Bid'ah Hasanah

1 Juli 2010

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya…
QS al-Hujuraat: 1

Suatu hari saya pernah ditanyai oleh seseorang. Dan uniknya, yang bertanya kepada saya ini adalah seorang wanita yang saya pun baru mengenalnya. Pertanyaan yang dia ajukan pun tergolong aneh karena masih dalam tahap perkenalan. Saat itu, dia langsung bertanya kepada saya,
            “Kamu masih suka ikut mauludan, gak?”
            Sebuah pertanyaan yang ‘berbau’ agama rupanya. Dan sekarang, mungkin saya akan menjawab hal itu dengan lengkap:
            Saya jawab pertanyaan itu dengan kalimat, “Ya”. Kenapa? Karena sampai saat ini, dalam berbagai acara mauludan yang pernah saya alami, saya hanya punya dua pilihan: Ikut atau tidak absen. Karena itu saya memilih ikut (mengingat kapasitas saya sebagai seorang pelajar biasa). Dan ketika saya ikut pun saya merasa enjoy dengan acara itu. Toh, diisi dengan tausyiah dan ceramah yang mencerahkan.
            Tetapi ada yang harus kita ingat di sini, bahwa mauludan sebenarnya termasuk ke dalam kategori bid’ah. mauludan adalah suatu perkara yang baru dalam agama dan diada-adakan.

“Barangsiapa membuat sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak”  (HR Bukhari)
            “Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah (al-Qur'an), sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan (bid'ah), dan setiap bid'ah itu sesat” (HR Muslim)

            Dan mauludan telah termasuk ke dalam hal ini. Karena dalam sejarah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan (apa lagi menyuruh) untuk memperingati hari kelahiran beliau. Dan mengingat, bahwa tradisi merayakan atau memperingati hari lahir seseorang adalah tradisi Kristen (seperti hari Natal). Apa lagi ditambah fakta bahwa tradisi mauludan pertama kali dilakukan oleh orang-orang Syi’ah di bawah kekuasaan Dinasti Fathimiyyah, maka hal itu sudah memperjelas kedudukan mauludan dalam kacamata Islam.
            Namun sekarang, mengapa orang-orang dengan ringan melaksanakan bid’ah tersebut? Mungkin salah satu faktornya adalah label Bid’ah Hasanah.
            Bid’ah hasanah adalah salah satu istilah yang mengacu kepada perbuatan bid’ah yang dianggap baik. Benarkah demikian?
            Tentu saja tidak. Mengapa? Karena bila suatu hal yang tidak dicontohkan oleh nabi maka hal itu disebut bid’ah, sedangkan apabila ada bid’ah yang oleh seseorang atau suatu kaum dianggap benar dan baik, maka sesungguhnya, mereka telah mendzalimi Rasulullah!
            Tentu saja, bagaimana tidak? Dengan adanya istilah “bid’ah hasanah” atau bid’ah yang baik, maka istilah itu telah menganggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sempurna menyampaikan ajaran kebaikan dan kebenaran dengan tidak sempurna.
            Lagipula, apabila suatu perkara yang dilabeli “bid’ah hasanah” itu memang baik, maka siapa yang seharusnya melakukan hal itu duluan? Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!
            Lagipula, ada banyak sekali sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tentu saja mengandung manfaat. Tetapi, sudahkah anda mampu untuk melakukan semuanya dengan sempurna?
            Dari mulai bangun pagi hingga tidur lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan banyak sekali teladan yang baik. Dan, sudahkah anda melakukannya? Di saat ini, mungkin hanya sedikit sekali (atau mungkin tidak ada sama sekali, wallahu a’lam) yang mampu melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan keseluruhan dan dengan cara yang sempurna. Lantas, mengapa kita masih mengada-adakan perkara yang belum tentu bermanfaat bagi kita?
            Kata-kata Umar
            Mungkin, bagi yang menganggap bahwa bid’ah hasanah itu ada, mereka berpendapat dengan berpegang dengan kata-kata Umar bin Khattab saat beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat tarawih berjama’ah,
            “Sesungguhnya sebaik-baik bid’ah adalah hal ini (tarawih berjama’ah)”
            Mungkin jika sekilas, maka ini berarti bahwa Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu telah menyelesihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi sesungguhnya tidak!
            Sesungguhnya terdapat perbedaan konteks antara “bid’ah” yang dikatakan Nabi dan “bid’ah” yang dikatakan Umar. Bid’ah yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah perkara baru dalam agama. Sedangkan bid’ah yang dikatakan Umar adalah perkara shalat tarawih berjama’ah.
            Tentu saja, sebenarnya shalat tarawih berjama’ah pernah dan hanya beberapa kali dilakukan secara berjama’ah oleh nabi, namun bukan berarti hal itu tidak pernah dilakukan. Di zaman Umar, kebersamaan kaum muslimi sedikit renggang, maka dari itu Umar berinisiatif untuk kembali menghidupkan shalat tarawih berjama’ah.
            Tapi kan Baik?
            Memang, perbuatan bid’ah hasanah seperti contohnya mauludan cukup baik. Diisi dengan ceramah dan tausyiah yang menggugah. Namun, jika hal itu diikuti oleh orang yang ilmunya masih ‘dangkal’, maka tentunya hal itu akan dijadikan sebuah tradisi.
            Contohnya saja tradisi grebek maulud. Memang, baik. Baik untuk mempersatukan dan membina ukhuwah. Namun, ketika hal itu kemudian menjadi sebuah ‘kewajiban’, maka hal itu sudah melanggar batas. Apalagi dibumbui dengan upacara-upacara adat yang mengandung kemusyrikan. Maka apakah hal itu dibenarkan? Tentu tidak!
            Karena itu, janganlah melakukan sesuatupun yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sudah saatnya kita kembali introspeksi diri. Sudahkah ibadah dan perbuatan kita telah memiliki landasan yang kuat dan benar?
            Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



11 komentar:

  • Wawawiwi

    Wah, bagus gin artikelnya

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    gila, wawi emang paling update!

  • TaRyed

    bro kalau kita bicara bid'ah
    masih banyak bid'ah yang kita lakukan
    tapi, merayakan maulid bkan untk
    brmksd apa2.
    tapi ingin lbh memprknlkan rasululluh kepada
    umat.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    iya. tapi tidak adakah cara lain untuk itu? memang bagus, tapi lihat efeknya bagi orang-orang di sana yang menjadikannya sebagai momen penuh kebatilan seperti menjadi ajang kesyirikan. gara-gara itu, banyak tradisi di indonesia yang mungkin awalnya bertujuan baik tapi akhirnya makin jauh dari kebenaran. dan mungkin salah satunya karena bid'ah ini.

  • Untuk memahami sebuah hadits,perlu ilmu tata bahasa arab yang mendalam,karena Hadits Nabi Saw diucapkan dalam bahasa arab,dan tentunya dengan kualitas kalimat yang tidak biasa-biasa saja.Hadits tentang bid'ah itu tidak bisa dipahami dalam bahasa indonesia saja setelah diterjemahkan,tapi harus dipahami dalam bahasa arabnya agar bisa dipahami benar-benar apa maksudnya,karena sangat berbeda bahasa arab dan bahasa Indonesia.Perlu belajar banyak untuk memahami agama.Bersikaplah lebih bijaksana.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Anonim
    Lalu, apa ada yang salah dengan hal-hal dan berbagai dalil yang telah saya paparkan dalam posting ini? sesungguhnya saya juga berbicara dengan dasar ilmu. tunjukkanlah mana kesalahan yang telah saya buat dalam postingan ini. saya akan amat senang bila anda mampu mengkritik saya dengan bukti. tapi kalau kritik yang hanya spekulatif dan tidak jelas maka sungguh berarti anda telah menunjukkan seberapa dangkal pemahaman anda. Wallahu a'lam.

  • cupi

    saya mao nannya kalo pembagian bid'ah menjadi dua bid'ah diniyah dan bid'ah duniawiyah itu dalilnya apa ya?trus kalo pembagian tauhid menjadi 3 itu dalilnya apa?mhon penjelaasannya berdasarkan dalilnya?

  • Assalamu'alaikum wr wb
    saudaraku
    jika semua yang antum anggap tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW "semuanya Bid'ah"
    Bagaimana dengan Al Qur'an yang ada ditangan Kita saat ini ???
    Bukannkah Al Qur'an baru dikumpulkan di Zaman Khulafaur Rasidin ???
    dan Bukankah pada Zaman Rasulullah Al Qur'an belum memiliki "titik" dan tanda Baca (fathah kasrah dan dhommah) ???
    bukannkah pemberian tanda baca itu dilakukan setelah masa khulafaurrasidin ???
    lalu Al Qur'an seperti apakah yang anda baca saat ini ????
    apakah yang tidak memakai tanda titik dan tanda baca ??? sehingga antara nun dan ya sangat sulit dibedakan ????
    lalu menurut antum apakah ini bid'ah ????????

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Cupi: untuk mengapa tauhid dibagi 3, maka silakan lihat http://abunamira.wordpress.com/2011/06/13/mengapa-tauhid-dibagi-tiga/
    sementara itu, untuk bid'ah duniawiyah atau diniyah maka yang bisa kami katakan adalah Wallahu a'lam. tetapi yang jelas, mengenai bid'ah yang dilakukan berkenaan dengan dunia maka tidak apa-apa. seperti misalnya Listrik, mobil, dll. sementara itu para ulama menafsirkan hadits "Barang siapa mengada-ada dalam urusan kami..." maka para ulama menjelaskan bahwa perkara yang dimaksud adalah perkara agama. silakan lihat Syarh Hadits Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya, Fathul Bari sebagai referensi. atau kitab Al I'tisham karya Asy Syatibi

    @Anonim: antum jangan berkata seperti itu karena dengan berkata demikian maka anda telah 'seakan-akan' menuduh para shahabat telah mengadakan bid'ah. silakan lihat pembahasannya di
    http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/manhaj-tanya-ustadz/bidahkah-pengumpulan-al-quran/
    http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-146-pengumpulan-al-quranbidah-hasanah.html
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2941-mengenal-bidah-5-benarkah-pengumpulan-quran-termasuk-bidah.html

  • klo emang maulid bid'ah,kita sholat pake celana juga bi'ah donk?

  • tolong penulis belajar dulu tentang pengertian ibadah mahdoh dan ghoiru mahdoh,jangan bid'ah terus aja yang dituduhkan belajar dulu yang bener

  • Poskan Komentar