Pembesar Dunia dan Akhirat

21 Februari 2010
Apakah anda tahu siapa itu Haman, Fir’aun, dan Qarun? Pernahkah anda mengenal Jalut dan Namrudz? Atau mungkin anda pernah mengenal siapa itu Abu Lahab dan Abu Jahal?

            Sahabat...
        Sejarah ternyata telah merekam riwayat hidup mereka. Sejarah telah mengenal siapa itu Fir’aun, Namrudz, atau Abu Lahab dan Abu Jahal. Jika dilihat dari kedudukannya, mereka bisa dibilang sebagai pembesar negeri mereka saat itu. Mereka adalah orang-orang besar yang tentu memiliki pengaruh yang besar pula terhadap dunia yang mereka tempati. Seperti yang kita ketahui, Fir’aun adalah penguasa Mesir saat itu. Dirinya menguasai sebuah negeri yang disebut sebagai pusat kebudayaan dunia saat itu. Sementara itu Namrudz adalah seorang raja yang bertahta. Dan Jalut adalah seorang raja yang kuat dan perkasa. Sedangkan Abu Lahab dan Abu Jahal adalah pembesar-pembesar Quraisy yang mengatur tatanan sosial di Makkah.


            Sementara itu jika dilihat dari segi hartanya, mungkin mereka adalah orang-orang yang sukses. Cobalah bayangkan, kunci gudang hartanya Qarun harus dipikul oleh beberapa orang. Sedangkan Namrudz pun memiliki banyak harta. Sedangkan Abu Jahal dan Abu Lahab merupakan pedagang-pedagang sukses yang menguasai perniagaan di sekitar jazirah Arab.
            Ya, mereka adalah manusia-manusia yang luar biasa dan telah tercatat oleh sejarah. Dan mungkin, bisa dibilang sebagai orang sukses. Namun sebenarnya, apa yang terjadi pada mereka?
            Adapun pada Fir’aun dan Haman,
            “...dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya...” (Q.S. al-A’raaf:137)
            “...dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya...” (Q.S. al-Baqarah:50)
            Sementara itu, pada Qarun,
            “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya),” (Q.S. al-Qashash: 81)
            Sementara pada Jalut,
            “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut...” (Q.S. al-Baqarah: 251)
            Sedangkan pada Abu Lahab,
            “binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa” (Q.S. al-Lahab: 1)
            Mengapa mereka berakhir demikian? Mengapa mereka pada akhirnya mengalami kebinasaan yang mengerikan?
            Sahabat...
            Mereka adalah manusia-manusia luar biasa dalam sejarah, mereka adalah orang-orang yang sukses dan pembesar dunia. Namun, sejarah pun menyimpan sisi lain dari mereka. Mereka juga ternyata adalah orang-orang yang zhalim dan ingkar pada Tuhannya. Mereka telah mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka telah berpaling dari jalan yang benar.
            Fir’aun, Haman, dan Qarun telah berbuat zhalim pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka telah berlaku sombong di dunia.
            “Dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. akan tetapi mereka Berlaku sombong di (muka) bumi, dan Tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).” (Q.S. al-Ankabuut: 39)
            Ya, mereka telah berlaku sombong padahal Allah telah menganugerahkan pada mereka kekuasaan yang cukup besar di muka bumi. Namun, mereka malah membengkokan hal itu. Bahkan, sampai-sampai Fir’aun berani mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan. Dan dirinya telah melampaui batas.
            “...sesungguhnya dia telah melampaui batas,” (Q.S. an-Naazi’at: 17)
            “(Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi”" (Q.S. an-Naazi’at: 24)
            Lihatlah! Bagaimana pembesar-pembesar dunia itu pada akhirnya menemukan akhir yang menyedihkan. Mengapa?
            Mereka telah dzalim, mereka telah ingkar, mereka telah berlebih-lebihan, dan mereka telah berlaku sombong
            “...dan janganlah berlebih- lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-A’raaf: 31)
            “…dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Q.S. Luqman: 18)
            Ya, mereka telah sombong dan ingkar pada Rabb mereka, hingga akhirnya mereka mendapatkan adzab yang pedih.
            Sekarang, cobalah anda bandingkan keadaan mereka dengan keadaan Daud ‘alaihissalam, Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, Muhammad II al-Fatih. Bandingkanlah antara golongan pertama dan yang kedua ini!
            Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, dan Muhammad al-Fatih adalah manusia-manusia yang juga luar biasa. Mereka merupakan pembesar-pembesar dunia. Merekalah yang telah mewarnai dunia dengan kemuliaan hingga saat ini. Namun, tahukah anda apa perbedaan antara Nabi Daud dan Jalut? Tahukah kamu perbedaan Nabi Sulaiman dan Qarun? Tahukah kamu perbedaan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan Abu Jahal? Tahukah kamu perbedaan Umar bin Khattab dan Namrudz? Tahukah kamu apa kemuliaan dari Umar bin Abdul Aziz dan Muhammad al-Fatih bila dibandingkan dengan Fir’aun?
            Sahabat...
            Sadarlah anda, bahwa mengapa ternyata golongan yang awal tadi adalah golongan celaka, sedangkan golongan kedua adalah golongan selamat. Mengapa? Padahal mereka sama-sama orang-orang penting dan luar biasa di zaman mereka. Dan mereka tercatat sebagai manusia-manusia yang outstanding dalam sejarah. Namun, mengapa mereka mengalami perbedaan nasib?
            Golongan kedua ternyata mengalami akhir hidup yang bahagia, yang happy ending. Mereka mati dalam kemuliaan yang tidak terputus-putus. Kenapa? Karena merekalah golongan orang-orang yang beriman, berilmu, beramal shalih, bertaqwa dan tidak ingkar pada Allah, tidak sombong, amanah, dan menjalankan segala perintah Allah dengan baik. Mereka telah mengaplikasikan ilmu mereka ke dalam kehidupan mereka. Mereka telah menjalankan syariat Allah di muka bumi.
            Kita tahu, bahwa tidak ada manusia yang ada di muka bumi ini adalah manusia yang benar-benar suci dari kesalahan. Pasti kita melakukan kesalahan, meskipun sekali. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang mendapatkan rahmat Allah? Mengapa mereka bisa begitu?
            Karena mereka selalu berusaha untuk mensucikan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka selalu sadar dan selalu berusaha untuk menghindar dari kesalahan yang pernah mereka lakukan. Mereka selalu mengejar dan berlomba-lomba menuju pengampunan Allah. Mereka adalah pemimpin yang adil. Mereka adalah manusia-manusia yang rendah hati dan tidak rendah diri. Mereka tidak kufur tetapi mereka selalu bersyukur.
            Sebagai contoh, adalah ketika utusan dari negeri Romawi ingin bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab. Utusan itu mengira bahwa Umar bin Khattab memiliki istana yang megah dan mewah, serta memiliki kekayaan yang berlimpah. Namun, dirinya terkejut karena ternyata dirinya mendapati bahwa Amirul Mu’minin Umar bin Khattab hanya tidur beralaskan pelepah kurma dan tinggal di rumah yang sederhana. Padahal, Umar adalah pemimpin besar. Bagaimana tidak? Kekaisaran Romawi di Syam dan Kerajaan Persia bertekuk lutut di hadapannya. Umar, penguasa seluruh Jazirah Arab dan Mesir di zamannya, ternyata hanya tidur di atas pelepah kurma. Berbeda sekali dengan rival-rivalnya yaitu Kaisar Romawi dan Kisra Persia yang hidup di tengah-tengah kemewahan istana dan harta yang menumpuk.
            Lihatlah! Bahwa pada fakta dan sejarahnya, orang-orang yang bertaqwa selalu menang dan sukses. Baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang hanya mengejar dunia, maka dirinya hanya akan mendapatkan dunia. Namun jika dirinya mengejar akhirat, maka dunia pun tidak akan berat dijalankannya.
            Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



1 komentar:

  • dhieel

    Insya Allah kita adalah pembesar dunia dan akhirat berikutnya
    amiin

  • Posting Komentar