Sesungguhnya, wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati dan memuliakan para ulama, bersikap lapang dada terhadap perselisihan yang terjadi diantara mereka dan selainnya, serta memberikan udzur terhadap mereka yang melakukan kekeliruan di dalam keyakinan mereka-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Majmû’ Fatawa wa Rosâ`il al-‘Utsaimîn (26/90-92)-
Beberapa perselisihan ummat ini
disebabkan oleh beberapa hal. Berbeda manhaj, beda madzhab, dan banyak
perbedaan lainnya. Dan sekarang yang harus kita ikuti adalah manhaj salaf,
manhaj (cara/jalan hidup) yang kita teladani dari pendahulu kita yakni
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat serta yang
mengikuti jalan mereka. Sebagaimana hadits,
“Sesungguhnya
barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan
melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk
berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang
terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi
geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At
Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin
Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)
Namun, yang kita dapati saat ini
adalah ada beberapa orang yang berselisih karena perbedaan pendapat yang
melanda ulama panutan mereka. Bila dikatakan kepada mereka suatu perkara yang
menyelisihi pendapat mereka, maka mereka akan berdalil dengan pendapat ulama
mereka tanpa mengetahui dalilnya. Mereka menganggap bahwa ulama mereka adalah
orang yang selalu benar. Padahal sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al
Hanbali,
Allah enggan untuk memberikan kema’shuman bagi selain kitabNya. Seorang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan orang yang sedikit kesalahannya dibandingkan dengan kebenarannya yang banyak-Ibnu Rajab Al Hanbali, Al Qawaid-
Sebagian orang yang lain justru
menghujat para ulama dengan perkataan yang tidak sepantasnya. Golongan orang
seperti ini adalah orang yang selalu mencari-cari kesalahan ulama untuk
menjatuhkan kredibilitas mereka dalam bidang keilmuan. padahal golongan pencela
ini tidak tahu bagaimana sebenarnya jasa-jasa para ulama –rahimahumullah- pada
ummat ini.
Tidak Ada yang Sempurna
Kebanyakan ulama mujtahid dari
kalangan salaf dan khalaf (terakhir) telah mengatakan dan mengerjakan perbuatan
yang termasuk bid’ah tanpa mereka sadari bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah,
adakalanya mereka berpedoman pada hadits dha’if yang menurut mereka shahih, dan
adakalanya karena salah dalam memahami maksud sebuah ayat, atau karena mereka
berijtihad sementara dalam masalah tersebut ada nash (dalil) yang
menjelaskannya, namun nash tersebut tidak sampai kepadanya. Apabila seorang
telah melakukan ketaqwaan kepada Allah sebatas kesanggupannya maka ia termasuk
dalam firman Allah,
... Ya Rabb kami, janganlah Engkau adzab kami jika kami lupa atau kami salah....(QS. Al Baqarah: 286)
Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan
bahwa Allah menjawab, “Sungguh Aku telah memperkenankannya” (Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fataawa 19/191-192)
Sebagian penuntut ilmu sering
membicarakan kesalahan-kesalahan ulama. Dalam hal ini, kita memang harus
mengakui bahwa benar telah terjadi kesalahan dalam pemahaman sebagian salaf. Seperti
misalnya kesalahan Ibnu Hazm rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah yang
tergelincir dalam memahamai asma’ wa shifat Allah. Tapi betapa indahnya jawaban
yang dilontarkan Syaikh Shalih Al Fauzan,
Sekarang
Anda sendiri –yang miskin ilmu- bagaimana? Wahai Anda yang gemar hanya
mencari-cari dan sibuk dengan kesalahan Ibnu Hajr dan Ibnu Hazm, manfaat apa yang telah Anda beri pada kaum
muslimin? (As-ilah Al Manaahij, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan,
hal. 235-238)
Ulama bukanlah orang yang selalu
benar. Jangankan ulama, para Nabi dan Rasul yang Allah sebut dalam Al Qur’an
pun pernah melakukan kesalahan. Lantas, kenapa kebenaran hanya disandarkan pada
satu orang? Dan yang anehnya ketika ada ulama lain melakukan kesalahan, maka
ulama itu akan dihujat, dijauhi, dan dipropagandakan sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah).
Jika setiap kesalahan ijtihad seorang
ulama dalam suatu masalah, yang mana kesalahan itu dalam hal yang bisa
dimaafkan, lalu kita serempak (serentak) membid’ahkan dan menjauhinya, niscaya
tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kita, sekalipun Ibnu Naashir atau
Ibnu Mandah atau ulama yang lebih tua dari mereka berdua. Hanya Allah yang
mampu menunjuki makhluk kepada kebenaran, Dialah Yang Maha Kasih di atas segala
makhluk, maka kita berlindung kepada Allah dari mengikuti hawa nafsu dan
kekasaran dalam bertutur kata....
Kita mencintai sunnah dan pengikutnya,
dan kita mencintai seorang ulama yang terdapat padanya sikap mengikuti sunnah,
lagi memiliki sifat-sifat yang terpuji. Namun, kita tidak menyukai bid’ah yang
dilakukannya... (As Siyar, Adz Dzahabi)
Mengenai perselisihan para ulama atau
pun ketergelinciran mereka –rahimahumullah- maka sudah seharusnya kita memaklumi
bahwa itu berangkat dari niat baik untuk berijtihad sesuai kemampuan dan
keilmuan mereka yang jelas sangat jauh bila dibandingkan dengan kita.
Barangsiapa
yang mempunyai ilmu dia akan mengetahui dengan pasti bahwa orang yang mempunyai
kemuliaan, mempunyai peran dan pengaruh dalam islam maka hukumnya seperti ahli
islam yang lain. Kadangkala dia tergelincir dan bersalah, orang yang semacam
ini diberi udzur, bahkan bisa diberi pahala karena ijtihadnya, tidak boleh
kesalahannya diikuti, kedudukannya tidak boleh dilecehkan dihadapan manusia (I’lamul
Muwaqqin 3/295, Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
Dan karena kita hanyalah orang yang
masih ‘hijau’ dalam masalah ilmu, hendaknya kita menahan diri dari perselisihan
ini. jangan lagi perpanjang perselisihan yang ada.
Sudah
sepantasnya bagimu wahai pencari petunjuk untuk beradab kepada para imam
terdahulu, janganlah kamu menilai perkataan sebagian mereka terhadap sebagian
yang lain kecuali telah datang keterangan yang jelas bagimu. Apabila kamu bisa memahaminya atau
berprasangka baik, lakukanlah, jika tidak, maka tahanlah dirimu terhadap
perselisihan yang terjadi diantara mereka, karena tidaklah kamu
diciptakan untuk mengurusi masalah seperti ini. Sibukkan dirimu dengan sesuatu
yang bermanfaat dan tinggalkanlahn apa yang tidak bermanfaat bagimu. (Thabaqat
Asy Syafi’iyyah 2/39, As Subki)
Terakhir,
ingatlah bahwa tiada manusia tanpa cacat. Tengoklah kembali hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Setiap anak Adam itu banyak bersalah. Dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah orang-orang yang mau bertaubat.”(Hasan, HR. At-Tirmidzi no. 2616. Lihat dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 4514)
Wallahu a’lam.
Sumber penulisan
Rifqan
Ahlussinnah bi Ahlissunnah, Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr
Ittihamat
La Tutsbat, Sulaiman bin Shalih Al Khurasyi
As-ilah Al Manaahij, Syaikh Shalih bin
Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan
Majalah Al Furqon Tahun 6 edisi 9 Rabi’uts
Tsani 1428 H
Majmû’ Fatawa wa Rosâ`il, Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Bogor, 2 Oktober 2011
Artikel Cafe Sejenak



0 komentar:
Poskan Komentar