Menjadi Pemikir Penggerak Perubahan

23 Mei 2010
Menjadi pemikir? 
Mungkin profesi itu adalah profesi yang hanya cocok untuk orang-orang yang rajin membawa dan membaca buku-buku tebal karangan orang-orang besar dari zaman dahulu. Mungkin bila menjadi pemikir, kita akan banyak bersinggungan dengan karya-karya Aristoteles, Plato, Einstein, Faraday, atau orang-orang yang rumit pikirannya. Apakah orang-orang yang berpikir seperti itu adalah seorang pemikir yang mampu menjadi roda penggerak kebangkitan? Apakah pemikir-pemikir seperti itu adalah pemikir yang mampu menjadi lokomotif penggerak perubahan? Tentu saja, tetapi perubahan apa saja yang mampu dihasilkan dari seorang pemikir?

            Pemikir Filosofis, Pemikir Berbau Filsafat
            Sebenarnya, mendengar kata filsafat maka pemikiran kita akan tertuju pada sosok-sosok seperti Aristoteles dan banyak filsuf Yunani lainnya. Mungkin jika ditanya opini orang, maka pendapat kebanyakan adalah mereka adalah pemikir yang seakan-akan membuat sesuatu yang mudah menjadi sulit. Atau memperumit sesuatu yang simple. Tapi sebenarnya, seperti apakah perubahan yang mampu mereka hasilkan?
            Jika kita teliti, maka sebenarnya mereka adalah pemikir-pemikir yang pemikirannya rumit. Kebanyakan pemikiran mereka berasal dari pertimbangan akalnya sendiri. Dan yang fatal, standar kebenaran dari suatu pemikiran yang mereka hasilkan adalah akal mereka sendiri! Mereka banyak menggunakan akal mereka hingga akhirnya berujung pada penuhanan akal. Tetapi, perubahan yang mereka bawa ternyata sangatlah besar. Mereka menjadi trendsetter dikalangan para pemikir di masa mereka bahkan hingga saat ini. Namun, ternyata efek yang mereka hasilkan adalah chaos, kekacauan. Mengapa? Karena pemikiran yang mereka bawa terlalu banyak yang bertentangan dengan fakta dan kebenaran. Jadi kesimpulannya, pemiki sejenis ini mungkin dicap gagal.
            Pemikir Teoritis, Banyak Berteori Sedikit Beraksi
            Sebenarnya, pemikir seperti ini memang sangat mirip dengan tipe filsuf. Tetapi ini merupakan tipe pemikir yang terlalu banyak berteori namun sedikit yang mampu menghasilkan efek dan perubahan. Tetapi sebenarnya pemikir seperti ini cenderung menghasilkan prototipe pemikiran maju yang muncul setelahnya. Memang pemikiran ini bagus, namun pemikiran seperti ini akan menghasilkan perubahan yang cenderung jangka waktunya lama. Jadi, mau tidak mau pemikir seperti ini mungkin dicap nyaris berhasil.
            Pemikir Liberal, Berpikir Tanpa Dasar Kebenaran
            Pemikir seperti ini juga lahir dari induk yang sama, filsafat. Teori yang dibawa oleh pemikir seperti ini sepertinya manis seperti gula. Namun dibaliknya ada racun yang lebih mematikan daripada bisa ular. Pemikir seperti ini relatif rasional. Saking rasionalnya mereka menuhankan akal dan kebebasan. Namun hasilnya apa?
            Pada awalnya memang terasa manis, hidup dalam persamaan, kebebasan, dan keleluasaan. Namun, hal ini juga pada akhirnya melahirkan suatu konflik lain, yaitu konflik akan kebebasan antar individu. Dan akhirnya? Sama seperti induknya, yaitu chaos, kekacauan.
            Pemikir Fundamentalis, Pemikir Penghasil Ekstrimis
            Pemikir seperti ini sebenarnya memiliki satu hal yang tidak dimiliki pemikir liberal, yaitu suatu standar dalam kehidupan, suatu batasan dalam hidup dan bermasyarakat. Namun pemikir seperti ini adalah pemikir yang benar-benar menerapkan standar itu secara radikal. Hingga akhirnya, terciptalah generasi yang kaku dengan adanya perubahan. Karena memang, seiring waktu berputar, maka perubahan pun terus saja bergulir. Dan orang-orang yang radikal ini sepertinya tidak akan mampu bertahan lama. Mereka mungkin akan terasing dan terkucilkan. Perubahan yang dibawa adalah perubahan yang statis. Namun, jika pemikir seperti ini berhasil memegang suatu kekuasaan, maka akan terjadi perubahan yang besar-besar dan terkesan eksplosif. Di satu sisi memang pemikiran seperti ini benar. Namun di sisi lain menjadikan orang-orang menghadapi dunia dan perubahan zaman ini dengan kaku.
            Lantas, Pemikir Apakah yang Merupakan Pemikir Ideal?
            Saya punya satu jawaban, yaitu pemikir rabbani.
Berpikir cepat, rasional, masuk akal, kreatif dan solutif merupakan cara berpikir orang-orang yang mampu menjadi pilar-pilar perubahan dan kebangkitan. Dan cara berpikir seperti ini, telah dipraktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya dalam melakukan perubahan dan kebangkitan Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki pemikiran yang cemerlang. Beliau senantiasa berpikir solutif, cepat, dan rasional. Standar dan dasar pemikiran ini bertumpu pada sumber kebenaran yang hakiki, yaitu al-Qur’an dan syariat Islam.
Dan pemikir seperti ini juga pemikir yang fleksibel dan tidak kaku. Pemikir seperti ini mampu mengatasi tantangan zaman dengan adanya perubahan yang signifikan dalam kehidupan umat manusia. Memang banyak perubahan, namun pemikir rabbani mampu menghasilkan pemikiran dan perubahan yang mampu mengiringi perkembangan zaman. Namun, tetap saja memiliki tumpuan, yaitu Qur’an dan Sunnah.
Mungkin pemikir seperti ini terkadang dikatakan sebagai pemikir radikal. Padahal, sebenarnya pemikir seperti ini adalah orang-orang yang bila ada kebenaran, maka kebenaran itulah yang selalu dipegangnya hingga akhir hayat!
Mungkin pemikir seperti ini juga ada yang menyebutkannya sebagai pemikir yang selalu bertindak filosofis (bertafakur). Padahal memang, dalam berpikir kita harus suka merenung. Karena dengan merenung, kita menjadi lebih bisa berpikir dengan luas dan lebih membuka mata kita pada lingkungan.
Dan tentunya, pemikir seperti ini mampu menghasilkan perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik. Dan orang-orang yang memiliki cara berpikir seperti ini, mampu menjadi roda kebangkitan.
Wallahu a’lam

Artikel Terkait



3 komentar:

  • Wawawiwi

    usususss, mantap

  • matchstick freak

    mau tanya nih, ada nggak contoh2 aplikasi pemikiran2 rabbani? lalu kalau bisa ayat2 qur'an dan sunnah aplikasi dan penunjang definisi pemikiran rabbani tolong dilampirkan juga, supaya kita tidak serta merta "menuduh" qur'an dan sunnah sebagai tuntunan yg terbaik saat kaum kafir bertanya tentang bukti jelas..
    syukron.. ^^

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    aplikasinya ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam baru saja wafat. ketika itu Abu Bakar mampu memegang kekuasaan di tengah kekacauan di hampir seluruh negeri Islam kala itu. ketika kaum muslimin shock dengan wafatnya Nabi, Abu Bakar masih mengendalikan dirinya dan berkata, "Barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Tapi jika kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati!
    Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur"(QS Ali Imran: 144)
    lalu ketika orang-orang meragukan pemberangkatan pasukan Usamah yang telah diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Abu Bakar tetap komitmen dengan perintah Nabi. di sini menunjukkan bahwa Abu Bakar berpikir dan bertindak deri 2 hal, Qur'an dan Sunnah.
    Allah berfirman, "Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).

    Dalam menjelaskan kedua ayat ini, Abdullah bin Abbas berkata, “Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” [Tafsir ath Thabari, 16/225].

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya". (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

    Wallahu a'lam

  • Poskan Komentar