Membuat Perubahan di Milenium Kedua, Bisakah?

21 Mei 2010

Waktu selalu berjalan. Tidak pernah sedikit pun mundur. Sesuai sunnatullah, waktu tak pernah bergeser sedikit pun demi mengulang masa lalu. Waktu terus saja maju ke depan. Waktu yang asal muasalnya hanya Allah yang ketahui, telah meninggalkan bekas dan jejak dari berbagai macam peradaban dari masa lalu. Betapa banyak bentuk kebudayaan masa lalu yang kita kenal. Mulai dari kebudayaan Mesir kuno, peradaban Yunani Kuno, Romawi, Mesopotamia, dan Persia sebagai contohnya. Namun ternyata, peradaban itu pada akhirnya harus ditelan sejarah, meskipun memang diakui sebagai peradaban yang maju, namun tidak mampu bertahan dalam perputaran zaman.
            Dan memang, sejarah pun membuktikan perkembangan hidup manusia. Di mulai dari manusia pertama, Nabi Adam, lalu silih berganti muncul manusia-manusia lain dan menjadi kaum. Di mulai sejak Nabi Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, dan akhirnya tiba pada rasul terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang datang dengan membawa syariat-syariat yang paling sempurna (karena memang pada masa itu kehidupan manusia sudah lebih berkembang). Dan syariat itu sudah seharusnya tetap dipakai hingga akhir zaman.
            Namun sekarang, ternyata kita telah menemukan perubahan yang begitu besar bagi peradaban umat manusia. Seiring berputarnya waktu, maka dengan itu pula teknologi dan peradaban manusia semakin berkembang. Hingga akhirnya sekarang, timbullah wacana yang menyebutkan bahwa syariat Islam sudah tidak lagi relevan dan sejalan dengan perkembangan zaman. Dan sekarang kita sebagai muslim yang hidup di era milenium kedua, kita harus mampu untuk merubah kondisi ini untuk menjadi zamannya generasi rabbani. Namun di tengah-tengah era serba high tech ini, bagaimana kita bisa melakukannya?
            Buka Pikiran, Hasilkan Perubahan
            Kita yang hidup sebagai muslim di zaman sekarang sudah seharusnya lebih membuka pikiran kita. Kita harus berpikiran secara luas. Namun membuka pikiran dalam konterks ini bukan berarti kita menerima segala doktrin dan pemikiran yang bertentangan dengan syariat Islam. Membuka pikiran ini artinya sudah seharusnya kita melihat segala permasalahan dengan cara pandang yang global. Dengan melihatnya secara dunia yang luas dan melihatnya lewat jendela Qur’an dan Sunnah. Mengapa? Karena memang terkadang pandangan kita condong pada kekeliruan. Dan sudah seharusnya kita lebih merujuk pada kebenaran yang datangnya hanya dari syariat Islam. Kita harus lebih berpikir sesuai dengan kebenaran dan kebaikan. Kita harus melihat segala masalah lewat cara yang simple dan mudah. Bagaimana caranya?
            Kita harus melihat mana yang lebih banyak manfaatnya jika kita dihadapkan ke dalam suatu kondisi. Mana yang lebih banyak? Manfaatnya atau mudharatnya? Jika lebih banyak manfaatnya, maka lakukanlah hal itu! Namun jika lebih banyak mudharatnya, maka tinggalkanlah!
            Minimal, jika kita sudah menerapkan hal itu pada kehidupan kita, insya Allah hal itu akan berpengaruh besar pada peradaban manusia di zaman sekarang yang memang sepertinya buta kebenaran. Tidak melihat sisi lain dari masalah itu sendiri.
            Berittiba’, Niscaya Akan Bebeda!
            Kehidupan kita sudah seharusnya menjadi teratur. Namun, kita perlu contoh keteladanan akan keteraturan itu sendiri. Namun bagaimana caranya? Tentu saja dengan berittiba’ (mengiku) pada cerminan kehidupan paling sempurna, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya!
            Kita saat ini sedang krisis figur keteladanan. Dan sudah saatnya kita kembali melanjutkan langkah kehidupan nabi dan para sahabatnya. Karena memang sekrang, kita telah sering melihat banyaknya kesalahan, kekeliruan, dan penyimpangan pada kehidupan kita. Kita saat ini telah banyak bergelut dengan masyarakat Islam yang sudah sering sekali melakukan bid’ah dalam kehidupannya. Padahal, bila kita kembali pada manhajnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka kita akan lurus kembali.
            Coba kita lihat sekarang. Begitu banyak muslim yang melakukan bid’ah! Mereka berdalih bahwa hal itu merupakan perbuatan yag baik. Mereka melabeli perbuatan-perbuatan menyimpang itu dengan nama yang manis didengar. Misalnya bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Padahal sudah seharusnya kita menyadari, bahwa bila suatu hal itu baik, maka siapa yang seharusnya pertama kali melakukannya? Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
            Karena itu, kita sebagai umat yang hidup di akhir zaman ini sudah seharusnya kembali menghidupkan syariat Islam dalam kehidupan kita. Yang benar-benar berasal dari Qur’an dan Sunnah. Mulailah dari diri anda sendiri. Dan jika itu berhasil, maka sebarkanlah efek positif itu kepada lingkungan sekitar anda. Dengan apa? Tentunya dengan dakwah! Dan jika seluruh hal itu mampu kita lakukan, maka insya Allah, kita telah mencetak salah satu generasi yang paling baik, generasi rabbani!
            “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran: 110)
            Wallahu a’lam

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar