Makna Shiraathal Mustaqiim, dan tafsir 2 ayat terakhir surat al-Fatihah

3 Januari 2010



“Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. Al-Fatihah: 6-7)
Sahabat…
            Ayat-ayat dalam surat al-Fatihah tadi adalah ayat yang paling sering kita baca (minimal 17 kali sehari). Kita sering membacanya, tetapi, apakah anda tahu makna ayat-ayat tersebut? Kali ini saya akan membahas singkat mengenai tafsir ash-shiraatal mustaqiim, jalan yang lurus. Serta 2 ayat terakhir di surat al-Fatihah.

            Bismillahirrahmaanirrahiim…

            Apa itu ash-shiraatal mustaqiim? Apa itu jalan yang lurus? Apa makna di balik itu semua?
            Sahabat…
            Ibnu Katsir dalam salah satu kitabnya pernah menjelaskan makna dan arti dari ash-shiraatal mustaqiim. Beliau sendiri menerangkan hal itu dari berbagai sumber. Mengapa? Karena ada empat pendapat ulama mengenai arti  ash-shiraatal mustaqiim. Apa itu?
  1. pendapat ulama yang pertama mengenai ash-shiraatal mustaqiim mengatakan bahwa ash-shiraatal mustaqiim itu adalah al-Haq, yang artinya kebenaran. Shiraathal mustaqiim adalah kebenaran, lawan dari kebatilan. Shiraathal mustaqiim adalah jalan yang ditempuh lewat kebenaran.
  2. pendapat kedua mengatakan bahwa ash-shiraathal mustaqiim adalah al-Islam/dinul Islam. Jadi, shiraathal mustaqiim adalah agama Islam, agama yang telah dibawakan oleh Rasulullah SAW. Agama yang sering disebut sebagai agama teroris, padahal agama Islam adalah agama yang cinta damai (baca: Islam, the Religion of Peace, atau klik di sini)
  3. pendapat ketiga mengatakan bahwa shiraathal mustaqiim adalah al-Qur’an dan Sunnah. Dimana kedua hal ini merupakan Kitabullah dan warisannya Nabi Muhammad SAW.
  4. pendapat keempat mengatakan bahwa shiraathal mustaqiim adalah Rasulullah SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Mereka bertiga (ssemoga Allah melimpahkan rahmat bagi mereka semua) adalah manusia-manusia terbaik yang pernah terlahir dari generasi terbaik di dunia. Karena dalam suatu riwayat menyebutkan bahwa Raslullah SAW bersabda bahwa generasi terbaik adalah generasi para sahabat, kemudian sesudahnya (tabi’in), kemudian sesudahnya (tabi’ut tabi’in). Nabi juga pernah berkata akan kemuliaan Abu Bakar dan Umar ra. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam ilmu agama Islam.

Dari keempat pendapat tadi, Ibnu Katsir merangkai makna dari ash-shiraathal mustaqiim. Yaitu:
Ash-shiraathal mustaqiim adalah kebenaran,di mana kebenaran itu berasal dari Islam. Karena Islam itu adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah (Q.S. ‘Ali Imran: 19). Dan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab.
Setelah ayat ihdinasshiraathal mustaqiim, disebutkan lagi dalam ayat selanjutnya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.
Dalam hal ini, para ulama menafsirkan bahwa orang-orang yang telah mendapatkan nikmat Allah adalah para nabi, shiddiqiin, dan syuhada. Hal ini dipertegas oleh Allah dalam al-Qur’anul Kariim:
“dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. an-Nisaa: 69)
Setelah itu, dalam ayat selanjutnya dalam surat al-fatihah, yaitu:
“…bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Siapakah orang-orang yang dimurkai? Dan siapa pula orang-orang yang sesat?
Para ulama menafsirkan bahwa yang disebut sebagai orang-orang yang telah dimurkai oleh Allah adalah Bani Israil atau kaum Yahudi, dan juga orang-orang yang menyerupai mereka. Mengapa mereka semua dimurkai oleh Allah? Karena mereka memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Jadi, jika ada seorang muslim memiliki ilmu tetapi tidak diamalkan, maka orang itu serupa kelakuannya dengan orang Yahudi.
Sementara itu, siapakah orang-orang yang sesat? Mereka adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang serupa dengan mereka. Mengapa mereka disebut sebagai orang-orang yang sesat? Karena mereka beribadah, namun tanpa dasar ilmu. Begitu juga jika ada seorang muslim yang beribadah tanpa mengetahui ilmunya, maka orang itu serupa sifatnya dengan kaum Nasrani.

Wallahu a’lam





Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar