Macam-macam Cinta

19 Desember 2010
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
-Hamka-
Cinta? Mau membicarakan tentang apa? Kisah cinta sinetron? Kisah cinta romantis dan dramatis? Atau happy ending? Tenang, cinta itu sangatlah luas. Sementara itu, bila cinta hanya dibatasi dengan cinta yang sering kita temui dalam roman picisan, maka hal itu tentu saja sebuah kesalahan yang besar. Karena dengan itu berarti cinta itu adalah ibadah kepada hawa nafsu. Na’udzubillahi min dzalik! 
            Pembatasan mengenai cinta itu benar-benar sebuah kesalahan fatal. Karena itu berarti bahwa pandangannya sempit dan hanya dari satu sisi. Bisa dari sisi sinetron, sisi roman picisan, atau sisi puteri Disney. Pernahkah kita berpikir bagaimana melihat cinta itu dari seluruh sisi sehingga kita bisa memahaminya secara sempurna? Karena pemahaman kebanyakan orang mengenai cinta di zaman sekarang begitu dangkal. Lalu, apa solusinya?
            Dalam salah satu kitabnya yang terkenal, ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, Ibnul Qayyim al-Jauziyah telah mengklasifikasikan 5 macam cinta yang bersemi di hati manusia. 5 macam cinta yang mampu membangun kepribadian menjadi lebih baik atau bahkan menjatuhkan kepribadian itu kepada hal yang nista. 5 macam cinta itu adalah,
            Yang pertama, Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
            Hal ini saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab Allah dan memperoleh amal kebaikan serta pahala dariNya. Sebab, kaum musyrikin, kaum Nasrani, Yahudi, dan selain mereka adalah juga mencintai Allah.
            Hal ini menunjukkan kita satu hal, bahwa jika hanya sekedar berlandaskan cinta dan keikhlasan namun melupakan aspek ittiba’ kepada suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal itu adalah percuma dan sia-sia. Karena jika tidak berittiba’ maka tentunya tidak memiliki pedoman dalam beribadah dan keseharian sebagai seorang muslim.
            Yang kedua, Mahabbatu maa yuhibbullah (mencintai perkara yang dicintai Allah)
            Cinta yang seperti inilah yang mampu memasukkan pelakunya ke dalam Islam dan mengeluarkan pelakunya dari kekufuran. Karena jika kita mengaku seorang muslim, maka sudah seharusnya kita juga turut mencintai apa yang dicintai Allah. Seperti misalnya shalat, shaum, zakat, dll.
            Dan apabila kita justru seseorang membencinya, maka sungguh! Ia telah keluar dari Islam dan masuk kepada kekufuran. Sejarah telah membuktikan ketika saat-saat pasca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau di awal masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq, banyak diantara kaum muslimin yang menolak untuk membayar zakat. Sehingga pada akhirnya Abu Bakar memutuskan untuk menumpas mereka karena mereka telah keluar dari Islam.
            Hal inilah yang sudah sering terjadi di masyarakat kita masa kini. Mereka mengaku Islam, namun mereka dengan mudahnya meninggalkan perkara-perkara yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam contohkan dalam kepribadian beliau yang agung (bahkan syariat Islam sendiri dihujat). Padahal, sudah jelas bahwa hal-hal yang telah mereka tinggalkan adalah sesuatu yang dicintai Allah. Seseorang yang telah mengaku cinta tidak mungkin dengan seenaknya meninggalkan perkara yang ia cintai, bukan? Karena itu, jika kita mengaku seorang muslim, maka cintailah apa yang dicintai Allah!
            Yang ketiga, Al-Hubb lillah wa fillah (mencintai karena Allah dan dalam ketaatan kepadaNya)
            Hal ini merupakan syarat dari mencintai perkara yang dicintaiNya. Sungguh! Mencintai sesuatu sesuatu yang dicintai tidak akan tegak, melainkan dengan mencintai Allah dan dalam ketaatan kepadanya.
            Kita sering mendengar bahwa yang namanya cinta itu adalah sementara dan singkat. Padahal, cinta itu sendiri bisa bertahan bila kita memiliki pondasi yang kuat. Pondasi itu bernama aqidah. Cinta tidak akan bertahan lama bila cinta itu hanya berlandaskan nafsu semata. Namun cinta karena Allah dan dalam ketaatan kepadaNya, maka insya Allah akan terus bertahan.
            Sering kita dengar cekcok antara suami istri, adik dengan kakak, seorang muslim dengan muslim yang lain. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa mereka belum terikat dalam satu ikatan cinta yang dulu telah mengikat kaum Aus dan Khazraj serta kaum muhajirin dan kaum anshar. Ikatan cinta para salafusshalih benar-benar kuat. Tidak bisa dibayangkan bagaimana besarnya cinta para sahabat pada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Mereka rela menjadi perisai hidup demi membela sang kekasih tercinta. Bahkan Muawiyah yang dulu ketika ia masih musyrik sempat berkata di tengah-tengah eksekusi Zaid bin ad-Datsinah (dalam riwayat lain Khubaib bin Adi, wallahu a’lam),
Belum pernah aku melihat seseorang mencintai sahabatnya demikian rupa seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai Muhammad
            Mengapa bisa demikian? Karena mereka mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah, dan mereka benar-benar dalam ketaatan yang sulit dibayangkan. Loyalitas mereka kepada Islam tidak perlu lagi dipertanyakan. Karena itu, kisah cinta mereka merupakan sebuah kisah legendaris yang harum namanya sepanjang zaman.
            Yang keempat, Al-Mahabbatu ma’allah (mencintai selain Allah bersama Allah)
            Ini adalah kecintaan yang syirik. Barang siapa yang mencintai sesuatu bersama Allah bukan karena Allah, bukan sebagai sarana kepadaNya, dan bukan dalam ketaatan kepadaNya, maka dia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah. Seperti inilah kecintaan kaum musyrikin. Dan memang, cinta ini adalah kesyirikan! Bahwa mereka telah berani menyetarakan Allah dengan dzat yang lain. Mereka menganggap bahwa dzat yang mereka yakini lebih mendatangkan maslahat dan manfaat pada dirinya dan orang lain. Padahal justru sebaliknya, mereka telah mengundang adzab Allah!
            Contoh nyata dalam masyarakat kita adalah sesajen kepada ‘penunggu’ agar mereka dilindungi dari mara bahaya. Sungguh, ini adalah sebuah kesyirikan yang nyata!
            Dalam kasus lain, mereka membuat hal-hal yang baru untuk dicintai secara berlebih-lebihan sehingga menyebabkan kultus. Yang dengan kultus itu ia akan menutup mata pada kebenaran dari orang lain dan kesalahan dari apa yang ia kultuskan. Semoga Allah melindungi kita dari cinta yang semacam ini.
            Yang kelima, cinta yang sejalan dengan tabiat.
            Bentuknya adalah kecenderungan seseorang terhadap perkara yang sesuai dengan tabiatnya, seperti seorang yang haus mencintai air, yang lapar mencintai makanan, seseorang mencintai isteri dan anaknya, dll. Kecintaan ini sebenarnya tidaklah tercela, kecuali jika tabiat cinta tersebut melalaikan dari mengingat Allah dan yang menyibukkan hamba dari mencintaiNya serta taat kepadaNya.
            Sebagaimana yang telah Allah firmankan,
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.
(QS Al-Munafiquun: 9)
...yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
(QS An-Nuur: 37)
            Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar