Inilah Malu, Akhlak Seorang Muslim

18 Maret 2012
Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya
-Al Junaid, Madaarij As Salikin II/270-
Sebagai seorang muslim, maka tentunya kita memiliki sebuah kepribadian atau ciri khas yang menjadi penunjuk bahwa kita memang seorang muslim. Selain bertauhid, ciri seorang muslim yang lainnya adalah seorang muslim sudah seharusnya memiliki akhlak yang baik. Dan diantara akhlak yang paling mulia di dalam Islam adalah malu, di mana rasa malu ini sudah sangat jarang kita temukan di antara kaum muslimin. Karena itu, lewat risalah ini penulis berharap mampu memberikan dorongan bagi kaum muslimin untuk kembali memiliki rasa malu sebagai penghias akhlak mereka.
Definisi Malu
         Secara bahasa, malu adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik[1]

Sementara itu, para ulama juga turut mendefinisikan apa itu malu. Menurut Al Jurjani, malu adalah mundurnya diri dari sesuatu dan dia meninggalkannya karena khawatir mendapat celaan di dalamnya[2].  Sementara itu, Ibnu Maskawaih berpendapat bahwa malu adalah memasung diri lantaran takut melakukan berbagai keburukan dan mawas diri dari cercaan dan celaan[3]. Imam Nawawi menukil perkataan Al Junaid. Ia  berkata, “Malu adalah memperhatikan semua nikmat dan merenungi semua kealpaan, sehingga lahirlah dari keduanya suatu hal yang disebut malu”[4]
Sementara itu, Fadhlullah Al Jailani mendefinisikan malu sebagai perubahan yang menyelubungi seseorang lantaran khawatir kepada sesuatu yang tercela, sesuatu yang sejatinya buruk[5].
Dengan kata lain, malu bagaikan iman yang menghentikan kemaksiatan. Dan (malu adalah sesuatu) yang menghalangi antara seorang yang beriman dengan kemaksiatannya[6]
Dalil Perintah Untuk Malu
Banyak sekali hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan mengenai perintah atau pun keutamaan malu sebagai salah satu akhlak Islam yang paling mulia serta sebagai salah satu cabang keimanan.
Salah satu dari perkara yang telah diketahui manusia dari ucapan Nabi terdahulu: Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah sesukamu[7]
Semua malu itu baik” (HR. Muslim no. 61)
Rasa malu tidak akan datang kecuali bersama kebaikan” (HR. Bukhari)
Tidaklah (perkataan atau perbuatan) keji itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali membuatnya buruk, dan tidaklah malu itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali membuatnya indah[8]
Malu itu termasuk iman. Iman tempatnya di surga. (perkataan atau perbuatan) keji itu termasuk kebengisan, kebengisan tempatnya di neraka[9]
Sesungguhnya malu dan iman itu selalu bersama. Jika salah satunya diangkat, yang satu pun terangkat[10]
Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling utama adalah syahadat “Laa ilaaha illallaahu” dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim no. 35)
Suatu ketika Nabi menjumpai seorang yang sedang mencela saudaranya karena dia sangat pemalu, Nabi lantas bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Malu dan diam (karena khawatir terjerumus kepada yang tidak halal) adalah dua cabang iman, sedangkan (perkataan dan perbuatan) keji dan lantang bicara (khususnya saat mempertahankan yang tidak benar) adalah dua cabang kemunafikan[11]
Sesungguhnya Allah Maha Malu  dan Maha Menutupi Aib. Dia menyukai (akhlak) malu dan (perbuatan) menutupi aib[12]
Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu[13]
Dua Macam Malu
Malu yang sudah ada sejak kecil (pembawaannya) disebut malu gharizi. Sementara malu yang dapat diusahakan adalah muktasab. Malu yang dapat diushakan inilah yang disyariatkan. Sebagaimana Al Qadhi Iyadh pernah menjelaskan,
“Malu itu dijadikan bagian dari iman. Karena ia bisa diusahakan, seperti halnya perbuatan baik yang lain. Malu memang bersifat naluriah, tetapi malu dalam konsepsi syara’ membutuhkan usaha, niat, dan ilmu. dari sinilah malu merupakan bagian dari iman, di samping malu adalah faktor pendorong berbagai amal kebaikan dan faktor pencegah berbagai kemaksiatan”[14]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pribadi yang terkumpul dua sifat malu ini. beliau amat pemalu (pembawaannya), sedangkan dalam malu yang muktasab beliau berada di puncaknya.[15]
Sifat Malu Nabi
Abu Sa’id Al Khudri berkata tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu daripada gadis perawan dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai (sesuatu), maka kami mengetahui dari wajahnya”[16]
Aisyah pun bercerita mengenai sifat malunya Nabi. “Suatu hari, seorang wanita bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang bagaimana cara mandi setelah suci dari haidnya. Wanita itu mengatakan bahwa beliau mengajarinya cara mandi dan menyuruhnya mengambil selembar kapas/kain yang telah diberi wewangian dan bersuci dengannya. Wanita itu bertanya, ‘Bagaimana saya harus bersuci dengan selembar kapas/kain itu?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bersucilah dengannya, Subhanallah!’ Beliau menutup wajahnya dengan tangan. Maka kutarik wanita itu. Aku tahu apa yang dimaksudkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kukatakan kepadanya, ‘Usapkan kapas itu pada bagian yang terkena darah (haid)’.”[17]
Sifat Malu Para Sahabat
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai generasi terbaik ummat ini merupakan manusia-manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dilahirkan di muka bumi ini. mereka semua pun memiliki teladan dan petuah mengenai rasa malu.
Inilah Abu Bakar Ash Shiddiq, yang pernah berkata dalam khutbahnya, “Wahai kaum muslimin, hendaklah kalian malu kepada Allah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, aku benar-benar menyelubungkan pakaian ke kepalaku saat aku buang hajat di area terbuka karena malu kepada Rabbku[18]
Inilah Umar bin Khattab, yang memiliki petuah, “Barangsiapa sedikit rasa malunya, sedikit pula sikap wara’nya. Barangsiapa sedikit wara’nya, matilah hatinya[19]
Barang siapa malu, dia akan sering tidak menampakkan diri. Barang siapa sering tidak menampakkan diri, dia akan menjaga diri. Dan barang siapa menjaga diri, dia akan dijaga[20]
Inilah Utsman bin Affan yang memiliki rasa malu sangat tinggi. Aisyah berkisah mengenai malunya Utsman bin Affan, “Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau. Kemudian Abu Bakar meminta izin menemui beliau. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaannya. Lalu Abu Bakar bercakap-cakap dengan beliau.
Kemudian ‘Umar datang meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya. Mereka pun berbincang-bincang. Kemudian ‘Utsman datang minta izin untuk menemui beliau. Beliau pun langsung duduk dan membenahi pakaiannya. ‘Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika ‘Utsman pulang, Aisyah bertanya, “Abu Bakr masuk menemuimu, namun engkau tidak bersiap menyambut dan tidak memedulikannya. Begitu pula ‘Umar masuk menemuimu, engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak memedulikannya pula. Kemudian ketika ‘Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu!”
Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim no. 2401)
Dalam riwayat yang lainnya dari ‘Aisyah dan ‘Utsman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
Sesungguhnya ‘Utsman itu orang yang pemalu. Aku khawatir, jika aku mengizinkan dia masuk dalam keadaan seperti tadi, dia tidak akan bisa menyampaikan keperluannya kepadaku.” (HR. Muslim no. 2402)
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersaksi mengenai Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau bersabda, “Utsman adalah orang yang paling pemalu dari umatku[21]
Ibnu Abbas juga tidak ketinggalan dalam masalah ini. Beliau tidak pernah masuk kamar mandi kecuali sendirian dan itu pun masih memakai kain penutup. Ibnu Abbas berkata, “Aku malu kepada Allah, jika Dia melihatku di kamar mandi dalam keadaaan telanjang[22]
Inilah Abu Musa Al Asy’ari yang ketika tidur memakai beberapa helai pakaian karena khawatir auratnya tersingkap[23]
Malunya Para Wanita di Zaman Nabi
Inilah contoh yang seharusnya diteladani oleh wanita muslimah di zaman ini. ketika kita sering melihat betapa banyak wanita kaum muslimin terjebak di dalam kemaksiatan karena putus urat malunya. Betapa banyak wanita kaum muslimin yang dengan ringannya memamerkan keindahan tubuhnya kepada dunia, seakan ia tidak lagi memiliki akhlak malu ini.
Bercerminlah wahai muslimah, kepada Fathimah binti Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi Fathimah bersama seorang budak  yang beliau berikan kepadanya. Waktu itu Fathimah hanya mengenakan sehelai kain yang jika untuk menutupi kepalanya, kedua kakinya akan tersingkap. Begitu pula ketika hendak menutupi kakinya maka kepalanya akan terlihat. Kemudian setelah melihat hal tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini tidak apa-apa bagimu. Ini hanya ayah dan budakmu[24]
Tengoklah wahai muslimah, kini ketika kebanyakan dari kalian malah mengenakan pakaian yang memamerkan keindahan tubuh kalian, yang bahkan satu kain pun cukup untuk dijadikan pakaian. Apakah ini kesempurnaan akhlak malu muslimah?
Dan lihatlah Ummul Mu’minin, Aisyah binti Abu Bakar. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ayah Aisyah, Abu Bakar, dimakamkan di dalam rumah Aisyah, ia masuk ke dalamnya dengan melepas kain hijabku. Sementara setelah Umar dimakamkan pula di dalam rumahnya, maka Aisyah tidak pernah masuk ke sana kecuali setelah memakai hijab (karena malu kepada Umar)[25]
Berbeda sekali dengan zaman sekarang, ketika sebagian wanita kaum muslimin malah tidak lagi memiliki rasa malu kepada setiap lelaki. Mereka malah sengaja menggoda para lelaki itu agar terus nempel kepada mereka. Na’udzubillah min dzalik.
Petuah dan Kata Mutiara Salaf Tentang Malu
Hasan Al Bashri berkata, “Malu dan murah hati adalah dua simpul kebaikan. Tidaklah keduanya ada pada diri seseorang melainkan Allah akan mengangkatnya dengan keduanya[26]
Fudhail bin Iyadh berkata, “Ada lima tanda kesengsaraan: kerasnya hati, bekunya mata, sedikitnya malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan[27]
Al Ashmu’i bertutur bahwa ada seorang arab badui berkata, “Barangsiapa malu menjadi pakaiannya, maka sungguh orang lain tidak akan melihat aibnya[28]
Ibnul Jauzi berkata, “Seorang lelaki adalah seseorang yang apabila di depannya ada barang haram yang disukainya, ia sendirian, dan dia berkesempatan untuk melakukannya, ia sudah sangat ingin melakukannya, lantas ia sadar pandangan Allah padanya, maka dia malu untuk menempatkan hasratnya pada yang tidak disukai-Nya sehingga hilanglah hasrat tersebut
Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Akhlak malu adalah salah satu akhlak yang paling utama, paling tinggi, paling agung, dan paling banyak manfaatnya. Malu adalah karakter khusus manusia. Artinya, siapa yang tak punya malu maka tak tersisa sisi kemanusiaannya selain daging, darah, dan raganya.[29]
Faidah Malu
Sebenarnya banyak sekali faidah dan buah dari rasa malu. Yang kami bawakan ini hanya sebagian kecil dari lautan hikmah rasa malu.
Ibnul Qayyim berkata, “Kalau bukan karena akhlak ini (malu), tidak ada tamu yang dimuliakan, tidak ada janji yang ditepati, tidak ada amanah yang ditunaikan, tidak ada kebutuhan orang lain yang dipenuhi. Juga tidak ada orang yang mencari kebaikan lalu mengedepankannya, tidak ada yang mewaspadai hal buruk lalu menjauhinya, tidak ada yang menutup aurat, tidak ada yang mencegah dari perbuatan nista, tidak mempedulikan hak-hak sesama, tidak ada yang berbakti kepada orang tua.
Sesungguhnya faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan ada dua: agama dan dunia atau moral. Agama yakni harapan untuk menggapai kesudahan yang baik, sedangkan dunia atau moral yakni rasa malu seseorang kepadanya sesamanya. Maka jelas sudah bahwa jika bukan karena rasa malu kepada Al Khaliq atau kepada sesama makhluk, seseorang tidak akan berbuat baik”[30]
Sementara itu, rasa malu sebenarnya melahirkan iffah (kesucian diri). Maka barangsiapa yang memiliki rasa malu, hingga dapat mengendalikan diri dari perbuatan buruk, berarti ia telah menjaga kesucian dirinya. Rasa malu juga membuahkan rasa wafa’ (selalu menepati janji). Ahnaf bin Qais berkata, “Dua hal yang tidak akan berpadu dalam diri seseorang: dusta dan harga diri. Sedangkan harga diri akan melahirkan sifat shidq (berkata benar), wafa’, malu, dan ‘iffah[31]
Jika Malu Dicabut
Jika rasa malu dicabut dari hati manusia, maka sungguh itu adalah kerusakan yang sangat besar. Karena sebenarnya malu adalah sesuatu yang menghidupkan hati dan pangkal dari kebaikan. Jika telah hilang rasa malu di antara kita, maka lihatlah realitasnya. Seseorang itu tidak akan merasakan apa-apa saat orang lain melihat aib dan keburukannya. Bahkan diantara mereka ada yang membanggakan kemaksiatan yang telah mereka perbuat. Orang yang tidak lagi memiliki rasa malu pada hakikatnya adalah orang yang sudah mati di dunia dan celaka di akhirat.
Barangsiapa malu kepada Allah saat bermaksiat, niscaya Allah malu untuk menghukumnya pada hari pertemuan denganNya. Barangsiapa yang tidak malu kepada Allah dengan kemaksiatan yang dilakukannya, niscaya Allah tidak malu menghukumnya.[32]
Malu Untuk Belajar
Sesungguhnya malu adalah akhlak yang indah, tetapi ketika di suatu kondisi tertentu maka malu adalah cela. Contohnya malu untuk belajar. Sebagaimana kisah yang dituturkan Sa’id bin Musayyib yang terdapat dalam Shahih Muslim. Suatu ketika Abu Musa Al Asy’ari pernah berkata kepada Aisyah, “Saya ingin bertanya sesuatu, tapi saya malu (untuk bertanya)”. Maka Aisyah berkata, “bertanyalah dan jangan malu! Hanyasanya aku ini ibumu”. Maka Abu Musa bertanya tentang seorang pria yang meniduri istrinya tapi tidak sampai mengeluarkan mani. Maka Aisyah pun menjawab dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apabila dua khitan bertemu, maka wajib mandi[33]
...Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar” (QS. Al Ahzab: 53)
Wallahu a’lam
Sumber Penulisan:
Al Qur’anul Karim
Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari. Edisi Indonesia: Ensiklopedi Hadits-hadits Adab. Penerbit: Pustaka As Sunnah
Al Muraqabah Al Amanah At Tawadhu’ Al Haya’, Abu ‘Amar Mahmud Al Mishri. Edisi Indonesia: Manajemen Akhlak Salaf. Penerbit: Pustaka Arafah
Al Wafi fi Syarh Al Arba’in An Nawawiah, Dr. Musthafa Dieb Al Bugha dan Muhyidin Mistu. Edisi Indonesia: Al Wafi, Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah. Penerbit: Al-I’tishom
www.muslim.or.id
www.almanhaj.or.id

Selesai ditulis di Bogor pada Ahad, 18 Maret 2012. Selesai disempurnakan ba’da isya.
Hamba Allah yang mengharap ampunan-Nya, Regin Iqbal Mareza
Artikel Cafe Sejenak




[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2] At Ta’riifaat hlm. 94
[3] Tahdzib Al Akhlaq fii At Tarbiyah hlm. 17
[4] Riyadhush Shalihin hlm. 246
[5] Fadhlullah Ash Shamad II/54
[6] Lisanul ‘Arab XIV/217
[7] HR. Bukhari no. 6120. Dimuat pula dalam Adabul Mufrad bab 271 no. 567;
[8] HR. Ahmad dan Tirmidzi. Dishahihkan Al Albani dalam Shahiih Al Jaami’ Ash Shaghir no. 5655
[9] HR. Ahmad dan Tirmidzi. Dishahihkan Al Albani dalam Shahiih Al Jaami’ Ash Shaghir no. 3199
[10] HR. Hakim dan Baihaqi.  Dishahihkan Al Albani dalam Shahiih Al Jaami’ Ash Shaghir no. 1603
[11] HR. Ahmad dan Tirmidzi. Dishahihkan Al Albani dalam Shahiih Al Jaami’ Ash Shaghir no. 3201
[12] HR. Abu Daud. Dishahihkan Al Albani dalam Irwaaul Ghalil VII/367
[13] HR. Ibnu Majah no. 4181, dihasankan Al Albani dalam Shahiih Al Jaami’ Ash Shaghir no. 2149
[14] Syarh Shahih Muslim, Imam An Nawawi, II/5
[15] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani, X/532
[16] HR. Bukhari dan Muslim. Dimuat dalam Adabul Mufrad bab 271 hadits no. 599
[17] HR. Muslim. Lihat Manajemen Akhlak Salaf karya Mahmud Al Mishri. Penerbit: Pustaka Arafah
[18] Makaarim Al Akhlaq, Ibnu Abid Dunya, hlm. 20
[19] Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzi, I/287
[20] Manajemen Akhlak Salaf, Mahmud Al Mishri, hlm. 184
[21] Dimuat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Jami’ Ash Shaghir no. 3977
[22] Siyar A’lam An Nubala III/355
[23] Manajemen Akhlak Salaf, Mahmud Al Mishri, hlm. 185
[24] HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil VI/206
[25] HR. Hakim dalam Al Mustadrak IV/7
[26] Makaarim Al Akhlaq, Ibnu Abid Dunya, hlm. 19 dan 24
[27] Madaarij As Salikin II/271
[28] Al Adab Asy Syar’iyah II/227
[29] Lihat Miftah Daaris Sa’adah hlm. 277
[30] Lihat Miftah Daaris Sa’adah hlm. 277
[31] Al Wafi fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah
[32] Lihat Ad Daa’ wa Ad Dawaa’, Ibnul Qayyim Al Jauziyah
[33] HR. Muslim no. 349, disebutkan juga lafazh ini dalam riwayat Ibnu Majah


Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar