Di Manakah Allah?

11 Juli 2012
Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna
-Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Al Qaulus Sadid, hlm. 110-
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dengan kesempurnaan cinta dan kehinaan diri. Apa itu cinta? Cinta tidak bisa didefinisikan. Jika didefinisikan maka akan semakin rancu. Apabila diakatakan ‘cinta’ tentu semua orang bisa memahaminya. Allah Ta’ala dicintai bukan karena sesuatu yang lain, Allah dicintai dari berbagai sisi. Seluruh hati diciptakan dengan tabiat cinta kepada siapa saja memberinya nikmat dan bersikap baik kepadanya. Maka bagaimana dengan dzat yang seluruh kebaikan berasal darinya? Tidak ada satu nikmat pun yang dirasakan makhluk kecuali berasal dari-Nya.

Kesempurnaan cinta dan kehinaan itu tentu tidak bisa dicapai bila tidak mengenal Allah Ta’ala dengan benar. Sebab kecintaan itu berbuah dari sisi kesempurnaan dzat yang dicintai serta kebaikan yang dilakukan oleh dzat tersebut. Tidak-lah kedua sebab tersebut dapat diraih kecuali dengan mengenal dzat yang dicintainya. Semakin seseorang mengenal yang ia cintai akan semakin bertambah pula cinta kepadanya. Sedangkan cinta adalah faktor utama penggerak hati sebagaimana yang diakatan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
“Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.”
(Majmu’ Fatawa, 1/95)
Begitu pula Syaikh As Sa’di rahimahullah,
“Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.”
(Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Inilah ilmu yang utama dan paling utama dari seluruh ilmu yang ada serta wajib bagi seseorang untuk mengilmuinya, yakni ilmu tentang Allah. Tidaklah kesempuraan iman dapat diraih, kedudukan yang tinggi dalam agama bisa digapai selain dengan memahaminya.
Kebanyakan manusia beriabdah memikirkan tentang “banyaknya ibadah”. Hal ini tidak menjdai masalah jika dilandasi dengan landasan yang benar. Namun bila tidak akan bertentangan dengan surah Al-Mulk ayat 2, firman Allah “ahsanu ‘amalaa” (amal yang baik) yaitu dilandasi iman dan tauhid serta mengikuti petunjuk Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini hanyalah dimiliki oleh orang yang memiliki pemahaman yang benar. Ibnul Qoyyim berkata, “Ilmu menjadikan yang sedikit berpahala banyak” (Miftah Daar As Sa’daah, Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
Oleh karena itu termasuk salah satu hal yang urgent adalah memahami bahwa Allah Ta’ala berada di atas langit dan bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Pada kesempatan kali ini akan kami uraikan pembahasan seputar keberadaan Allah Ta’ala yakni: fis samaa’ (di atas langit)
Sebelum masuk pada pembahasan inti, ada yang perlu diperhatikan oleh pembaca beberapa kaidah (yang kami tuliskan belum semua kaidah) memahami Tauhid asma wa shifat (nama dan sifat Allah). Ketahuilah:
1. Ahlussunnah wal jama’ah dalam seluruh pembahasan agama, tidak lain selalu kembali kepada al-Qur’an dan as-sunnah. Dan mereka selalu mengikuti kebenaran yang dijelaskan oleh al-Qur’an dan sunnah. Serta mereka selalu berjama’ah dalam mengikuti kebenaran tersebut, sehingga dikatan al-Jama’ah.
2. Secara global aidah ahlussunnah adalah mengimani apa yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an  dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam hadits-haditsnya yang shahih, tentang nama dan shifat Allah Ta’al, dengan keimanan yang selamat dari penafian, pernyerupaan, penyelewengan makna, dan menanyakan tentang kaifiyat nama dan sifat Allah. Dan juga menafikan seluruh sifat yang dinafikan Allah dan Rasulullah.
3. Jika tidak terdapat penjelasan tentang diri Allah yang berasal dari Allah maupun dari Rasulullah maka kita tidak bisa mengetahui hal tersebut. Karena tidak ada yang lebih tahu tentang Allah daripada Allah sendiri, serta tidak ada yang lebih tahu tentang Allah dari kalangan manusia selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika tidak terdapat keterangan mengenai hal itu ahlussunnah tidak akan berani berbicara.
4. Ada sebuah kaidah berharga: Nama-nama Allah (asma’ul husna) adalah nama sekaligus sifat. Contoh: nama Allah As-Samii’  menunjukkan akan sifat As-Sam’u (pendengaran), Al-Bashir  menunjukkan akan sifat Al-Bashar (penglihatan). Namun tidak sebaliknya.
5. Ketika berbicara tentang asma washifat buanglah jauh-jauh sifat makhluk. Karena Allah Al-Khaaliq (Yang Maha Menciptakan) tidak mngkin sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Contoh: ketika kami katakan ‘kaki’, apa yang terpikir dalam pikiran anda? Anda akan berkata kaki ini memiliki lima jari, tegak, berkulit, dan seterusnya. Tapi yang anda gambarkan adalah kaki manusia, yang tentu saja berbeda dengan kaki gajah, penguin, kucing, bebek, dan kawan-kawannya. Apalagi dengan sang Al-Khaaliq tentu sangatlah berbeda. Allah berfirman,
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro: 11)
Di antara sekian banyak asma’ul husna ada nama Allah yakni: Al-A’la (Yang Maha Tinggi). Dia Maha Tinggi dalam kedudukan-Nya, tinggi akan sifat dan keagungan-Nya. Karena sifat-sifat-Nya sangat agung, memili puncak kesempurnaan dan keindahan sesuai keagungan-Nya. Bahkan tidak ada seorang hamba yang dapat meliputi satu sifat-Nya. Al-A’la  memiliki sifat Al-‘Uluw yang meliputi tiga makna: ketinggian Allah dalam segi sifat-sifat-Nya, ketinggian dalam segi kekuasaan dan kerajaan-Nya, dan ketinggian dzat Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Semua sepakat mengenai dua makna pertama sifat Al-‘Uluw, namun mereka berselisih pendapat dalam makna yang ketiga tentang ketinggian dzat Allah. Namun ahlussunnah sepakat bahwa Allah memiliki ketinggian dari ketiga makna tersebut. Berikut ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan akan hal tersebut:
1.  Dalil tegas yang menyatakan dengan tegas Allah berada di atas:
Dan Dialah yang berkuasa berada di atas hamba-hambaNya.” (Al An’am : 18, 61)
         Dari Sa’ad bin Abi Waqqashsh radhiyallahu’anhu, “Bahwasanya Sa’ad memutuskan terhadap Bani Quraizhah (salah satu bani orang Yahudi Madinah) untuk mereka yang sudah baligh agar dibunuh dan untuk ditawan keturunan mereka, serta dibagi harta mereka. Lalu hal tersebut disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Sungguh engkau telah memutuskan terhadap mereka dengan hukum Allah yang ada di langit ketujuh’.” (HR. an-Nasaa’i, al-Bazaar, al-Hakim dan selain mereka)
2. Penjelasan tentang naiknya sesuatu kepada-Nya:
 Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya.” (QS. Al Ma’arij : 4)
Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik.” (QS. Fathir: 10)
          Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya ..” (QS. An Nisa’ : 158) 
Apabila dikatan naik, sudah pasti dari bawah ke atas. Sedangkan bila dikatakan turun tentunya dari atas ke bawah. Ini perkara mudah yang dipahami oleh seluruh manusia.
3. Penjelasan tentang diturunkannya al-Qur’an:
Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ghafir: 2)
          Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Az Zumar : 1)  
4. Begitu pula penjelasan tentang keberadaan-Nya di atas langit:
         Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di (atas) langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al Mulk : 16)
5. Penjelasan tentang diangkatnya kedua tangan dan diarahkan kepada-Nya:
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Salman al-Farisi radhiiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
       “Sesungguhnya Allah Mahamalu lagi Mahamulia, Dia malu jika hamba-Nya mengengkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia menolaknya dalam keadaan hampa.”  (HR. At Tirmidzi dan dishahihkannya, al-Hakim, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Dawud)
6. Kabar berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang naik turunnya beliau antara Musa ‘alahissalaam dan Rabbnya pada malam Isra Mi’raj untuk meminta keringan shalat. Hadits yang panjang ini diriwayatkan dalam Ash-Shahihain -Bukhari dan Muslim- dan selain keduanya.
7. Kabar berita dari Allah tantang Fir’aun bahwa dia berkeinginan untuk naik ke atas langit dan melihat sesembahannya Musa ‘alaihissalaam, lalu kemudian dia mendustakkannya:
          Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta".” (QS. Ghafir: 36-37)
Maksudnya, Fir’aun meyakini Musa berdusta dalam kabar beritanya(Musa) tentang keberadaan Allah di atas langit.
8. Dengan fitroh. Lihatlah diri anda ketika berdo’a. Ke arah manakah tangan anda. Ke kanankah, ke kirikah, atau ke mana-mana (karena ada sebagian orang yang mengatakan Allah berada di mana-mana). Tentu tidak. Tangan anda akan menengadah ke atas beserta pula hati anda dan perasaan anda terpaut dengan sendirinya ke atas. Bukan ke mana-mana.
9. Pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang budak milik Mu’awiyah bin al-Hakam, dan ini adalah dalil yang sangat gamblang yang menunjukkan Allah di atas langit.
“Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,
Di mana Allah?
Dia menjawab, “Di atas langit.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Muslim dalam shahihnya no.537)
Ada tiga buah faedah yang bisa kita ambil:
a. Disyari’atkan untuk menanyakan aynallah (di mana Allah), sebab ini merupakan pertanyaan Rasulullah. Jika ada yang melarang pertanyaan ini maka kami katakan, “Andakah yang lebih tahu ataukah Rasulullah?!!”
b. Disyari’atkan dengan jawaban Fis samaa’ (di atas langit)
c. Pertanda keimanan adalah meyakini Allah Fis samaa’
Maka dari sudah sangat jelaslah bahwa Allah berada di atas langit.
Beberapa pertanyaan:
1. Bagaimana dengan dalil, “Allah bersama kita?”
Jawaban: Allah Ta’ala bersama makhluknya dengan ilmu-Nya. Sedangkan dzat Allah tetaplah di atas ‘arsy-Nya. Sebagai contoh: anda mengatakan ‘harta saya ada bersama saya’. Padahal harta anda bisa saja ada di rumah, di mobil, di tabungan, dan sebagainya. Begitu pula dengan anda mengatakan ‘kami terus berjalan, dan rembulan bersama kami’. Yang menjadi dalil bagi mereka adalah firman Allah
Allah Ta’ala bersama kalian.” (QS. Al Hadiid: 4) Nu’aim bin Hammad mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, “Tidak ada sesuatu pun dari ilmu Allah yang samar dari-Nya. Tidakkah kalian memperhatikan firman Allah,
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al Mujadilah: 7) (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar)
2. Bagaimana dengan, ““Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf: 16)
Jawaban: Yang dimaksud oleh ayat ini adalah para malaikat-Nya itu lebih dekat kapada manusia daripada kedekatan mareka dengan urat lehernya sendiri. Sebab di ayat selanjutnya dikatakan,
“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf: 17) (Tafsir Ibnu Katsir)
Alhamdulillah selesai sudah pembahasan kali ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wa shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aali hi wa shahbihi wa sallam, Akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin.
Diselesaikan di tengah gelapnya hari pada 28 november 2011
Referensi Penulisan:
1. At-Tauhid lish shaffil awwal al-adi
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Tazkiyatn Nafs wa tarbiyatuha kama yuqarrirruhu ulama as-salaf
4. Tahdzib Tashil al-‘Aqidah al-Islamiyah
5. http://www.rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2958-di-manakah-allah-2.html
(28-11-2011)
6. http://www.rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3014-di-manakah-allah-6.html
(28-11-2011)
7. Hasil kajian Dr. Muhammad Nur Ihsan hafizhahullah

Disalin dari situs addawaa.co.nr
Buah karya dari akhuna Ahmad Adam Zari Ardi Ramadhan[1] hafizhahullah
Diedit kembali oleh Regin Iqbal Mareza
Dipublikasikan ulang di Cafe Sejenak




[1] Penulis kini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung.

Artikel Terkait



15 komentar:

  • bismillaahirrahmaanirrahiim

    semoga allah memberikan hidayahnya kepada kita semua,

    Http://allahadatanpatempat.wordpress.com/2009/12/31/aqidah-imam-syafii-w-204-h/

  • 1 kata buat ini blog ...
    Parahh ...
    ancurr ...
    sekian terima kasih

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Anonim yang pertama: aneh ya, udah jelas dalil-dalil di atas sudah menerangkan, malah ditambah syubhat lagi

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/01/bantahan-syubhat-allah-ada-tanpa-tempat-dan-arah-seri-allah-di-atas-arsy/

    http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3351-di-manakah-allah-8.html

    @anonim kedua: itu lebih dari satu kata. coba antum belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar dulu sebelum berkomentar dengan asal

  • bung@ kalau Allah bersemayam di ruang (istiwa') di arsy berarti kita sudah menyamakan Allah dg makhluknya yg berada di ruang,,tidak boleh bung kita menyamakan allah dg makhluk,

    Setelah saya cari2 ternyata ketemu juga bung akidah yang benar
    Coba baca secara cermat biar hati anda terbuka,,jangan lupa berdoa mendapatkan hidayah

    Www.warkopmbahlalar.com/mujassimah-neo-mujassimah-seri-1/

    Semoga bermanfaat,, (jangan mendoktrin kalau ini aqidah salah terus tidak mau membaca, yang benar itu baca. Terus bandingkan aqidah para ulama dengan aqidah anda)

  • maaf bung kurang satu,,

    Www.warkopmbahlalar.com/miraj-bukan-pertanda-tuhan-berada-di-langit/

    Dibaca yaa...
    Semoga bermanfaat untuk meluruskan aqidah..

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    seharusnya saya yang berkata demikian kepada antum. Kami tidak pernah menyifati Allah sama dengan makhluknya. Yang harus dipahami adalah kita beriman kepada nama dan sifat Allah berdasarkan apa yang Allah sifatkan sendiri pada diri-Nya dan apa yang tertuang dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Mengenai Allah yang beristiwa di atas Arsy, maka hal demikian sudah tercantum dengan jelas di dalam Al Qur'an dan hadits yang dikutip dalam artikel ini.

    Oh iya, seharusnya Antum paham dulu apa itu Mujassimah atau Musyabbihah.Mujassimah itu adalah menyatakan, meyakini bahwa Allah berbentuk jism (fisik). Mereka mengatakan Allah punya tangan, punya mata, punya hidung dstnya, dimana mereka mempersamakan Allah dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, mereka disebut Mujassimah, dan mereka bukanlah termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
    Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meng-imani bahwa Allah itu baik Dzat-Nya maupun sifat-sifat-Nya adalah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Karena tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, sehingga Allah tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan-Nya.

    Seandainya di artikel ini mengatakan "Allah DUDUK di atas arsy" mungkin Anda bisa sebut saya sebagai mujassimah. Namun, di sini disebutkan "Bersemayam". Kami menetapkan sifat bersemayam karena memang Allah sendiri yang menyifatinya demikian, namun mempertanyakan bagaimana caranya Allah bersemayam adalah perbuatan yang salah.

    Imam Malik berkata,
    "Istiwaa’ itu telah diketahui (maknanya), kaifiyah (cara)nya tidak diketahui (majhuul), beriman kepadanya adalah wajib, dan menanyakan tentangnya adalah bid’ah" (Tafsir Al-Qurthubi, Fashlut Tafriqah Bainal Kufr waz Zindiqah, Al ‘Aqiidah An Nidhaamiyyah)


  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    Untuk artikel kedua yang antum berikan link-nya kapada saya, maka sejujurnya, saya agak heran dengan penulisnya. Tidak pernahkah membaca kisah Isra' dan Mi'raj? Padahal dalam hadits mengenai isra' dan mi'raj sudah jelas digambarkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik dari satu langit ke langit yang lain (yang lebih tinggi)

    http://kaahil.wordpress.com/2011/06/30/definisi-hikmah-kisah-isra-miraj-27-rajab-yang-benar-buraq-adalah-seekor-binatang-yang-berwarna-putih-panjang-ukurannya-lebih-besar-daripada-keledai-dan-lebih-kecil-daripada-baghl-pera/

    Dan di artikel tersebut menukil sebuah hadits, "Jangan kalian lebih aku dari Nabi Yunus bin Matta" dan penulis dengan seenaknya mengatakan bahwa hal itu (secara tidak langsung) merupakan dalil Allah tidak di langit dan berada tanpa tempat. Duhai, penafsiran dari mana itu? Ulama mana yang berkata demikian!? Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi atas prasangka mereka.

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    Terakhir, sebagaimana yang Anda katakan kepada saya,
    "...Setelah saya cari2 ternyata ketemu juga bung akidah yang benar
    Coba baca secara cermat biar hati anda terbuka,,jangan lupa berdoa mendapatkan hidayah..."
    silakan Anda baca:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3351-di-manakah-allah-8.html

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/01/bantahan-syubhat-allah-ada-tanpa-tempat-dan-arah-seri-allah-di-atas-arsy/

    http://asysyariah.com/al-ala.html

    Dan sekali lagi, saya kembali memakai kata-kata Anda,

    "Semoga bermanfaat,, (jangan mendoktrin kalau ini aqidah salah terus tidak mau membaca, yang benar itu baca. Terus bandingkan aqidah para ulama dengan aqidah anda)"

    Silakan bandingkan aqidah yang Anda perjuangkan dengan aqidah para ulama:

    http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2973-di-manakah-allah-4.html

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/07/dimanakah-allah-ini-jawaban-al-imaam.html

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/12/101-perkataan-ulama-salaf-tentang-allah-di-atas-arsy-seri-allah-di-atas-arsy/

    http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2992-di-manakah-allah-5.html

  • oke bung, sesama muslim dengan satu tuhan tugas saya menyampaikan kebenaran telah saya laksanakan, pun pula tugasmu untuk menyampaikan akidah yg benar menurutmu juga telah anda laksanakan. Maka dari itu setelah membanding2kan dan membaca2 antar artikel saya tetap berpendirian dg akidah saya dan anda juga nampaknya masih tetap berpendirian dengan akidah anda. Kita hanyalah manusia yang penuh dengan kesalahan. Dan tak boleh merasa paling benar. karena hanyalah Allah pemilik kebenaran

    “Sesungguhnya orang yang paling mulya di sisi Allah
    adalah orang yang paling taqwa” [QS.Al-hujurat:13]

    Semoga dalam malam2 terakhir di bulan ramadhan ini ketaatan anda dan
    Ibadah anda kepada Allah bertambah hebat

    Wassalam

  • www.bicarasalafy.wordpress.com/2012/07/26/mengungkap-tipu-muslihat-firanda-1-berdusta-atas-nama-konsesnsus-ulama-tentang-allah-berada-di-langit/#respond

    bicarasalafy.wordpress.com/2012/07/26/mengungkap-tipu-muslihat-firanda-2-rontoknya-klaim-bahwa-para-ulama-berkonsesnsus-allah-berada-di-langit/

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @bungSemoga Allah mengampuni Anda yang tetap menyelisihi jalan yang benar setelah nampak jelas kebenaran tersebut. Dan semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada saya. Wallahu musta'an

  • Jundullah Abdurrahman Askarillah

    @Anonim Kalau tulisan seorang Firanda hafizhahullah bisa dikritik, namun bisakah Al Qur'an dan Sunnah yang shahih dikritik? dalam artikel ini sudah dijelaskan dalil-dalil yang dengan gamblang menjelaskan kepada kita bahwa Allah berada di atas langit. Semoga Allah menunjukkan jalan-Nya yang lurus kepada kita semua. Wallahu musta'an

  • Dan panjang lebar Abdurrohamn bin Hasan menjelaskan dalil-dalil yang menunjukkan ALLAH ada di atas langit, di Arsy’ dan dia mengatakan semua sahabat nabi dan para Imam mengatakan seperti itu, ALLAH ada di ‘Arsy secara dzat. Padahal semua ayat dan hadits yang dia beberkan sebagai dalil tidak menyebutkan secara DZAT ALLAH itu ada di ATAS ‘ARSY. Dia saja yang menafsirkan ayat dan hadits tersebut bahwa ALLAH benar-benar secara DZAT (HAKIKI) bukan MAJAZI (Kiasan), berada di ATAS.

