Bercermin pada Generasi Salaf

11 Mei 2011

Sekali-kali tidak akan pernah baik (generasi) akhir ummat ini, melainkan dengan apa yang telah menjadikan generasi awalnya baik
-Imam Malik-
            Di zaman dahulu, kita sering mendengar kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang hidup di zaman sebelum kita, para pendahulu kita, adalah orang-orang yang telah menjadi legenda. Nama mereka yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang telah menorehkan tinta emas di atas lembaran ummat ini.
            Kita mendengar bagaimana besarnya kasih sayang Abu Bakar ash-Shiddiq, keteguhan Umar bin Khattab, kelembutan Utsman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib –rahimahumullah ajma’in- menjadi sebuah ‘dongeng pengantar tidur’ bagi kita yang hidup di zaman ini. Membayangkan bagaimana pengorbanan dan perjuangan mereka, bagaimana cucuran keringat dan darah mereka, menjadi sebuah tonggak lahirnya sebuah peradaban besar, yang kemudian menjadi sebuah pusaran energi terbesar dalam sejarah manusia. Membayangkan hal-hal besar seperti itu, tentang bagaimana ketulusan Abu Bakar yang menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah, tentang Thalhah bin Ubaidillah yang rela menjadi tameng hidup demi Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang keluarga Yasir yang menjadi simbol pengorbanan, bagi kita yang hidup di zaman sekarang tampaknya hal itu hanyalah sebuah kisah karangan belaka, sebuah kisah yang dibuat-buat tentang adanya manusia super dari langit. Padahal, mereka yang kita anggap ‘Superman’ itu adalah manusia biasa, yang mampu menembus batas egoisme dalam demi mereka menuju jannah. Mereka yang telah menjadi pendahulu kita adalah sebaik-baiknya generasi, dan bukan sefiksi-fiksinya generasi.

            Pendahuluku Panutanku
            Mari sekarang kita bercermin pada generasi sahabat nabi, dan coba kita bandingkan apa yang telah kita lakukan dan dengan apa yang mereka amalkan. Dan lihatlah betapa jauhnya ummat ini dari kehidupan generasi salafushshalih.
            Kita mengaku sebagai seorang muslim, namun bagaimana perilaku keseharian kita? Sudahkah kita berlaku sebagaimana seorang muslim sejati? Sudahkah kita berkepribadian sebagaimana para sahabat nabi?
            Sadarlah, kita masih belum ada apa-apanya. Kaki kita begitu berat melangkah ke masjid, tangan kita begitu berat melaksanakan kewajiban, mata kita begitu ringan berkeliaran mengumbar syahwat, apakah itu yang telah mereka, generasi pertama, ajarkan?
            Dengan sedikitnya amal kita mengaku telah berkorban, dengan sedikitnya ilmu kita mengaku menjadi orang alim, sedikit berdzikr kita mengaku sebagai orang shalih. Coba bandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan Thalhah, menjadi syahid yang hidup demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Coba bandingkan keilmuan kita dengan luasnya ilmu Ibnu Abbas dan semangatnya menuntut ilmu. Coba lihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah hingga kakinya bengkak.
            Kita yang masih belum bersumbangsih apa-apa, yang belum rela menyisihkan waktu untuk menuntut ilmu, yang belum bisa khusyuk dan tunduk dalam beribadah, apakah berhak menyandang predikat khairu ummah? Ummat terbaik?
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
(QS. Ali Imran: 110)
            Kita yang dengan ringannya mengerjakan kemaksiatan, membuang adab-adab dan menghilangkan kepribadian kita seorang muslim, apakah sanggup menyatakan bahwa kita telah sebaik-baiknya taqwa?
            Bayangkan, bagaimana Abu Lubabah bin Abdul Munzir rela mengikatkan dirinya di tiang masjid Nabawi demi meminta ampun atas maksiatnya. Sedangkan kita, dengan ringannya bermaksiat pada Rabb alam semesta.
            Bayangkan ketika Bilal bin Rabah rela ditindih batu dan sinar matahari yang menyengat demi memperjuangkan kalimat tauhid. Sementara kita, dengan mudahnya meremehkan esensi kalimat tauhid demi dunia fana.
            Bayangkan ketika keluarga Yasir, rela menjual jiwa mereka demi mempertahankan identitas mereka sebagai muslim. Sedangkan kita, dengan gampangnya membuang adab dan kepribadian kita sebagai kaum muslimin.
Penutup
Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk
(HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Darimi)
Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka
(HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533)
            Karena itu, sudah saatnya kita sadar. Bahwa langkah kita masih jauh dari kesempurnaan dalam ketaqwaan pada Rabb alam semesta, namun apa salahnya kita mencoba? Bukankah generasi terdahulu kita adalah contoh bagaimana kita hidup di dunia ini? Bukankah mereka adalah realisasi dari syariat? Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak? Ini bukan masalah beda zaman, tapi masalah beda mental. Kita yang mentalnya kini lemah oleh dunia, oleh perhiasan mata yang indah, oleh idola-idola fana di mana-mana, sudah seharusnya bangkit dan menjadi insan bermental baja. Bermental rabbani, bermental madani, bermental dan bermanhaj salafushshalih.
            Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar