Intelektualitas

14 Mei 2011

Di dalam hati setiap manusia, tentu memiliki perasaan yang menunjukkan bahwa ia adalah insan yang sempurna. Berbagai perasaan dalam dada itu merupakan karunia Allah yang telah menjadikan makhluk-Nya yang paling sempurna. Kita –qaddarallah- telah membangun berbagai peradaban yang jatuh bangun dalam sejarah manusia. Namun, bila dilihat semua sama. Setiap peradaban yang ada, setiap kekuasaan yang telah terbangun, memiliki satu poin penting: intelektualitas.
            Bagaimana kita berpikir, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita berkelakuan. Semua menunjukkan siapa kita di hadapan dunia dan siapa kita di hadapan Rabb alam semesta.

            Bayangkan, bila hidup ini tanpa adanya sentuhan intelektualitas yang berdasar, tentu saja hanya akan menjadi peradaban yang tak akan lama.
            Apa maksudnya intelektualitas yang berdasar?
            Intelektualitas yang berdasar tidaklah hanya mengenai kemampuan akal logika manusia dalam mengolah berbagai hal. Tapi juga bagaimana mengkondisikan agar akal ini tidak dipakai sembarangan, akal ini tidak dipakai dengan seenaknya. Akal memanglah salah satu poin penambah agar manusia menjadi sempurna. Namun yang harus kita sadari, bahwa akal saja belum bisa memenuhi syarat untuk kita menjadi manusia seutuhnya, yang mampu membangun dunia ke arah yang lebih baik.
            Kita butuh penuntun akal kita agar akal menjadi sehat, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.
            Mengapa harus Qur’an dan Sunnah?
            Karena sejarah telah membuktikan, bahwa Qur’an dan Sunnah adalah tuntunan hidup yang paling sempurna.
            Lihatlah dalam sejarah dunia, ketika Romawi dan Persia berlomba untuk membangun sebuah pusaran kekuatan abadi di dunia. Yang satu dari ajaran Ahlul Kitab dan yang satu lagi dari ajaran paganisme majusi. Keduanya bersaing, dan akhirnya memang mereka sempat muncul dari samudera sejarah sebagai salah satu kekuatan terbesar di dunia. Namun sayang, kapal besar itu karam ditelan peradaban. Kondisi mereka tidaklah bisa bersaing dengan perkembangan zaman, dan pegangan hidup mereka juga tak tentu arah. Mereka pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Namun ternyata tak lama.
            Berbeda dengan peradaban yang sumber pegangannya berasal dari Qur’an dan Sunnah. Berhasil bertahan melewati zaman dan mengalami masa-masa kejayaan. Dan kita lihat lagi, ketika peradaban yang mengatasnamakan kekhalifahan Islam itu sudah mulai jauh dari Qur’an dan Sunnah, maka kehancurannya pun tidak lagi jauh.
            Ketika orang-orang banyak beralih pada filsafat dan firqah-firqah sesat seperti Jahmiyah, Jabariyah, Mu’tazilah, dll. Ketika mereka menistakan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika nilai-nilai Islam dalam lingkungan mereka tidak lagi diamalkan dengan benar, maka peradaban besar, satu-satunya peradaban yang mampu melewati tantangan lebih dari satu milenium itu, akhirnya tenggelam.
            Dan kini, sudah saatnya kita beralih pada Qur’an dan Sunnah, agar akal yang ada pada kita ini, tidak kita pakai untuk bermaksiat kepada Allah dan melecehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
            Wallahu musta’an.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar