Jati Diri Kaum Muslimin

31 Maret 2010

Sejenak, mari kita tengok masa lalu umat Islam, yaitu ketika di tahun 656 Hijriah atau tahun 1258 Masehi. Ketika Abbasiyah jatuh ke tangan Mongolia di bawah pimpinan Hulaghu Khan, kaum muslimin saat itu dalam keadaan yang sangat kacau. Banyak infrastruktur milik kaum muslimin hancur berantakan. Mulai dari masjid-masjid, gedung pemerintahan, sekolah-sekolah, dan gedung-gedung perpustakaan diporak-porandakan oleh Hulaghu dan bala tentaranya. Seluruh keluarga khalifah terbunuh, tak terkecuali khalifah terakhir Bani Abbasiyah, al-Mu’tashim. Saat itu, kaum muslimin benar-benar dalam keadaan yang sangat kelam. Kaum muslimin tidak memiliki pemimpin, tidak memiliki panutan, tidak memiliki kekuatan. Saat-saat itu merupakan saat-saat kelumpuhan total bagi kaum muslimin dan merupakan kisah pilu tentang luluh lantaknya peradaban kaum muslimin yang telah dibangun dari keringat, darah, harta dan jiwa seluruh umat Islam.
Kaum muslimin di zaman itu bertekuk lutut kepada kaum kuffar. Dan mereka saat itu harus mematuhi hukum yang ditetapkan oleh Mongol yang disebut sebagai Kitab al-Yasiq. Kitab itu merupakan kitab perundang-undangan yang merupakan perpaduan antara kitab suci Islam, Yahudi, Kristen, dan pendapat-pendapat atau putusan yang dibuat oleh Jenghis Khan, pemimpin besar Mongol.  
Namun, apa yang terjadi? Satu hal yang paling membuat kita terkagum adalah di antara kaum muslimin, tidak seorang pun dari mereka yang berganti identitas dan jati diri. Mereka tetap berkepribadian muslim sejati. Tidak ada yang berubah, mulai dari bahasa, budaya, tata kelakuan, dan gaya hidup. Mereka masih memegang teguh prinsip-prinsip seorang muslim.
Sementara itu, bagaimana keadaan al-Yasiq? Ternyata hukum yang telah sudsah payah dibuat itu ditelan debu peradaban dan waktu. Al-Yasiq hanya tinggal sejarah. Tidak ada satu orang pun dari kaum muslimin yang mau mempelajarinya, apalagi menggunakannya. Kaum muslimin tetap seperti yang dunia kenal saat itu, tetap berpegang teguh kepada Islam, al-Qur’an, dan Sunnah. Bahkan, orang Mongol sendirilah yang akhirnya memeluk Islam, karena mereka sadar, satu-satunya kebenaran hanya ada pada Islam. Sejarah telah membuktikannya, di mana seorang keturunan Jenghis Khan akhirnya menjadi penguasa muslim yang termasyhur di zamannya, dialah Timur Lenk atau Tamelane (sosok ini merupakan sosok kontroversi dalam sejarah Islam. Ada yang berpendapat bahwa dirinya pemeluk Syi’ah dan tarekat-tarekat yang sesat lainnya. Ada lagi yang berpendapat bahwa dirinya merupakan pahlawan Islam yang taat. Kita berlepas dari segala kontroversinya. Wallahu a’lam)
Namun saat ini ternyata kita melihat kebalikannya. Kondisi dunia saat ini memang mirip dengan kondisi kaum muslimin 8 abad yang lalu. Di mana kaum muslimin tidak memiliki pemimpin (khalifah), kaum muslimin berada di tengah-tengah gempuran kaum kuffar, mulai dari Irak, Palestina, Afghanistan, Asia Minor, Chechnya, dan Filipina. Kaum muslimin dijejali dengan hukum dan undang-undang buatan manusia yang merupakan pencampuran dari berbagai pemikiran, mulai dari pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Kaum muslimin tidak lagi menggunakan Qur’an sebagai dasar negara, tetapi diganti dengan undang-undang yang setipe dengan al-Yasiq pada masa lalu.
Namun yang berbeda adalah, sekarang kaum muslimin tidak lagi mempertahankan jati diri mereka sendiri sebagai seorang muslim. Dengan bangganya mereka meniru-niru perbuatan, budaya, pemikiran, dan gaya hidup kaum kuffar. Jika 8 abad lalu kaum muslimin tetap sebagai muslim sejati, sekarang sudah banyak kaum muslimin yang berperan sebagai ‘muslim pengekor’. Padahal, secara tidak langsung hal itu merupakan sebuah bentuk penghinaan diri sendiri sebagai muslim di hadapan orang-orang kafir.
Jika 8 abad yang lalu justru orang Mongol yang meninggalkan al-Yasiq dan mempelajari al-Qur’an, sekarang sebaliknya. Kaum muslimin sendiri sering meninggalkan al-Qur’an dan dengan bangganya mereka mempelajari ilmu perundang-undangan sesat dan membangkang pada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.
Dan sekarang, sudah saatnya kita sadar bahwa selama ini kita telah mengekor pada orang kafir. Sudah saatnya sekarang kita bangkit dan menggantikan tatanan yang telah rusak ini dengan tatanan yang lebih baik lagi dari Allah di langit ke tujuh.
Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar