Ketika Cinta Bertasyabbuh

20 Maret 2011

Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat
-Ibnu Taimiyah-
Patut dipertanyakan, bagaimana bisa perspektif remaja zaman sekarang mengenai cinta begitu seragam. Cinta selalu  digambarkan sebagai satu hal yang indah, sebagai suatu hal yang paling menyejukkan. Yang manisnya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada susu. Padahal cinta itu begitu luas, perlu konsistensi dalam hal konsekuensi cinta. Namun kebanyakan memahami sebagai sebuah permainan belaka.
            Pandangan mengenai cinta saat ini begitu ringan di mata remaja. Dan lagi, dalam hal cinta ternyata kebanyakan orang berkiblat pada satu hal: Barat.
            Tradisi cinta gaya Eropa dan Amerika kali ini semakin dipuja. Budaya cinta ala hedonis dan para pecinta dunia kini makin menggila. Tidak lagi merambah pada orang dewasa dan remaja, bahkan hingga anak-anak yang umurnya masih hijau, yang dengan mudahnya bertuturkata mengenai cinta, yang dengan ringannya memuja cinta, yang dengan tidak ada rasa berdosa mereka memamerkan kecintaan mereka pada lawan jenis. Apakah ini gambaran masa muda generasi sekarang? Bila sekarang saja sudah begini, maka bagaimana dengan masa mendatang?
            Propaganda Media dan Cinta
            Sebenarnya, kata cinta yang sekarang dipahami oleh kebanyakan orang ternyata datang dari media. Ya, media yang kini kita kenal sebagai komputer, internet, televisi, radio, film, dan yang lainnya yang telah merebak ke seluruh dunia dan berjangkit pada kawula muda.
            Media yang dikonsumsi oleh masyarakat selain memuat konten positif ternyata menyimpan dampak negatif yang tak sedikit banyaknya. Kisah cinta yang disuguhkan oleh media digambarkan dengan sentuhan yang indah dan bernilai seni tinggi, yang menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang sangat indah, yang selalu happy ending, tanpa mengetahui bagaimana konsekuensi pahit dan getirnya cinta.
            Berbagai kisah mengenai cinta seperti Snow White, Cinderella, Beauty and the Beast, dan masih banyak lagi menyajikan tentang kisah cinta. Namun ternyata kebanyakan orang lupa bahwa kisah yang mereka sampaikan kebanyakan dikonsumsi oleh anak-anak sehingga membuat opini generasi muda tentang cinta semuanya sama: Happy Ending, Bahagia selamanya, mudah didapat, dll.
            Dan ketika cinta yang mereka (generasi muda, atau malah kebanyakan orang) dapatkan ternyata tidak sesuai dengan gambaran mereka, maka mereka putus asa, patah hati, bahkan bunuh diri karena cinta yang mereka harapkan tidak sesuai dengan yang mereka dapatkan.
            Itulah yang terjadi ketika seseorang tidak memahami cinta yang sebenarnya. Cinta tidak hanya tentang suka sama suka, cinta tidak hanya mengenai sayang sama sayang, cinta tidak cukup digambarkan sebagai saling mengasihi satu sama lain. Kalau cinta hanya didefinisikan seperti itu, maka itu adalah penafsiran yang hanya menjadikan nafsu sebagai pedoman dalam cinta.
            Cinta sangatlah luas dan tidaklah segampang yang ada dalam kisah Cinderella, film, atau sinetron lainnya. Karena cinta adalah sebuah perasaan dasar manusia. Yang bahkan Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebutkan dalam salah satu kitabnya, ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, bahwa cinta adalah suatu dasar yang menjadikan kita beramal atau melandasi perbuatan kita. Dan yang menjadi nilai dari perbuatan kita adalah objek rasa cinta kita, apakah kita melakukan sesuatu karena cinta kita kepada Allah, atau cinta kita kepada dunia, atau cinta kepada harta, dll.
            Dan cinta yang membangun adalah cinta yang berasal dari lubuk hati terdalam, yang tidak hanya diarahkan oleh nafsu tetapi juga oleh iman dan akal. Karena bila hanya dengan hawa nafsu, maka cinta itu tidak akan sempurna karena tidak tahu bagaimana dampak rasa cintanya, bagaimana kadar cintanya, atau konsekuensi cinta kepadanya, atau mana rasa cinta yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
            Kiblatnya ke Barat
            Dan hal lain yang di masa kini pada kebanyakan orang adalah hidupnya berkiblat kepada Barat. Dalam hal ketatanegaraan, pendidikan, teknologi, bahkan cinta.
            Cinta gaya Eropa dan Amerika yang merupakan produk Hedonis adalah cinta yang memuja hawa nafsu. Dan dampaknya jelaslah terlihat. Bagaimana para remaja rela mengumbar auratnya demi cinta, rela menjual harga dirinya demi cinta, membuang rasa malunya demi cinta. Apakah ini cinta yang sempurna? Tidak! Bahkan inilah cinta yang merusak martabat manusia. Bagaimana bisa cinta yang bersemi di hati manusia yang seharusnya menjadi penyejuk malah menjadi duri yang menusuk? Yang seharusnya menjadi obat malah jadi penyakit hingga sekarat.
            Sudah seharusnya orang-orang memindahkan kiblat cintanya kepada selain Hedonisme. Dan semestinya kita lihat bagaimana cinta generasi terdahulu, yaitu generasi salafushshalih dalam hal ini. Mereka memandang cinta tidak hanya sebagai harta di dunia, tapi juga simpanan bagi akhirat. Bagaimana mereka memanajemen hati mereka dalam hal cinta.
            Tengoklah bagaimana Yusuf ‘alaihissalam menolak ajakan isteri Aziz. Meskipun beliau sudah hendak terbujuk, namun ia tetap menjaga hatinya dari kenistaan cinta.
            Dan sudah seharusnya begitulah bagaimana para pemuda bersikap. Kisah Yusuf yang masih muda seharusnya dijadikan oleh para pemuda sebagai sebuah teladan tentang cinta dan nafsu. Yang kini telah menggiring generasi muda menuju kehancuran –Na’udzubillah min dzalik-
            Wallahu a’lam   

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar