Adakah Doa dan Dzikir Ketika Membasuh Anggota Wudhu?

14 November 2011
          Suci dari najis dan kotoran adalah salah satu syarat sah ketika hendak melaksanakan shalat atau mungkin ibadah lain. Dan untuk itu kita harus berwudhu untuk bersuci. Namun sayang, ternyata masih banyak diantara kaum muslimin yang melakukan kesalahan dalam wudhu mereka. Diantara kesalahan yang mereka lakukan adalah berdoa pada saat membasuh anggota wudhu.
     Hal ini sering dianggap sunnah oleh banyak orang sehingga mereka tanpa ragu melaksanakannya. Mereka menganggap hal itu ibadah padahal hal itu adalah suatu kesalahan yang bisa jatuh ke dalam perbuatan bid’ah. Sebenarnya orang-orang yang berdoa ketika membasuh anggota wudhu memiliki alasan mengapa mereka melakukan itu, yaitu karena mereka mengaku memiliki hadits sebagai landasan untuk melakukannya. Hadits yang mereka jadikan hujjah adalah hadits dari Anas yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

          “Wahai Anas, mendekatlah kepadaku, akan kuajarkan kepadamu ketentuan-ketentuan wudhu”, lalu Anas pun mendekat kepada beliau.
          Ketika beliau membasuh kedua tangannya beliau berkata, “Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganMu”
         Ketika beristinja’ beliau berkata, “Ya Allah, jagalah kemaluanku dan permudah urusanku”
          Ketika berkumur dan beristinsyaq (menghirup air dengan hidung) beliau berkata, “Ya Allah perhatikanlah kebutuhanku dan janganlah Engkau mengharamkan bau surga kepadaku”
          Ketika membasuh wajah beliau berkata, “Ya Allah putihkanlah wajahku pada hari di mana wajah-wajah akan memutih”
          Ketika membasuh lengan beliau berkata, “Ya Allah berikanlah catatan amalku di tangan kananku”
          Ketika mengusap kepala beliau berkata, “Ya Allah liputilah aku dengan rahmatMu dan jauhkan aku dari siksaMu”
          Ketika membasuh kedua telapak kaki beliau berkata, “Ya Allah teguhkanlah telapak kakiku pada hari di mana telapak kaki akan tergelincir”
          Kemudian beliau berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan kebenaran wahai Anas, tidaklah seorang hamba mengucapkannya pada saat ia berwudhu, tidak akan menetes dari sela-sela jari tangannya setetes air pun kecuali Allah telah menciptakan malaikat yang bertasbih kepadaNya dengan tujuh puluh lisan pahala tasbih yang akan diberikan kepadanya pada hari kiamat”
          Hadits ini bathil, diriwayatkan Ibnu Hibbad dalam Adh Dhu’afa. Al Hafizh berkata dalam At Talkhiish I/111, “Dalam sanadnya terdapat Abbad bin Shuhaib dan ia adalah seorang yang matruk (yang ditinggalkan hadits-nya)”
          “Dalam sanadnya juga terdapat Ahmad bin Hasyim yang dituduh dusta oleh Ad Daruquthni” (Asy Syaukani, Al Fawaid Al Majmu’ah hlm. 13)
          “Tidak ada hadits yang shahih mengenai doa tersebut” (Ibnu Shalah, At Talkhiish Al Kabir I/110)
          “Doa ini tidak ada dasarnya” (Imam Nawawi, Raudhatuth Thaalibiin I/62)
        “Semua hadits yang berkenaan dengan dzikr pada saat membasuh anggota wudhu adalah bathil, tidak ada satu pun yang shahih” (Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Al Manaarul Muniif hlm. 120)
         Jadi pada dasarnya, doa ini sama sekali tidak ada dasarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sekali pun tampaknya amalan ini baik namun amalan ini tidak berdasar sehingga tertolak.
          “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)
          Jika suatu amalan itu baik, maka siapa yang seharusnya melaksanakan duluan? Jika suatu amalan itu baik, maka sudah seharusnya Rasulullah-lah yang paling pertama mengajarkannya. Dan jika menganggap amalan itu adalah sebagai penyempurna, maka ingatlah firman Allah,
“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agamamu...” (QS. Al Maidah: 3)
Sesungguhnya ajaran Islam itu telah sempurna, tidak ada lagi penambahan atau pun pengurangan. Ikutilah apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena itulah sebaik-baiknya jalan.
Wallahu a’lam.
Sumber penulisan:  99 Khatha-an fii Ath Thaharah, Wahid bin ‘Abdussalam Baali.
Jakarta, 13 November 2011
Waktu dhuha yang penuh berkah
Artikel Cafe Sejenak
Pembahasan tentang Wudhu ini telah kami sempurnakan lewat artikel kami yang lain,
Berbagai Kesalahan Bacaan Doa dan Dzikir Dalam Berwudhu. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait



1 komentar:

  • like this... subhanallah

  • Poskan Komentar