Ibu yang Sebenarnya

27 April 2010 0 komentar
Tahukah kamu siapa itu Imam Ahmad dan Imam Syafi’i? Mereka adalah dua ulama yang merupakan guru dan murid (Imam Syafi’i merupakan guru Imam Ahmad) Ya, mereka berdua adalah ulama besar yang namanya harum sepanjang sejarah. Mereka terkenal sebagai mujtahid cemerlang dan luar biasa, hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah madzhab yang dikenal dan diakui eksistensinya saat ini dalam dunia Islam, yaitu madzhab Hambali dan Syafii. Mereka pun menghasilkan banyak karya dalam bidang agama –terutama fiqh- menjadi kitab referensi bagi ulama lainnya, baik yang sezaman hingga saat ini. Diantaranya adalah kitab al-Musnad karangan Imam Ahmad bin Hanbal, kitab yang berisi lebih dari 6000 hadits. Atau mungkin kitab ar-Risalah dan al-Umm karya Imam Syafi’i yang menjadi banyak rujukan dalam bidang fiqh.

Remaja Islam Sepanjang Sejarah

24 April 2010 2 komentar
Sejarah dunia telah mencatat banyak nama-nama besar dari orang-orang luar biasa yang telah mengukir prestasi dalam mempengaruhi dan mengubah dunia. Baik dari dunia barat maupun dari dunia timur. Kita pasti telah mengenal siapa itu Napoleon Bonaparte, sang Kaisar Perancis. Atau kita mengenal siapa itu Thomas Alva Edison, sang penemu serba bisa. Dan jika kita beralih ke dunia timur, maka kita akan mengetahui sosok seperti Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, al-Khawarizmi, Tariq bin Ziyad, dan Muhammad II al-Fatih.

Siapakah Orang Terkaya?

15 April 2010 0 komentar

Suatu hari saya, ibu, dan kedua adik saya sedang menonton TV di ruang tengah di rumah tercinta –baiti jannati, home sweet home-. Lalu petualangan kami mencari stasiun TV pun berhenti sejenak ketika melihat liputan salah satu channel TV tentang upacara pernikahan salah satu artis terkenal dengan putera salah satu pengusaha terbesar di Indonesia. Dari layar TV itu kami melihat pernikahan itu begitu megahnya dan kami dengar dari TV itu bahwa pernikahan itu menghabiskan biaya hingga ratusan milyar. Dan hal ini mengundang komentar dari anggota keluarga saya,
Adik 1: “Wuih....wah....”
Adik 2: “(tidak beda jauh dengan adik 1, karena tidak begitu memperhatikan TV dan sibuk dengan mainannya)”
Saya: “Ckckck...”
Ibu saya: “hm, hm, hm...”
            Lalu, tiba-tiba adik saya yang pertama bertanya pada Ibu saya,
Adik 1: “Ma, emang siapa sih orang paling terkaya di Indonesia?”
            Pertanyaan itu tidak langsung dijawab dan akhirnya menimbulkan rentang waktu yang menyempatkan saya untuk berpikir. Dan dalam pikiran luar biasa saya yang ada hanya:
  1. Aburizal Bakrie
  2. Budi Sampoerna
  3. (salah seorang pengusaha Cina, sekarang pun saya lupa namanya)
  4. Gayus Tambunan (karena saat itu kasusnya memang sedang hot)
Lalu saya pun tidak melontarkan jawaban-jawaban tersebut kepada adik saya. Melainkan saya hanya bercanda kepada adik saya,
“Siapa aja boleh...”
Lalu adik saya pun merespon,
“Ih, yang bener! Serius! Siapa yang paling kaya?”
Dan akhirnya, Ibu saya pun menjawabnya,
“Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang dimilikinya,”
Seketika itu, saya pun mulai merenung. Ya, sudahkah kita bersyukur dan menjadi orang yang panda bersyukur?
Apa gunanya harta yang berlimpah, rumah yang megah, dan kekayaan yang tumpah ruah tetapi ternyata pemiliknya tidak merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya? Karena sesungguhnya, orang yang pandai bersyukur itu telah merasa cukup dengan apa yang ada padanya, tidak tamak, dan tahu apa yang ada pada dirinya merupakan pemberian Allah subhanahu wata’ala.
Ya, syukur adalah salah satu cara untuk menjadi manusia yang sukses dunia dan akhirat. Yaitu sabar dan syukur. Dengan sabar, dirinya mmpu menghadapi segala musibah dan ujian yang menerpa. Dan dengan syukur dirinya mampu mengendalikan dirinya tatkala mendapat kenikmatan. Namun sebenarnya, ternyata yang sesungguhnya paling sulit dari dua hal itu adalah syukur. Mengapa? Karena jika sabar kita masih sadar dan tahu akan ujian musibah itu. Namun jika syukur, kita sering lupa segala ujian kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita.
Kita sudah sering lupa saat-saat kenikmatan itu. Kita sering terlupa akan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Kita sering lupa bahwa dalam kehidupan sekitar kita begitu banyak karunia yang telah Allah berikan. Kita sering melupakan hal itu karena rutinitas kita, karena kita sering melewatkan kenikmatan itu begitu saja, dan kita ternyata sering menganggap bahwa hal-hal itu biasa saja dalam kehidupan kita.
Pernahkah anda bersyukur karena ternyata mata anda masih bisa terbuka untuk melihat dunia? Pernahkah anda bersyukur karena telinga anda masih bisa mendengar/ pernahkah anda bersyukur bahwa ternyata tangan anda masih bisa bekerja? Pernahkah anda bersyukur karena kaki anda masih mampu untuk berjalan di atas muka bumi ini?
Masih banyak hal-hal di dunia ini yang anda belum syukuri karena anda masih belum menyadari, bahwa sesungguhnya keadaan anda di dunia ini masih sangat baik dan masih lebih baik dari orang lain di ujung dunia sana atau mungkin di sekitar anda. Anda masih mampu melakukan aktifitas anda seperti biasanya, namun pernahkah anda mensyukurinya?
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (Q.S. al-A’raaf: 10)
Sesungguhnya syukur ini juga tidak cukup dengan mengucapkan “alhamdulillah” saja. Tetapi sesungguhnya makna rasa syukur atas karunia Allah itu jauh lebih dalam dari itu. Syukur yang sebenar-benarnya syukur adalah ketaatan anda kepada Allah, kepatuhan anda menjalankan perintah Allah, dan perbuatan baik anda di jalan Allah. Hal-hal itulah yang sesungguhnya disebut sebagai wujud rasa syukur di hadapan Allah! Bohong jika anda bersyukur hanya dengan mengucapkan hamdalah saja. Bohong jika anda bersyukur hanya dengan kata-kata manis namun tanpa tindakan yang riil sebagai wujud rasa syukur anda kepada Allah!
Dan dalam hal ini, Allah sudah berkali-kali menegur kita tentang masalah syukur ini. Sampai-sampai Allah dalam surah ar-Rahman di al-Qur’an berkali-kali menanyakan sikap kita,
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi-kah yang kamu dustakan?” (Q.S. ar-Rahman: 13)
Dan ayat ini, diulang-ulang hingga 19 kali! Hal ini benar-benar menekankan sikap kita yang ternyata sering lalai dan lupa bersyukur kepada Allah.
Maka dari itu, sudah saatnya kita lebih bersyukur kepada Allah. Dan sudah saatnya pula kita lebih membuka mata untuk menyadari segala kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim: 7)
Wallahu a’lam

Jangan Biarkan Sunnah Mati!

8 April 2010 0 komentar

Suatu hari saya sedang ngobrol dengan salah seorang sahabat baik saya. Saat itu sebenarnya saya ingin pergi ke masjid untuk shalat dhuha, tetapi teman saya tadi tiba-tiba berkata pada saya,
            “Gawat! Sunnah dalam keadaan bahaya!”
            “lho, kenapa?” tanya saya penuh keheranan.
            Dan setelah beberapa lama, kami pun mulai bercerita lebar. Sahabat saya itu mungkin dalam pandangan banyak orang itu aneh: celana digulung hingga atas mata kaki. Dan sebenarnya saya pun melakukan hal yang sama, yaitu tidak isbal (celana menutupi mata kaki). Sebenarnya dirinya bercerita tentang dirinya sendiri, yaitu ketika dia dipanggil oleh salah seorang guru di sekolah saya tercinta (SMAN 1 Bogor) dan guru itu (sebut saja Mr. X) pun berbicara panjang lebar pada sahabat saya. Namun intinya hanya satu: Jangan gulung celana kamu hingga di atas mata kaki!.
            “Kita kan masuk SMA 1 itu sudah memiliki komitmen dengan peraturan sekolah. Nah, kalau begitu celananya pun harus sesuai dengan peraturan sekolah, jangan digulung-gulung sampai kayak gitu!, bla bla bla....” cerita sahabat saya menirukan ucapan Mr. X.
            Saya pun bertanya, “sudah berapa kali kamu ditegur?”
            “sudah berkali-kali. Yang pertama oleh Pak Fulan (dirahasiakan). Namun yang paling banyak adalah Mr. X”
            “ya sudah, yang sabar,” respon saya.
            Dan beberapa hari kemudian ternyata saya mengalami hal yang serupa. Ketika saya sedang berjalan di koridor sekolah, saya berpapasan dengan Mr. X. Dan melihat celana saya digulung hingga atas mata kaki, saya pun mengalami hal yang sama dengan sahabat saya: dipanggil ke ruang meeting untuk ditegur. Saya pun duduk di kursi sofa dan Mr. X berada di posisi depan saya, sekitar serong kiri depan.
            “Gin, kamu aktif di DKM?” tanya Mr. X
“ya alhamdulillah pak. Emang kenapa, Pak?” tanya saya dengan polosnya.
            “itu, kok celana kamu itu bisa digulung gitu?” tanyaya sambil menunjuk celana saya.
            “Oh, nggak, Pak. Itu, soalnya hujan, nanti takut basah gara-gara becek” jawab saya seraya menunjuk keluar yang memang saat itu sedang hujan.
            “Memang kenapa, Pak?” tanya saya lagi.
            “itu, ada orang kok celananya sampai atas mata kaki? Emang ada pemahaman Islam yang kayak gitu? Bla...bla...bla...” ucap Mr. X panjang lebar. Namun intinya, Mr. X menolak anak yang celananya ngatung hingga atas mata kaki. Lalu saya pun berkata,
            “Ya emang ada haditsnya pak. Memang pemahamannya kayak gitu.”
            “Ya kita kan sudah komitmen dengan sekolah. Kita juga punya pemahaman lagi dong. Coba, kalau pemahamannya pakai cadar masa’ ke sekolah pakai cadar? Ini kan masalah komitmen dalam menjalankan aturan sekolah. Kita sendiri juga sudah memfasilitasi untuk keagamaan juga. Tapi kan kita di sekolah, ya kita harus sesuaikan dengan sekolah, bla...bla..bla...” ucap Mr. X menjelaskan.
            Intinya, dirinya mengkritisi orang-orang yang celananya digulung, dan mungkin hal itu akhirnya berdampak dengan saya dan sahabat saya (ikhwanu fillah) yang memang terkadang menggulung celana hingga atas mata kaki.
Hal ini saya lakukan sedari SMP hingga sekarang (insya Allah) dan hal itu dilihat oleh teman-teman saya sebagai tindakan yang aneh. Saya pun disebut sebagai ‘korban kebanjiran’, dan sebutan aneh yang sifatnya melecehkan lainnya. Padahal, saya cuma mengamalkan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sunnahkan.
“Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka” (Hadits Riwayat Bukhari)
“Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (seseorang yang menurunkan sarung atau celananya kemudian melewati kedua mata kakinya), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Hadits Riwayat Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibn Majah, Nasa'i)
“Isbal berlaku pada sarung, gamis, serban. Siapa yang menurunkan sedikit saja karena sombong tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat.” (Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad Shahih)
“Sesungguhnya Allah  tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal.” (Hadits Riwayat  Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Imam Nawawi mengatakan di dalam Riyadlush Shalihin dengan tahqiq Al Arnauth hal: 358)
Dari Ibnu Umar berkata, : "Saya lewat di hadapan Rasulullah sedangkan sarungku terurai, kemudian Rasulullah r menegurku seraya berkata, "Wahai Abdullah, tinggikan sarungmu!" Aku pun meninggikannya. Beliau bersabda lagi, "Tinggikan lagi!" Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya, "Seberapa tingginya?" "Sampai setengah betis."[Hadits Riwayat Muslim 2086. Ahmad 2/33]
'Ubaid bin Khalid berkata : “Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, "Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan." Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, "Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, "Tidakkah pada diriku terdapat teladan?" Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”.[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah, hal. 69]
Dari Hudzaifah, beliau berkata. “Rasulullah  memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak bagi sarung pada mata kaki” [Hadits Riwayat. Tirmidzi 1783, Ibnu Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1765]
Ya, padahal dalil-dalilnya telah jelas, namun mengapa masih banyak orang (khususnya kaum laki-laki) yang enggan melaksanakannya? Bahkan mencibirnya (seperti Mr. X)?
Saya berbicara di sini mengenai penegakkan sunnah. Bayangkan! Salah satu sunnah nabi yang sudah seharusnya diteladani malah ditolak. Bahkan kita harus memilih peraturan sekolah dibandingkan peraturan manusia termulia di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan kebaikan kepada kita, namun mengapa kita masih belum mau dan belum mampu untuk melaksanakannya?
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. al-Ahzab: 21)
Ini hanya satu sunnah, bagaimana dengan nasib sunnah yang lainnya? Masih adakah manusia yang melaksanakan sunnah nabi itu secara keseuruhan dan sempurna dalam kehidupannya? Kita mengaku sebagai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tentu mengharapkan syafaatnya bukan? Namun bagaimana kita bisa mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak jika kita ternyata menelantarkan sunnah?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sekarat di ujung hidup beliau berkata,
“Ummati...ummati...ummati...”
Yang artinya,
“Umatku...umatku...umatku...”
Lihatlah wahai kaum muslimin! Bagaimana Nabi mencintai kita hingga akhir hayatnya pun tetap mengingat kita. Cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada kita sebagai umatnya tentulah sangat besar.
“Setiap nabi mempunyai doa yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim)
Lihatlah wujud kecintaan Nabi kepada kita! Lalu sekarang, mampukah kita membalas cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita? Tentu saja bisa. Lalu bagaimana caranya? Ikuti dan hidup dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun ternyata saat ini telah banyak cara hidup ala Nabi yang telah hilang dalam kehidupan kaum muslimin. Banyak di antara kaum muslimin yang ternyata lebih memilih cara hidup orang lain dibandingkan cara hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sosok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi menjadi trendsetter bagi sebagian besar kaum muslimin. Dan mereka lebih memilih cara hidup dan tradisi kaum kuffar, sekular, dan liberal. Padahal, yang mereka ikuti itu tidak mampu membawa satu manfaat pun bagi diri mereka baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang-orang yang mengikuti cara hidup Nabi akan memegang dunia (bi idznillah) dan selamat di akhirat.
Lihatlah sosok para sahabat Nabi. Mereka mengikuti seluruh gerak-gerik Nabi, dari cara berjalan, berbicara, tata krama, tidur, dll. Dan akhirnya, mereka mampu berjalan di muka bumi ini sebagai pribadi yang mulia layaknya Hamzah yang jika berjalan maka kharismanya terpancar jelas pada dirinya, mereka mampu berbicara dengan kata-kata yang bagaikan mutiara layaknya Tsabit bin Qais dengan orasinya yang membara dan Ibnu Mas’ud dengan kata-kata mutiaranya, mereka mampu bertatakrama sehingga mereka pun disanjung oleh para malaikat seperti Utsman bin Affan yang memiliki rasa malu yang tinggi hingga malaikat pun malu kepadanya, dan mereka mampu untuk tidur dengan tidur yang terpuji layaknya Umar bin Khattab yang tidur di pelepah kurma ketika datang utusan Romawi.
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (as-Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (Q.S. al-Jumuah: 2)
Seandainya mereka tidak mengikuti jalannya Nabi, mungkin nama mereka tidak akan harum sepanjang zaman. Jika mereka masih berada dalam kesesatan dan tidak hidup dengan cara yang Nabi ajarkan, mungkinkah mereka dikenal sejarah? Karena sesungguhnya Allah telah menjadikan sunnah nabi sebagai salah satu jalan untuk menggapai kemuliaan.
Sementara itu, bagi mereka yang tidak mengikuti jejak langkah nabi, makamerugilah ia. Dirinya hanya berjalan di muka bumi ini dengan sia-sia tanpa satu pun pahala yang ia dapatkan.
Maka dari itu, mana yang kita pilih? Cara hidup Nabi atau cara hidup orang lain?
Dan apa akibatnya jikakita tidak menjalankan sunah Rasul?
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (Q.S. Ali Imran: 137)
Dan sejarah pun membuktikan tentang kisah para pendusta akan Rasul-rasul Allah,
“Kaum Nuh telah mendustakan Para rasul.” (Q.S. asy-Syu’araa: 105)
“Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul.” (Q.S. asy-Syu’araa: 141)
“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul,” (Q.S. asy-Syu’araa: 160)
Kaum Nuh telah binasa akibat air bah, kaum Tsamud telah binasa akibat petir yang dahsyat, dan begitu pula kaum nabi Luth yang binasa akibat adzab Allah.
 “Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, Maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku.” (Q.S. Shaad: 14)
“Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul), Maka datanglah kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sangka.” (Q.S. az-Zumar: 25)
Apakah kita menginginkan kebinasaan lantaran kita menolak ajaran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Tentu tidak.
Maka dari iru, sudah seharusnya saat ini kaum muslimin bangkit untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah Nabi ke tengah-tengah masyarakat dunia. Jangan sampai kita menghidupkan ajaran-ajaran yang justru kafir dan menyimpang dari jalan kebenaran. Kita tidak butuh menghidupkan dan menirukan gaya hidup orang-orang glamour yang belum tentu keselamatannya dunia dan akhirat, tetapi hidupkanlah sunnah Nabi yang mampu membuat kita mendapatkan syafaat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Wallahu a’lam

Pacaran?

2 komentar

Suatu hari, saya pernah menerima curhat seseorang. Dirinya cerita tentang dirinya yang katanya galak, judes, jutek, dll. Sifatnya itu mungkin pada akhirnya mengundang komentar dari ibunya, “gimana kamu bisa dapat pacar?”. Saya menerima curhatannya itu dengan tertawa, “hahaha...” dan mengakhirinya dengan kalimat, “santai aja!”.
            Pada hari yang lain, saya kembali menerima cerita curhat nan serupa. Dia berkata,
“gin, mau tau cerita tentang ‘wanita galak yang gak punya pacar’ gak?”. Lalu saya hanya merespon,
“Ya maulah...”
dan cerita itu pun berakhir serupa dengan cerita saya yang pertama.
Dan lagi-lagi saya mendapatkan cerita lagi dari adik kelas saya.
“tau gak cara menolak cowok dengan baik?”
“emang kenapa? Jangan-jangan ada yang nembak ya?” jawab saya.
“enggak, jaga-jaga aja. Aku kan lagi gak mau pacaran.”
“gak mau pacaran tapi PDKTnya (dia sedang PDKT dengan seseorang yang dia suka bernama ****) berlebihan. Berarti jangan-jangan ada yang ngedeketin ya?” respon saya.
“ah, gw ma **** bukan PDKT lagi! yang ngedeketin gw itu si **** ! dia dah nganggap gw kayak pacarnya sendiri, padahal nembak aja belom...” begitulah jawabannya kira-kira. Dan akhirnya, curhatan itu pun berakhir serupa dengan yang pertama dan kedua.
Dan kembali pada hari yang lain, saya menyalakan TV dan mencoba mencari channel TV yang menarik. Lalu ternyata langkah pencarian saya terhenti sebentar ketika melihat infotainment. Saya melihat hal yang mungkin cukup aneh: seorang artis tidak memiliki pacar dan mereka terus-terusan dihujamkan pertanyaan tentang statusnya. Dan saya merasa aneh dengan para wartawan: apakah setiap artis harus memiliki pacar? Karena mereka (wartawan) begitu antusias untuk meliput seorang artis jomblo. Seakan-akan hal itu merupakan sebuah keanehan ketika seseorang memilih jalan jomblo dibandingkan pacaran.
Dan dari uraian-uraian di atas, maka dari sana saya bisa melihat. Bahwa di sini, saat ini, di dunia ini, telah terjadi pergeseran kebutuhan yang sangat mendasar. Dan apa kebutuhannya itu? Kebutuhannya itu: PACAR dan PACARAN.
Ya, saya heran bagaimana kondisi dunia bisa sangat berbeda seperti saat ini? Pacaran menjadi hal pokok yang sepertinya harus diamalkan oleh setiap insan di dunia ini. Saya banyak menerima komentar-komentar yang terkesan bernada sinis kepada orang yang memilih untuk tidak pacaran, seperti kurang gaul, kurang PD, tidak laku, sok alim, atau bahkan yang lebih sakit: tidak memiliki perasaan kasih sayang kepada lawan jenis! Dan sadar atau tidak, bahwa ternyata sindiran, ejekan, celaan, dan cemoohan seperti itu justru akan menambah jumlah orang yang pacaran. Mengapa? Karena mereka mampu terbakar emosi karena serasa harga diri mereka jatuh. Dan akhirnya, mereka masuk ke dalam lubang kenistaan modern yang bernama pacaran.
Tentu saya menyangkal dan menolak untuk pacaran. Karena pacaran bukanlah jalan terbaik demi menunjukkan siapa kita kepada orang lain. Tentu di sini, sebagai manusia biasa kita memiliki perasaan tertarik pada lawan jenisnya. Tetapi hal ini harus kita sadari sebagai bentuk ujian. Ujian apa?
“Mana yang lebih kita cintai? Nafsu belaka dan manusia biasa atau syariat Islam dan Rabb alam semesta?”
Kita memiliki rasa ketertarikkan. Namun sejauh mana kita bisa mengontrol perasaan dan diri kita? Sejauh mana kita bersabar dalam menjalani ujian tersebut?
Dan kembali lagi, bahwa pacaran sepertinya saat ini sudah menjadi kebutuhan hidup. Dan mereka yang pacaran sepertinya sudah sulit untuk lepas dari hal nista itu. Hal ini seperti ketagihan akan kenikmatan hal itu. Dan memang, hal itu sulit untuk diubah. Apalagi menyangkut hati dan perasaan seorang manusia tentu hal itu sangat sulit.
Padahal, yang buruk itu sudah jelas keburukannya, dan yang baik itu sudah jelas kebaikannya. Dan bagaimana pacaran? Orang yang berakal pasti tahu bahwa hal itu sudah melanggar syariat dari Allah. Dan dosanya bisa jadi sangat berat. Karena hal itu telah mendekati zina, atau bahkan mungkin bisa menimbulkan komplikasi, seperti berbohong atau berdusta, dll.
 “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. al-Israa’: 32)
Wallahu a’lam