Hikmah Diciptakannya Malaikat Meski Allah Tahu Segalanya

4 Januari 2012

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)
-QS. Al Infithaar (82): 10-
Allah menciptakan seluruh makhluk dalam keadaan berbagai rupa. Ada manusia, bumi, bintang, pohon, gunung, binatang, dan lain-lain. Lalu ada satu makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya, yang selalu taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat kepadaNya yaitu malaikat.
Malaikat-malaikat yang Allah ciptakan ini tentu memiliki tugas, dan satu diantaranya adalah mencatat amal perbuatan manusia. Namun, ada beberapa orang yang mungkin heran dan memiliki pertanyaan, “untuk apa para malaikat itu diciptakan? Bukankah Allah telah mengetahui seluruhnya?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan simak penjelasan persoalan ini lewat fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah yang kami nukil dari Majalah Fatawa yang diterbitkan oleh Pustaka at-Turots, Islamic Centre Bin Baz, Bantul, Yogyakarta.
Pertanyaan:
          “Apakah hikmah penciptaan malaikat pencatat amal, bukankah Allah mengetahui segala sesuatu?”
Jawaban:
Sudah sering masalah-masalah demikian kami ungkapkan bahwa sesungguhnya kita terkadang bisa menemukan hikmahnya dan terkadang tidak menemukannya. Tidak sedikit yang tidak berhasil kita ketahui hikmahnya. Firman Allah
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahun melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa’: 85)
Sesunguhnya makhluk-makhluk ini, jika seseorang bertanya kepada kita, “Apakah hikmah dari penciptaan unta oleh Allah dengan bentuk seperti ini, menjadikan kuda bentuknya seperti ini, menjadikan keledai bentuknya seperti ini, menjadikan manusia bentuknya seperti ini dan yang semisalnya.
Jika ia bertanya kepada kita tentang hikmah semua perkara ini, niscaya tidak kita ketahui. Jika ia bertanya kepada kita, apa hikmah Allah menjadikan shalat zhuhur empat rekaat, ashar empat rekaat, maghrib tiga rekaat, dan shalat isya empat rekaat atau yang semisalnya, niscaya kita tidak sanggup mengetahui hikmah semua itu. Dengan penjelasan ini, kita sadar bahwa banyak sekali fenomena alam dan perkara syariat yang hikmahnya masih samar bagi kita. Apabila seperti itu, kita mengatakan: sesungguhnya pencarian kita terhadap hikmah dalam beberapa hal yang diciptakan dan disyariatkan, jika Allah memberikan karunia kepada kita hingga bisa sampai kepadanya, niscaya hal itu merupakan kelebihan karunia, kebaikan, dan ilmu. Jika kita tidak sampai kepadanya, maka hal itu tidak mengurangi sedikitpun (keimanan) kita.
Kemudian kita kembali kepada jawaban untuk pertanyaan, yaitu apakah hikmahnya, Allah mewakilkan kepada malaikat pencatat amal yang mengetahui apa yang kita lakukan? Hikmah yang demikian adalah penjelasan bahwa Allah mengatur segala sesuatu, menentukan, memantapkannya dengan kuat, sehingga Allah menjadikan malaikat pencatat amal perbuatan dan ucapan manusia, diwakilkan kepada mereka yang menulis apapun yang dilakukan manusia. Padahal Allah Mengetahui perbuatan mereka sebelum mereka melakukan. Tetapi semua ini merupakan penjelasan kesempurnaan perhatian dan pemeliharaan Allah terhadap manusia. Sesungguhnya alam ini diatur sebaik-baiknya, dikokohkan sekokoh-kokohnya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
          Rujukan:
Fatawa al-Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin hal. 347-348
Sumber: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah fi al-Masail al-‘Ashriyyah min Fatawa Ulama al-Balad al-Haram. Penyusun Khalid al-Juraisi.
Dinukil dalam Majalah Fatawa Vol.III/No.04 | Maret 2007 / Shafar 1428

Diedit dan disempurnakan di Bogor, 4 Januari 2012
Artikel Cafe Sejenak

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar