Dan Inilah Ikhwanul Muslimin...

21 April 2012
Serukanlah kepada kami karena sesungguhnya kami membawa suatu kebaikan, kumpulkanlah kepada kami manusia maka akan kami bacakan kepada mereka dzikir, kami akan menjadi dokter bagi yang sakit, akan diam penduduk dunia jika tidak mendengar semboyan kami; “Allah adalah tujuan kami, Rasul adalah pemimpin kami, Al-Quran dustur kami, jihad adalah jalan hidup kami, mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami…
-Hasan Al Banna-
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta segenap keluarganya, para sahabatnya. Amma ba’d. Sebelumnya, kami berterimakasih kepada yang telah memberi komentar, masukan, dan saran di posting kami yang sebelumnya. Karena itu, kami berusaha menyempurnakan penjelasan tentang IM yang telah dibahas sebelumnya agar kaum muslimin semakin yakin dan mantap bahwa masih banyak orang-orang IM yang masih jauh dari kebenaran meski mereka terus mendakwahkan apa yang mereka namakan kebenaran itu sendiri. Semoga bermanfaat.
Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan salah satu gerakan dakwah terbesar di dunia, telah menyebarkan pengaruhnya ke seluruh penjuru bumi. Banyak orang mengira, dengan jumlah pengikut yang besar maka gerakan dakwah itu adalah gerakan dakwah yang benar. Banyak yang mengira, dengan orang-orang berengaruh dari IM maka gerakan itu adalah gerakan orang-orang yang lurus. Banyak yang mengira, dengan metodenya yang memesona maka dakwah mereka adalah dakwah yang mulia.

        Akan tetapi siapa sangka, dibalik jubah keIslaman mereka yang ditampakkan ternyata tersembunyi virus-virus penghancur kaum muslimin dari nilai-nilai Qur’an dan Sunnah. Berikut kami bawakan beberapa cuplikan penyimpangan sebagian tokoh IM dari nilai-nilai Islam yang luhur.
Yang pertama, Perayaan maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berkata Mahmud ‘Abdul Haliim dalam kitabnya, Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh (1/109):
Kami dulu pergi bersama setiap malam ke masjid Sayyidah Zainab, lalu kami melaksanakan shalai ‘Isya’, kemudian kami keluar dari masjid dan berbaris dalam beberapa shaff (di luar masjid), di depan kami berdiri ustadz mursyid (Hasan Al Banna) melantunkan salah satu dari nasyid-nasyid maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , dan kami mengikuti lantunannya secara bersama-sama dengan suara yang keras (sehingga) mengundang perhatian (orang).”
Lihat juga keterangan ‘Abbas As Siisy dalam kitabnya Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin (1/48) dan (2/46). Juga dalam Majallatud Da’wah (hlm. 16, edisi ke-21, bulan Rabi’ul Awwal Tahun 1398 H) pimpinan ‘Umar At Tilmisaany ketika menjadi mursyid IM.
Padahal dalam sejarah, tidak pernah kita temukan catatan mengenai perayaan maulid Nabi ini dirayakan oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Perayaan ini pertama kali dibuat pada abad ke-4 Hijriah oleh orang-orang dari Bani Fathimiyah, sebuah daulah Syi’ah Bathiniyah. Pendirinya, Ubaidillah bin Maimun Al Qaddah, adalah orang yang mengaku keturunan Nabi padahal para ahli nasab telah meneliti bahwa sebenarnya ia keturunan Majusi atau Yahudi. Bani Fathimiyah ini menghidupkan 6 hari raya: Maulid Nabi, Maulid Ali, Maulid Fathimah, Maulid Hasan, Maulid Husain, dan Maulid raja yang berkuasa. (Al Khuthath, Al Maqrizi; Al Bida’ Al Hauliyah, Abdullah bin Abdul Aziz At Tuwaijiri)
Yang kedua: Perayaan malam Isra’ dan Mi’raj.
Lihat ucapan At Tilmisaany dalam Majallatud Da’wah (hlm. 4-5, edisi ke-13, bulan Rajab tahun 1397 H). Dan ucapan As Siisy dalam kitabnya Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin (1/141-142).
Yang ketiga, Perayaan memperingati peristiwa perang Badar
Berkata Mahmud ‘Abdul haliim dalam kitabnya Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh (3/127):
IM mengadakan pesta perayaan dalam rangka memperingati peristiwa perang Badar di cabang IM wilayah ‘Abbaasiyyah di Kairo, dalam perayaan tersebut disampaikan ceramah mursyid umum IM yang kemudian dimuat dalam surat kabar pada hari berikutnya.
Yang keempat, Perayaan memperingati peristiwa Hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam .
‘Abbas As Siisy dalam kitabnya Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin (1/192) menceritakan perayaan IM dalam rangka memperingati peristiwa Hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pada sub judul: Ceramah Ustadz Mursyid Umum (Hasan Al Banna) dalam perayaan (memperingati) Hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di masjid Sayyidah Zainab.
Yang kelima, Perayaan dalam rangka mengenang Nawwaab Shafawy (tokoh Syi’ah).
Yang dilakukan oleh para mahasiswa IM di Iran, sebagaimana yang diceritakan oleh At Tilmisaany dalam kitabnya Dzikrayaat laa Mudzakkiraat (hlm. 131).
Subhanallah! Inikah yang disebut persaudaraan kaum muslimin yang didengungkan oleh orang-orang IM!? Memperingati tokoh dari Syi’ah yang telah jelas-jelas menghina dan melecehkan kehormatan kaum muslimin. Subhanallah...
Yang keenam, Perayaan ulang tahun (berdirinya) kelompok IM.
Berkata ‘Abbas As Siisy dalam kitabnya Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin (1/260):
IM merayakan ulang tahun ke-20 berdirinya kelompok tersebut.
Yang ketujuh, Menghidupkan peringatan mengenang kematian Hasan Al Banna.
Berkata Mahmud ‘Abdul haliim dalam kitabnya Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh (3/179):
Pada tanggal 12/2/1953 M para anggota Majelis Tsaurah menyatakan keinginan mereka untuk menziarahi tempat pemakaman Hasan Al Banna (dalam rangka) mengenang kematiannya, maka keinginan tersebut disambut baik oleh pihak IM, sehingga di tempat pemakaman mereka disambut oleh sejumlah besar anggota IM, yang dipimpin oleh mursyid umum IM (Hasan Al Hudhaiby)
Semua bentuk perayaan-perayaan ini, dapat dikatakan sebagai sebuah kesesatan karena telah menyimpang dari Qur’an dan Sunnah. Berikut kami paparkan dalil-dalilnya:
Yang pertama, Allah berfirman,
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3)
Agama Islam ini telah sempurna, tidak perlu lagi ditambah-tambah dengan mengamalkan amalan-amalan yang tidak disyariatkan Allah.
Yang kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian pada surga, kecuali sungguh telah aku perintahkan kalian semua dengannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka, kecuali aku telah melarang kalian dengannya” (Lihat Ash Shahihah no 2886)
Bahkan Abu Dzar Al Ghifari berkata, “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah meninggalkan kami dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali telah disebutkan kepada kita ilmu tentangnya.” (HR. Ahmad)
       Seluruh bentuk ibadah dan seluruh ilmu tentang agama ini telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan. Dan apakah seluruh perayaan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan? Tidak!
          Anas bin Malik berkata,
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bermain-main di hari raya itu pada masa jahiliyyah, lalu beliau bersabda: ‘Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain di hari itu pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Adha dan idul Fitri.’” (Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, An Nasa’I, dan Al Baghawi)
Adakah di sana hari raya Isra’ Mi’raj? Atau peringatan Hari Hijrah? Atau perayaan kematian Hasan Al Banna? Kaum muslimin hanya memiliki dua hari raya yakni ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri.
Yang ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Barangsiapa yang beramal dengan sebuah amalan yang bukan dari ajaran kami maka amalan itu akan tertolak” (HR. Muslim)
Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Sungguh, apakah Nabi dan para sahabatnya telah mengajarkan semua peringatan-peringatan yang telah dilakukan IM?
Imam Malik bahkan menyatakan bahwa siapa yang menganggap bid’ah itu baik maka ia telah menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhianat tidak menyampaikan risalah. Subhanallah!
Namun, ketika orang-orang munafik memutar otak untuk menghindar dari syariat dan akhirnya mereka malah menebar syubhat.
Kata mereka: Tapi kan jama’ah IM banyak, masa’ semuanya jadi sesat?
Kami jawab: tidakkah kalian pernah mendengar firman Allah,
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)
Pernahkah kalian mendengar bahwa Hudzaifah bin Al Yaman berkata, “Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun oleh manusia hal itu dianggap sebuah kebaikan
Suatu hal tidak bisa dinilai sebagai sesuatu yang benar bila hanya diukur dari banyaknya orang yang menempuhnya, tetapi apakah hal itu sudah sesuai dengan kebenaran itu sendiri. Dan kita sebagai ummat Islam maka kebenaran adalah apa yang bersesuaian dengan Qur’an dan Sunnah.
Ibnu Mas’ud berkata “Jama’ah adalah apa yang bersesuaian dengan kebenaran meski engkau sendirian” (Syarh Ushulil I’tiqad Ahlissunnha wal Jama’ah, I/108)
Fudhail bin Iyadh berkata, “Ikutilah jalan-jalan petunjuk! Dan tidak akan merugikanmu meskipun sedikit orang yang menempuhnya. Sebaliknya, jauhilah jalan-jalan kesesatan! Dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang celaka di dalamnya” (Al I’tisham I/112
Kata mereka: bukankah banyak diantara pengurus IM adalah para ulama dan orang-orang yang sudah mengerti agama ini? mana mungkin mereka akan tersesat?
Kami jawab: duhai orang yang merugi, apakah kebenaran saat ini dinilai dari ketokohan seseorang? Apakah kita berani mencampakkan hadits Nabi dan lebih memilih perbuatan orang yang notabene ‘bukan siapa-siapa’?
Sesungguhnya Ibnu Abbas berkata, “Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya: Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian?!” (Atsar Shahih: HR. Ahmad 1/337 dan Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/145)
Sumber:
muslim.or.id;nahimunkar.com;salafiyunpad.wordpress.com;rizkytulus.wordpress.com; cafe-islamicculture.blogspot.com; SalafiDB 4.0
Wallahu a’lam
(Silakan simak pembahasan mengenai berbagai kesesatan yang dilakukan oleh sebagian Ikhwanul Muslimin dan juga pendapat para ulama mengenai gerakan dakwah IM ini dalam pembahasan kami yang sebelumnya, Kata Siapa Ikhwanul MusliminSesat? (Membedah Isu Kesesatan Ikhwanul Muslimin)

Bogor, 21 April 2012. Menjelang Ashar yang menenangkan
Artikel Cafe Sejenak


Artikel Terkait



24 komentar:

  • Barakallah fikum.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    wa fiikum barakallah

  • yulizar kasma aceh blog

    asslamualaikum,,
    pendapat yang subjektif......
    perayaan Maulidan, Israk Mijraj, hanya bentuk aktivitas muamalah kawan. bukan dalam hal u'buyah. hanya merefleksi suri teladan. nabi tidak pernah menyuruh umat untuk menulis Sirahnya...
    tapi sirah nabi penting di pelajari...
    ada yg di sampaikan dalam bentuk tulisan, ada yg di sampaikan dalam bentuk aktivitas.

    salam

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    sirah Nabi penting dipelajari karena memang sirah merupakan salah satu bentuk ilmu. dan menuntut ilmu wajib dilaksanakan bagi setiap muslim, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam,

    "menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim" (SHAHIH: HR. Ibnu Majah 224)

    “Bid’ah adalah suatu ungkapan untuk semua jalan/cara dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syari’at dan dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    Penjelasan Definisi.

    Setelah Imam Asy-Syathiby rahimahullah menyebutkan definisi di atas, beliau kemudian mengurai dan menjelaskan maksud dari definisi tersebut, yang kesimpulannya sebagai berikut:

    1. Perkataan beliau “jalan/cara dalam agama”. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam:

    “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Bukhary-Muslim dari ‘A`isyah)

    Dan urusan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentunya adalah urusan agama karena pada urusan dunia beliau telah mengembalikannya kepada masing-masing orang, dalam sabdanya:

    “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. (HR. Bukhory)

    Maka bid’ah adalah memunculkan perkara baru dalam agama dan tidak termasuk dari bid’ah apa-apa yang dimunculkan berupa perkara baru yang tidak diinginkannya dengannya masalah agama akan tetapi dimaksudkan dengannya untuk mewujudkan maslahat keduniaan, seperti pembangunan gedung-gedung, pembuatan alat-alat modern, berbagai jenis kendaraan dan berbagai macam bentuk pekerjaan yang semua hal ini tidak pernah ada zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Maka semua perkara ini bukanlah bid’ah dalam tinjauan syari’at walaupun dianggap bid’ah dari sisi bahasa. Adapun hukum bid’ah dalam perkara kedunian (secara bahasa) maka tidak termasuk dalam larangan berbuat bid’ah dalam hadits di atas, oleh karena itulah para Shahabat radhiallahu ‘anhum mereka berluas-luasan dalam perkara dunia sesuai dengan maslahat yang dibutuhkan.

    2. Perkatan beliau “yang diada-adakan”, yaitu sesungguhnya bid’ah adalah amalan yang tidak mempunyai landasan dalam syari’at yang menunjukkan atasnya sama sekali. Adapun amalan-amalan yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at secara umum –walaupun tidak ada dalil tentang amalan itu secara khusus- maka bukanlah bid’ah dalam agama. Misalnya alat-alat tempur modern yang dimaksudkan sebagai persiapan memerangi orang-orang kafir , demikian pula ilmu-ilmu wasilah dalam agama ; seperti ilmu bahasa Arab (Nahwu Shorf dan selainnya) , ilmu tajwid , ilmu mustholahul hadits dan selainnya, demikian pula dengan pengumpulan mushaf di zaman Abu Bakar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhuma . Maka semua perkara ini bukanlah bid’ah karena semuanya masuk ke dalam kaidah-kaidah syari’at secara umum.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    3. Perkataan beliau “menyerupai syari’at”, yaitu bahwa bid’ah itu menyerupai cara-cara syari’at padahal hakikatnya tidak demikian, bahkan bid’ah bertolak belakang dengan syari’at dari beberapa sisi:

    a. Meletakkan batasan-batasan tanpa dalil, seperti orang yang bernadzar untuk berpuasa dalam keadaan berdiri dan tidak akan duduk atau membatasi diri dengan hanya memakan makanan atau memakai pakaian tertentu.

    b. Komitmen dengan kaifiat-kaifiat atau metode-metode tertentu yang tidak ada dalam agama, seperti berdzikir secara berjama’ah, menjadikan hari lahir Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam sebagai hari raya dan yang semisalnya.

    c. Komitmen dengan ibadah-ibadah tertentu pada waktu-waktu tertentu yang penentuan hal tersebut tidak ada di dalam syari’at, seperti komitmen untuk berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban dan sholat di malam harinya.

    4. Perkataan beliau “dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”. Ini merupakan kesempurnaan dari definisi bid’ah, karena inilah maksud diadakannya bid’ah. Hal itu karena asal masuknya seseorang ke dalam bid’ah adalah adanya dorongan untuk konsentrasi dalam ibadah dan adanya targhib (motivasi berupa pahala) terhadapnya karena Allah -Ta’ala- berfirman:

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

    Maka seakan-akan mubtadi’ (pelaku bid’ah) ini menganggap bahwa inilah maksud yang diinginkan (dengan bid’ahnya) dan tidak belum jelas baginya bahwa apa yang diletakkan oleh pembuat syari’at (Allah dan RasulNya) dalam perkara ini berupa aturan-atiran dan batasan-batasan sudah mencukupi.

    sumber: http://catatanmms.wordpress.com/2011/11/25/mengenal-arti-bidah-dan-bahaya-bidah/

  • yulizar kasma aceh blog

    ana sudah katakan secara singkat, perayaan itu hanya berkaitan dengan moment, kegiatan yang sifatnya muamalah. jadi tidak ada hal yang di anggap pada kontek ibadah khusus. kegiatan itu akan terisi jika di isi dengan penyantunan anak yatim, saling silaturahim dan sebagainya......just moment akhi....
    jadi jangan terlalu di justifikasikan..
    Allah maha benar......
    benaradanya jika dalam pelaksanaan kadang-kadang menyentuh riya dan mubazir, hal itu lebih pada proses pelkasanaan...
    jika kita menolong Agama Allah, maka Allah juga akan menolong kita.,,,,
    bukankah demikian,
    banyak sisi positif yang di lakukan dalam perayaan itu...
    jadi jangan terlalu picik mata teri,
    jangan menganggap bahwa argument antum di atas adalah kebenaran mutlak..
    wasslm

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    "jangan menganggap bahwa argument antum di atas adalah kebenaran mutlak.."

    seharusnya saya yang berkata demikian kepada antum.

    Sekarang begini aja deh, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para shahabat -radhiyallahu 'anhum akma'in- melakukan mauludan gak?

    3 unsur sesuatu yang baru dikatakan bid'ah:
    (1). Perbuatan itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Tidak ada amar yang sharih dalam Al Qur’an atau As Sunnah yang menetapkan hal itu).

    (2). Perbuatan itu tidak mengandung manfaat atau maslahat bagi kehidupan kaum Muslimin di dunia dan Akhirat. (Kalau ada maslahatnya, ajaran Islam pasti akan memperbolehkan amalan itu, sekalipun ia tidak dicontohkan di zaman Nabi dan Shahabat).

    (3). Apabila perbuatan itu dilakukan, ia akan mematikan atau menutup perbuatan Sunnah yang sudah ada. Sehingga ada ulama yang mengatakan, “Dimana tumbuh perbuatan bid’ah, maka disana ada perbuatan Sunnah yang mati.”

    mauludan dan perayaan-perayaan lain. sudah gak ada dalilnya, mudharatnya banyak, malah bertentangan dengan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa kaum muslimin hanya punya dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha.

    daripada debat, mending antum baca: http://www.kautsar.co.id/read/article/12/04/2012/28/prinsip-memahami-bidah/

  • Hari raya umat islam itu cuma 2 ga boleh di tambah!

    KITA GA BOLEH NIRU2 ORANG KAFIR MENETAPKAN HARI RAYA/ HARI BESARNYA SENDIRI!

    Seandainya ada yang merayakan maulid nabi maka ia telah merayakan hari kematian Nabi SAW!

    Jika seseorang merayakan Isra' Mikraj berarti orang itu telah meniru nasara yang merayakan kenaikan yesus ke langit!

  • little bird

    ini memang hasil pemikirian sendiri? referensi buku? dari ustad? atau cuma copast dari blog lain?

  • Hilman

    Assalamu'alaikum...

    ane cuma nambahin nih ye..
    katanya smw tergantung niat..

    zaman semakin hari semakin modern, agama adl akal,..gmn caranya biar org2 d'luar islam mw mengenal islam, dng akal qt gunain..
    dmn d'dlm suatu perkumpulan d'dlmnya msh terdapat kalimat dzikir kpd Allah, insya Allah d'sukai olh-NYA..

    klw qt niatkan maulid, isra mi'raj sbg ladang u/ da'wah islam, knp ga ? toh qt sendiri mang dah berani ngelarang segolongan org2 yg sdg mabok dng tangan qt ? atw lisan qt..?

    tolong jawab dng jujur, udh berani...? kebenaran hanyalah milik Allah..

    dng da'wah islam akn trs bergema...

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @little bird

    Hasil pemikiran sendiri, hasil pengamatan dari lingkungan dan dunia, lalu dikompilasi dengan sumber-sumber yang ada

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Hilman

    Wa'alaikumussalam warahmatullah.

    "...dmn d'dlm suatu perkumpulan d'dlmnya msh terdapat kalimat dzikir kpd Allah, insya Allah d'sukai olh-NYA..

    klw qt niatkan maulid, isra mi'raj sbg ladang u/ da'wah islam, knp ga ?"

    Gak semua kalimat dzikr kepada Allah itu baik mas kalau justru dzikr-dzikr itu tidak sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

    menggunakan ladang maulid sebagai ladang dakwah? kenapa dakwahnya cuma setahun sekali?

    Silakan disimak tentang dzikr yang tidak ada contohnya meski berniat baik:

    Sekelompok orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (salah satu riwayat menyebutkan bahwa mereka berdzikr berjama'ah) , mereka beralasan di hadapan Ibnu Mas’ud,

    ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Lihatlah orang-orang ini berniat baik, namun cara mereka beribadah tidak sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka sembari berkata,

    “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (kuat)

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    demikian halnya dengan memanfaatkan momen tertentu seperti Isra' Mi'raj dan Maulid Nabi sebagai 'ladang' dakwah secara rutin. Meski tujuannya baik, namun ketika hal tsb. tidak ada contohnya dari Nabi, ya jelas salah. Silakan lihat di Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih bin Fauzan. Di sana dijelaskan ibadah ada dua syarat: Ikhlas dan Ittiba'

    Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

    “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67]: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

    Lalu Al Fudhail berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 19)

    Silakan dilihat artikel kami yang lain:
    http://cafe-islamicculture.blogspot.com/2011/06/melakukan-bidah-dengan-dalil-berniat.html

  • "jadi curiga om Jundullah Abdurrahman Askarillah jangan2 kiriman barat untuk mengadu domba antar umat islam........!!!!"
    tau gk kenapa salafi di pupuk subur d bebrapa negara barat dn juga timur????
    mungkin:
    1. dijadikan sarana pemecah belah umat;
    2. tidak pernah punya dampak buruk bagi melesatnya perkembangan Barat yg kejam;
    3. tidak pernah punya andil terhadap perjuangan saudara2 sesama muslim yg tertindas oleh barat(misal palestina, irak, suriah dll);
    4. dakwahnya terhadap kemungkaran gk pernah pake tangan, paling banter pake lisan tp kebanyakan dengan hati. Padahal kan dakwah terhadap kemungkaran yg paling utama dan harus didahulukan pake tangan..

    "tp semoga DIBERKAHI bagi da'i salafi yg ikhlas..."
    wallahualam

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    aduh, saya emang ganteng kayak orang Barat, tapi bukan kiriman barat
    "tau gk kenapa salafi di pupuk subur d bebrapa negara barat dn juga timur????
    mungkin:"

    aduh mas, masih zaman make qila wa qala (katanya dan katanya). kata-kata antum ini justru bisa memecah ummat. kenapa? karena hanya berdasarkan mungkin, mungkin, dan mungkin. ada buktinya nggak?

    Ini deh, saya kasih link 'keburukan' salafi.

    http://kaahil.wordpress.com/2011/10/13/inilah-bukti-kebaikan-pemerintah-saudi-wahabi-untuk-santripesantren-kyai-nu-indonesia-palestina-muslimin-dunia-sambutan-yang-baik-dari-pemerintah-saudi-terhadap-tokoh-tokoh-nahdhat/

    http://www.voaindonesia.com/content/a-32-2006-02-23-voa3-85388007/61276.html

    http://www.hidayatullah.com/read/23919/26/07/2012/dalam-sehari-saudi-galang-$32,5-juta-donasi-suriah-.html

    http://islamtoday.net/albasheer/artshow-12-170848.htm
    (yang ini coba antum terjemahkan, kalau gak bisa pake google translate juga jadi)

    dan yang antum kerjakan apa? hanya menyebar fitnah dengan segala kemungkinan yang ada di otak anda.

  • saya sudah baca... itu doang? d mana salafinya? pemerintah saudi itu siapa?
    itu mah maksa...

  • Saiful Hadi

    mengenai masalah maulid ini, kmi akan kutip bbrpa pernyataan dr ulama2 Syafi'i

    1. berkata iman Jalaluddin Sayuthi dlm kitab I'anatut Thalibin juz III hal 363
    "Pokok dari amalan maulid itu ialah bahwa manusia berkumpul, lalu mereka membaca sekedarnya ayat2 suci, kemudian membaca kisah2 sejarah nabi dan kisah2 situasi pada saat nabi dilahirkan, kemudian mereka makan bersama dan bubar tidak lebih dari itu. Ibadat macam itu adalah bid'ah hasanah, yang diberi pahala mengerjakannya, karena dalam amalan itu terdapat suasana membesarkan nabi, melahirkan kesukaan dan kegembiraan atas lahirnya nabi Muhammad saw yang mulia.(I'anatut Thalibin juz III hal 363)

    2. berkata iman abu syamah (beliau guru Iman Nawawi, hidup di abad VII H)
    suatu hal yang baik, ialah apa yg dibuat tiap2 tahun bertepatan dengan hari maulid Nabi Saw, memberi sedekah, membuat kebajikan, melahirkan kegembiraan dan kesenangan, maka hal itu selain berbuat baik kepada bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita nabi muhammad saw, membesarkan beliau, dan syukur kpd Tuhan atas karunianya, yang telah mengrim rasul, yg dirasulakn untuk kebahagiaan seluruh makluk
    (I'anatut Thalibin juz III hal 364)

    sebaiknya sdr juga mengeceak kembali darib referensi yg tlh kmi sebutkn.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Anonymous: Apakah setiap bantuan harus dikasih label "From Salafy" supaya Anda percaya??? Nah sekarang Anda aja deh,

    "jadi curiga om Jundullah Abdurrahman Askarillah jangan2 kiriman barat untuk mengadu domba antar umat islam........!!!!"
    tau gk kenapa salafi di pupuk subur d bebrapa negara barat dn juga timur????
    mungkin:...."

    Mungkin? tuduhan Anda itu berpijak pada mungkin? siapa yang lebih maksa? Anda apa saya??? Gak tahu kalau ya kalau Saudi itu disebut sebagai negara Salafy terbesar??? Nah kalau Anda? Anda mau disebut Tukang Fitnah yang besar? Udah fitnah, pake nama anonymous pula...

    @Saiful Hadi:
    Maaf, saya tidak punya bukunya, jadi tidak bisa periksa...Tapi selama ini yang diketahui adalah lebih banyak ulama yang mengharamkan maulid Nabi dibandingkan yang menghalalkannya dengan alasan Bid'ah Hasanah

    http://abusalma.wordpress.com/2008/03/12/bid%E2%80%99ahkah-peringatan-maulid-nabi/

    Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah ma’shum, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karenanya, seharusnya yang jadi pegangan adalah dalil. Janganlah bersikap mengambil pendapat mereka yang ganjil berdasarkan selera dan hawa nafsu. Jika ketergelinciran dan kekeliruan mereka yang diambil, maka pasti kita pun akan menuai kejelekan.

    Sulaiman At Taimi mengatakan,
    “Seandainya engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka pasti akan terkumpul padamu kejelekan.” Setelah mengemukakan perkataan ini, Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, ”Ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama, saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

    Dan ingatlah dengan faidah yang indah ini: “Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

    Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik" (Al Ibanah)

    Wallahu a'lam

  • Saiful Hadi

    Seharusnya mas juga membaca juga referensi yang telah kami sebutkan itu, jangan melihat dari satu sisi saja. Sperti yang telah kami sebutkan sebelumnya ada ulama2 yang memperbolehkan mauled, dengan kata lain perkara ini bukanlah mutlak sesuatu yang haram karena ada terjadi perselisihan pendapat antara masing2 ulama. Dan ulama yang memperbolehkan mauled bisa dipastikan juga mempunyai hujjah yang kuat terhadap pendapat yang beliau ungkapkan.

    Seperti yang anda katakan “Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah ma’shum, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran.”, disini mengindikasikan bahwa ulama2 yang menyatakan bahwa mauled haram juga tidak tertutup kemungkinan dari kesalahan berpendapat.

    Beberapa dalil yang menjadi landasan mauled
    “belum sempurna iman seseorang kamu, kecuali kalau saya lebih dikasihinya dibandingkan dengan familinya, dengan hartanya dan dengan manusia keseluruhannya (HR.Bukhari-Muslim, lihat syarah Muslim, Juz II,pagina 15)

    Maka merayakan mauled nabi adalah suatu bukti kecintaan terhadap beliau. Lantas nanti ada yang bertanya, “mencinta nabi khan tidak mesti dengan mauled?” memang benar,wujud cinta kepada beliau tidak mesti dengan mauled, akan tetapi mauled merupakan salah satu diantara sekian banyak cara untuk mewujudkan cinta kepada beliau.

    Pada hakikatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentu tidak pernah mengatakan bahwa “seluruh bid’ah adalah sesat”. Beliau mengatakan “Kullu Bid’ah dlalalah” sedangkan berdasarkan ilmu atau secara tata bahasa sudah dapat dipahami dengan mudah seperti apa yang disampaikan oleh ulama yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154)

    Hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” berdasarkan ilmu yakni menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhshush, artinya “makna bid’ah lebih luas dari makna sesat” sehingga “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.
    Jadi hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” adalah bersifat umum dan diperlukan hadits yang lain untuk menjelaskan apa yang dimaksud atau termasuk bid’ah (perkara baru) yang sesat seperti

    Salah satu kebiasaan buruk manusia yang patut untuk dijauhi adalah merasa paling benar dan paling menguasai hujjah/dalil, jika hal ini melanda kita maka akan terjerumus kedalam lembah takabur dan mata pun akan kabur dari kebenaran2 yang ada.

    Tanggapan yang kami sampaikan ini bukan berarti kami merasa telah sangat benar, namun ini hanya beberapa masukan yang patut untuk ditela’ah lebih mendalam.
    Wallahu A’lam

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    "Beberapa dalil yang menjadi landasan mauled
    “belum sempurna iman seseorang kamu, kecuali kalau saya lebih dikasihinya dibandingkan dengan familinya, dengan hartanya dan dengan manusia keseluruhannya (HR.Bukhari-Muslim, lihat syarah Muslim, Juz II,pagina 15)

    Maka merayakan mauled nabi adalah suatu bukti kecintaan terhadap beliau. Lantas nanti ada yang bertanya, “mencinta nabi khan tidak mesti dengan mauled?” memang benar,wujud cinta kepada beliau tidak mesti dengan mauled, akan tetapi mauled merupakan salah satu diantara sekian banyak cara untuk mewujudkan cinta kepada beliau."

    “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imron: 31)

    Ingat mas, ingat. Salah satu bukti kita mencintai Allah adalah ittiba' kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan apakah karena alasan "cinta Nabi" lantas kita menyelisihi bukti cinta kita kepada Allah?

    "Pada hakikatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentu tidak pernah mengatakan bahwa “seluruh bid’ah adalah sesat”. Beliau mengatakan “Kullu Bid’ah dlalalah” sedangkan berdasarkan ilmu atau secara tata bahasa sudah dapat dipahami dengan mudah seperti apa yang disampaikan oleh ulama yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154)

    Hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” berdasarkan ilmu yakni menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhshush, artinya “makna bid’ah lebih luas dari makna sesat” sehingga “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.
    Jadi hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” adalah bersifat umum dan diperlukan hadits yang lain untuk menjelaskan apa yang dimaksud atau termasuk bid’ah (perkara baru) yang sesat seperti"

    Owalah, kan seperti yang Anda bilang, "Salah satu kebiasaan buruk manusia yang patut untuk dijauhi adalah merasa paling benar dan paling menguasai hujjah/dalil" yaudah, kalau mungkin di sini saya kurang dalilnya karena minimnya ilmu dan banyaknya kelemahan saya, mungkin Anda belum puas. Mengenai "kullu bid'atin dhalalah" Silakan Anda cek dimari...

    http://biladillah.wordpress.com/2010/04/16/mengenal-apa-itu-bidah-ajaran-baru-dalam-agama/

  • demi Allah, saya adalah salafi,
    tapi saya pernah kalah berdiskusi
    dan gue punya cerpen

    ahlul bida' : iya ya gan, tapi gue mau ikut aqidah ahlussunnah tapi orangnya kasar, tertutup, keras lagi, tidak lembut perkataanya, tidak menyeru dengan hikmah... gimana gan??

    ahlul atsar : (terdiam untuk pertama kalinya )

    ahlul bida' : salafi itu yang saya ketahui menuduh ahlul bida' sebagai pelaku yang memecah belah umat, tapi nyatanya salafi memper-parah pecah belah umat yang hasil ahlul bida' gan!

    ahlul atsar : (terdiam)

    ahlul bida' : salafi itu memang sekarang saya akui kebenaranya,.. tapi mengapa ente mentang mentang diatas sunnah, semua ahlul bid'ah ente salah salahkan!? mengapa?

    ahlul atsar : (terdiam)

    ahlul bida' : saya tau jawabanya gan!, dibalik menyebarkan sunnah dan memberantas bid'ah, dibalik semua itu ada keinginan untuk mengadili ahlul bid'ah gan!
    itulah gan mengapa salafi dimusuhi semua golongan!
    mentang mentang benar!
    semua pelaku bid'ah digeboki sampe babak belur!
    malah gak di seru kepada jalan Allah dengan hikmah!

    ahlul atsar : (terdiam)

    lalu tiba tiba, Chuck Norris dan Yo Dawg datang...

    Chuck Norris : ente berdua mau berantem??

    Ahlul bida' & atsar : tidak gan... ( murung)

    Yo Dawg : hehhehehe daripada berantem, mendingan lihat 1cuk.com biar "greget", dakwah lewat meme

    ahlul atsar : meme itu apa gan?

    Yo Dawg : coba loe tanya Jundullah Abdurrahman Askarillah, kan dia lebih tahu apa itu meme,

    demikianlah cerita antara ahli bid'ah dan ahli sunnah, akhirnya mereka berdua berdakwah lewat meme dan di posting lewat blog masing masig...

    Wallahu A'lam

    BY : Aurizan naufal habib

    maaf sebagian cerita bohong

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    Hooo, jadi anda salafi ya? Kok ceritanya bohongan? kasian kalau label salafi menempel pada Anda. Bisa-bisa salafi dicap sebagai pendusta

  • LPPM Sumbar

    Sesama muslim kok berantem karena merasa benar sendiri. debat ini gak akan selesai kawan. belajar dari yang sudah-sudah. setiap pemikiran pasti mempunyai perbedaan. kenapa kita menonjolkan perdebatan yagn merupakan warisan para pendahulu kita. saling tuding menuduh sesat hanya karena perbedaan dalam hal2 cabang dalam islam.

  • Poskan Komentar