Surah al-'Ashr Ayat 2-3: Menjadi Manusia Beruntung di Dunia dan Akhirat

11 Mei 2010

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Q.S. al-‘Ashr: 2-3)
Di Qur’an surah al-‘Ashr ayat ke-2 ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Tidak ada manusia di dunia ini yang beruntung. Namun di ayat selanjutnya, yaitu ayat ke-3 ternyata Allah memberikan pengecualian. Kepada siapa? Yaitu kepada orang yang memenuhi keempat syarat yang telah Allah gariskan. Yaitu:
  1. beriman kepada Allah
  2. mengerjakan amal saleh
  3. saling menasihati dalam kebenaran
  4. saling menasihati dalam kesabaran.
Dan kita sebagai manusia yang tergolong kedalam golongan manusia yang beruntung harus memenuhi keempat syarat tersebut. Tetapi, mengapa kita harus memenuhi keempat syarat tersebut untuk menjadi manusia yang beruntung?
  1. Beriman kepada Allah
Untuk menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus menjadi manusia yang beriman kepada Allah, menjadi manusia yang percaya kepada Allah, menjadi manusia yang mengenal siapa Rabbnya, manusia yang mengenal siapa Tuhannya, manusia yang mengenal siapa sebenarnya penciptanya.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tidak hanya beruntung di dunia namun juga beruntung di akhirat. Dan jika kita ingin sukses di dunia dan selamat di akhirat, maka percaya dan kenalilah penguasa dunia dan akhirat. Jika kita ingin sukses di dunia, maka kita harus beriman kepada pencipta dunia. Siapakah dia? Siapa lagi kalau bukan Allah subhanahu wata’ala.
Masih ingatkah kita kepada ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kaum Quraisy? Beliau bersabda, “Maukah kalian kuajarkan kalimat yang dengannya kalian bisa menguasai dunia?”. Lalu kaum Quraisy berkata, “Apakah itu?”. Nabi menjawab, “ucapkanlah ayhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah!”. Lalu kaum Quraisy pun mengejek beliau. Namun ternyata ucapan beliau terbukti hanya beberapa belas tahun setelah beliau meninggal.
Ada Umar bin Khattab, sang al-Faruq yang berhasil menyebarkan panji dakwah hingga ke negeri Persia dan Romawi, ada Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah menundukkan Syam, ada Sa’ad bin Abi Waqqash sang penakluk Persia, ada Amr bin Ash sang pembebas Mesir. Apa sebenarnya yang membuat mereka menjadi manusia luar biasa padahal sebelumnya mereka hanya manusia biasa? Apa sebenarnya yang mengangkat derajat Bilal bin Rabah dan Zaid bin Haritsah yang dari seorang budak menjadi seorang ksatria? Apa sebenarnya yang mengangkat derajat Ammar bin Yasir yang papa dan lemah tak berdaya menjadi manusia yang perkasa? Semuanya berasal dari satu kekuatan! Yaitu kekuatan iman yang menancap di lubuk hati mereka. Kekuatan iman yang mampu mengubah mereka menjadi singa yang garang ketika berjihad dan berperang dan mampu mengubah mereka menjadi manusia berhati selembut sutra kepada saudara mereka. Mereka berhasil menggenggam dunia dan selamat di akhirat. Karena di akhirat nanti mereka akan ditanya oleh Dzat yang mereka imani hingga akhirnya mereka mampu selamat di alam sana.
Bandingkan dengan kondisi para pembesar dunia yang tidak ada keimanan dalam hati mereka. Apakah mereka menjadi manusia yang beruntung? Memang mereka beruntung di dunia. Namun sayang, di akhirat mereka celaka. Tidakkan anda perhatikan bagaimana besar dan banyaknya kekayaan Fir’aun dan Qarun? Namun ternyata Allah membinasakan mereka dalam keadaan yang hina! Mengapa? Karena di hati mereka tidak ada secuil pun keimanan kepada Rabb alam semesta.
  1. Mengerjakan amal saleh
Manusia yang beruntung adalah manusia yang dalam kehidupannya terus dan tetap istiqamah beribadah kepada Allah. Ibadah mereka tidak hanya sebatas shalat, puasa, dan zakat saja. Tetapi ibadah mereka lebih luas daripada itu. Ibadah mereka adalah segala sesuatu amal kebaikan yang mereka kerjakan. Mereka mampu menjadikan hidup ini sebagai ladang untuk beramal. Caranya? Tentu saja mengerjakan amal saleh.
Tidak peduli seberapa besar amal saleh yang anda kerjakan. Namun yang paling penting adalah bagaimana anda konsisten dengan perbuatan anda tersebut. Bagaimana anda memegang teguh prinsip kebaikan anda. Dan tahukah anda? Bahwa sebenarnya banyak manusia-manusia biasa yang menjadi manusia yang menjadi luar biasa karena mereka mampu memegang teguh prinsip yang mereka pegang. Mereka mampu melakukan totalitas dalam kesalehan mereka.
Lihat saja Utsman bin Affan. Beliau adalah orang yang sangat pemalu. Saking pemalunya hingga malaikat pun malu kepadanya. Dan dirinya memang konsisten dengan rasa malunya. Dirinya malu jika dirinya menikmati air yang segar sedangkan yang lainnya kesusahan mencari air, hingga akhirnya dia membeli sumur Rum. Dirinya malu jika hartanya tidak disumbangkan di jalan Allah. Maka pada Perang Tabuk, dirinya menyediakan sepertiga keperluan pasukan.
Atau mungkin sosok Abu Bakar mampu menjadi teladan. Dirinya mampu konsisten dalam membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhirnya beliau disebut ash-shiddiq. Atau Umar bin Khattab yang konsisten dengan hatinya yang teguh bak batu karang. Dirinya benar-benar memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada yang abu-abu di dalam pandangannya. Hingga akhirnya beliau disebut al-Faruq.
Dan sosok agung lainnya adalah Abdullah bin Amr bin Ash. Sang ahli ibadah yang dengan konsisten dirinya terus beribadah dan bermunajat kepada Allah. Saking hebatnya ibadahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang terjun langsung menangani perkaranya (yang terlalu sering beribadah).
  1. Saling menasihati dalam kebenaran
Setiap manusia tentu saja pernah melakukan kesalahan. Dan memang kesalahan adalah hal yang manusiawi. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah sampai kapan kita melakukan kesalahan tersebut? Tentu saja kita tidak akan selamanya melakukan kesalahan. Namun kita butuh seseorang yang meluruskan kita jika langkah kita mulai menyimpang. Dan orang yang paling beruntung adalah orang yang mendapat nasihat dan orang yang jika dirinya berada dalam kesalahan, maka yang lainnya berusaha untuk meluruskan dirinya.
Karena itu, manusia yang paling beruntung adalah manusia yang saling menasihati dalam kebenaran. Karena memang manusia sering melangkah menuju kesalahan. Saling menasihati dalam kebenaran merupakan sebuah perkara yang agung, karena dengannya kita mampu merubah lingkungan kita ke arah yang lebih baik, kita mampu membentuk generasi yang lebih bagus dibandingkan sebelumnya, kita mampu melahirkan pribadi-pribadi tangguh yang mampu menjadi pembesar dunia dan akhirat.
Dalam lintasan sejarah, banyak nama manusia agung yang harum sepanjang zaman. Contohnya saja Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah. Mengapa nama mereka mampu dikenal oleh manusia hingga saat ini? Karena mereka berdakwah dan menyeru kepada kebenaran. Mereka memperbaiki lingkungan mereka ke arah yang lebih baik. Mereka berhasil membentuk generasi yang berilmu melalui sistem saling menasihati dalam kebenaran.
Masih ingatkah kita kepada pidato Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz ketika mereka diangkat sebagai khalifah?
“Taatilah jika aku berada dalam kebenaran dan luruskanlah aku jika aku menyimpang!”
Karena itu, tidak heran Allah menyebutkan orang yang saling menasihati dalam kebenaran termasuk ke dalam golongan manusia yang beruntung. Karena lewat nasihat dalam kebenaran, mereka mampu meluruskan lingkungan mereka. Mereka mampu mempengaruhi sekitar mereka untuk menjadi lebih baik. Dan lewat nasihat dalam kebenaran itulah kita mampu untuk tetap melangkah di manhaj kebenaran yang telah Allah gariskan.
  1. Saling menasihati dalam kesabaran
Sebagai manusia biasa, tentu saja kita pernah mendapatkan ujian dari Allah. Dan sebenarnya bentuk ujian tersebut merupakan salah satu perlambang ketulusan keimanan kita kepada Allah. Dan memang, keimanan kita tentu sering diuji. Baik itu lewat musibah, bencana, dll.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqarah: 155)
Dan kita sebagai manusia sering sekali tidak mampu menahan diri kita sendiri. Kita sering berputus asa jika kita menghadapi ujian.
“...Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Q.S. Yusuf: 87)
Dan jika kita ingin menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus mampu menjadi manusia yang saling menasihati dalam kesabaran satu sama lain. Mengapa?
Seperti yang kita ketahui, bahwa dunia ini adalah tempatnya ujian dari Allah. Dan tentu jika kita ingin lulus dari ujian ini, maka kita harus memiliki kesabaran dalam menghadapi ujian tersebut. Kita tidak akan mampu melangkah maju jika langkah kita terhenti hanya karena kita tidak mampu bersabar.
Dan dalam sejarah, begitu banyak orang-orang yang namanya harum dalam sejarah karena mereka mampu menaklukkan ujian dengan kesabaran dan niat yang tinggi. Lihat saja kehidupan Imam Ahmad bin Hanbal. Seorang yang miskin lagi yatim, namun dengan kesabaran yang ekstra dirinya mampu mengarungi padang pasir yang luas dari Irak ke Yaman demi menuntut ilmu. Padahal umurnya saat itu masih 15 tahun!
Atau mungkin kisah sahabat dan golongan orang-orang yang paling awal masuk Islam mampu menjadikan kita lebih bisa merenung. Mereka, generasi pertama kaum muslimin, menghadapi ujian yang sangat luar biasa. Mereka kerap dihina, dihujat, dan tidak jarang disiksa. Bahkan kedua orang tua Ammar bin Yasir, yaitu ayahnya dan ibunya yang bernama Sumayyah, menjadi korban. Namun siapa sangka, ternyata orang-orang yang awalnya tertindas mampu bangkit menjadi manusia penguasa dunia!
Bilal bin Rabah memang hanya budak biasa, perantauan dari Habasyah. Namun siapa sangka dirinya mampu menjadi penggerak dakwah Islam? Dirinya yang yang berdzikir dengan kalimat “ahad..ahad...” ternyata mampu menjadi pahlawan penegak kalimat Ahad di muka bumi!
Atau mungkin Khabbab bin Arats, seorang pandai besi yang disiksa oleh para pembelinya, ternyata dirinya mampu mengajarkan Islam kepada Said bin Zaid dan Fatimah binti Khattab yang berlanjut kepada Islamnya Umar bin Khattab!
Atau mungkin Abu Ubaidah bin Jarrah yang pada perag Badar harus bersabar karena dirinya mengalami bencana yang besar. Yaitu ayahnya terbunuh sebagai kafir. Namun siapa yang membunuh ayahnya? Ternyata yang membunuhnya adalah anaknya sendiri! Yang membunuhnya adalah Abu Ubaidah! Namun ujian bukan menjadi halangan baginya untuk menjadi pahlawan penakluk Syam!
Mereka, generasi awal umat Islam, telah mengajarkan kita banyak hal. Yaitu dengan saling menasihati dalam kesabaran, mereka mampu menjadi tonggak dan pondasi yang kokoh bagi umat terbaik di dunia, umat Islam!
Karena itu, untuk menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang sukses di dunia dan selamat di akhirat, kita harus mampu melaksanakan keempat kriteria tersebut. Jika kita belum melaksanakan semuanya, maka kita belum menjadi manusia yang beruntung secara keseluruhan.
Wallahu a’lam 

Artikel Terkait



2 komentar:

  • Tabita

    mungkin nantinya akan ada ornag seperti ini lagi.

  • dienz arcik
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  • Poskan Komentar