Terimalah Kebenaran dari Manapun Asalnya

7 Januari 2012
Ambillah hikmah dari orang yang kamu dengar. Sungguh, ada orang yang berkata dengan hikmah padahal dia bukan ahli hikmah, sehingga hikmah yang diucapkannya itu laksana anak panah yang dilontarkan oleh seseorang yang bukan pemanah
-Abdullah bin Abbas, Shifatush Shafwah I/757-
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkap seraya mengancamnya, “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” Orang yang mencuri itu berkata, “Aku butuh makanan sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yg sangat.”
Karena alasan tersebut aku melepaskannya. Di pagi hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat tawananmu semalam?”, “Wahai Rasulullah ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepada hingga aku melepaskannya” jawabku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Dia akan kembali.”

Aku pun mengintai ternyata benar ia datang lagi dan mulai menciduk makanan zakat. Kembali aku menangkap seraya mengancam, “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” “Biarkan aku karena aku sangat butuh makanan sementara aku memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.” Aku kasihan kepada hingga aku melepaskannya.
Di pagi hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat oleh tawananmu?” “Wahai Rasulullah ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga aku pun iba kepada hingga aku pun melepaskannya” jawabku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.”
Di malam yang ketiga aku mengintai orang itu yang memang ternyata datang lagi. Mulailah ia menciduk makanan. Segera aku menangkap dengan mengancam, “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau. Ini untuk ketiga kali engkau mencuri sebelum engkau berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu tetapi ternyata engkau mengulangi kembali.” “Lepaskan aku sebagai imbalan aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat-kalimat tersebut” janji orang tersebut. Aku berkata, “Kalimat apa itu?” Orang itu mengajarkan: “Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu bacalah ayat Kursi: (QS. Al Baqarah: 255) hingga engkau baca sampai akhir ayat. Bila engkau membaca maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari.”
Aku pun melepaskan orang itu hingga di pagi hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali berta kepadaku: “Apa yang diperbuat tawananmu semalam?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah ia berjanji akan mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tersebut akhir aku membiarkan pergi.” “Kalimat apa itu?” tanya Rasulullah. Aku berkata: “Orang itu berkata kepadaku: `Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat (QS. Al Baqarah: 255) Ia katakan kepadaku: `Bila engkau membaca maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari’.” Sementara mereka (para sahabat) merupakan orang-orang yang sangat bersemangat terhadap kebaikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kali ini ia jujur kepadamu padahal ia banyak berdusta. Engkau tahu siapa orang yang engkau ajak bicara sejak tiga malam yang lalu ya Abu Hurairah?.” “Tidak” jawabku. “Dia adalah setan” kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
-----00000-----
Kisah di atas merupakan kisah yang dituturkan oleh Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Wakalah bab Idza Wakkala Rajulan Fatarakal Wakil Syai`an Fa’ajazahul Muwakkil fa Huwa Ja`iz no. 2311.
Sebuah kisah yang menggambarkan kepada kita bagaimana sebuah kebenaran itu bisa diambil dari siapa pun meski kebenaran itu berasal dari setan.
Ya, kita sebagai muslim sudah seharusnya terus mencari kebenaran agar ilmu kita semakin mendalam. Namun yang kini terlihat di sebagian kaum muslimin adalah justru saling menolak satu sama lain bila mereka merasa berseberangan. Orang yang mengaku Salafi memboikot orang Ikhwani meski dalam diri mereka terdapat kebenaran. Kita sering tidak sadar bahwa sikap kita yang menolak kebenaran dari orang lain sebenarnya adalah kesombongan, di mana kita merasa bahwa hanya kita yang benar sementara kebenaran tidak ada di golongan lain. Kita mungkin tanpa sadar merasa bahwa kebenaran itu hanya ada pada Imam A, Syaikh B, Ustadz C, sementara ucapan atau pendapat Kiai D kita anggap sebagai suatu pendapat yang nyeleneh.
Ingatlah bahwa sesungguhnya kesombongan adalah menganggap rendah orang lain dan menolak kebenaran. Dan tidakkah kita ingat bahwa orang sombong tidak akan masuk surga meski kesombongannya hanya sebesar dzarrah?
Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya memiliki semisal dzarrah dari kesombongan.” Ada yang bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang suka mengenakan baju dan pakaian yang bagus.” Nabi ` menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. (Yang dimaksud dengan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” (HR. Muslim I/93/91, Abu Dawud II/457/4092, dan lain-lain)
Adapun dalil dari Qur’an mengenai hal ini:
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maidah: 8)
Perintah untuk senantiasa menegakkan kebenaran ini dihubungkan dengan keadilan karena keadilan yang sangat utama adalah mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan menerimanya. Jangan sampai kita menjadi fanatik buta sehingga hanya menerima dakwah atau seruan dari sekelompok orang tetapi menolak kebenaran dari kelompok yang lain.
“Kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima apapun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar.
Dahulu, Imam Ahmad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!
Kemiripan sebagian umat ini terhadap Yahudi dan Nasrani adalah, bahwa ulama syariah memandang kaum Sufi tidak ada apa-apanya, sementara kaum Sufi juga memandang bahwa ulama syariah tidak ada apa-apanya.
Mengenai perkara belajar dan berguru (ta`līm) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….”
Adapun menerima kebenaran, maka terimalah kebenaran dari insan manapun, bahkan dari Yahudi, Nasrani, setan atau orang-orang musyrik sekalipun” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Fathu’l Mu`īn fi’t Ta`līq `alā Iqtidhā’ish Shirāthi’l Mustaqīm, hlm. 32)
Selain dari setan, kebenaran juga mesti diterima meski kebenaran itu datangnya dari Yahudi.
Disebutkan bahwa Yahudi mendatangi Nabi dan berkata, “Kalian melakukan kesyirikan dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah!” Nabi bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Yahudi menjawab, “Kalian berkata, ‘Demi Ka’bah!’ Dan kalian juga berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan!’” Maka Nabi memerintahkan kepada para Sahabat apabila bersumpah agar mengucapkan: ‘Demi Rabb Ka’bah!’ Serta agar mereka mengatakan: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu (HR.  An Nasā’i VII/6/3773 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa seorang rahib Yahudi pernah mendatangi Nabi ` dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan (dalam riwayat lain: menahan) seluruh langit atas satu jari, seluruh bumi atas satu jari, pepohonan atas satu jari, air dan tanah atas satu jari, dan seluruh makhluk atas satu jari, lalu Dia berkata, ‘Akulah Sang Raja!’” Maka tertawalah Nabi sampai tampak geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tadi. Kemudian beliau membaca firman Allah,
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.Az-Zumar: 67) (HR. Bukhāri IV/1812/4553, dari Ibn Mas’ud)
Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah kebenaran itu darinya, meskipun ia adalah orang yang jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebatilan maka tolaklah, meskipun ia adalah orang yang dicintai dan dekat
(Abdullah bin Mas’ud, Shifatush ShafwahI/419  dan Al Fawaa’id hlm. 148)
          Wallahu Musta’an
          Referensi:
          Ensiklopedi Hikmah: 606 Hikmah dan Kisah Salaf (Intisari Kitab Shifatush Shafwah karya Ibnul Jauzi). Disusun oleh Ibnu Abdil Barri El ‘Afifi. Penerbit: Pustaka Arafah
          Menerima Kebenaran dari Orang Kafir dan Ahli Bid`ah, Artikel oleh Adni Kurniawan, Lc. Dipublikasikan dalam salafiyunpad.wordpress.com
     Batilnya Pemburu Hantu, Artikel oleh Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari. Dipublikasikan dalam asysyariah.com
          Bogor, 7 Januari 2012
Artikel Cafe Sejenak

Artikel Terkait



1 komentar:

  • Tiket Pesawat

    setuju, dari mana asalnya kalau itu benar terima saja.

  • Poskan Komentar