    Bukankah ini menjadikan ALLAH membutuhkan tempat (makhluk) yang bernama ‘ARSY ? Bukankah ‘ARSY dalam Al Qur’an disebutkan membutuhkan malaikat Hamlatul Arsy (yang membawa Arsy) dan ‘Arsy di ayas air (Surat Hud ayat 7) ? Jadi pantaskan ALLAH membutuhkan diangkat oleh MALAIKAT di atas air? Suatu penafsiran yang keliru. Dan bertentangan dengan ayat LAYSA KAMITSLIHI SYAY-U (Tidak ada yang menyamai-Nya). WALAM YAKULLAHUU KUFUWAN AhAD (Dan tidak ada yang menyamainya satu pun), INNALLAAHA LAGHONIYYUN ‘ANIL ‘AALAAMIIIN (Sungguh ALLAH tidak butuh alam semesta)

    baca nih biar sadar apa itu virus WAHABI :
    http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/06/07/download-anti-virus-wahabi-sebelum-virus-wahabi-menyerang-anda/

    http://salafytobat.wordpress.com/

    http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/12/01/benarkan-allah-ada-dilangit/

    taubatlah om, sampean ini sudah terkena virus Wahabi akut, tpi kok ya bangga banget sama pemahaman keliru para WAHABI ini.

  • assalamua'alaikum!

    lucu tuh orang, :D

    dia mngatakan bahwa menerjemahkan Allah memiliki sifat makhluk berarti sesat, sejujurnya kalau mereka mengatakan itu maka dia benar, masa kok Allah Swt memiliki sifat makhluk??
    tapi saya ingin sedikit meluruskan, bahwa yang sebenarnya ialah bahwa makhluk Allah ada yang diberikan Allah sifat yang sama sepertinya, contoh: manusia memiliki sifat kasih dan sayang tapi ingat bahwa Allah Swt adalah Ar-rahman dan Ar-rahim!
    andai kan saja sifat sang makhluk memang sangat berbeda dgn sang khaliq maka so pasti bahwa kita tdk memiliki kasih dan sayang, dan pastiny sifat kita cuma benci dn hal yg buruk lain nya!bukan begitu??

    jika Allah telah berfirman yg bunyinya begitu, apakah kita dapat membantahnya??
    apakah kita akan mencari cara bahwa firman Allah itu salah dan kta harus menafsirkannya dengan akal bahwa itu hanya kiasan??
    bukankah jk memang itu kiasan maka pasti ada penjelasannya secara langsung dari Al-Qur'an dan Hadist yg shohih bahwa itu hanya kiasan?? tetapi kenapa tidak??
    bukankah Allah memberi kita akal utk menguji kita, apakah kita akan tunduk padanya dn firman2ny secara kaffah, bukannya utk mencari2 cara yang lain utk menjatuhkan arti dari firman itu sendiri!

    jadi kalau Allah mengatakan bahwa ia bersemayam diatas arsy, kamu akan menolaknya dn mengatakan bahwa itu adalah sifat makhluk??
    apakah para shahabat nabi dulu memperselisihkan hal ini dn mengatakan kepada Rasulullah,"eh itu kan sifat makhluk, kan tdk pantas kita mensifati Allah begitu' apakah ada???
    ya saudaraku sadarlah, dan apakah mereka mengatakan 'kami beriman' dan tidak akan di uji lagi??

    Hanya Allah lah yang Maha benar dan dari nya lah semua kebenaran!
    Wallahu'alam wabishawab!

  • wahabi ente tuh

  • Poskan Komentar