Bolehkah Bermaksiat dengan Alasan "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun"?

27 Mei 2011 0 komentar
            Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai pelaku maksiat yang bila dilarang dari kemaksiatan ia berhujjah dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
            Jawab: apabila ia berhujjah atasnya dengan ayat ini, maka kita juga berhujjah dengan firman Allah,

Ngantuk Ketika Khutbah Jum'at? Ini Solusinya!

25 Mei 2011 0 komentar

            Jika seseorang merasa ngantuk saat mendengarkan khutbah jum’at, sebaiknya ia bergantian tempat duduk dengan jama’ah lainnya, tanpa bicara namun cukup dengan isyarat kepada yang akan diajak untuk bertukar tempat duduk.
            Dalil dalam masalah ini adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,
Jika salah seorang dari kalian merasa ngantuk pada hari Jum’at, maka hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat duduk temannya dan temannya berpindah ke tempat duduknya
                   (HR. Baihaqi no. 238 dan dalam Shahihul Jami’ no. 812)

Tolok Ukur Menyerupai Kaum Kafir (Bertasyabbuh)

18 Mei 2011 0 komentar
Tolok ukur atau pengertian menyerupai orang kafir adalah melakukan suatu perbuatan yang hanya dilakukan oleh orang kafir bukan karena motivasi kemanusiaan.
Oleh karena itu perbuatan yang dilakukan oleh orang kafir dan non kafir maka melakukan perbuatan tersebut tidaklah dinilai sebagai perbuatan menyerupai orang kafir.
Termasuk perbuatan yang tidak hanya dilakukan oleh orang kafir – dalam pandangan saya- adalah memakai celana panjang atau yang di zaman ini disebut dengan pantalon bagi kaum laki-laki asalkan bukan pantalon yang ketat dan ngepress. Memakai pantalon itu bukan termasuk perbuatan menyerupai orang kafir karena pakaian jenis ini bukanlah ciri khas orang kafir. Bahkan sejak masa silam pakaian jenis ini dipakai oleh orang kafir dan bukan orang kafir. Di masa silam orang-orang Arab menyebut pakaian jenis ini dengan sebutan sarawil.

Berdasi dan Berjas Termasuk Tasyabbuh? (Fatwa Lajnah Daimah tentang Pakaian yang Berkembang di Masyarakat Dunia)

0 komentar
Kehidupan masyarakat muslim di zaman ini sepertinya semakin sulit. Kaum muslimin dikepung dengan berbagai syubhat dan masalah yang makin memojokkan Islam dan syariat-syariat Allah dan rasul-Nya. Diantaranya adalah masalah bertasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Baik dalam masalah kehidupan pribadi, rumah tangga, bahkan bernegara.
Dari masalah kehidupan, makanan, hingga pakaian kini menjadi sorotan ummat. Tentang munculnya trend dasi, jas, dll. Sementara itu kita sebagai umat Islam sudah seharusnya mengetahui, bagaimana pendapat para ulama mengenai hal ini.
Dan kali ini yang dibahas adalah masalah hukum berdasi, berjas, dan memakai celana pentalon. Simak uraian berikut, yaitu fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama dari Lajnah Daimah.

Kupas Tuntas Masalah Hukum Doa Qunut (Menurut Pendapat Ulama Empat Madzhab)

16 Mei 2011 18 komentar
Di Indonesia, sepertinya banyak sekali yang mengenal istilah qunut dalam masalah ibadah. Doa qunut yang sudah dianggap sebagai sebuah kewajiban sepertinya selalu dilaksanakan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia karena mereka merasa tanpa qunut subuh, maka tidak afdhal ibadah subuhnya.
Namun, ada sebagian ummat Islam yang rupanya berang karena menganggap bahwa hal itu adalah bid’ah yang sesat. Mereka mencela pelaku qunut sebagai ahlul bid’ah yang menyesatkan.
Lalu, bagaimana pendapat para ulama dalam hal ini?

Intelektualitas

14 Mei 2011 0 komentar

Di dalam hati setiap manusia, tentu memiliki perasaan yang menunjukkan bahwa ia adalah insan yang sempurna. Berbagai perasaan dalam dada itu merupakan karunia Allah yang telah menjadikan makhluk-Nya yang paling sempurna. Kita –qaddarallah- telah membangun berbagai peradaban yang jatuh bangun dalam sejarah manusia. Namun, bila dilihat semua sama. Setiap peradaban yang ada, setiap kekuasaan yang telah terbangun, memiliki satu poin penting: intelektualitas.
            Bagaimana kita berpikir, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita berkelakuan. Semua menunjukkan siapa kita di hadapan dunia dan siapa kita di hadapan Rabb alam semesta.

Nabi Buta Huruf, Tanda Keterbelakangan Islam?

0 komentar
Pertanyaan: Di zaman ini kita sering sekali menemukan (lewat berbagai media, mulai dari media cetak seperti majalah atau elektronik seperti televisi dan internet) bahwa buta huruf adalah tanda dari keterbelakangan dan keterpurukkan.  Sementara itu, Allah telah mensifati ummat ini dengat umat yang ummiyyah (buta huruf).
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka
(QS. Al-Jumu’ah: 2)
            Maka saya harap penjelasan Syaikh mengenai hal itu.

Bercermin pada Generasi Salaf

11 Mei 2011 0 komentar

Sekali-kali tidak akan pernah baik (generasi) akhir ummat ini, melainkan dengan apa yang telah menjadikan generasi awalnya baik
-Imam Malik-
            Di zaman dahulu, kita sering mendengar kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang hidup di zaman sebelum kita, para pendahulu kita, adalah orang-orang yang telah menjadi legenda. Nama mereka yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang telah menorehkan tinta emas di atas lembaran ummat ini.
            Kita mendengar bagaimana besarnya kasih sayang Abu Bakar ash-Shiddiq, keteguhan Umar bin Khattab, kelembutan Utsman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib –rahimahumullah ajma’in- menjadi sebuah ‘dongeng pengantar tidur’ bagi kita yang hidup di zaman ini. Membayangkan bagaimana pengorbanan dan perjuangan mereka, bagaimana cucuran keringat dan darah mereka, menjadi sebuah tonggak lahirnya sebuah peradaban besar, yang kemudian menjadi sebuah pusaran energi terbesar dalam sejarah manusia. Membayangkan hal-hal besar seperti itu, tentang bagaimana ketulusan Abu Bakar yang menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah, tentang Thalhah bin Ubaidillah yang rela menjadi tameng hidup demi Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang keluarga Yasir yang menjadi simbol pengorbanan, bagi kita yang hidup di zaman sekarang tampaknya hal itu hanyalah sebuah kisah karangan belaka, sebuah kisah yang dibuat-buat tentang adanya manusia super dari langit. Padahal, mereka yang kita anggap ‘Superman’ itu adalah manusia biasa, yang mampu menembus batas egoisme dalam demi mereka menuju jannah. Mereka yang telah menjadi pendahulu kita adalah sebaik-baiknya generasi, dan bukan sefiksi-fiksinya generasi.