Siapa yang Bisa Menjamin?

12 Agustus 2010

Siapa yang bisa menjamin kalau kita bisa bertemu dengan Ramadhan yang akan datang?

Sekarang adalah bulan Ramadhan, satu dari dua belas bulan yang ada. Satu bulan yang benar-benar bermakna dan amat bernilai harganya. Di bulan inilah al-Qur’an dan kitab-kitab lainnya diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan bathil. Bulan di mana malam yang lebih mulia dari seribu b ulan itu ada. Ya, bulan yang sangat mulia ini hanyalah sebentar, hanya sekali dalam setahun. Hanya beberapa kali dalam rentang hidup kita yang fana di dunia ini. 
       Dan saat ini, sudah saatnya kita mengingat lagi. Mengingat apa saja yang telah kita lakukan selama di bulan Ramadhan kali ini. Kembali membuka lembar introspeksi diri kita. Cobalah, kita kembali buka catatan hidup kita beberapa tahun yang lalu, ketika kita melewati Ramadhan yang lalu dengan berbagai aktifitas. Lalu, cobalah hubungkan dengan keadaan anda di bulan Ramadhan saat ini. Adakah yang berbeda?
            Coba kita pikir ulang, perbuatan apa saja yang telah kita perbuat di Ramadhan ini. Mungkin anda harus kembali menghitung amalan apa yang telah anda perbuat. Coba kita hitung, sudah berapa amalan baik, sudah berapa amalan kita yang sia-sia, atau malah amalan kita yang menjadi mudharat bagi kita? Apa yang kita dapatkan? Berapa hasil akhir dari perhitungan kita?
            Yah, mungkin kita melihat ada ‘sedikit’ perbaikan diri kita, dari bulan-bulan biasa sampai ke Ramadhan. Atau mungkin dari Ramadhan yang lalu hingga kini.
            Dan sekarang, coba kita rekonstruksi ulang apa sebenarnya esensi Ramadhan: Bulan keberkahan, bulan yang menjadi ajang perbaikan, bulan yang menjadi pembersih diri kita, bulan yang menjadi ajang berlomba dalam kebaikan.
            Dan, coba anda kembali merenungkan makna Ramadhan: bulan di mana kita merasakan nikmatnya iman, manisnya Islam, dan enaknya ibadah.
            Kemudian, kembali kita tinjau apa sebenarnya keistimewaan di bulan Ramadhan ini: di sinilah kita, kaum muslimin, diperintahkan untuk melaksanakan shaum sehari penuh (dari terbit fajar hingga maghrib).
            Lalu, coba kita renungkan kembali apa yang dikatakan oleh Rabb semesta alam tentang shaum ini:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa
(QS al-Baqarah: 183)

            Perintah ini merupakan perintah untuk orang-orang yang beriman. Ya, perintah untuk menjalankan shaum. Dan, cobalah anda lihat kembali ujung ayat tersebut,

....agar kamu bertaqwa

            Ya, perintah ini dimaksudkan agar kita mampu menjadi seorang yang bertaqwa, seseorang yang menaati perintah Allah dan menjauhi larangannya. Sementara itu, di ayat lain di Qur’an, Allah menjelaskan kenikmatan orang-orang yang bertakwa:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan
(QS at-Thuur: 17)

            Dan, inginkah kita meraih kemenangan?

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan
(QS an-Naba: 31)

            Ya, ibadah shaum dapat menjadikan kita sebagai insan yang bertaqwa, yang dijanjikan Allah dengan kemenangan dan kenikmatan di dalam surga. Lantas, apa lagi yang kita tunggu untuk menjadi insan yang bertaqwa? Bukankah kita telah shaum di bulan Ramadhan yang tujuannya untuk meraih taqwa?
            Manfaatkan waktu, manfaatkan ibadah, manfaatkan kesempatan!
            Di bulan Ramadhan ini, sudah seharusnya kita berpikir dan merenung, apa yang telah kita lakukan selama ini. Seharusnya, kita tanyakan diri kita sendiri, “Sudah maksimalkah ibadah kita? Sudah sempurnakah ibadah kita?”
            Sungguh! Merugilah orang yang tidak memanfaatkan Ramadhan ini untuk memperbaiki diri, akhlak, dan ibadahnya.
            Sesungguhnya, kita tidak tahu. Bisa saja di setiap tarikan nafas kita menjadi ladang pahala bagi kita. Bisa saja, setiap perkataan baik kita menjadi tiket ke surga. Bisa jadi, setiap huruf yang kita baca bisa menjadi syafaat bagi kita.
            Maka dari itu, sudah seharusnya kita memanfaatkan waktu kita di bulan Ramadhan ini.
            Merenunglah!
            Sesungguhnya, hanya Allah yang tahu, apakah kita akan kembali bertemu dengan bulan Ramadhan lagi?
            Sesungguhnya, hanya Allah yang tahu, sempatkah kita memasuki bulan Ramadhan ini lagi?
            Sesungguhnya, kita tidak tahu, masihkah umur kita sampai hingga Ramadhan yang akan datang?
            Tidakkah kita merenung? Entah sudah berapa banyak orang yang pada Ramadhan sebelumnya mereka masih sempat shaum di tengah-tengah kita, masih sempat sahur di antara kita, masih sempat berbuka bersama kita.
            Namun, apakah mereka semuanya kembali bertemu Ramadhan ini lagi? Bisa jadi, sahabat atau kerabat kita yang tahun lalu masih beribadah dengan kita di bulan Ramadhan kali ini sudah berkalang tanah dan debu.
            Bisa jadi, sahabat atau kerabat kita yang dulu masih sempat menghadapi Ramadhan bersama kita saat ini telah berbaring di dalam gundukan tanah.
            Sadarkah kita? Mungkinkah Ramadhan ini menjadi Ramadhan kita yang terakhir? Sesungguhnya tidak ada yang menjamin apakah umur kita sampai hingga ke Ramadhan tahun depan.
            Maksimalkanlah!
            Karena itu, maksimalkanlah ibadah kita! Optimalkanlah shaum kita! Jangan sampai kita banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia. Karena sesungguhnya, tidak ada satu makhluk pun yang tahu, apakah kita masih bisa bertemu bulan Ramadhan yang akan datang?
            Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar