Ketika Sahabat Nabi Dicela

17 Desember 2013 0 komentar
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah...
-QS. At Taubah: 100-

Ideologi Syi’ah sudah mulai gencar disebarkan oleh para penganutnya di Indonesia. Tidak hanya itu, tokoh-tokoh Syi’ah pun saat ini sudah mulai berani menampakkan taringnya ke permukaan.  Sebut saja Tajul Muluk yang menuai kontroversi akibat menyebarkan ajaran Syi’ahnya dengan menghina para sahabat Nabi. Memang, dalam aqidah mereka, para sahabat –semoga Allah meridhai mereka- telah murtad kecuali beberapa saja [1] sehingga wajar bila mereka dan ulama-ulama mereka dengan serampangan menghina, melecehkan, hingga melaknat para sahabat dan tidak ketinggalan isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [2]

Tidak hanya itu, kalangan Syi’ah di Indonesia juga tidak mau ketinggalan dalam melaknat para sahabat Nabi –radhiyallahu ‘anhum- dalam karya-karya mereka, sedikit diantaranya:

Antigalau

16 Mei 2013 0 komentar

Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci.”
(HR. Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Sebagai manusia, kita sudah diciptakan dengan sempurna oleh Rabb kita dengan yang namanya fitrah. Entah itu fitrah untuk makan, tidur, lapar, dan yang lainnya. Fitrah ini sudah ditentukan kadarnya, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, karena jika tidak maka pasti akan ada yang namanya ketidakseimbangan, dan tentu tidak akan menjadi sempurna. Termasuk juga fitrah untuk mencintai dan dicintai.


Rasa cinta yang ditanamkan Allah di dalam hati-hati manusia merupakan karunia besar bagi kita. Bagaimana tidak, jika bukan karena fitrah cinta ini, bagaimana jiwa kita bisa terpelihara? Bagaimana hati akan hidup bila cinta tidak mengalir dalam tubuh kita? Bagaimana hidup kita akan lurus jika tanpa cinta? Bagaimana pun, cinta adalah perasaan suci, yang Allah tanam agar kita menjadi sempurna.


Namun seringkali perasaan suci ini malah menjadi penyakit yang menjadi, dan ini banyak melanda generasi remaja kita. Darah muda yang bergejolak itu justru terkadang membuat cinta yang sejatinya meluruskan akal menjadi fitnah bergolak. Kadar cinta yang telah diatur malah rusak, kacau diamuk nafsu berombak. Memang tak bisa dipungkiri, ketika menginjak usia remaja maka saat itulah cinta menyapa hangat. Perasaan cinta yang indah untuk pertama kalinya baru terasa besar di dalam hati kecil itu. Rasanya? Deg-degan, tak karuan, hingga cenat-cenut. Nah, ketika kita tidak tahu bagaimana menyikapinya, dunia mengenal kosakata baru untuk kasus ini: Galau.

Menyoal Salafi: Sebuah Catatan Opini, Pengalaman, dan Kritik

30 April 2013 21 komentar
Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.
(HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, dan Tirmidzi)

Prolog

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah obrolan ringan penulis dengan teman-temannya mengenai pergerakan dan dinamika dunia Islam yang sedang terjadi saat ini. Obrolan-obrolan itu mengalir begitu saja membahas berbagai masalah keIslaman. Hingga akhirnya sampai kepada gerakan-gerakan dakwah. Kita, dalam hal ini kaum muslimin Indonesia, telah mengenal berbagai gerakan-gerakan dakwah seperti misalnya Hizbut Tahrir (HT), tarbiyah (yang juga diusung oleh salah satu partai politik di Indonesia), hingga yang namanya gerakan Salafi.

Ketika bicara Salafi, teman-teman penulis mulai mengutarakan pendapatnya tentang gerakan ini. Tapi kebanyakan yang muncul adalah stigma negatif, seperti Salafi itu memonopoli masjid, mengeksklusifkan diri, keras, dan sebagainya. Intinya kebanyakan opini mereka hampir sama dengan opini umum publik terhadap gerakan yang dinamai Salafi ini, yang dinyatakan sebagai gerakan ekstrimis, eksklusif, mudah memvonis, dan yang lainnya.

Siapa Salafi? Siapa Wahabi?

19 Maret 2013 17 komentar
“Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.”
(Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ad Durar As Saniyah I/37-38)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarganya, dan para sahabatnya. 

Pendahuluan: Fitnah Wahabi kepada Blog ini

Akhir-akhir ini penulis sedang dihadapi dengan berbagai kesibukan kuliah sehingga tidak heran blog ini rasanya sedikit “ditinggalkan” oleh penulis, padahal banyak ilmu yang ingin dibagi kepada pembaca, entah itu dari kajian, dari rekaman, dari buku-buku, dan sebagainya. Bukan berarti si penulis adalah seorang yang berilmu tinggi, tapi penulis hanya ingin membagikan apa yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Ketika penulis sekedar iseng untuk membuka komentar terbaru di blog ini, betapa terkejutnya kami ketika melihat banyak komentar yang ditulis oleh Anonymous yang isinya kurang lebih “Hati-hati virus Salafi-Wahabi!”. Dan salah satunya ada di artikel Di Manakah Allah?

Kupas Tuntas: Adakah Bid'ah Hasanah?

16 Februari 2013 33 komentar

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya”
-HR. Ad Darimi, atsar Abdullah bin Mas’ud-

Oleh: Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc.*

Sejumlah jawaban direkayasa, sejumlah dalilpun dipaksakan, demi melegalkan bid’ah, dan demi memberanikan orang melakukannya.

Pertanyaan tersebut terkait langsung dengan Islam, yang oleh karenanya membutuhkan jawaban yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dalam Islam, jawaban-jawaban yang hanya bersifat logika, tidak akan dapat menguak kebenaran dalam permasalahan Islam. Sebab selogis apapun sebuah jawaban tetap saja ia spekulasi relatif, yang sudah pasti dapat dipatahkan dengan hal yang sama, lebih-lebih apabila jawaban-jawaban logis tadi kontaradiktif dengan dalil-dalil yang syar’i.

Definisi

Nabi bersabda, “Siapapun yang melakukan amal yang tidak kami perintahkan, maka amal tersebut tertolak (tidak diterima)” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah).

Beliau juga bersabda, “Setiap (ibadah) yang baru adalah bid’ah” (HR. Muslim, Ahmad, dan Ibn Majah, dari Jabir)

Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir'aun

15 Februari 2013 0 komentar
Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan
-HR. Bukhari-

Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN.

Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”” (QS. An Naazi’at: 24)

Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. Entah berapa lama Fir’aun telah merasakan “sensasi” menjadi Tuhan hingga akhirnya Allah utus ke tengah-tengah negeri Fir’aun itu Nabi yang mulia, Musa dan saudaranya Harun ‘alaihimussalam.

Pemuda yang Haus Cinta

13 Februari 2013 0 komentar
Demi Allah! Sungguh, mencintainya (dunia) benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya?
-Hasan Al Bashri, Mawa'izh Al Imam Al Hasan Al Bashri, hlm. 138-

Catatan pertama di tahun 2013.

Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Mungkin sudah terlalu terlambat untuk membuat “catatan awal tahun” mengingat ketika artikel ini ditulis, kalender masehi menunjukkan bulan kedua, bulan Februari. Dan di bulan Februari ini, ada satu tanggal yang biasanya dijadikan hari raya bagi para pemuja hawa nafsu, terutama di kalangan remaja: Hari Valentine.

Hari yang diklaim oleh banyak pihak sebagai hari cinta dan kasih sayang. Berbagai tema kehidupan langsung berubah di tanggal ini. Bagi pusat-pusat perbelanjaan, maka akan langsung mengubah dekorasi gedungnya dengan warna-warni yang cerah. Berbagai kemasan produk pun disesuaikan dengan tema Hari Valentine ini. Tidak ketinggalan, acara-acara di televisi pun mengubah formatnya dengan tambahan “-Spesial Valentine