Islam itu Universal

10 Maret 2010
Wajah Islam dan kaum muslimin saat ini memang bisa disebut sebagai ‘dipandang sebelah mata’. Nasib Islam dan kaum muslimin saat ini sedang terombang-ambing dalam ketidakpastian. Bagaimana tidak? Saat ini Islam dan kaum muslimin menjadi bahan ejekan dan menjadi bulan-bulanan bagi kaum kuffar, fasiq, dan munafiq di dunia ini.

            Sahabat…
            Masih ingatkah kita saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam untuk pertama kalinya menyebarkan Islam? Masih ingatkah kita tentang generasi pertama dari kaum muslimin dengan susah payah memperjuangkan Islam di kaumnya?
            Sahabat…
            Saat itu merupakan saat-saat yang tidak ringan. Karena pada zaman itu Islam merupakan suatu keyakinan yang saat itu disebut aneh, asing, dll. Dan sadarkah anda? Bahwa ternyata di zaman sekarang pula rupanya terjadi seperti itu. Ketika Islam dihujat, ketika kaum muslimin teraniaya, ketika Islam disebut sebagai agama kekerasan, ketika Islam disudutkan, dan ketika jasa-jasa Islam pada masa lalu terlupakan.
            Ya, Islam saat ini disebut sebagai suatu model pemikiran primitif yang merupakan hasil dari kebudayaan Arab masa lalu oleh para orientalis. Padahal, hal itu sama sekali tidak benar. Memang menjadi suatu fakta ketika dibilang bahwa Islam didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam di tanah Arab. Namun hal ini bukan menjadi kriteria untuk menjadikan ajaran Islam sebagai ajaran spesial bagi orang Arab.
            Islam adalah ajaran yang universal. Islam adalah ajaran yang menyeluruh kepada seluruh umat manusia dari berbagai suku dan bangsa. Berbeda dengan ajaran-ajaran tauhid sebelumnya yang pernah Allah turunkan. Contohnya Nabi Isa dan Musa bagi Bani Israil, Nabi Luth dengan kaumnya, dll. Islam diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam kepada seluruh umat manusia. Sebagaimana ayat Allah yang berbunyi,
            “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Q.S. Saba’: 28)
            Contohnya adalah di zaman nabi, Islam dianut oleh berbagai kabilah di Arab yang saat itu kental akan fanatisme suku. Bahkan Islam dianut oleh Bilal bin Rabah yang merupakan orang Negro (Habasyah), atau Salman al-Farisi dari Persia/Romawi, atau Abdullah bin Salam yang masih tergolong ke dalam bangsa Yahudi.
            Intinya, Islam mengenal perbedaan tetapi tidak menjadikan perbedaan itu sebagai penghalang bagi kemajuan Islam di dunia. Dan Islam sebagai ajaran yang sempurna itu berlaku secara universal, tanpa pandang bulu, dan tidak dapat diganggu-gugat!
            Wallahu a’lam.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar