Dzikrul Maut dan Amal Terbaik

13 Oktober 2010
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
 (QS Al-Mulk: 1-2)
Sesungguhnya seluruh makhluk hidup itu tentu saja akan merasakan yang namanya kematian. Kematian yang datang untuk memisahkan diri kita dari kehidupan dunia. Pernahkah kita memikirkannya?
Kematian tentu saja adalah perkara ghaib yang tidak bisa ditebak kapan datangnya. Karena memang hanya Allah saja yang tahu akan hal itu. Mungkin saja, tanpa kita sadari, kita saat ini sedang berjalan menuju hal itu. Seiring berputarnya waktu, berputar pula rotasi kehidupan kita. Hingga makin lama, roda kehidupan itu terus bergulir menuju satu arah: kematian.
Namun, sudah seharusnya kita sadar. Apa sebenarnya hikmah dari hidup dan mati? Apa sebenarnya penjelasan langsung dari Allah mengenai kehidupan dan kematian? Sesungguhnya, Allah telah menjelaskan hal itu di al-Qur’an, tepatnya di surah al-Mulk ayat 2 yang ada di atas tadi.
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
                                                      (QS al-Mulk: 2)
Di sini, jelas bahwa sebenarnya Allah menjadikan hidup dan mati itu adalah ujian. Bagaimana kita bisa mempersembahkan amalan terbaik hanya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Perhatikanlah! Bahwa dalam ayat ini, Allah menyebutkan “ahsanu ‘amala”, atau “amalan terbaik”. Bukan saja “amalan yang baik” belaka. Tapi lebih dari itu, amalan terbaik! Amalan yang paling optimal yang mampu anda berikan kepada Allah.
Sekarang, perlu diperhatikan. Bagaimana sebenarnya kualitas ibadah dan amalan kita. Apakah hanya standar saja? Shalat lima waktu dengan jadwal ekspres. Apa itu yang dinamakan optimal? Perkataan kita yang masih berkoar bebas ke mana-mana tanpa hikmah. Apa itu yang disebut amalan terbaik? Jika kita yang hidup dalam sehari 24 jam itu namun hanya memanfaatkan waktu dengan pas-pasan dan dengan aktifitas yang tidak bermakna, maka sudahkah kita mengoptimalkan ibadah kita?
Sesungguhnya kita tahu bahwa hanya Allah yang tahu kapan kita akan mati. Dan apakah kita sudah yakin bahwa kita siap menghadap Allah dengan amalan-amalan kita yang ala kadarnya ini?
Tentu tidak! Jangan sampai kita menghadap Allah dengan amalan kita yang pas-pasan. Tidak ada alasan untuk tidak meningkatkan kualitas ibadah kita. Kita harus berubah! Jangan hanya berbuat sebatas ‘itu’ bila kita mampu berbuat lebih.  
Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar