Aku dan Musik

9 Mei 2010
Oh, yesterday came suddenly... (Yesterday-The Beatles)
            (Kisah ini ditulis sepulang sekolah, setelah sekilas menonton closing Smans Day 2010)
Kisah ini sesungguhnya bermulai ketika saya masih duduk di bangku kelas 1 SMP –atau lebih disebut kelas 7- di sebuah sekolah yang dikenal sebagai SMPN 1 Bogor. Saat itu, di dekat rumah saya baru saja dibuka sebuah toko buku dan herbal –tentu saja berafiliasi Islam-. Saat itu, sebagai seorang yang gairah membacanya yang mungkin tergolong tinggi, saya mencoba untuk datang ke sana.

Mula-mula hanya melihat-lihat (dan memang toko itu tidaklah luas dan besar, namun ada beragam buku dan barang-barang herbal lainnya, seperti teh rosella, madu, habbatussauda, dan yang pasti adalah minyak wangi non alkohol). Lalu mulailah saya memperhatikan barang-barang dagangan di sana. Awalnya hanya melihat botol-botol minyak wangi yang mungil, namun mata saya akhirnya tertuju pada lemari tempat buku-buku dijejerkan. Dan di sana banyak sekali buku-buku keIslaman, seperti aqidah, fiqh, tarikh, dll. Dan lagi-lagi saya membeli bukunya secara bertahap, mulai dari buku saku yang kecil, buku kisah sahabat nabi dan tabi’in. Namun akhirnya saya pun tertarik pada sebuah buku yang membuat saya sedikit tersentak. Buku itu berjudul “Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid Menurut Syariat Islam” karya Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas (salah seorang yang disebut sebagai salah satu tokoh salafi terkemuka). Saya pun membelinya dan membacanya di rumah.
Sebenarnya buku itu merupakan bacaan yang cukup berat meskipun tidaklah tebal. Dan dari sana saya berkenalan dengan bidang baru dalam hidup saya, fiqh dan ilmu dalil. Sebagai siswa SMP biasa, jujur saya tidak membacanya dari awal hingga akhir –karena paparannya cukup berat ditambah dengan dalil-dalil yang sangat lengkap namun membuat saya bingung saat itu- dan saya akhirnya hanya membacanya sekilas di awal dan kesimpulannya di akhir. Dan pada kesimpulannya sang penulis memberikan sugesti kepada saya (namun bukan hipnotis) bahwa musik itu HARAM sesuai dengan banyaknya hadits nabi dan dalil-dalil lainnya, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tafsir serta pendapat para ulama. Dan saat itu sebagai siswa SMP biasa maka saya pun menerima hal itu, namun saya tidak mampu untuk menjelaskannya.
Dan karena perputaran waktu, setelah sekian lama buku itu tersimpan rapat entah di mana di rumah saya, saya pun lama-kelamaan melupakan hal itu. Kelas 7 saya masih memegang teguh, kelas 8 saya mulai sedikit terlepas, dan ketika kelas 9 benar-benar terlepas –dan saat itu saya benar-benar menyukai beberapa lagu dan musik-. Namun di akhir kelas 9, saya bertemu dengan orang-orang yang cukup mengingatkan saya kembali ke jalan yang lurus. Lalu mulailah saya kembali membaca-baca buku agama saya yang sebelumnya selalu tertutup. Dan pada akhirnya sampailah pada buku tentang musik itu. Saya kembali membacanya dengan cara yang berbeda. Saya mencoba untuk mencerna seluruh untaian kata di tiap lembaran buku itu untuk dapat mengambil pelajarannya. Dan saat itu mulailah pikiran saya kembali terbuka. Memang saya telah mengetahui hal itu sejak lama, namun saya masih belum mengerti. Dan pada akhirnya ketika itulah saya mulai mengerti meskipun sedikit-sedikit.
Ketika masuk SMA di sekolah yang bernama SMAN 1 Bogor, saya kembali mencoba untuk lebih mengerti mengenai hal itu (musik). Dan saya kembali mencar rujukan, dan sampai akhirnya dalilnya kembali lagi bahwa MUSIK itu HARAM. Tentu hal ini membuat saya termotivasi untuk mendakwahkan ini, karena saya berada dalam organisasi dakwah (DKM). Maka mulailah saya menyampaikannya lewat tulisan di blog (Cafe Sejenak), hingga dakwah secara langsung. Dan setidaknya saya mendapatkan dua kesempatan untuk menguji seberapa dalam ilmu saya tentang musik di semester 1 kelas 1 SMA. Yang pertama ketika saya kultum di masjid sekolah ba’da dzuhur. Saat itu saya menyampaikan tentang bagaimana caranya menjaga hati. Dan salah satu poinnya adalah menjauhkan diri kita dari musik. Saya mulai jelaskan darimana dalilnya hingga alasan yang sangat logis, bahwa musik merupakan khamr bagi jiwa kita. Dan musik mampu mengubah dan mengombang-ambingkan hati kita. Dan saat itu cukup banyak respon bermunculan. Dan saya mulai mendalami kembali ilmu saya.
Dan yang kedua ketika saya berdialog dengan salah seorang teman sekelas saya (seorang akhwat) tentang hati. Dan lagi-lagi saya kembali menyinggung musik. Dan ternyata lawan bicara saya pun menyampaikan respon yang kurang lebih sama dengan yang di masjid.
“Kenapa musik itu haram?, bagaimana? Mengapa? Bla bla bla...” kurang lebih seperti itu (tapi tidak sampai seperti itu).
Dan saya pun menjawab dengan kapasitas ilmu saya. Dan saya menjawab tegas bahwa kita setidaknya jangan terlalu bergantung pada musik. Lalu ada yang bertanya,
“bagaimana dengan nasyid?”
Saya pun menjawab bahwa nasyid tidak ada sama sekali contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Dan memang nasyid yang ada sekarang ada yang menggolongkan sebagai bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Kristen dalam beribadah dan memuja-muji tuhannya. Dan kembali ada lagi gelombang respon yang memang sedikit menyulitkan saya.
Lalu suatu hari lagi, saya ditanya oleh salah seorang guru sosiologi saya di SMA. Beliau berkata bahwa dia baru saja membaca hadits tentang pengharaman musik. Dan beliau pun bertanya, apakah hal itu benar? Maka saya pun kembali menjawabnya dengan jawaban yang sama. Dan untungnya setelah itu jam pelajaran telah selesai dan siswa boleh pulang hingga akhirnya saya pun tidak mendapatkan respon yang berarti.   
Saat semester 2 di kelas X, saya bertemu dengan sosok yang membuat saya merasa lebih kuat. Karena dengan adanya orang itu setidaknya kami bisa saling tolong-menolong. Dan kami sering berdiskusi mengenai banyak hal, dan yang salah satu yang paling sering dijadikan tema adalah musik. Dan kami pun sering membahas bagaimana musik mampu menghancurkan akhlak karena musik merupakan khamr bagi jiwa.
Petualangan dan pergulatan kami mengenai musik akhirnya sampai pada suatu event besar yang benar-benar menyuguhkan musik dalam bentuk total. Apa lagi kalau bukan SMANSA DAY 2010? Kami benar-benar banyak berdialog mengenai musik, ikhtilat, dan hal lainnya pada rentang waktu Smansa Day tersebut. Memang, musik mampu ditolak, tapi tidak bisa dihindari. Dan kami akhirnya menghindar dari musik itu.
Kisahnya yaitu ketika kami berdialog dengan salah satu kakak kelas kami –semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya- di tempat wudhu di musholla. Saat itu jam telah menunjukkan pukul 15.30 (kurang lebih). Kami saat itu baru saja selesai MP (Mentoring Plus). Dan saat itu, kami sedang memakai sepatu. Lalu kakak kelas itu bertanya kepada kami,
“Mau pulang? Kan pintunya di jaga.”
Kami pun menjawab,
“Ya terobos!”
Mungkin jawaban itu adalah jawaban nekad yang ingin keluar dari tempat itu. Kami pun bergegas menuju pintu keluar. Dan saat itu, yang terdengar adalah lagu “I Want to Hold Your Hand” dari the Beatles yang dibawakan oleh band yang saya tidak tahu namanya. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa saya dulu adalah salah satu musik the Beatles –cuma beberapa lagu saja, tidak semua- dan hati ini mulai ingkar. Namun, tekad tetap bulat untuk tetap istiqamah. Kami menerobos orang-orang dan sampai ke depan pagar. Di sana berdiri seorang satpam. Kami menjelaskan bahwa kami ingin pulang. Dan tanpa basa-basi pak satpam pun langsung membuka pintu gerbangnya! Tanpa ada kesulitan apa pun kami mampu keluar –saat itu saya sangat senang, karena kami pulang jam setengah tiga. Sedangkan yang lainnya entah jam berapa-. Sang satpam hanya berpesan, “langsung pulang ke rumah, ya!”
Saat di perjalanan, sahabat saya itu berkata pada saya yang ternyata memantapkan hati saya,
“Ini merupakan hadiah dari Allah...”
Memang, ini merupakan hadiah karena kami telah berusaha untuk menghindari maksiat berlebih.
Entah apa omongan orang. Bilang saya ekstrim, fundamentalis, terlalu keras, dll. Namun saya tetap memegang prinsip saya, bahwa musik itu HARAM!.
“Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik” (HR Bukhari)
Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar