Bergeraklah!

17 Oktober 2010

...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...
(QS ar-Ra’d: 13)
Di dunia ini, entah sudah berapa banyak orang yang menemui kegagalan. Kehidupan mereka berantakan dan tidak menentu. Beragam faktor pun turut dipersalahkan sebagai biang keladi dari masalah ini. Mulai dari ketiadaan lapangan kerja, kuota yang makin terbatas, persaingan yang makin kejam, dan lain-lain.
Tetapi, harus dilihat dan diperhatikan sekali lagi oleh kita. Latar belakang yang sama dari tiap individu yang menyatakan bahwa diri mereka telah gagal. Apakah mereka semua tidak berpendidikan? Tentu tidak. Justru di antara mereka ada yang mendapatkan berbagai gelar prestisius dari berbagai universitas bergengsi.
Tentunya perlu direnungkan. Apa yang terjadi pada mereka? Mengapa mereka yang jelas memiliki potensi lebih ternyata pada akhirnya jatuh?
Tentu saja, karena mereka hanya memiliki potensi, tapi ternyata pada akhirnya mereka tidak mampu untuk mengoptimalkan apa yang mereka miliki. Mereka tidak bergerak. Mereka hanya menjadi pribadi yang statis. Yang pergerakkannya pasif dan tidak mampu menghasilkan karya apapun.
Pribadi Statis VS Pribadi Dinamis
Pribadi yang statis cara kerjanya pasif. Tidak mampu bergerak sendiri bila mesin motornya belum dinyalakan. Sementara itu, pribadi yang dinamis adalah pribadi yang mampu menjadi motor penggerak bagi sebuah komponen di masyarakat. Entah itu lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan pergaulan, dll. Secara sederhana, perbandingan mengenai berbagai aspek dari dua tipe kepribadian ini bisa digambarkan dengan tabel
Aspek
Pribadi Statis
Pribadi Dinamis
Cara Kerja
Lamban, tidak inovatif
Cepat tanggap, inovatif
Cara Berpikir
Jangkauannya pendek
Jangkauannya panjang dengan target yang jelas
Cara Menghadapi Masalah
Pasrah begitu saja
Berjuang mencari jalan keluar
Kesimpulan
Pasif
Aktif
 
Cara kerja orang yang statis adalah cara kerja yang lamban. Perlu digerakkan oleh tenaga dorongan yang lain agar bisa menjadi karya nyata. Kerjanya pun tidak inovatif, tidak mampu melihat peluang untuk bagaimana mengoptimalkan hasil kerja mereka dengan berbagai cara yang bisa dan boleh dilakukan. Kerja mereka hanya sekedar “copy-paste” dari hasil karya sebelumnya tanpa ada pengembangan yang dilakukan.
Cara berpikir orang yang statis pun ternyata jangkauannya pendek. Masih belum terarah. Tentu saja hal ini terbukti dari bagaimana misalnya seorang mahasiswa yang masih di tingkat 2. dia masih belum memasang target bagaimana untuk ke depannya. Misalnya pikirannya hanya terpaut membuat skripsi belaka. Setelah masa itu berlalu, ia belum memikirkan bagaimana langkah selanjutnya yang harus ditempuh. Misalnya apa yang harus ia lakukan setelah lulus. Maka tentu saja mahasiswa seperti ini bisa menjadi penyumbang angka pengangguran di negerinya (naudzubillah min dzalik)
Sementara itu, cara mengatasi masalahnya orang yang statis adalah hanya duduk diam begitu saja. Tanpa adanya langkah perjuangan mencari jalan keluar. Mereka hanya bisa terlunta-lunta dengan nasib mereka.
Sesungguhnnya gambaran mengenai orang statis itu tentu saja jauh berbeda dari orang yang dinamis. Orang dinamis memiliki cara kerja yang cepat dan sesuai dengan keadaan serta kondisi yang dihadapi. Dirinya pun bisa membuat berbagai inovasi yang mampu mendorong kemajuan komponen masyarakatnya. Inovasi tentu saja penting. Tidak hanya sekedar perubahan dalam sebuah sistem yang baru. Tetapi lebih dari itu. Inovasi adalah perubahan yang bisa mendasari perubahan langkah-langkah ke depan bagi semua komponen dari sebuah komunitas.
Cara berpikir orang yang dinamis juga sudah jelas dan terarah. Jangkauan pikirannya pun jauh. Namun jauh di sini bukan berarti pikirannya terlalu meluas sampai-sampai keluar dari konteks. Berpikir jauh itu berpikir dengan cara yang sederhana namun tahu apa yang harus dilakukan dari A-Z.
Sementara itu, cara mengatasi masalah oranng yang berkepribadian dinamis adalah terus berjuang mencari jalan keluar. Mereka tidak akan diam saja. Karena memang, masalah tidak akan selesai bila didiamkan begitu saja.
Tentu saja. Contoh nyata dari dua kepribadian ini bisa ditemui dalam catatan sejarah. Mulai dari zaman Yunani kuno hingga masa kini.
Seperti misalnya Socrates dan Plato. Socrates memang seorang filsuf besar. Namun sayang, dirinya tidak memiliki karya monumental. Yang justru memiliki karya besar adalah muridnya sendiri, Plato. Yang memang bertindak aktif dengan merangkum seluruh pemikirannya dalam berbagai buku. Dan salah satunya adalah Republik.
Atau mungkin tentang bagaimana perkembangan kebudayaan dunia. Ketika bagaimana Bangsa Eropa kuno bersifat statis dalam perkembangan mereka. Ketika mereka terus diam dalam kejahiliahan mereka mengenai kehidupan mereka sendiri.
Di sisi lain, sebuah peradaban baru yang dinamis telah lahir di jazirah Arab. Peradaban baru itu ternyata mampu bersifat dinamis. Hal itu terbukti dari kebudayaan baru itu berhasil meruntuhkan dua imperium tua yang sudah karatan; Romawi dan Persia. Peradaban baru itu menjadi roda penggerak utama dari berkembangnya ilmu pengetahuan di dunia ini. Menjadi penggerak utama akan sistem norma dan hukum yang beradab dan bermartabat. Peradaban itu berhasil menjadi pemimpin di zamannya dan terus berdiri selama satu milenium lamanya. Dari mulai zaman Nabi, khulafaurrasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, hingga Bani Utsmaniyah atau Ottoman.
Selain itu, sifat dinamis dari setiap individu juga sangatlah menonjol. Tidakkah kita perhatikan bagaimana sikap dinamisnya Abu Bakar ketika menghadapi kemurtadan di Jazirah Arab? Tidakkah kita perhatikan betapa dinamisnya Umar ketika melakukan ekspansi dan penegakkan Islam di seluruh daerah kedaulatannya? Pernahkah kita tertegun ketika Utsman begitu dinamis dalam membangun angkatan laut dan penaklukkan Siprus, serta penghimpunan al-Qur’an dalam satu mushaf yang menjadikan umat Islam tetap satu selamanya?  Atau ketika Ali dengan dinamisnya memberantas pemberontak.
Coba bayangkan, bagaimana bila Abu Bakar diam membiarkan kemurtadan itu terjadi. Atau Umar membiarkan para pejabatnya terlena akan kenikmatan dunia, atau Utsman membiarkan al-Qur’an kaum muslimin tidak pernah dikumpulkan dalam satu mushaf, atau ketika Ali membiarkan pemberontak itu merajalela memecah barisan kaum muslimin. Apakah kita bisa melihat dunia seperti ini? Dunia yang pada akhirnya bisa melahirkan generasi seperti Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin Hayyan, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, atau Malcolm X.
Bisakah kita bayangkan apa yang terjadi bila 4 imam madzhab hanya diam terhadap perkembangan zaman? Mungkin kaum muslimin akan memiliki madzhab sendiri-sendiri seperti Budiyah, Andrewiyah, atau Bambangiyah.
Apa yang terjadi bila Hasan al-Banna tidak bersikap dinamis dalam harakahnya? Mungkin Mesir atau mungkin banyak daerah lain tidak lagi menjadi miliki kaum muslimin.
Apa yang terjadi bila Sayyid Quthb pada akhirnya melaksanakan niatnya untuk berhenti berpikir? Mungkin tidak ada lagi generasi penerus yang kritis dan tegas dalam harakah dan dakwah.
Apa yang terjadi bila Malcolm X tidak dinamis dalam pengamatannya ketika Haji? Mungkin akan terjadi perang besar antara muslim kulit hitam dan kulit putih.
Intinya, yang bersifat dinamis itu aktif dan yang statis itu pasif. Dan sikap dinamis atau statis itu bisa sangat berpengaruh terhadap jalannya perkembangan zaman.
Sebagai penutup, kesimpulan bagi orang yang ingin hidupnya berubah, maka bergeraklah! Jadikan potensi itu karya nyata!
Orang yang cerdas dan bijak
Tak kenal mematung dan diam; tinggalkan kampungmu dan lakukan perjalanan!
Hijrahlah; pasti kau temukan ganti orang yang pernah kau kawani!
Kuamati air jika menggenang akan merusak dirinya sendiri
Jika mengalir menjadi baik; kalaulah tidak, akan membusuk
Sang singa kalaulah tak meninggalkan hutan, ia tak bisa berburu mangsa
Dan anak panah kalau tak meninggalkan busurnya, tak bakal mengenai sasaran
Kalaulah matahari harus di tempat
Manusia Arab dan Ajam, tentulah bosan
Kalaulah bulan purnama tak pernah terbenam
Mata yang mengintai tak pernah melihatnya setiap kala
Intan hanyalah onggokan tanah jika masih terpendam di dalam kawah
Dan tongkat hanyalah sebatang kayu jika masih berupa batang pohon
Kalaulah seorang mau mengembara, pencariannya berakhir mulia
Namun jika hanya mematung diam, tak bakal meningkat
Kalaulah hatimu terasa muak di suatu negeri
Lakukanlah perjalanan, kau temukan tanah pengharapan
Aku heran kepada orang-orang yang hanya diam terlunta-lunta di suatu kampung
Padahal tanah Allah berpenjuru luas
Dan itulah manusia yang akalnya dalam keterpicikkan
-Imam Syafi’i-
Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar