Sekilas Nasihat: Rasa Malu

22 Juli 2010

            Kalau kita melihat ke jalanan di mana banyak orang yang berlalu lalang, apa yang kita lihat? Yah, tentu saja ada banyak orang di sana. Mulai dari karyawan kantoran, pelajar, mahasiswa, sampai pengangguran. Namun, ada satu hal yang membuat saya tertegun ketika melihatnya. Apa itu? Jawabannya adalah wanita. Loh, apa itu berarti kalau mata saya jelalatan? Tentu tidak. Ada satu hal yang lebih spesifik dari itu, apa itu? Jawabannya adalah aurat.
            Ya, bukan berarti saya memperhatikan atau melihat dengan seksama aurat itu, tapi saya Cuma prihatin, mengapa masih banyak wanita yang dengan entengnya mengumbar aurat di depan massa? Mengapa masih banyak wanita yang dengan mudahnya memamerkan keindahan tubuhnya di depan umum? Tidakkah ia punya rasa malu?
            Memang, sudah seharusnya bagi setiap orang untuk menahan pandangannya. Tapi bukankah jika pakaian ‘kurang bahan’ yang dikenakan oleh kebanyakan wanita saat ini malah menjadi bahan provokasi yang justru lebih banyak mendatangkan mudharat?
            Selain itu, ada lagi fenomena aneh yang saat ini sedang menjamur. Fenomena itu adalah jilbab yang tidak dipakai dengan benar.
            Jujur, saya sangat malu atau sangat kecewa jika seorang wanita yang mengaku memakai jilbab tapi ternyata kelakuannya tidak menjadi lebih baik. Saya kecewa jika ada wanita yang mengaku menutup auratnya tapi ternyata perilakunya tidak dikendalikan.
            Saya kecewa jika melihat wanita yang mengaku memakai jilbab tapi ternyata pakaiannya masih pakaian kurang bahan atau mungkin kekecilan, sehingga masih memperlihatkan lekuk tubuhnya. Apakah mereka tidak malu?
            Sungguh tepat hadits Nabi yang menggambarkan bagaimana rasa malu adalah sesuatu yang sangat penting, sampai-sampai sebagian dari iman.

Malu adalah sebagian dari iman
-HR Bukhari dan Muslim-

            Tentu saja. Dengan malu, seluruh umat manusia masih bisa menjaga dirinya dari kemaksiatan. Dengan malu, seluruh umat manusia bisa menjaga fitrahnya sebagai manusia yang beradab.
            Bisakah kita bayangkan dunia ini tanpa malu? Apa jadinya dunia? Kemaksiatan merajalela, kekejian terjadi di mana-mana, dan mungkin masih banyak yang lebih buruk lagi.
            Karena itu, sudah seharusnya kita pelihara rasa malu kita. Setidaknya untuk malu kepada diri kita sendiri.
            Wallahu a’lam


Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar