Untukmu yang Patah Hati: Sebuah Risalah Tentang Cinta

7 Maret 2011

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu...
-Ali bin Abi Thalib-

Kita telah sering mendengar sepatah kata yang mampu menyihir hati menjadi bergetar karenanya, cinta. Sebuah kata yang berhasil menjadi tonggak kehidupan di dunia, cinta. Yang menjadi sebuah perasaan damai yang bersemayam di hati setiap insan, cinta. Satu kata yang telah mewarnai hidup setiap manusia, cinta.
            Kata yang telah membangunkan insan-insan yang tidur, yang menyadarkan orang-orang yang terlelap, dan yang membangkitkan orang-orang yang patah semangat. Itulah yang sering disebut cinta.
            Cinta yang indah, yang membuat dunia ini sempit bagai milik berdua, yang menjadikan bumi tempat berpijak bagai karpet merah dan permadani mewah, yang menjadikan langit bagai pantulan wajah yang dicinta, yang membuat lautan bagai lukisan tentang keindahan yang dicinta, yang membuat kicauan burung bagai panggilan dari sang pecinta
            Namun, bila rasa cinta yang tumbuh di hati itu ternyata tidak sesuai dengan realita, tidak sesuai dengan harapan yang semestinya, maka banyak orang menjadi gila akibat cinta mereka. Perasaan mereka yang awalnya diselimuti cinta yang lembut kini telah berubah menjadi perasaan yang kalut. Yang awalnya bunga asmara bersemi dengan indahnya tiba-tiba menjadi kebun kering kerontang terkena prahara. Yang awalnya persaan cinta itu menjadi tiang penyangga yang kokoh kini telah berubah menjadi sebuah tiang yang rapuh. Cinta yang awalnya menjadikan hati bagaikan bangunan yang megah kini telah menjadi puing penuh derita.
            Ya, cinta yang awalnya menjadi sebuah obat kini telah menjadi racun. Bila orang itu merasakan hancurnya cinta, maka ia juga akan merasakan hancurnya hidupnya. Hancurnya perasaan seseorang akan berimbas pada hancurnya diri orang itu sendiri. Ya, hanya karena patah hati.
            Seseorang yang patah hati seakan terombang-ambing dan tidak bisa lagi stabil. Dirinya gelap mata hanya karena mata cintanya telah terpejam. Haruskah orang yang patah hati merasakan semua kepedihan itu? Pantaskah bila setiap orang yang patah hati harus menenggak habis setiap penderitaan itu? Patutkah orang yang telah hancur cintanya menghancurkan hidupnya sendiri? Jawabannya adalah tidak!
            Bermain Hati?
            Sebenarnya, cinta bukanlah satu kata yang dapat dengan mudah kita wujudkan. Perlu berbagai macam rintangan, ujian, dan cobaan demi mematangkan cinta kita. Demi membuat cinta kita adalah cinta yang kuat, yang tidak mudah goyah, yang akan menjadi cinta yang kokoh, yang menjadi cinta yang mengakar dalam qalbu, cinta yang benar-benar tidak lagi lemah.
            Karena cinta bukanlah hal mudah. Cinta yang lemah maka akan mudah pula dihempas zaman. Cinta yang rapuh maka akan mudah pula diruntuhkan waktu.
            Cinta seharusnya perasaan yang kuat, perasaan yang benar-benar muncul dari ujung qalbu terdalam. Yang mampu memunculkan setitik lentera cinta yang hangat. Yang mampu menjadi pemicu semangat tak terpatahkan. Yang muncul sebagai api cinta yang akan menerangi kehidupannya.
            Namun sebagai konsekuensinya, ia harus siap ketika cintanya itu diuji. Karena dunia ini adalah medan pertarungan cinta. Cintanya tidak akan pernah menjadi sempurna bila cintanya itu sendiri tidaklah teruji dengan berbagai masalah.
            Dan sudah seharusnya setiap orang harus paham akan konsep ini. Kebanyakan orang tidak mengerti akan hal ini dan ketika cinta mereka diuji maka cinta mereka tidak kuat menahannya. Dan hasilnya? Cinta itu akan mudah pudar. Cinta itu akan dengan mudahnya menghilang. Karena mereka tidak mengerti, cinta itu adalah sebuah jalan yang menentukan dan bukan hanya sekadar permainan.
            Cinta menjadi salah satu indikator kesuksesan kita di dunia dan keselamatan kita di akhirat. Perhatikanlah bagaimana jalan cinta orang-orang yang durhaka. Orang-orang yang hanya menjalankan cinta sesuai dengan hawa nafsunya. Maka sungguh mereka adalah golongan yang celaka.
            Tetapi bila kita mampu menjalankan cinta ini sesuai dengan kodrat dan kadarnya, maka inilah salah satu jalan keselamatan. Cinta yang tidak hanya suatu yang dipermainkan hawa nafsu, cinta yang tidak hanya menjadi senda gurau belaka.
            Masihkah kita ingat bagaimana cintanya isteri Aziz kepada Yusuf? Ketika ia dengan cinta yang telah dipermainkan hawa nafsunya mengajak Yusuf ingin berzina. Namun ingatlah ketika Yusuf, yang saat itu sudah hendak ingin terjerat dalam rayuan wanita itu. Ia mampu menahan perasaannya. Karena jiwa yang ia miliki tidak diperturutkan kepada hawa nafsunya.
            Cinta, Sebuah Kata Kerja
            Dan yang harus diperhatikan oleh setiap orang adalah, bahwa cinta adalah sebuah kata kerja dan bukan kata sifat. Sebuah kata yang sudah seharusnya kita yang mengendalikan dan bukan kita yang dikendalikan.
            Jika cinta dijadikan kata sifat dalam kamus kehidupan kita, maka kita akan hancur sendiri karena cinta. Karena bila cinta dan nafsu yang mengendalikan kita, maka hancurlah kehidupan –na’udzubillah min dzalik-
            Perhatikanlah bagaimana orang-orang yang tidak mampu mengendalikan cinta mereka. Mereka gelap mata karena perasaan mereka sendiri, mereka hancurkan diri mereka dengan hati mereka sendiri. Akal mereka dikendalikan oleh selubung mabuk asmara. Pikiran mereka telah dikaburkan dengan khamr yang bernama cinta (nikmat, namun mematikan).
            Tetapi lihatlah bagaimana orang-orang yang menjadikan cinta itu sebagai kata kerja. Sebagai sebuah perasaan yang mampu dikendalikan. Akal dan hatinya tidak dibawahi oleh hawa nafsu atas nama cinta. Mereka mampu mengatur kadar cinta mereka. Mereka tidak menjadikan diri mereka sebagai budak jiwa mereka sendiri.
            Bila cinta mereka sesuai dengan harapan, maka mereka akan bersyukur. Namun bila cinta mereka tak sesuai dengan keinginan, mereka tidaklah kufur. Mereka tidak menghancurkan diri sendiri hanya karena cinta, karena mereka mampu mengatur hati dan perasaan mereka.
            Contoh Terbaik
            Dan bila kita ingin mengaplikasikannya dalam kehidupan kita, maka sudah seharusnya kita kembali menengok ke belakang. Melihat contoh terbaik yang berasal dari generasi terbaik, yaitu generasi shahabat, lalu tabi’in, dan pata tabi’uttabi’in.
            Suatu hari, Salman al-Farisi ingin meminang salah seorang wanita Madinah. Namun karena Salman yang berasal dari Persia tidak tahu bagaimana cara untuk meminang wanita Madinah, maka ia meminta bantuan sahabatnya, Abu Darda, untuk meminang salah seorang wanita.
            Ketika sampai di rumah si wanita dan setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk meminang, akhirnya keluarga wanita itu merespon. Keluarga wanita itu menolak pinangan Salman namun menerimanya Abu Darda bila Abu Darda berkeinginan untuk menikahi wanita itu.
            Apa reaksi Salman? Apakah Salman marah kepada Abu Darda? Apakah Salman melaknat Abu Darda? Apakah Salman memutuskan hubungannya dengan Abu Darda? Maka jawabannya adalah tidak.
            Yang terjadi justru sebaliknya, Salman rela dengan keputusan keluarga wanita itu. Lalu dalam salah satu riwayat, Salman berkata,

Aku menghendaki wanita itu, namun ia menghendaki Abu Darda.

            Dan dalam riwayat lain Salman berkata,

Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian

            Sebuah kisah yang benar-benar menggugah. Membuktikan bahwa cinta bukanlah suatu yang liar, melainkan mampu dikendalikan. Dan Salman telah membuktikannya. Ia tidak diperbudak dengan cinta dan nafsunya. Namun ia melihat lewat kacamata keikhlasan. Ia tidak pernah memaksakan kehendak cintanya. Karena ia tahu bagaimana sebenarnya cinta yang matang. Ia tahu bahwa cinta yang sempurna datang dari hati yang kuat dan bukan hati yang labil
            Sementara itu, ada lagi salah satu kisah unik dari Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
            Dahulu Ibnul Qayyim jatuh cinta pada salah satu puteri Imam Al-Mizzi (salah satu ulama ahlussunnah). Ia sangat mencintainya. Namun ternyata Imam al-Mizzi tidaklah menikahkan puterinya dengan Ibnul Qayyim, melainkan dengan Ibnu Katsir, murid Ibnul Qayyim sendiri.
            Apakah dengan itu lantas Ibnul Qayyim marah pada Ibnu Katsir? Tidak. Lihatlah bagaimana orang-orang cemerlang menjadikan cinta itu sebuah kata kerja, sebuah kata yang ia sendiri yang mengendalikannya.
            Penutup
            Karena itu, patah hati bukanlah sebuah alasan. Bukan pula menjadi penghalang. Karena cinta itu butuh ujian untuk semakin mematangkannya. Cinta yang sempurna muncul dari hati yang kuat. Pahamilah bahwa cinta itu luas dan bukan sekedar permainan belaka. Hidupkan cintamu dengan cinta, dan jangan hentikan curahan cintamu itu hanya karena patah hati. Bangkitlah dari keterpurukanmu!
            Wallahu a’lam.
           

Artikel Terkait



1 komentar:

  • bismillahirrohmanirrohim........

    alhamdulillah....sedikitnya tulisan anda ini menjadikan lapangnya hati saya untuk tetap menjalani hidup dengan tegar...
    baarokallohufiik
    wa jazakumulloh khoir

  • Poskan Komentar