadari bahwa hidayah adalah kebutuhan pokok, maka ia yang akan mengejarnya.

Tidakkah kita ingat kisah Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu, potret seorang pengejar hidayah sejati. Terlahir di tanah Persia yang majusi, ia dirantai ayahnya karena tertarik ke ajaran Nasrani, ia kabur ke Syam, tinggal berpindah-pindah dari satu pendeta ke pendeta lain, hingga rela dijual sebagai budak ke jazirah Arab demi bertemu Nabi akhir zaman.[1]

Lihat dan renungkanlah, kita yang hanya duduk santai berharap dapat hidayah lewat begitu saja, padahal banyak orang yang mendapat hidayah ini lewat cucuran keringat dan air mata, bahkan cucuran darah sekali pun. Memang benar ada kasus orang-orang yang mendapatkan hidayah begitu saja lewat bisikan hatinya, namun apakah kita semua hanya bisa duduk manis menantinya? Sebagai kebutuhan pokok, maka kita juga harus memperjuangkannya.

Karena Hidayah Tidaklah Murah 

Hidayah ini tidaklah murah. Betapa banyak orang yang memimpikan hidayah namun tidak mendapatkannya. Tidakkah kita ingat bagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam mengharapkan hidayah bagi anaknya. Bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menginginkan hidayah untuk Azar, ayahnya. Dan bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengharapkan hidayah bagi Abu Thalib, pamannya.

Namun apakah anak Nabi Nuh, ayah Nabi Ibrahim, dan Abu Thalib mendapatkan hidayah? Tidak. Justru Anda yang bukan siapa-siapa, Anda yang bukan keluarga Nabi Nuh, Anda yang bukan saudara Nabi Ibrahim, Anda yang bukan ahlul bait Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Anda yang entah berasal dari mana, yang telah merengkuh hidayah berupa Islam ini, maka nikmat apalagi yang lebih besar yang bisa didapat seorang hamba di dunia selain hidayah Islam ini?

Ingat, hidayah ini bukan dari fulan bin fulan, melainkan dari Rabb semesta alam, Allah tabaraka wa ta’ala.

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.(QS. Al Qashash: 56)

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya(QS. Al Kahfi: 17)

Kita yang sudah terlahir sebagai muslim, sudah tidak perlu lagi bersusah-susah untuk mencari agama yang haq ini. Tidak perlu lagi berjalan jauh seperti Salman Al Farisi, tidak perlu lagi mencari-cari mana Rabb alam semesta seperti Nabi Ibrahim. Kita di sini tinggal mengoptimalkan keIslaman kita, tinggal berusaha menjadi muslim yang kaffah, tinggal berburu hidayah kembali. Tidakkah kita pernah berpikir, apa yang telah kita lakukan selama ini sebagai seorang muslim?

Tips Berburu Hidayah

Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika seorang hamba beriman kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidayah secara umum, ia menerima perintah-perintah di dalamnya dan membenarkan berita-beritanya. Hal ini akan menjadi sebab baginya meraih hidayah lain dengan lebih terperinci lagi, karena hidayah itu tidak ada ujungnya meskipun seorang hamba telah mencapai tingkat hidayah setinggi-tingginya. “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk” (QS. Maryam: 76)” (Tanwir Al Hawalik 1/177)

Beliau kemudian melanjutkan, “Hidayah akan mendatangkan hidayah berikutnya sebagaimana kesesatan akan mendatangkan kesesatan lainnya. Amalan-amalan kebaikan akan membuahkan hidayah. Semakin bertambah amalan kebaikan seseorang, hidayah pun akan bertambah. Sebaliknya, amalan-amalan kejelekan pun akan membuahkan kesesatan. Hal ini karena Allah mencintai amalan-amalan kebaikan sehingga Dia membalasnya dengan hidayah dan kemenangan, dan Allah membenci amalan-amalan kejelekan sehingga membalasnya dengan kesesatan dan kecelakaan” (Tanwir Al Hawalik 1/338)

Semoga kita semua menjadi hamba yang berada di atas jalan-Nya yang lurus dan terus diberikan petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu musta’an.

Sumber Penulisan:
asysyariah.com | bekalan-imanamal.blogspot.com | The Search for the Truth - by a Man Known as Salman the Persian (Ebook), Dr. Saleh Al Saleh. Edisi Indonesia: Perjalanan Mencari Kebenaran, Seorang Laki-laki Bernama Salman al-Farisi, disebarluaskan lewat raudhatulmuhibbin.org
Surabaya, 26 September 2012.
Hamba Allah yang mengharapkan hidayah-Nya, Regin Iqbal M.
Artikel Cafe Sejenak
           



[1] Lihat selengkapnya di risalah yang ditulis Dr. Saleh Al Saleh yang berjudul The Search for the Truth - by a Man Known as Salman the Persian

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar