Ibu yang Sebenarnya

27 April 2010
Tahukah kamu siapa itu Imam Ahmad dan Imam Syafi’i? Mereka adalah dua ulama yang merupakan guru dan murid (Imam Syafi’i merupakan guru Imam Ahmad) Ya, mereka berdua adalah ulama besar yang namanya harum sepanjang sejarah. Mereka terkenal sebagai mujtahid cemerlang dan luar biasa, hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah madzhab yang dikenal dan diakui eksistensinya saat ini dalam dunia Islam, yaitu madzhab Hambali dan Syafii. Mereka pun menghasilkan banyak karya dalam bidang agama –terutama fiqh- menjadi kitab referensi bagi ulama lainnya, baik yang sezaman hingga saat ini. Diantaranya adalah kitab al-Musnad karangan Imam Ahmad bin Hanbal, kitab yang berisi lebih dari 6000 hadits. Atau mungkin kitab ar-Risalah dan al-Umm karya Imam Syafi’i yang menjadi banyak rujukan dalam bidang fiqh.
            Namun sekarang, tahukah anda bahwa mereka berdua memiliki beberapa kesamaan? Mereka berdua ternyata lahir dalam keadaan yatim dan miskin. Namun hal itu bukanlah halangan bagi mereka untuk menjadi seorang ulama besar.
            Namun, saya tidak akan membahas riwayat hidup kedua tokoh ini secara lengkap, saya hanya akan menjelaskan salah satu kesamaan yang menarik. Jika mereka berdua terlahir dalam kegiatan yatim, maka siapakah yang mendidiknya menjadi ulama besar? Siapa lagi kalau bukan ibu mereka!
            Ya, dari tangan seorang wanita ternyata terbentuk kepribadian luar biasa. Dari didikan seorang ibu, ternyata anaknya itu bisa menjadi ulama besar. Berkat kerja keras seorang wanita, maka anaknya bisa menjadi seorang yang luar biasa!
            Ibu Imam Ahmad,  Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy merupakan salah satu contoh terbaik demi melukiskan akan kehebatan beliau dalam mendidik anaknya. Tahukah kamu? Bahwa ternyata janda ini rela menggendong Imam Ahmad kecil yang masih berusia 4 tahun di pagi buta demi mengajarkan anaknya untuk shalat shubuh berjama’ah di masjid! Imam Ahmad yang juga merupakan penghapal hadits termuda dan terbaik di Irak juga ternyata memiliki kisah tersendiri tentang ibunya.
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Tentang hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau setelah orang-orang selesai shalat subuh.’”
Atau mungkin Ibu Imam Syafi’i bisa jadi salah satu contoh terbaik dalam mendidik anak. Tahukah kamu mengapa Imam Syafi’i bisa hapal al-Qur’an pada usia 9 tahun? Karena ternyata ibunya selalu mengurung Imam Syafi’i di suatu kamar hingga Imam Syafi’i bisa bertambah hapalannya meskipun hanya satu ayat. Dan lagi, masih ada kisah mengharukan antara Imam Syafi’i dengan ibunya ketika dirinya ingin merantau demi menuntut ilmu.
Ketika berusia masih kecil yaitu 14 tahun, beliau menceritakan hasratnya kepada ibundanya yang sangat dikasihinya tentang keinginannya untuk menambahkan Ilmu Pengetahuan dengan cara merantau.
Mulanya Ibundanya berat untuk melepaskan Syafi'i, karena beliaulah seorang yang menjadi harapan ibunya untuk menjaganya di hari tuanya. Demi ketaatan dan kecintaan Syafi'i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu, demi kasih sayangnya kepada ibunya itu. Meskipun demikian akhirnya ibundanya mengizinkan Syafi'i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan.
Sebelumnya melepaskan Syafi'i berangkat, maka ibundanya mendo'akannya :
"Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keredhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!"
Selesainya berdo'a ibundanya memeluk Syafi'i kecil dengan penuh kasih sayang dan dengan linangan air mata karena sedih untuk berpisah. Sambil berkata: "Pergilah anakku Allah bersamamu !Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepaskanmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan ! Selepas ibunya mendo'akan Syafi'i, maka Syafi'i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya.
Sambil meninggalkan ibunda yang sangat dikasihinya dengan hati yang pilu Syafi'i melambaikan tangan mengucapkan salam selamat tinggal, dan mengharapkan ibundanya senantiasa mendo'akannya untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu Pengetahuan yang berguna.
Sosok ibu yang hilang dari kaum muslimin
Saat ini, masihkah ada wanita mulia seperti mereka? Sosok ibu yang demikian memperhatikan pendidikan dan akhlak anaknya? Yang benar-benar mengasuh anaknya dalam keimanan dan ketaqwaan, yang benar-benar membesarkan anaknya dengan kedua tangannya sendiri untuk menjadi ahli ilmu, yang benar-benar mendidik anaknya untuk menjadi manusia luar biasa berakhlak mulia, masih adakah sosok wanita seperti itu?
Saat ini sepertinya telah banyak wanita yang keluar mencari nafkah demi membantu ekonomi keluarganya, namun masihkah dia sadar tanggungannya di hadapan Allah subhanahu wata’ala, yaitu anaknya?
Rumah tangga merupakan tanggung jawab seorang ibu, namun ternyata berapa banyak ibu yang melalaikan tanggung jawab ini? Mereka tidak lagi mendidik anaknya dengan sungguh-sungguh, bahkan terkesan menekankan pendidikan ilmu pengetahuan dan membiarkan anak itu buta akan ilmu agama dan kurang akhlaknya.
Seorang ibu di dunia ini sepertinya baru bangga jika anaknya bisa mengaji, padahal masih ada banyak sisi lain dari anaknya yang harus ia ketahui dan dia didik. Seorang ibu di dunia ini sepertinya baru bangga jika anaknya telah bisa shalat, padahal masih banyak amalan-amalan lain yang harus ia sempurnakan.
Lihatlah sosok ibu Imam Ahmad yang rela menggendong anaknya (4 tahun) di pagi buta demi menghadiri shalat shubuh berjama’ah di masjid! Sang ibu menyadarkan sang anak akan kewajibannya sebagai lelaki muslim. Namun sekarang, ada berapa ibu yang menyuruh anaknya shalat di masjid?
Lihatlah sosok ibu Imam Syafi’i yang dengan disiplinnya mendidik anaknya untuk menghapal Qur’an, dan hasilnya begitu sempurna ketika ternyata Imam Syafi’i berhasil hapal Qur’an pada usia 9 tahun. Namun sekarang ada berapa ibu yang menyuruh anaknya menghapalkan Qur’an?
Karena itu wahai kaum wanita! Tanggungan anda tidak sedikit! Andalah nahkoda akhlak keluarga anda! Sadarlah, bahwa pendidikan anak anda dan sentuhan kelembutan anda begitu diperlukan oleh anak-anak anda! Jangan sampai anak anda diasuh oleh ‘ibu’ lain. Anda harus bisa mengatur dan membentuk karakter serta kepribadian anak anda untuk menjadi tangguh dalam keimanan dan ketaqwaan!
Wallahu a’lam

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar