Membantah Kesesatan Tapi Disebut Perpecahan

11 Desember 2011 1 komentar
Jalan kebenaran itu jauh dan bersabar bersama kebenaran itu berat
-Mimsyad Ad Dainuri, Shifatush Shafwah IV/78-
Ketika berusaha meluruskan umat dari firqah-firqah sesat maka tak jarang kita disebut sebagai pengadu domba. Ketika berusaha untuk membantah pengikut hawa nafsu dan pengekor kesesatan lainnya maka kita bisa disebut pemecah belah ummat. Kita bilang A sesat, maka orang bilang kita tidak mau Islam bersatu dalam satu jama’ah.
Padahal, layakkah kebenaran bersatu dengan kesesatan? Pantaskah yang haq disatukan dengan yang batil? Jelas tidak. Pemikiran-pemikiran yang ingin agar kita tidak meluruskan ummat dengan berdalih untuk menyatukan umat inilah pemikiran yang salah. Yang menghendaki agar terciptanya generasi yang dangkal ilmunya. Mengatasnamakan toleransi inter agama atau perbedaan fiqh dan madzhab.

Adakah Doa dan Dzikir Ketika Membasuh Anggota Wudhu?

14 November 2011 1 komentar
          Suci dari najis dan kotoran adalah salah satu syarat sah ketika hendak melaksanakan shalat atau mungkin ibadah lain. Dan untuk itu kita harus berwudhu untuk bersuci. Namun sayang, ternyata masih banyak diantara kaum muslimin yang melakukan kesalahan dalam wudhu mereka. Diantara kesalahan yang mereka lakukan adalah berdoa pada saat membasuh anggota wudhu.
     Hal ini sering dianggap sunnah oleh banyak orang sehingga mereka tanpa ragu melaksanakannya. Mereka menganggap hal itu ibadah padahal hal itu adalah suatu kesalahan yang bisa jatuh ke dalam perbuatan bid’ah. Sebenarnya orang-orang yang berdoa ketika membasuh anggota wudhu memiliki alasan mengapa mereka melakukan itu, yaitu karena mereka mengaku memiliki hadits sebagai landasan untuk melakukannya. Hadits yang mereka jadikan hujjah adalah hadits dari Anas yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Kewajiban Taat Pada Pemimpin dan Pemerintah

11 November 2011 1 komentar
Menaati para pemimpin dan memberi nasehat kepada mereka yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban setiap orang, meskipun tanpa perjanjian darinya terhadap mereka, dan sekalipun dia tidak bersumpah untuk mereka dengan sumpah-sumpah yang ditegaskan. Dan kewajiban tersebut adalah sebagaimana wajibkan Shalat lima waktu, Zakat, Puasa Ramadhan, Haji ke Baitullah, dan ketaatan-ketaatan lain yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya
-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fataawa-
          Wajibnya taat pada pemerintah merupakan salah satu kewajiban yang seharusnya ditunaikan oleh seluruh ummat Islam. Tidak seharusnya orang yang mengaku muslim malah mengangkat senjata melawan pemimpinnya sendiri. Sungguh, hal itu adalah satu kezhaliman yang besar.
          “Para ulama dan orang-orang yang utama tidak memberikan dispensasi (rukhshah) kepada siapa pun untuk menentang, atau mencurangi, atau membangkang kepada pemerintah dari segi apapun; karena sikap itu memang dilarang Allah, sebagaimana hal itu diketahui dari sikap Ahlus Sunnah dan Ahli Agama; dahulu maupun sekarang” (Majmu’ Fataawa jilid 18, Ibnu Taimiyah)

Beradab dan Berakhlak dalam Berdakwah

30 Oktober 2011 1 komentar

Tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar kecuali orang yang di dalam dirinya terdapat tiga hal: lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, adil dalam menyuruh dan melarang, dan mengetahui terhadap yang dia suruh dan (dia) larang
-Sufyan Ats Tsauri, Jami’ul Ulum wal Hikam (II/256)-
Kita terkadang melihat ada beberapa orang yang mengenakan peci, baju koko, sarung atau celana pentalon. Di dagu sebagian dari mereka dihiasi oleh beberapa helai jenggot, mata mereka meradang. Di tangan mereka telah siap sebilah kayu untuk dijadikan pentungan. Dari jauh, masya Allah, terlihat sebagai muslim sekali. Mungkin mereka terlihat seperti muslim yang terasingkan dan telah geram dengan berbagai kemaksiatan yang merajalela. Mereka dengan serta merta menghancurkan dan melakukan pengrusakan tempat maksiat yang selama ini membuat mereka ‘gerah’.
          Lisan mereka pun berbicara. Pekik takbir menggema ketika melakukan perusakan. Ketika di majelis mereka, lisan mereka bertutur layaknya seorang ahli debat. Hujat sana hujat sini. Bertemu dengan orang yang pemikirannya sedikit berbeda dengannya langsung bilang sesat. ‘ngaku’ memakai Qur’an dan hadits namun lisannya mengalir bak sungai yang kotor. Yang keluar hanyalah cercaan. Bukannya menjadi baik, lawan bicaranya malah menjauh darinya.

Definisi, Dalil, dan Pendapat Ulama Mengenai Ikhlas

25 Oktober 2011 5 komentar
        Definisi Ikhlas
   Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Dalam arti lain, ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al Khaaliq (Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarrirruhu ‘Ulama As Salaf, Dr Ahmad Farid)
          Mengapa Harus Ikhlas?
     Ikhlas merupakan salah satu pilar yang terpenting dalam Islam. Karena ikhlas merupakan salah satu syarat untuk diterimanya ibadah (Kitab Tauhid I hlm. 85, Syaikh Shalih Al Fauzan)
       Hal ini bisa dilihat dari hadits Abu Umamah, yaitu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda setelah ditanya mengenai orang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
      “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya” (HR. An Nasai dengan sanad yang jayyid/bagus. Dishahihkan Al Mundziri, dan dimuat pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari VI/28)

Hukum Sebutan atau Gelar Almarhum Bagi Orang yang Sudah Meninggal

16 Oktober 2011 0 komentar

Di Indonesia, ketika seseorang meninggal maka ada satu gelar yang ia raih, yaitu sebutan almarhum. Sebutan yang sangat familiar di telinga kita untuk orang yang telah mendahului kita. Tanpa sadar kita terus menggunakan kata sebutan itu. Namun, kita masih belu mengetahui dari mana asal sebutan itu, dan bagaimana sebutan itu dalam timbangan Islam.
          Sebutan Almarhum yang merupakan sebutan bagi yang sudah meninggal, diartikan sebagai “fulan yang dirahmati”. Sebagian ulama melarang sebutan ini secara mutlak. Seperti yang ditetapkan oleh Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta’) di Kerajaan Saudi Arabia lewat fatwanya.

Hukum dan Tata Cara Sujud Syukur

14 Oktober 2011 3 komentar

Di sebagian besar kalangan ummat Islam saat ini, ketika mereka diberi nikmat oleh Allah maka mereka akan mengungkapkan atau mengekspresikan rasa syukur kepada Allah dengan mengucapkan hamdalah. Atau salah satu yang paling populer juga adalah sujud syukur.
          Ketika ditimpa nikmat, maka ada yang mungkin langsung jatuh tersungkur, bersujud untuk bentuk rasa syukurnya. Sujud (seperti yang kita ketahui) adalah salah satu bentuk ibadah. Namun, bagaimana bila ibadah itu dilakukan tanpa ilmu? Maka sungguh amalan itu akan mengandung kerusakan yang jauh lebih besar daripada manfaatnya.
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Umar bin Abdul Aziz, dinukil dalam Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar hlm. 15)

Memanfaatkan Waktu Ala Generasi Salaf

9 Oktober 2011 0 komentar

"Waktu akan semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah untuk kita lalaikan"
-Yahya bin Muhammad bin Hubairah, dicantumkan dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah I/281-
    Ibnul Jauzi rahimahullah, salah satu ulama kaum muslimin mengisahkan,
      “Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya melakukan kunjungan sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebut itu sebagai bentuk ‘pelayanan’. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan yang tidak berguna. Kadang diselingi dengan menggunjing orang lain.
        Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan di masyarakat kita sekarang. Terkadang acara itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diri pun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari raya ‘Id. Kita bisa melihat orang-orang saling mengunjungi ke rumah teman atau kerabatnya. Tidak cukup hanya dengan ucapan selamat dan sejenisnya, tapi mereka menyelinginya dengan membuang-buang waktu seperti yang saya paparkan.

Karena Masih Ada yang Lebih Berharga

8 Oktober 2011 1 komentar

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar...
(QS. Al Baqarah: 155)
Seorang lelaki bermuram durja karena masalah yang sedang dihadapinya. Merasa kesulitan, ia berharap mendapat solusi dari salah satu tabi’in yang mulia, Yunus bin Ubaid (wafat 139 H). Setelah lelaki gundah itu mengadukan segala kesulitannya, Yunus bin Ubaid pun berkata,
“Apakah engkau senang memberikan penglihatanmu untuk dibeli dengan seratus ribu dirham)” Laki-laki itu menjawab, “Tidak” Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan pendengaranmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak”. Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan lidahmu?” Laki-laki itu  menjawab, “Tidak”. Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan otakmu?” Dia berkata, “Juga tidak, meskipun sedikit” Lalu ia mengingatkannya pada nikmat-nikmat Allah yang lain atas dirinya.

Bagaimana Menyikapi Ketergelinciran dan Kesalahan Para Ulama

2 Oktober 2011 0 komentar
Sesungguhnya, wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati dan memuliakan para ulama, bersikap lapang dada terhadap perselisihan yang terjadi diantara mereka dan selainnya, serta memberikan udzur terhadap mereka yang melakukan kekeliruan di dalam keyakinan mereka
-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Majmû’ Fatawa wa Rosâ`il al-‘Utsaimîn (26/90-92)-
          Beberapa perselisihan ummat ini disebabkan oleh beberapa hal. Berbeda manhaj, beda madzhab, dan banyak perbedaan lainnya. Dan sekarang yang harus kita ikuti adalah manhaj salaf, manhaj (cara/jalan hidup) yang kita teladani dari pendahulu kita yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat serta yang mengikuti jalan mereka. Sebagaimana hadits,
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)

Hukum Bom Bunuh Diri dalam Islam

29 September 2011 0 komentar

Pertanyaan:
Bagaimana dengan hukuman syar'i terhadap orang yang membawa bom di tubuhnya kemudian meledakkan dirinya di tengah kerumunan orang-orang kafir dengan maksud untuk menghancurkan mereka ? Apakah bisa dibenarkan beralasan dengan kisah pemuda yang memerintahkan raja untuk membunuh dirinya? (Untuk melihat kisah yang dimaksud oleh penanya, silakan baca di artikel kami sebelumnya, Kisah Ashhabul Ukhdud, Gambaran Keteguhan Seorang Muslim .ed)
Jawaban:
Orang yang meletakkan bom di badannya lalu meledakkan dirinya di kerumunan musuh merupakan suatu bentuk bunuh diri dan ia akan disiksa di Neraka Jahannam selamanya, disebabkan perbuatan tersebut, sebagaimana telah disebutkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa orang yang membunuh dirinya dengan sesuatu ia akan disiksa karenanya di Neraka Jahannam.

Kisah Ashhabul Ukhdud, Gambaran Keteguhan Seorang Muslim

28 September 2011 0 komentar

Sejarah merupakan guru yang paling berharga. Karena dengan sejarah maka kita bisa banyak sekali mengambil pelajaran. Dengan menelisik sejarah dan kisah para pendahulu kita, maka bisa jadi kita akan lebih baik lagi. Dengan sejarah kita bisa mengevaluasi diri, dengan sejarah kita bisa membuat visi, dengan sejarah kita bisa mengambil langkah untuk saat ini.
Dan salah satu kisah yang paling menarik dari banyaknya kisah yang ada adalah kisah Ashhabul Ukhdud. Kisah mengenai satu pengorbanan untuk mempertahankan keyakinan. Kisah mengenai keteguhan iman seorang pemuda, dengan semangat untuk menyampaikan yang haq dan mencegah yang munkar, kisah tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memegang teguh keyakinannya akan kebenaran. Dan untuk itu, simaklah kisah yang berharga ini agar kita menjadi insan yang lebih baik lagi.

Mengenal Siapa Sebenarnya Ibnu Sina dan Penyimpangannya

18 September 2011 22 komentar
Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu
-Ibnu Sina-
Siapa yang tak mengenal Ibnu Sina? Seorang saintis timur tengah juga menjadi kebanggaan kebanyakan kaum muslimin saat ini. bagaimana tidak, penguasaannya di bidang pengetahuan dan keahliannya di bidang iptek tidak lagi menjadi perdebatan. Pengaruhnya yang luar biasa besar diakui hingga ke dunia Barat. Sampai-sampai buku karangannya dijadikan buku teks kedokteran dan pengetahuan lain di Eropa hingga berabad-abad lamanya.
        Ibnu Sina memang luar biasa, namun siapa yang menyangka bahwa ia bukanlah seorang ulama Islam melainkan hanya saintis. Siapa yang menyangka bahwa di balik kelihaiannya dalam menyembuhkan orang ternyata ia memiliki virus yang bisa meruntuhkan aqidah Islam.

Hukum Berdoa Ketika Sujud dengan Ayat-ayat Al-Qur'an

16 September 2011 0 komentar

Pertanyaan:
Kami sudah mengetahui, bahwa membaca Al-Qur‘ân ketika sujud tidak dibolehkan, akan tetapi ada beberapa ayat dalam Al-Qur‘ân yang berisi doa.
Bagaimanakah hukum membaca doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur‘ân ketika sujud?
Jawaban :
Itu tidak mengapa, apabila dia membawakannya sebagai doa bukan sebagai bacaan Al-Qur‘ân.
Al-Lajnatud-Dâ‘imah lil Buhûts al-Ilmiyyah wal-Iftâ‘
Ketua: Syaikh bin Bâz.
Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur-Razaq ‘Afifi.
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghadyan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ûd.
Rujukan:
Fatâwâ al-Lajnah, 6/441, dimuat juga dalam Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII. Dikutip dari majalah-assunnah.com
Diedit oleh Jundullah Abdurrahman Askarillah, dimuat ulang di CafeSejenak.
           

Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Tertulis, Kenapa Mereka Disiksa?

15 September 2011 0 komentar

Pertanyaan:
"Apakah perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di Lauh Mahfudz ? Apabila benar, maka bagaimana Allah menyiksa mereka ..?"
Jawaban:
Benar, perbuatan orang-orang kafir telah tertulis sejak zaman azali, bahkan perbuatan semua manusia telah tertulis sejak dia berada di perut ibunya, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu ia berkata ; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (yang benar lagi dibenarkan) bercerita kepada kami.
"Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi 'alaqah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari pula. Lalu diutuslah kepadanya seorang malaikat, dan diperintahkan dengan empat kalimat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka atau bahagia."

Sudah Mengaku Bersyukur?

3 September 2011 0 komentar

...Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji
(QS. Luqman: 12)
            Pria itu berjalan petantang-petenteng. Gaya parlente, baju mewah, langkah congkak, harta berlimpah, budak dan dayang-dayang dengan setia mendampingi di belakangnya. Hampir semua orang takjub padanya sembari berkata, “Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar
            Ya, Qarun nama pria penikmat dunia itu. Perlambang kesohoran dan kemegahan di zamannya. Bayangkan, kunci-kunci hartanya tidak dibawa dengan dimasukkan kantong seperti sekarang, tapi kunci itu bahkan sampai dipikul oleh orang-orang yang kuat. Kuncinya saja sudah sebesar itu, bagaimana dengan gudang hartanya?
            Pesaing Fir’aun dan Haman dalam hal keduniaan ini dengan sombongnya memamerkan apa yang ia ‘miliki’ kepada kaumnya. Melihat adegan itu, berkatalah kaumnya, “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Hukum Menghancurkan Tempat Maksiat

20 Juli 2011 0 komentar
Pertanyaan:
Apakah kami (orang awam atau masyarakat biasa, ed) diperbolehkan merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan, seperti menghancurkan lokasi-lokasi pelacuran dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia?
Jawaban:
Ini tidak boleh! Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak Waliyul Amr (umara/pemimpin atau yang berwenang.ed). Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Download Ebook Ulama Ahlussunnah Gratis

12 Juli 2011 0 komentar
Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati Allah, dalam rangka menyebarkan kebaikan dan dakwah Islam kepada segenap ummat, serta menyebarluaskan ilmu bermanfaat yang semoga mampu membentuk karakter ummat bermanhaj salafushshalih, maka kali ini kami akan berbagi beberapa ebook Islami gratis karya ulama-ulama ahlussunnah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tidak banyak memang, tapi insya Allah berbobot dan penuh ilmu. Dan semoga ebook yang didownload mampu dirasakan manfaatnya.
            Untuk mendownload, silakan langsung klik judul ebooknya.

Siapa Bilang Malam Nisfu Sya'ban itu Bid'ah? (Kupas Tuntas Hukum Nisfu Sya'ban)

8 Juli 2011 70 komentar
Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pengajak ke pintu tobat dan pembawa rahmat.
Amma ba'du:
Sesungguhnya Allah telah berfirman,
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)
"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhai Allah? Sekirannya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih." (QS. Asy-Syura': 21)

Kupas Tuntas Kitab Ihya Ulumuddin

7 Juli 2011 169 komentar
Siapa yang tidak mengenal kitab Ihya Ulumuddin? Ya, kitab hasil karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang sering dijadikan sebagai sandaran dan rujukan bagi sebagian ummat Islam terutama di Indonesia. Imam Al-Ghazali sering sekali dianggap sebagai ahli filsafat Islam dan ilmu kalam. Dan kitabnya yang berjudul Ihya Ulumuddin itu pun dianggap sebagai ‘masterpiece’ Imam Al-Ghazali dalam hal imu kalam dan filsafat. Namun, bagaimanakah sebenarnya kitab Ihya Ulumuddin dalam timbangan para ulama?
     Sekilas Biografi Imam Al-Ghazali
  Karena pembahasan kali ini adalah tentang kitab Ihya Ulumuddin, maka biografi Imam Al-Ghazali pun hanya sekilas. Beliau dilahirkan di Thus, Khurasan (sekitar Irak-Iran.red) pada tahun 450 H. Sempat mengajar di Baghdad lalu menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali lagi ke Thus.

Ajak, Ajaklah Aku ke Surga!

6 Juli 2011 0 komentar
Demi Dzat yang matahari tunduk padaNya
Ajak, ajaklah aku ke surga
Ku tak ingin kebersamaan ini hanya di dunia
Karena ku ingin di alam jannah kita ‘kan jumpa

Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya
Ajak, ajaklah aku ke surga
Jika dunia tempat menanam cinta
Maka akhiratlah tempat menuainya

Demi Dzat tempat seluruh makhluk menghamba
Ajak, ajaklah aku ke surga
Relakah engau di surga dimanja
Namun tambatan hatimu disiksa di neraka?

Demi Dzat yang membuat rindu di hati manusia
Ajak, ajaklah aku ke surga
Aku rindu cintamu yang dahaga
Cinta ahli surga dan bukan ahlul ahwa.

Untukmu yang Terasingkan

5 Juli 2011 3 komentar

Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api
(HR Tirmidzi no. 2140)
Hidup di zaman sekarang memang rasanya sulit. Berjuang di tengah kondisi yang semakin parah, ditambah hegemoni hedonis di seluruh dunia. Menebar fitnah menggoyahkan iman. Membuat satu pertaruhan bagi diri seorang muslim: tetap teguh dalam keIslaman mereka atau tidak.
            Terjebak di antara arus zaman, memang menjadi sebuah pilihan sulit. Ketika dunia berjalan semakin berlawanan arah dengan agama, maka dituntut oleh tiap diri masing-masing untuk ikut memilih, terseret arus atau melawan arus.
           Sebenarnya problematika ini bukanlah terjadi di zaman ini saja, tidak hanya ada pada kondisi sekarang. Ya,semua kisah ini. Kisah antara keterasingan yang Haq dan yang bathil, pertentangan yang benar dan yang salah telah terjadi semenjak yang haq itu ada. Semenjak Adam diciptakan dan Iblis yang inkar kepada Allah masih berada di langit sana. Ketika itu Iblis berkata,

Khilafiyah Jadi Masalah?

4 Juli 2011 1 komentar
Barangsiapa tidak mengetahui perselisihan ‘ulama, hidungnya belum mencium bau fiqh.
(Qatadah, dimuat dalam Jami’ Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr 2/814-815)
Sungguh heran kebiasaan ummat ini di zaman sekarang. Ketika dikatakan sesuatu yang benar maka terkadang mereka mengelak. Ketika dikatakan pendapat yang benar dan yang kuat adalah pendapat ini maka mereka mengatakan bahwa itu hanya satu pendapat saja, karena ulama Islam banyak jadi jangan Cuma ngambil satu aja.
Subhanallah, itukah sikap seorang muslim? Yang menggampangkan masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) agar melakukan semau dia? Agama ini bukanlah agama yang tidak jelas, Islam bukanlah agama yang penuh perselisihan. Kaum muslimin adalah kaum yang berdiri di atas keteguhan akan nilai kebenaran yang mutlak dan absolut. Yaitu mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan penafsiran salafushshalih. Itu saja! Standar kebenaran dalam Islam itu mudah, namun mengapa begitu banyak kaum muslimin yang sampai saat ini belum paham?

Bolehkah Berdiri Untuk Menyambut Orang yang Datang?

3 Juli 2011 0 komentar
Pertanyaan: 
Ketika seseorang masuk, sementara kami sedang duduk di suatu majlis, para hadirin berdiri untuknya, tapi saya tidak ikut berdiri. Haruskah saya ikut berdiri, dan apakah orang-orang itu berdosa?  
Jawaban:
Bukan suatu keharusan berdiri untuk orang yang datang, hanya saja ini merupakan kesempurnaan etika, yaitu berdiri untuk menjabatnya (menyalaminya) dan menuntunnya, lebih-lebih bila dilakukan oleh tuan rumah dan orang-orang tertentu. Yang demikian ini termasuk kesempurnaan etika. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri untuk menyambut Fathimah, Fathimah pun demikian untuk menyambut kedatangan beliau. (HR. Abu Daud dalam al-Adab (5217); At-Tirmidzi dalam al-Manaqib (3871)).

Konsistensi Seorang Muslim

30 Juni 2011 0 komentar

...Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya...
(QS. Fushshilat: 6)
Suatu hari, Yahya bin Yahya sedang duduk di majelis ilmu yang dipimpin oleh Imam Malik di Madinah. Yahya yang seorang pria asal Andalusia (Spanyol) rela melalui perjalanan yang jauh lintas benua demi menuntut ilmu kepada ulama yang tersohor itu. Tidak bisa terbayang bagaimana luar biasanya perjalanan dari Andalusia hingga ke Madinah.
            Ketika ia dan para murid lainnya sedang duduk di majelis itu, tiba-tiba Madinah gempar. Rombongan gajah yang entah dari mana datangnya melewati Kota Madinah. Sontak, hampir seluruh penduduk Madinah berhamburan ingin menonton gajah tersebut. Maklum, tidak seperti kuda atau unta, di jazirah Arab gajah adalah makhluk spesial yang jarang terlihat. Kemunculannya adalah berita besar bagi seluruh warga.
              Tidak terkecuali majelis Imam Malik, para murid yang awalnya menuntut ilmu kemudia turut dalam euforia menyambut rombongan gajah. Yang masih tetap berada di tempat itu hanya tinggal Yahya bin Yahya dan Imam Malik.

Kupas Tuntas Hukum Shalat Berjama'ah di Masjid

26 Juni 2011 1 komentar

            Semenjak kecil, kita sudah tahu bahwa shalat berjama’ah di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan oleh Islam melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ummat Islam yang mengerjakan shalat berjama’ah karena ingin mendapatkan pahala dan semangat besar untuk beramal shalih. Memburu pahala dan menginginkan ridhaNya sekaligus mempererat tali ukhuwah Islamiya menjadi salah satu faktor terbesar untuk shalat berjama’ah di masjid
Tetapi ternyata banyak yang masih belum tau bagaimana sebenarnya hukum dari shalat berjama’ah itu sendiri. Bagaimana sebenarnya para ulama menjelaskan mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Ustad A bilang itu wajib, kalau gak jama’ah di masjid gak sah shalatnya, Kiai B bilang itu sunnah saja. Jadi, mana yang benar?

Hukum Mengeraskan atau Melafalkan Niat dalam Shalat

24 Juni 2011 6 komentar

Sebagian besar ummat Islam di Indonesia semenjak kecil telah diajarkan sebelum shalat, maka harus berniat terlebih dahulu. Seperti “usholli fardha zuhri...” atau “ushalli fardha maghribi tsalatsa...” dan ushalli ushalli lainnya. Seakan-akan tanpa melafalkan niat seperti itu, maka shalatnya tidak afdhal atau pun tidak sah.
Padahal, seharusnya saat ini kita harus lebih kritis dan teliti dalam beramal. Yang kita kritisi bukan ibadahnya, namun masalah dalilnya. Apakah hal itu diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya? Apakah hal itu ada tuntunannya?
Orang-orang yang tetap melafalkan niat berupa “ushalli...” mengaku bahwa mereka bermadzhab Syafi’i. Mereka mengetahui itu dari orang tua mereka, guru-guru mereka, dll. Dan pendapat yang tersebar di Indonesia adalah bahwa melafalkan atau men-jahr-kan (mengeraskan) niat adalah pendapat Imam Syafi’i, salah satu ulama besar ahli fiqh.

Hukum Kuburan Nabi di Dalam Masjid (Bantahan bagi Para Penyembah Kubur)

18 Juni 2011 1 komentar

Pertanyaan:
Bagaimana memberi jawaban kepada para penyembah kuburan yang berargumentasi dengan dikuburkannya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam Masjid Nabawi?
Jawaban:
Jawabannya dari beberapa aspek:
Yang pertama, bahwa masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan akan tetapi ia sudah dibangun semasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup.
Yang kedua, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dikuburkan di dalam Masjid sehingga bisa dikatakan bahwa 'ini adalah sama artinya dengan penguburan orang-orang shalih di dalam masjid' akan tetapi beliau a dikubur-kan di rumahnya (yang berdampingan dengan masjid sebab sebagai-mana disebutkan di dalam hadits yang shahih bahwa para Nabi dikuburkan di tempat di mana mereka wafat-penj).

Melakukan Bid'ah dengan Dalil Berniat Baik, Bolehkah?

17 Juni 2011 4 komentar
Muqaddimah
Segala puji hanya bagi Allah, kami memujiNya, meminta pertolonganNya, dan memohon ampunanNya, dan kami berlindung atas kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak akan disesatkan, dan barangsiapa yang disesatkan olehNya maka tidak ada petunjuk bagi mereka.
Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarganya, para shahabatnya, dan ummatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Amma ba’d:
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan agama ini dengan sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an,
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...
(QS. Al-Maidah: 3)
            Namun rupanya, ada di antara sebagian kaum muslimin yang menambah-nambah ritual-ritual peribadatan dalam agama ini dengan dalil “sesungguhnya setiap amalan tergantung dari niat”. Mereka mengaku berniat baik dengan mengadakan bid’ah-bid’ah tersebut. Dan untuk orang seperti ini, saya katakan “subhanallah! Antum bermaksiat pada Allah dan rasulNya dengan mengatasnamakan sunnah Rasulullah? Sungguh, hal itu adalah suatu kesesatan yang nyata. Anda mengaku beribadah namun hakikatnya antum melakukan bid’ah!”

Apa Maksud dari Sikap Pertengahan Seorang Muslim?

16 Juni 2011 0 komentar

Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan al-Wasath (sikap pertengahan) di dalam agama? Mohon penjelasan yang rinci dan memuaskan dari yang mulia, semoga Allah membalas jasa anda terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.
Jawaban:
Pengertian al-wasath dalam agama adalah seseorang tidak boleh berlaku ghuluw (berlebih-lebihan) di dalamnya sehingga melampaui batasan yang telah ditentukan oleh Allah dan tidak pula taqshir, teledor di dalamnya sehingga mengurangi batasan yang telah ditentukan Allah.

Kupas Tuntas Masalah Hukum Shalat Jama' Qashar dan Hukum Shalat bagi Musafir

3 komentar
Muqaddimah
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarganya, para shahabatnya, dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.
Amma ba’du:
Shalat merupakan rukun Islam yang kedua dan sangatlah penting. Saking pentingnya ibadah ini tidak boleh sekali pun ditinggalkan oleh hamba-hambaNya. Bila ada yang memiliki udzur, maka tetap wajib mendirikan shalat dengan mengambil rukhshah (keringanan dari Allah) agar mereka tetap shalat di saat kondisi apa pun. Dan umumnya masalah yang dihadapi kaum muslimin saat ini adalah shalat dalam keadaan safar (berpergian). Dan sudah seharusnya kita mengetahui tentang bagaimana Allah telah memudahkan para musafir yang hendak shalat dengan menggunakan Jama’ dan Qashar. Berikut adalah uraian yang semoga mendatangkan manfaat bagi kita mengenai shalat Jama’ dan Qashar bagi mereka yang memiliki udzur.

Perbedaan Darah Haid, Nifas, dan Istihadhah (Darah yang Keluar Karena Sakit)

3 Juni 2011 0 komentar
Pertanyaan: Apa perbedaan antara darah haid, istihadhah, dan darah nifas?
Jawab: Tiga macam darah yang ditanyakan keluar dari satu jalan. Namun namanya berbeda, begitu pula hukum-hukumnya, karena perbedaan sebab keluarnya.
Adapun darah nifas sebabnya jelas, yaitu darah yang keluar dari seorang wanita karena melahirkan. Darah nifas ini merupakan sisa darah yang tertahan di dalam rahim sewaktu hamil. Bila seorang wanita telah melahirkan kandungannya, darah itu pun keluar sedikit demi sedikit. Bisa jadi waktu keluarnya lama/panjang, dan terkadang singkat. Tidak ada batasan minimal waktu nifas ini. Adapun waktu maksimalnya menurut mazhab Hambali adalah 40 hari, dan bila lebih dari 40 hari darah masih keluar sementara tidak bertepatan dengan kebiasaan datangnya waktu haid maka darah tersebut adalah darah istihadhah. Namun menurut pendapat yang shahih, tidak ada pula batasan waktu maksimal dari nifas ini.

Bolehkah Bermaksiat dengan Alasan "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun"?

27 Mei 2011 0 komentar
            Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai pelaku maksiat yang bila dilarang dari kemaksiatan ia berhujjah dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
            Jawab: apabila ia berhujjah atasnya dengan ayat ini, maka kita juga berhujjah dengan firman Allah,

Ngantuk Ketika Khutbah Jum'at? Ini Solusinya!

25 Mei 2011 0 komentar

            Jika seseorang merasa ngantuk saat mendengarkan khutbah jum’at, sebaiknya ia bergantian tempat duduk dengan jama’ah lainnya, tanpa bicara namun cukup dengan isyarat kepada yang akan diajak untuk bertukar tempat duduk.
            Dalil dalam masalah ini adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,
Jika salah seorang dari kalian merasa ngantuk pada hari Jum’at, maka hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat duduk temannya dan temannya berpindah ke tempat duduknya
                   (HR. Baihaqi no. 238 dan dalam Shahihul Jami’ no. 812)