Bagaimana Menyikapi Ketergelinciran dan Kesalahan Para Ulama

2 Oktober 2011
Sesungguhnya, wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati dan memuliakan para ulama, bersikap lapang dada terhadap perselisihan yang terjadi diantara mereka dan selainnya, serta memberikan udzur terhadap mereka yang melakukan kekeliruan di dalam keyakinan mereka
-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Majmû’ Fatawa wa Rosâ`il al-‘Utsaimîn (26/90-92)-
          Beberapa perselisihan ummat ini disebabkan oleh beberapa hal. Berbeda manhaj, beda madzhab, dan banyak perbedaan lainnya. Dan sekarang yang harus kita ikuti adalah manhaj salaf, manhaj (cara/jalan hidup) yang kita teladani dari pendahulu kita yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat serta yang mengikuti jalan mereka. Sebagaimana hadits,
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)

          Namun, yang kita dapati saat ini adalah ada beberapa orang yang berselisih karena perbedaan pendapat yang melanda ulama panutan mereka. Bila dikatakan kepada mereka suatu perkara yang menyelisihi pendapat mereka, maka mereka akan berdalil dengan pendapat ulama mereka tanpa mengetahui dalilnya. Mereka menganggap bahwa ulama mereka adalah orang yang selalu benar. Padahal sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al Hanbali,
Allah enggan untuk memberikan kema’shuman bagi selain kitabNya. Seorang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan orang yang sedikit kesalahannya dibandingkan dengan kebenarannya yang banyak
-Ibnu Rajab Al Hanbali, Al Qawaid-
          Sebagian orang yang lain justru menghujat para ulama dengan perkataan yang tidak sepantasnya. Golongan orang seperti ini adalah orang yang selalu mencari-cari kesalahan ulama untuk menjatuhkan kredibilitas mereka dalam bidang keilmuan. padahal golongan pencela ini tidak tahu bagaimana sebenarnya jasa-jasa para ulama –rahimahumullah- pada ummat ini.
          Tidak Ada yang Sempurna
      Kebanyakan ulama mujtahid dari kalangan salaf dan khalaf (terakhir) telah mengatakan dan mengerjakan perbuatan yang termasuk bid’ah tanpa mereka sadari bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah, adakalanya mereka berpedoman pada hadits dha’if yang menurut mereka shahih, dan adakalanya karena salah dalam memahami maksud sebuah ayat, atau karena mereka berijtihad sementara dalam masalah tersebut ada nash (dalil) yang menjelaskannya, namun nash tersebut tidak sampai kepadanya. Apabila seorang telah melakukan ketaqwaan kepada Allah sebatas kesanggupannya maka ia termasuk dalam firman Allah,
... Ya Rabb kami, janganlah Engkau adzab kami jika kami lupa atau kami salah....
(QS. Al Baqarah: 286)
          Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan bahwa Allah menjawab, “Sungguh Aku telah memperkenankannya” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fataawa 19/191-192)
          Sebagian penuntut ilmu sering membicarakan kesalahan-kesalahan ulama. Dalam hal ini, kita memang harus mengakui bahwa benar telah terjadi kesalahan dalam pemahaman sebagian salaf. Seperti misalnya kesalahan Ibnu Hazm rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah yang tergelincir dalam memahamai asma’ wa shifat Allah. Tapi betapa indahnya jawaban yang dilontarkan Syaikh Shalih Al Fauzan,
Sekarang Anda sendiri –yang miskin ilmu- bagaimana? Wahai Anda yang gemar hanya mencari-cari dan sibuk dengan kesalahan Ibnu Hajr dan Ibnu Hazm, manfaat apa yang telah Anda beri pada kaum muslimin? (As-ilah Al Manaahij, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 235-238)
          Ulama bukanlah orang yang selalu benar. Jangankan ulama, para Nabi dan Rasul yang Allah sebut dalam Al Qur’an pun pernah melakukan kesalahan. Lantas, kenapa kebenaran hanya disandarkan pada satu orang? Dan yang anehnya ketika ada ulama lain melakukan kesalahan, maka ulama itu akan dihujat, dijauhi, dan dipropagandakan sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah).
          Jika setiap kesalahan ijtihad seorang ulama dalam suatu masalah, yang mana kesalahan itu dalam hal yang bisa dimaafkan, lalu kita serempak (serentak) membid’ahkan dan menjauhinya, niscaya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kita, sekalipun Ibnu Naashir atau Ibnu Mandah atau ulama yang lebih tua dari mereka berdua. Hanya Allah yang mampu menunjuki makhluk kepada kebenaran, Dialah Yang Maha Kasih di atas segala makhluk, maka kita berlindung kepada Allah dari mengikuti hawa nafsu dan kekasaran dalam bertutur kata....
      Kita mencintai sunnah dan pengikutnya, dan kita mencintai seorang ulama yang terdapat padanya sikap mengikuti sunnah, lagi memiliki sifat-sifat yang terpuji. Namun, kita tidak menyukai bid’ah yang dilakukannya... (As Siyar, Adz Dzahabi)
        Mengenai perselisihan para ulama atau pun ketergelinciran mereka –rahimahumullah- maka sudah seharusnya kita memaklumi bahwa itu berangkat dari niat baik untuk berijtihad sesuai kemampuan dan keilmuan mereka yang jelas sangat jauh bila dibandingkan dengan kita.
Barangsiapa yang mempunyai ilmu dia akan mengetahui dengan pasti bahwa orang yang mempunyai kemuliaan, mempunyai peran dan pengaruh dalam islam maka hukumnya seperti ahli islam yang lain. Kadangkala dia tergelincir dan bersalah, orang yang semacam ini diberi udzur, bahkan bisa diberi pahala karena ijtihadnya, tidak boleh kesalahannya diikuti, kedudukannya tidak boleh dilecehkan dihadapan manusia (I’lamul Muwaqqin 3/295, Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
          Dan karena kita hanyalah orang yang masih ‘hijau’ dalam masalah ilmu, hendaknya kita menahan diri dari perselisihan ini. jangan lagi perpanjang perselisihan yang ada.
Sudah sepantasnya bagimu wahai pencari petunjuk untuk beradab kepada para imam terdahulu, janganlah kamu menilai perkataan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain kecuali telah datang keterangan yang jelas bagimu. Apabila kamu bisa memahaminya atau berprasangka baik, lakukanlah, jika tidak, maka tahanlah dirimu terhadap perselisihan yang terjadi diantara mereka, karena tidaklah kamu diciptakan untuk mengurusi masalah seperti ini. Sibukkan dirimu dengan sesuatu yang bermanfaat dan tinggalkanlahn apa yang tidak bermanfaat bagimu. (Thabaqat Asy Syafi’iyyah 2/39, As Subki)
Terakhir, ingatlah bahwa tiada manusia tanpa cacat. Tengoklah kembali hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Setiap anak Adam itu banyak bersalah. Dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah orang-orang yang mau bertaubat.”
(Hasan, HR. At-Tirmidzi no. 2616. Lihat dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 4514)
          Wallahu a’lam.                                                                           
          Sumber penulisan
Rifqan Ahlussinnah bi Ahlissunnah, Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr
Ittihamat La Tutsbat, Sulaiman bin Shalih Al Khurasyi
          Majalah Al Furqon Tahun 6 edisi 9 Rabi’uts Tsani 1428 H

          Bogor, 2 Oktober 2011


Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar