Masih Ada Orang yang Lebih Berat Cobaannya Daripada Anda

3 Januari 2010
Sahabat…
            Berikut ini adalah sebuah kisah tentang cobaan yang dihadapi oleh manusia. Kisah ini saya ambil dari buku “Kisah-kisah Islami yang Menggetarkan Hati”, karya Hasan Zakaria Fulaifal:
            Urwah bin Zubair beserta puteranya yang bernama Muhammad ingin menghadap khalifah al-Walid bin Abdul Malik (penguasa dinasti Umayyah). Ketika itu putera Urwah tadi yang bernama Muhammad menerobos masuk ke taman satwa di dalam istana. Setelah di dalam, ia ditabrak salah satu hewan hingga akhirnya meninggal dunia. Selain itu, kaki Urwah juga ternyata tersengat serangga hingga membusuk dan harus dipotong dengan gergaji. Padahal dirinya telah berusia lanjut.
            Pada tahun yang sama, datang seorang lelaki buta menghadap khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Kemudian khalifah bertanya kepadanya tentang matanya yang buta itu. Lantas, dia pun menceritakan musibah yang menimpanya.

            Dulu ia seorang lelaki yang memiliki harta berlimpah. Lalu pada suatu malam dirinya bermalam di sebuah lembah. Tetapi tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan datangnya air bah yang menghanyutkan seluruh harta dan anak-anaknya, sehingga yang tersisa hanya seorang anaknya yang masih bayi dan seekor unta. Setelah itu, untanya lari sehingga ia mengejarnya dan meninggalkan anak itu sendirian untuk sementara waktu.
            Belum lama melangkah, seketika dirinya mendengar suara jerit tangis anak bayinya. Ketika ia kembali, ia melihat kepala bayinya telah berada di dalam mulut serigala, dan akhirnya anak itu dimakan oleh serigala. Kemudian ia kembali berusaha mengejar untanya yang lari, namun unta itu menendang wajahnya dan menerjangnya sehingga dirinya buta. Akhirnya dirinya kehilangan seluruh harta, anak, dan pengelihatannya.
            Setelah mendengar kisah tadi, khalifah al-Walid pun berkata,
            “pergilah dengan membawa kisahmu itu kepada Urwah (Urwah bin Zubair) agar ia menyadari bahwa masih ada cobaan yang lebih berat yang dialami oleh orang lain.”
            Setelah membaca kisah tadi, apa yang kita bisa ambil sebagai pelajaran? Pelajaran dan hikmah dari kisah tersebut adalah kita sudah semestinya bersyukur atas keadaan yang telah Allah berikan kepada kita. Masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada kita. Masih banyak orang lain yang lebih berat cobaannya dibandingkan kita.
            Allah itu telah memberikan keadaan yang terbaik bagi kita, sesuai dengan kemampuan kita. Jika kita ditimpakan sebuah ujian, maka yakinlah hal itu bisa dilakukan dengan mudah, kenapa? Karena Allah selalu membebani seseorang sesuai dengan kemampuannya,
            “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q.S. Al-Baqarah: 286)
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya” (Q.S. Al-Mu’minuun: 63)
Seberat beratnya ujian yang Allah berikan kepada kita, pasti kita bisa melaluinya, jika kita terus yakin dan berhusnuzan kepada Allah. Yakinlah bahwa setiap ada masalah, setiap ada kesulitan, pasti ada jalan keluarnya. Tetapi jika anda masih merasa sulit untuk menemukan jalan keluar dari masalah anda, maka ubahlah pola pikir anda. Ubahlah cara berpikir anda. Mulailah untuk melihat segala hal yang terjadi di muka bumi ini tidak dari satu sisi saja, melainkan dari seluruh sisi dan aspek. Jika begitu, maka insya Allah anda akan mudah bersyukur dan anda akan menyadari bahwa masih banyak orang yang berada di sekeliling anda itu memiliki nasib yang tidak lebih baik daripada anda. Jika begitu, maka anda akan memiliki lebih banyak pengalaman hidup dan anda akan mudah menemui jalan keluar, karena jalan pikiran anda lebih luas dan terbuka dibandingkan sebelumnya. Anda akan langsung menyadari janji Allah,
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S. al-Insyirah: 5-6)
Lihatlah! Bahkan di dalam dua ayat tersebut terjadi pengulangan kembali. Menurut para ulama, pengulangan yang terjadi di dalam al-Qur’an adalah suatu bentuk penegasan. Dan hal ini menjadi jaminan dan bukti bahwa cobaan dan masalah anda dapat dilalui dengan mudah. Tetapi, tahukah anda bagaimana cara melalui ujian itu dengan mudah? Sesuai dengan petunjuk Allah di dalam al-Qur’anul kariim. Bahwa, orang yang mampu melalui ujian dari Allah ini hanya orang-orang yang beriman. Siapa mereka?
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-9)
Maka, mulailah anda menjadi seorang yang terbuka pikirannya, dan mulailah anda belajar akan pengalaman hidup tentang kesabaran, masalah dan solusi hidup, serta yang paling penting, KEIMANAN. Mulailah anda sedikit-sedikit menggali hati anda dan menanam bibit-bibit keimanan di dalamnya,sehingga insya Allah anda akan dapat menikmati buahnya…di surga

Wallahu a’lam




Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar