Siapa Bilang Malam Nisfu Sya'ban itu Bid'ah? (Kupas Tuntas Hukum Nisfu Sya'ban)

8 Juli 2011
Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pengajak ke pintu tobat dan pembawa rahmat.
Amma ba'du:
Sesungguhnya Allah telah berfirman,
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)
"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhai Allah? Sekirannya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih." (QS. Asy-Syura': 21)

Dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak." (HR. Bukhari)
Dalam lafazh Muslim: "Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak."
Dalam Shahih Muslim dari Jabir Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi pernah bersabda dalam khutbah Jum'at: Amma ba'du, sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur'an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , dan sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat."
Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat- Nya bagi mereka; Dia tidak mewafatkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan. Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid'ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para shahabat dan ulama' mengetahui hal ini, maka mengingkari perbuatan-perbuatan bid'ah dan memperingatkan kita darinya. Hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid'ah, seperti Ibnu Wadhdhah Ath Tharthusyi dan Abu Syaamah dan lain sebagainya.
Di antara bid'ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid'ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya'ban dan mengkhususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadist-hadits tentang fadhilah malam tersebut tetapi hadits-hadits tersebut dlaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan shalat pada hari itu adalah maudhu'.
Dalam hal ini, banyak di antara para 'ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan pengkhususan puasa dan fadhilah shalat pada hari Nisfu Sya'ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka. Pendapat para ahli Syam di antaranya Hafizh Ibnu Rajab dalam bukunya "Lathaiful Ma'arif" mengatakan bahwa perayaan malam Nisfu Sya'ban adalah bid'ah dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya lemah. Hadits-hadits lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits-hadits shahih, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya'ban tidak ada dasar hadits yang shahih sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits- hadits dhaif.
Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini dan kami akan menukil pendapat para ahli ilmu kepada sidang pembaca sehingga masalahnya menjadi jelas; para ulama' telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul (Al-Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu daripadanya, maka wajib diikuti dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan adalah bid'ah; tidak boleh dikerjakan apabila mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya.
Allah berfirman dalam surat An-Nisaa':
"Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisaa': 59)
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Tuhanku. Kepada-Nyala aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali." (QS. Asy-Syuraa: 10)
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya." (QS. An-Nisaa' : 65)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang semakna dengan ayat- ayat di atas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah-masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya (Al-Qur'an dan Hadits).
Demikianlah yang dikehendaki oleh Islam, dan merupakan perbuatan baik bagi seorang hamba terhadap Tuhannya, baik di dunia atau di akherat nanti, sehingga pastilah ia akan menerima balasan yang setimpal.
Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya'ban Ibnu Rajab berkata dalam bukunya "Lathaiful Ma'arif", "Para Tabi'in dari ahli Syam (Syiria, sekarang) seperti Khalid bin Ma'daan, Makhul, Luqman dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfu Sya'ban kemudian orang- orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka.
Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, tatkala masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin; ada yang menerima dan menyetujuinya ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah Ahli Bashrah dan lainyya seang golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas ulama Hijaz (Saudi Arabia, sekarang), seperti Atha' dan Ibnu Abi Malikah dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bi Aslam dari fuqaha' Madinah, yaitu ucapan Ashhabu Malik dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid'ah. Adapun pendapat ulama' ahli Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan dua pendapat:
Yang pertama, menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya'ban dalam masjid dengan berjamah adalah mustahab (disukai Allah).
Dahulu Khalid bin Ma'daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar menyan, memakai celak dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid. Ini disetujui oleh Ishaq bin Ruhwiyah, ia berkata: "Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara jamaah tidak bid'ah." Hal ini dicuplik oleh Harbu Al-Kirmany.
Yang kedua, berkumpulnya manusia pada malam Nisfu Sya'ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdo'a adalah makruh hukumnya, tetapi boleh jika menjalankan shalat khusus untuk dirinya sendiri. Ini pendapat Auza'iy Imam Ahlu Syam, sebagai ahli fiqh dan cendekiawan mereka. Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkanpendapat Imam Ahmad tentang malam tentang malam Nisfu Sya'ban ini,tidak diketahui."
Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam Nisfu Sya'ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Riwayat lain berpendapat bahwa malam tersebut disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk tabi'in, begitu pula tentang malam Nisfu Sya'ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan tabi'in ahli fiqih Syam. Demikian maksud dari Al-Hafizh Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).
Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfu Sya'ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para shahabat. Adapun pendapat Imam Auza'iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan shalat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dhaif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil-dalil syar'iy, tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada- adakannya dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi ataupun terang- terangan, sebab keumuman hadits Nabi:
"Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama) yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak."
Dan banyak lagi hadits-hadits yang mengingkari perbuatan bid'ah dan memperingatkan agar dijauhi.
Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyiy berkata dalam bukunya, "Al-Hawadits wal Bida", "Diriwayatkan oelh Wadhdhah dari Zaid bin Aslam berkata: kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan malam Nisfu Sya'ban, tidak mengindahkan hadits Makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Malikah bahwasanya Ziad An Numairiy berkata: Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya'ban menyamai pahala Lailatul Qadar. Ibnu Malikah menjawab: Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang penceramah.
Al-'Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, Al-Fawaaidul Majmu'ah, sebagai berikut: Hadits:
"Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya'ban sebanyak 100 rakaat; ia membaca setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya... dan seterusnya."
Hadits ini adalah maudhu' (palsu), pada lafazh-lafazhnya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu' dan perawi-perawinya majhul.
Dalam kitab "Al Mukhtashar" Syaukani melanjutkan : Hadits yang menerangkan shalat Nisfu Sya'ban adalah batil. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali Shallallahu 'alaihi wa sallam : Jika datang malam Nisfu Sya'ban bershalat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dhaif. Dalam buku Allaali' diriwayatkan bahwa: Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu Sya'ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat. Hadits riwayat Ad Dailamiy, hadits ini maudhu' tetapi mayoritas perawinya pada jalan ketiga majhul (tidak diketahui) dan dhaif (leman). Imam Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu'. Dan hadits empat belas rakaat ... dan seterusnya adalah maudhu' (tidak bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).
Para fuqaha' banyak tertipu dengan hadits-hadits di atas, seperti pengarang Ihya' Ulumuddin dan lainnya juga sebagian dari mufassirin. Telah diriwayatkan bahwa, shalat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya'ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia itu, semuanya adalah bathil/tidak benar dan haditsnya adalah maudhu'.
Anggapan itu tidak bertentangan dengan riwayat Tirmidzi dari hadits Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi ke Baqi' dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya'ban untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing. Sesungguhnya perkataan tersebut berkisar tentang shalat pada malam itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqathi' (terputus) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan di atas mengenai malam Nisfu Sya'ban, jadi dengan jelas bahwa shalat malam itu juga lemah dasarnya.
Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: Hadits (yang menerangkan) tentang shalat Nisfu Sya'ban maudhu' dan pembohongan atas diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Dalam kitab Al Majmu', Imam Nawawi berkata: Shalat yang sering kita kenal dengan shalat Raghaib ada (berjumlah) dua belas raka'at dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada malam Jum'at pertama bulan Rajab; dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban. Dua shalat itu adalah bid'ah dan mungkar. Tak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu hanya karena telah disebutkan di dalam buku Quutul Quluub dan Ihya' Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut batil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits, yaitu dari kalangan Aimmah yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits, dengan demikian berarti salah kaprah.
Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Ismail al Muqadasiy telah mengarang sebuah buku yang berharga; Beliau menolak (menganggap batil) kedua hadits (tentang malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin. Dalam hal ini telah banyak pengapat para ahli ilmu; maka jika kita hendak memindahkan pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.
Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur'an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya'ban dengan pengkhususan shalat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa; itu semua adalah bid'ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya dalam syariat ini (Islam), bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat Radhiyallahu 'anhu . Marilah kita hayati ayat Al-Qur'an di bawah:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas. Selanjutnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengada-adakan sesuatu perkara dalam agama (sepeninggalku), yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak."
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullah pernah bersabda: "Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum'at daripada malam-malam lainnya dengan suatu shalat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang hariny autk berpuasa daripada hari-hari lainnya, kecuali jika (sebelumnya) hari itu telah berpuasa seseorang di antara kamu." (HR. Muslim)
Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum'at itu lebih baik daripada malam-malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari?
Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah yang shahih.
Tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk mengkhususkan shalat pada malam hari itu daripada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lain pun lebih tidak boleh dikhususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shahih yang mengkhususkannya/menunjukkan atas kekhususannya. Menakala malam Lailatul Qadar dan malam-malam blan puasa itu disyariatkan supaya shalat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu. Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , bahwasanya beliau bersabda:
"Barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada bulan Ramadhan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika seandainya malam Nisfu Sya'ban, malam Jum'at pertama pada bulan Rajab, serta malam Isra' Mi'raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tentang, pastilah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan kepada umatnya atau beliau menjalankannya sendiri. Jika memang hal itu pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak memberi nasehat setelah para nabi.
Dari pendapat-pendapat ulama' tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah ataupun dari para shahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada bulan Rajab. Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid'ah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tentang adalah bid'ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra' dan Mi'raj, begitu juga tidak boleh dikhususkan dengan ibadah- ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan ibadah-ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.
Demikianlah, maka jika anda sekalian sudah mengetahui, bagaimana sekarang pendapat anda? Yang benar adalah pendapat para ulama' yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra' dan Mi'raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam Isra dan Mi'raj itu jatuh pada tanggal 27 Rajab adalah batil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits shahih. Maka benar orang yang mengatakan;
Dan sebaik-baik suatu perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para salaf, yang telah mendapat petunjuk. Dan sehina-hina perkara (dalam agama), yaitu perkara yang diada-adakan berupa bid'ah-bid'ah.
Allah-lah yang bertanggung jawab untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten di atasnya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah yang terbaik dan termulia.
Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba-nya dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam begitu pula atas keluarga dan para shahabat beliau. Amiin.
Rujukan:
Disalin dari kitab Waspada  Terhadap Bid’ah Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Farid Ahmad Oqbah, Riyadh: Ar-Raisah Al-'Ammah li-IdaratiAl-Buhuts Al-'Ilmiah wa Al-Ifta' wa Ad-Da'wah wa Al-Irsyad, 1413 H.
Diedit oleh Jundullah Abdurrahman Askarillah, 8 Juli 2011.
Wallahu a'lam.

Artikel Terkait



53 komentar:

  • numpang tanya ...saya banyak melihat tulisan "Rassulullah bersabda: barang siapa mengingatkn kpd ssama tentang kedtgn bulan ini, maka api neraka haram baginya"
    ini hadits di riwayatkan siapa ya?

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    wah, afwan. saya bukan ahli hadits, saya pun masih belajar. Wallahu a'lam

  • @ JUNDUL
    HEHEHHEHEHE PERSIIIISSS SEPERTI JAWABAN AL ALBANI, KAYAKNYA INI COPI PASTE DEH.... BELAJAR DULU MAS, PAKE GURU, GURU YANG BENERRRRR

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    kalau begitu bisakah anda menjawab pertanyaan tentang keabsahan hadits tersebut?
    http://muslim.or.id/manhaj/meninjau-ritual-malam-nishfu-syaban.html

  • Sebaiknya melakukan ibadah itu yang sudah jelas hukum, tata cara dan sudah pernah diajarkan oleh Rosulullah. Biar aman. Sholat malam nisfu sya'ban dan di siang harinya berpuasa tidak perlu diniatkan secara khusus

  • SAVE Our heart

    ى الله عليه وسلم: ((إذا كان ليلة النصف من شعبان نادى مناد: هل من مستغفر فأغفر له؟ هل من سائل فأعطيه؟ فلا يسأل أحد شيئا إلا أعطيه, إلا زانية بفرجها أو مشركا)) [رواه البيهقى]

    Artinya: "Dari Utsman bin Abil Ash, Rasulullah saw bersabda: "Apabila datang malam Nishfu Sya'ban, Allah berfirman: "Apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik" (HR. Baihaki).

  • SAVE Our heart

    عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن, أو قاتل نفس)) [رواه أحمد وابن حبان فى صحيحه]

    Artinya: "Dari Abdullah bin Amer, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya akan menemui makhlukNya pada malam Nishfu Sya'ban, dan Dia mengampuni dosa hamba-hambanya kecuali dua kelompok yaitu orang yang menyimpan dengki atau iri dalam hatinya kepada sesama muslim dan orang yang melakukan bunuh diri" (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana ditulisnya dalam buku Shahihnya).

  • minimal kalau mau tafsir hadist atau alquran harus tau sorof, nahu, balagoh, dan kitab lainya
    bukan langsung bikin fatwa bidah segala macem

  • selama itu basik marikerjakan iangan dengarkan kaum wahaby ang sok benar, antek2 yahudi

  • saya setuju sama penulis bahwa segala ibadah yg tidak di contohkan oleh rosul itu hukumnya bid'ah dan bid'ah adalah sesat. mengapa? logika dasarnya saja, kalo suatu ibadah tidak di contohkan oleh rosul dan kita laksanakan, maka kita mengingkari salah satu rukun iman yaitu iman kepada rosul dong? ia kan... padahal rosullah adalah satu-satunya org yg harus kita ikuti ibadahnya karena langsung diperintahkan oleh ALLAH SWT.
    Wasallam

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @SAVE Our heart

    Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/dijarh, namun haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini bermasalah].

    Dari ‘Utsman bin Abi al-‘Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    Jika tiba malam Nishfu Sya’ban, maka ada penyeru yang berkata:”Apakah ada yang meminta ampun, maka Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta, maka aku akan memberinya?” Maka tida seorang pun meminta kecuali akan diberinya, kecuali perempuan pezina dan orang Musyrik.”

    Hadits diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi rahimahullah, dan syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan:”(hadits ini) dha’if” Lihat kitab Dha’iful Jami’ no. hadits (653).

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Anonim

    "...iangan dengarkan kaum wahaby ang sok benar, antek2 yahudi"

    Jangan asal berkomentar kalau belum ada ilmunya.

  • zainal abidin

    astaghfirullah....
    mari kita semua belajar mengakui yg haq&menghindari yg bathil.tidak perlu merasa paling pintar/paling benar.apalagi hanya berdasarkan "kata guru saya" atau "kata bapak saya".semoga kita semua mendapatkan taufik&hidayah NYA.amiin

  • siti jenar

    "Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama) yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak

    (dalam agama) mengecualikan mobiiil tapi bagaimana WAHABBER menaggapi tentang mushaf!!!!!!!!

  • Menggali makna hidup

    Astgfirullah .....perberdaan pendapat itu adalah sesuatu yg indah...tapi jangan dibuat keindahan itu menjadi hal yang memecahkan tali agama allah......,marih kita saling menghormati...yàng bisa menilai benar atau tidaknya itu cuma allah azza wazallah....waktasimu bikhablillahi jamiah wala tafarroku......mari sama sama tematkan hati kita pada allah.pasrahkan padanya.karena hanya allahmu yang mempunyai kesempurnaan (wawallahu aklam bissoab)amin....

  • begitulah beda antara i'tiba dengan taqlid

  • elrahman

    Alkisah suatu hari ada seorang nenek mau nyebrang di jalan raya, melihat begitu padatnya kendaraan yang melintas, si nenek pun takut dan mendekati anak muda yang anda di dekatnya.

    Nenek : Anak muda, bisa bantu nenek nyebrang jalan ga?"
    Pemuda : Wah, maaf nek tidak bisa.
    Nenek : Kenapa? Membantu orang ini kan ibadah?
    Pemuda : Justru karena itu nenek, ibadah semacam ini tidak ada di zaman Rosulullah, ibadah semacam ini tertolak, ini bidah, setiap bidah itu dholalah, setiap dholalah masuk neraka.
    Nenek : Oowwww dasar bocah GUENDENG...

  • bangzoel

    Belajar islam di mana mas ? Yang kaya begitu kok dibilang bid'ah. Disebut bid'ah itu jika amalannya menyangkut ubudiyah mas. Okeh masbro ? Udah ngerti ya, sekarang...

  • @elrahman... n yang lain yang menertawakan hadits tentang bidah atau yang bilang pesawat, mobil, komputer itu bidah...
    kerjakan aja terus yang menurut kalian baik toh hidup itu pilihan... gak usah dikit-dikit bilang wahabi... padahal kalian tahu sendiri kalo semua harus dikembalikan pada quran dan hadits... n kalo tidak ada dasarnya perintahnya apakah itu namanya?
    btw, sejak kapan naik mobil atau pesawat itu jadi ibadah? kalo ada yang bilang naik haji pake kapal itu bisa bikin hajinya diterima Allah swt itu baru bidah

  • Ainul yakin

    Ass wr wb. Mas Iqbal....Ada ilmu Fiqih ada Ilmu Tauhid dan ada ilmu Akhlaq, ketiga ilmu itu wajib di pelajari oleh setiap muslim, Karena setiap amalan yang dikerjakan oleh seorang muslim harus berlandas kan pada ketiga Ilmu itu yang bersumber Pada Alquran dan Al hadits agar bisa mencapai makom TAQWA, semakin banyak kitab yang di baca maka semakin mudah kita untuk menemukan kebenaran, Semua komentar dari Saudara kita di atas patut untuk di bahas bersama, Kalau anda ingin membahas Bid'ah anda harus sudah belajar tentang ilmu Akhlaq dan Ilmu tauhid Insyaallah akan bersikap hati2 dan bijaksana...Wassalam.

  • Hijjatun Naim

    Hati2 di zaman sekarang banyak orang2 yg terkontaminasi dg ulama2 saudi ahli takfirin....yg suka menjustifikasi orang dg hukum salah atau benar. Yg mudah mengkafirkan orang. Yg gampang menghalalkan darah sesama muslim......bayangkan saja, membunuh dan memerangi sesama muslim di suriah adalah halal hukumnya . Naudzubillahi min dzaalik......
    waspada...di negeri kita ini sudah bamyak di racuni. Baca quran saja belepotan dah berani mengkafirkan orang.
    hadech ngaji aja dulu. Biasanya orang2 ini banyak mengunakan simbol2 islam. Tp prilakunya jauh dari islam.
    semoga Alih menjauhkan kita dari hal yg demukian.
    Salam ukhuwah

  • Assalamualaikum, sebagai umat islam seharusnya kita berfikir dengan cerdas, tidak menelan bulat bulat apa yang disampaikan orang tua atau guru kita, kalau memang dilampirkan dengan dasar yang kuat (Alqur'an dan hadist). jangan gengsi mengakui kebenaran yang baru didengar, kalau itu memang lebih kuat dasarnya, walaupun kadang sangat sulit berbelok dari apa yang telah dipelajari dari kecil. Tapi kita selalu diperintahkan untuk terus mencari ilmu bagi yang punya akal. Makanya jangan taqlid buta, berusahalah untuk terus membuka diri, jangan gengsi. Saya setuju dengan penulis.

  • Assalamu'alaikum....Perbedaan itu InsyaAllah berkah ketika kita menyikapi dengan santun dan sabar....Yakini saja apa yang masing2 dari kita yakin itu benar...kalo memang ragu cari saja sumber2 pengetahuan hukum islam tentang permasalahan tersebut....Nggak usah saling menyalahkan...Kalo memang tidak setuju dengan artikel ini kagak usah dibaca juga kagak ada ruginya....malah menyalahkan penulis....Kalo punya pendapat lain ya tulis aja artikel tandingan...Semoga Kita masih Jauh dari Perumpamaan Buih di Lautan...Banyak tapi Terombang ambing Keadaan....Tidak Bersekutu malah Saling Berseteru...MENYEDIHKAN...

  • Yg tidak di contohkan oleh rosul sebaik nya tidak usah dilakukan.....lakukan saja yg jelas dulu... Malam nisfu aja masjid penuh pengajian penuh.. Habis aja nisfu nya.. Masjid cuman ada 5 orang shalat isya atau subuh semua aki2 hungkul....ayo jng pada ribut lakukan dulu yg jelas2 dlu

  • dalam pendapat yang pertama di sana di katakan 'menghidupkan malam nisfu sya'ban dalam masjid dengan berjamaah adalah mustahab (disukai Allah)' adakah hadits yg menjelaskan tentang pendapat itu?
    Menurut saya memang benar Allah menyukai orng yg ibadah di mesjid dengan berjama'ah, sbagai contoh sholat fardu. Tetapi jika tentang apa2 yg di lakukan di malam nisfu sya'ban Rasulullah S.A.W tidak mencontohkan'y apakah Allah tetap menyukai'y?
    Bka jga link ini sob, masih tentang hukum malam nisfu sya'ban,
    http://doktermuslim.wordpress.com/2011/12/01/riwayat-seputar-nisfu-syaban-dan-hukum-merayakannya/
    "min izin share disini"

  • Km mau nyebrangin nenek2 setiap tgl 1 januari...hahahaha.. Maksud nya jng lah di khusus kan hari nya...lakukan lah amal2 atau ibadah kapan saja...jng la di khusus kan kapan.. Kecuali bagi yg telah di berita kan di alquran dan al hadist yang soheh... Paham skrng le.

  • jusny_rlyn

    Assalamu'alaikum....
    Referensi tambahan http://muslim.or.id/manhaj/meninjau-ritual-malam-nishfu-syaban.html
    Silkan dibaca.
    kita mencari kebenaran, bukan siapa yang benar..

  • O-Bhay MK

    Susah nih di bilangin nya,, pokok nya Ўaŋƍ gak di kerjain Rosull atau dihindari oleh Beliau itu bid'ah,, udeh tinggalin aja.. Misal nya
    Nisfu sya'ban, maulidan, tahlilan,rajaban, taraweh brjamaah, mashaf qur'an, adzan ke 2 sholat jum'at, yasinan mlm jum'at dll.
    Pokoknya Ўaŋƍ anti bid'ah kudu n musti konsisten...

  • Ekhy Leonhart

    @Elrahman: Antum harus bisa bedakan dulu lah yang mana ibadah en yang mana muamalah. Komen antum lucu bgt akhi :D
    @O-Bhay: Saya sepakat sama antum tapi bisa tunjukkan kelemahan dalil tentang tarawwih berjamaah gak? Soalnya antum juga kategorikan itu sebagai bid'ah. Syukran.

  • Dawam Dzikrillah

    @Q-Bhay : kasian sekali orang seperti anda "udeh tinggalin aja misalnya Nisfu sya'ban, maulidan, tahlilan,rajaban, taraweh brjamaah, mashaf qur'an, adzan ke 2 sholat jum'at, yasinan mlm jum'at dll"
    mudah-mudahan anda ada di jelan yg benar bkn orang yg mengaku mengatasnamakan islam, saat ini bnyk skali preman dunia maya yg berkoar mengatasnamakan islam.
    sbtulnya sy skit hati dengan prnyataan Q-Bhay sweakan org yg tak tau agama menunjukan kebodohannya

  • pertanyaan buat yg merasa benar,
    pernahkah Nabi SAW naik haji pakai pesawat?
    bukankah Nabi tdk pernah mengajarkan kita naik pesawat.
    naik haji pakai pesawat itu bidah.
    berarti org indonesia yg haji mengunakan pesawat itu hajinya tertolak.
    kecuali orang wahabi yg hajinya jalan kaki/naik onta.
    wkwkwkwkwkwkwk konyolllllllllllll..!!!!!

  • Itu hanya transportasi, hanya alat yg memudahkan kita supaya lepih cepat, tidak bertahun2 untuk sampai di makkah, tidak menyulitkan. Yang di bhas disini mengenai IBADAHNYA, ritual mengidupkan malam nifsu sya'ban. Anda jgn asal membuat contoh, sama saja anda menanyakan apakah boleh skolah? Apakah boleh bekerja ke kantor? Apakah boleh membca al-qur'an melalui alat elektronik? Itu pertanyaan bodoh pake logika jga udh bisa di fahami. Kalo ta tau apa yg anda bicarakan lebih baik diam.

  • asep nofiar

    Paham yg Pertama
    Memahami bid'ah terbagi 2 yaitu; bid'ah urusan agama dan bid'ah urusan dunia.
    klo bid'ah urusan agama gak boleh dikerjakan (spt merayakan Maulid Nabi, nisfu sya'ban dll.)tetapi bid'ah urusan dunia boleh dikerjakan (karena tdk termasuk bid'ah yg dimaksud Nabi SAW.)
    Paham ini melihat perkara ibadah yg dianggap bid'ah dari sisi acara/kemasannya saja tanpa melihat isi acara tersebut...

    Paham yg Kedua
    Memahami bid'ah terbagi 2 yaitu; bid'ah urusan Pokok agama (ushulu din) dan bid'ah urusan cabang agama (furu'u din).
    klo bid'ah urusan pokok agama gak boleh dikerjakan (spt tatacara Ibadah Sholat, tatacara puasa dll.)tetapi bid'ah urusan cabang agama boleh dikerjakan spt perayaan maulid Nabi SAW, nisfu sya'ban dll(karena kemasannya saja yg bid'ah tetapi isinya sunnah spt baca al-Quran, Sholawat, Sedekah, dan sholat sunnah yg dianjurkan Nabi SAW bukan sholat nisfu, semua itu tdk termasuk bid'ah yg dimaksud Nabi SAW.)
    Paham ini melihat perkara ibadah yg dianggap bid'ah dari sisi isi acara yg dikerjakan tdk keluar dari sunnah...

    Silahkan mo ikut paham yg mana..?
    Kapan Islam mau bersatu, sampai kiamatpun kita gak akan bisa saling berjabat tangan, kalau masing2 paham merasa paling benar...

    Sedangkan Yahudi dan Nasrani sudah bersatu utk menghancurkan islam..
    Camkan itu semua..!!

  • ahmad fahribi

    orang kalau ngurus KTP syaratnya : Suarat Pengantar dari RT/RW, copy KK, pas foto 2x3. Kalau kita ngasih foto ukuran 4R, atau kita nambah copy ijazah SD s/d Sarjana, diterima nggak tuh ame Kelurahan?
    Ada soal :
    Yasinan, tahlilan, maulidan, kirim Al fatehah, meringati malam nisfu Sya'ban.
    A. Rosulullah, sahabat & tabi'in kagak pernah melakukan
    B. Ulama, kyai, ustadz, habib melakukan
    Pertanyaan :
    1. Amalan mana yang antum lakukan? A/B
    2. Amalan mana yang dapat menyelamatkan dunia-akherat? A/B

    Pilih jawaban yang benar ... karena hidup itu pilihan

  • MUAQIL LATMAS

    TIDAK PERLU DEBAT BID'AH, KITA DALAM SATU WADAH YAITU ISLAM DARI BEBERAPA ORMAS MASIH BANYAK TUGAS YANG BESAR YAITU MEMBANGUN UMAT, JANGAN BICARA BID'AH

  • dhony

    Podo adu bacot kabeh, agama disalahke.

  • WAHABI TOLOL

    WAHABI TOLO.. KALAU SEMUA BID'AH ITU SESAT DAN MASUK NERAKA BERANIKAH KALIAN SAYIDINA USMAN YANG MELAKUKAN SHOLAT TARAWIH SECARA BERJAMAAH 20 RAKAAT ITU BIDAH DAN MASUK NERAKA ??? APAKAH SAYIDINA USMAN YANG MENAMBAH AZAN 2X WAKTU SHOLAT JUMAT ITU BID'AH DAN MASUK NERAKA ??? APAKAH SAYIDINA ALI,SAYIDINA ABBAS MEMBUAT SHOLAWAT KEPADA RASULULLOH SAW ITU BID'AH MASUK NERAKA ??? DASAR TAK WARAS KALIAN WAHABI.. SHOLAT YANG KALIAN LAKUKAN SEKARANGPUN BID'AH.. APA TAHU KALIAN SHOLATNYA RASULULLOH SAW ??? MANHAJ KALIANPUN BIDAH TAK ADA ZAMAN RASULULLOH SAW.. KALIAN BILANG BERMAZHAB ITU BIDAH.. TAPI KALIAN CONTOH JUGA SHOLATNYA 4 MAZHAB.. WAHABI BODOH.. KALIANLAH PENGHUNI NERAKA KEKAL

  • syarif salim

    saya bukan ahli hadist dan bukan pula orang yang fahamvbetul soal firman ALLAH bos namun shalat, bertasbih bertagmid dan bertahlil itu mengagungkan ALLAH , jangan terlalu banyak berhitung bos kepada Allah nantijika ALLAH berhitung dengan kita repot urusannya bos

  • syarif salim

    @WAHABI TOLOL mantap coy cetakan alqur;an yang dibaca juga bid'ah soalnya zaman rasulullah qur'an belum ada mesin cetak dan kalau bisa dari Dari Indonesia Pergi Haji paka onta saja jangan naik pesawat atau kapal laut

  • Di sini penulis hanya mengemukakan pendapat yg ia ketahui,dan apabila pendapat anda itu lebih anda yakini silakan aja amalkan. Toh semua amal perbuatan kita smua akan di mintai partanggung jawabannya oleh Allah SWT.

  • lucu ya. dari komen ini keliatan jelas mana yang komen pake ilmu, mana yang komen pake nafsu :D

    tolonglah. hargai penulis ini. kan dia nulisnya udah pake ilmu. ada dalil dari al qur'an, hadits, dan ada fatwa ulamanya juga.

    hargailah penulis ini dengan komen yang berbobot pula. seminimalnya ada salah satu dalil dari alqur'an, hadits, ato fatwa ulama.

    bukan pake perumpamaan asal ato caci maki -ala manusia kelas bawah-. kecuali emang ilmunya sebatas itu :D

    NB: bwt yg caci maki penulis "bodoh, tolol, dsb", itu sama sekali nggak nejatuhin deraajat si penulis. itu cuman menjatuhkan derajat anda sendiri. saya harap anda mengerti karena saya yakin anda juga dikaruniai akal oleh Allah Ta'ala ^__^

  • @elrahman

    el rahman mungkin belum tau arti bid'ah itu apa? makanya asal njeplak aja, semoga dibukan pintu hidayah, dan tidak menjadikan Islam sebagai guyonan layaknnya kaum jahiliyah..

  • saifurroyya

    Artikel yang sangat menarik dan mendidik

  • Assalamu'alaikum
    Saya kok prihatin lihat org yg ngaku islam tp sdr seiman'a dicaci maki,apalagi mencaci maki'a ga nyambung sm yg dibahas
    bahas bid'ah kok sampe wahabi,tolol,bodoh dll
    klo mmg sdr2 tahu hukum'a jlskan dgn dalil,jgn pk syahwat trz jgn dikembangkan kmn2 masalah'a,yg cerdas donk jd manusia
    Stiap manusia kelak akan mempertanggung jwbkan apa yg dikerjakan di dunia,klo mmg itu bid'ah kewajiban kita mengingatkan klo ngeyel ya itu urusan ybs dg Allah SWT,sprti yg sdh dijlskan dlm Q.S An-Nisaa':59
    Ini adl forum yg mulia,jgn dikotori dg caci maki & perbuatan2 hina lainnya
    Assalamu'alaikum

  • semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua. sebelum berkomentar yg gak karuan. cari dulu ilmunya. kuatkan dengan dalil. bukan malah mencaci maki orang lain.

  • semoga Allah SWT merahmati semua sodara2 seiman ku baik yg mengamalkan nisfu sya'ban atau tidak.

  • WAHABI TOLOL

    @JUNDULLAH
    ENTE BERANI BERFATWA MENGIKUTI ULAMA YANG TAK JELAS ULAMANYA SEPERTI ALBANI,BAZ DLL.. COPY PASTE SAJA TAHUNYA.. TAK PAHAM HADITS BERFATWA SEMBARANGAN..
    Tentang keutamaan malam ini, terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih. Diantaranya hadis A'isyah: "Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: "Hai A'isyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (H.R. Baihaqi) - See more at: http://www.katailmu.com/2013/06/malam-nisfu-syaban-2014.html#sthash.UWKMaV05.dpuf.
    MAKANYA DUL.. KALAU TAK AHLI HADIS JANGAN SOK IKUTAN MEMFATWA SEPERTI BAZ DAN ALBANI YANG TAHUNYA COPY PASTE SAJA..BAHLULL

  • WAHABI TOLOL

    @Anonim
    Makanya jangan mencaci maki orang apalagi Umat Islam yang beramal.. Amal kalian saja masih kurang sok ngerti amal.. Golongan Salafi Wahabi saja yang firqoh seperti ini ... DAsar Bahlul.. Sholat kalian saja entah cemana2..

  • @wahabi t****
    Mgkin anda telah dilebihkan ilmu dibanding yg lain..tp saya sadar jg bahwa ilmu yg anda punya tidak bs mnjaga mulut anda..

  • anja

    عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ ظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكِ؟ ، قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُولِ سُجُودِكَ، فَقَالَ: أَتَدْرِينَ أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ ؟، قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطْلُعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ، وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ

    "Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bangun malam untuk melakukan shalat. Beliau memperlama sujud, sehingga saya menyangka beliau telah diambil. Ketika saya memperhatikan hal itu maka saya gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari shalatnya, beliau berkata: “Wahai Asiyah -atau wahai Humaira’-, apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?”Saya menjawab, “Demi Allah tidak demikian wahai Rasulullah, namun saya menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam Nisfu Sya’ban lalu mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda bagi orang yang dengki sebagaimana perilaku mereka.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman nomor (3554) dari jalur Al ‘Ala` ibnul Harits dari Aisyah. Jalur ini terputus karena Al ‘Ala` tidak bertemu dengan Aisyah. Al Baihaqi berkata: “Dalam perkara ini telah diriwayatkan beberapa hadits yang munkar yang perawinya adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

    Hadits lainnya adalah dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

    إن الله عز و جل ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيفغر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

    “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada malam Nishfu Sya’ban ke langit dunia lalu mengampuni (hamba-hamba-Nya) sebanyak lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi (739) dengan sanad yang lemah. Sebab kelemahannya adalah:
    a. Al Hajjaj bin Arthaah adalah seorang perawi yang lemah.
    b. Al Hajjaj bin Arthaah tidak mendengar dari Yahya bin Abi Katsir.
    c. Yahya bin Abi Katsir tidak mendengar dari Urwah ibnu Az Zubair.

  • iniloh salah satu mudzorot-nya internet, berdebat dan menghina tanpa tau siapa dan bagaimana orang yang ada diajak debat, padahal saudara se-Muslim.
    iniloh salah satu yang memecah agama Islam, padahal agama Islam adalah Rahmatan Lil'alamin.
    mari berkata-kata dengan santun dan menghormati ilmu dengan cara belajar.
    mari hindari mencela saudara se-Muslim karena belum tentu yang mencela lebih baik daripada yang dicela.

  • cuma org yg gak berilmu yg dikit" bilang bid'a. .kaga pny guru. .gurunye kga jelas ya gitu

  • Asalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh.

    Sya seorg muslim yg msh bljar. Kalau sya berpendaptan dan mengaml ksmpulan dri perdebatan diatas adlah. Kita menjalankan dulu yg di wajibkan اللّهُ swt dan rosullah baru diikuti sunnah.jgn berpkiran dgn mnjlnkn 1 malam nisfu sya"ban dan berpuasa d esok hrinya dosa bsa di ampunin. Tp jalanin kwajiban scara trus mnerus dan sunah tnpa ad pengkhususan d mlm atw siang hri. Insyallahh barokah.

  • Poskan Komentar