Kisah Teladan Anas bin Malik

8 Desember 2009

     Anas bin Malik masih dalm usia belia saat ibunya yang bernama Al-Ghumaisha mengajarkan kepadanya syahadatain. Ibunya mengisi hati Anas untuk mencintai sang Nabi SAW. Anas pun langsung tertarik untuk mendengarkan. Anas yang masih usia belia ini sangat berharap untuk bisa pergi menjumpai Nabinya di Yatsrib agar ia puas melihatnya dan bergembira karenanya. Tidak lama setelah itu, terdengar kabar bahwa Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar As Shiddiq sedang dalam perjalanan menuju Yastrib, maka setiap rumah menjadi ceria karenanya. Semua mata dan hati manusia menjadi tertarik untuk menanti perjalanan yang disusuri oleh Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dan sahabatnya menuju Yastrib.
      Di suatu pagi yang cerah dan segar beberapa orang pria di kota Yastrib berteriak seraya mengatakan bahwa Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dan seorang sahabatnya hampir tiba di Madinah. Serentak beberapa pria dewasa bergerak menuju jalan yang disusuri Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Mereka semua bergegas berbondong-bondong berlari menghampiri Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, dan diantara mereka juga banyak anak-anak yang dengan wajah berseri dan hati bahagia pergi menyongsong kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Di barisan anak usia belia tsb terdapat juga Anas bin Malik Al-Anshary.

    Setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan sahabatnya tiba, mereka disambut sangat meriah oleh penduduk Madinah yang terdiri dari para pria dewasa dan anak-anak, sedangkan para ibu dan gadis berada di atap rumah memandang dari kejauhan datangnya sang Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Mereka bertanya-tanya, ” Yang mana rasul... Yang mana rasul ?” Hari itu menjadi sejarah bagi Anas dan beliau masih terus mengenangnya hingga usianya yang lebih dari 100 tahun.

     Baru saja Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam hendak tinggal dan menetap di Madinah, datanglah Al-Ghumaisha binti milham yaitu ibunya Anas menghadap Beliau Shallallaahu 'alaihi wasallam . Al Ghumaisha membawa anaknya yang masih kecil untuk menghadap Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Saat itu Anas berambut poni dengan uraian rambut kecil yang bergerak ke kanan dan ke kiri menutupi keningnya. Al Ghumaisha memberi salam kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam seraya berkata. ” Ya Rasulullah, tidak ada seorang pria dan wanita pun dari suku Anshar yang menghadapmu kecuali mereka memberikan hadiah kepadamu. Aku tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan hadiah selain anak ini saja.... Ambillah ia dan jadikanlah ia pembantu sesuka hatimu!: Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam gembira mendengarnya dan Beliapun menerima Anas dengan wajah yang sumringah. Beliau membelai kepala Anas dengan tangan Beliau yang mulia, Beliau juga membelai rambut poni Anas dengan jari Beliau yang lembut. Akhirnya Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam menerima Anas menjadi anggota keluarganya.

     Anas atau Unais saat itu berusia 10 tahun saat ia mulai bahagia dapat membantu Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Ia terus tinggal hingga Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wafat. Anas mendampingi Nabi selama 10 tahun , dimana dia mendapat petunjuk langsung dari Nabi untuk mensucikan dirinya. Ia juga menerima seluruh hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sehingga memenuhi ruang dadanya. Anas juga mengetahui kondisi, cerita, rahasia dan kebiasaan terpuji Beliau yang jarang diketahui orang lain.

     Anas dalam pergaulannya dengan Nabi Shallalaahu 'alaihi wasallam mendapatkan apa yang tidak didapatkan oleh seorang anak dari ayahnya. Ia juga menemukan dari keagungan sifat Rasul yang membuat seluruh dunia merasa iri kepadanya.
Anas bercerita tentang beberapa kisah menarik dari pergaulannya dengan Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam yang ia dapatkan dalam asuhan Beliau. Ia amat mengetahui hal ini ... Anas bin Malik berkata: ”Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, Beliau adalah manusia yang paling lapang dada dan penyayang. Beliau pernah menyuruhku untuk membeli sesuatu dan akupun keluar untuk membelinya. Di tengah jalan Aku berniat untuk bermain bersama anak-anak di pasar dan aku tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasul kepadaku. Saat aku sudah bertemu dengan anak-anak tadi, aku merasakan ada seorang pria yang berdiri di belakangku, dan ia menarik bajuku, aku menoleh ke belakang dan ternyata ia adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Beliau tersenyum seraya berujar: ” Wahai Unais, apakah kau sudah melakukan apayang aku suruh ?” Aku menjadi grogi dan berkata : ” Baik...aku akan melakukannya sekarang , Ya Rasulullah...” Demi Allah, aku sudah membantu Beliau 10 tahun lamanya, namun atas apa yang aku lakukan Beliau tidak pernah berkata : ” Mengapa kamu lakukan ini ?” dan Beliau tidak pernah berkata atas apa yang tidak pernah aku kerjakan:”mengapa  kau tidak mengerjakannya ?”

     Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam jika memanggil Anas maka Beliau memanggilnya dengan panggilan manja dan kasih sayang, terkadang Beliau memanggilnya dengan Unais, terkadang dengan panggilan ’anakku’, seringkali Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam memberikan nasihat yang memenuhi relung hati dan sanubari Anas. Salah satunya adalah nasehat Beliau kepada Anas: ” Anakku, bila kau mampu berada pada pagi dan sore hari tanpa ada dengki di hatimu pada siapapun maka lakukanlah ! Anakku, yang demikian adalah termasuk sunnahku, barang siapa yang menghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku...barang siapa yang mencintaiku maka ia akan berada di surga bersamaku....Anakku, jika kau masuk ke dalam rumah maka ucapkanlah salam karena itu akan membawa keberkahan bagimu dan bagi penghuni rumahmu.”

      Setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wafat, Anas bin Malik masih hidup lebih dari 80 tahun lamanya. Sepanjang itu dia mengisi ruang hatinya denngan ilmu dari Rasulullah dan ia mencoba mengasah otaknya dengan fiqh yang diajarkan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Dalam masa sepanjang itu, Anas telah banyak menghidupkan hati para sahabat dan tabiin dengan petunjuk dan ajaran Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Ia juga sering memberitahukan kepada orang lain tentang sabda dan kebiasaan Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam. Dalam usia panjang yang dimilikinya ini, Anas menjadi referensi bagi kaum muslimin saat itu. Mereka akan mengadukan peermasalahan kepadanya setiap kali mereka merasa kesulitan. Setiap kali mereka merasa bingung untuk memutuskan suatu persoalan hukum mereka datang kepada Anas dan mereka percaya atas apa yang ia putuskan. Salah satunya adalah sebagian orang yang memperdebatkan masalah agama, yaitu tentang kebenaran adanya telaga Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam di hari kiamat. Mereka bertanya kepada Anas tentang hal tersebut, Anas berujur : ” Aku tidak pernah menduga bahwa aku akan hidup untuk melihat orang-orang sepertimu yang memperdebatkan masalah telaga Rasul. Telah banyak wanita-wanita tua sebelumku, dimana setiap kali ia melakukan shalat pasti ia berdoa kepada Allah agar diberikan minum dari telaga Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam.”

     Anas masih terus hidup dengan kenangan indah bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sepanjang umurnya. Ia amat bahagia di hari saat ia berjumpa dengan Beliau, begitu terguncang saat berpisah. Ia sering kali mengulangi pembicaraan tentang hal tersebut, Anas begitu keras untuk mencontoh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dalam perbuatan dan ucapannya. Ia menyukai apa yang disukai oleh Nabi dan membenci apa yang Beliau benci. Hal yang paling sering ia ingat saat bersama Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah dua hari : pertama yaitu hari dimana pada pertama kalinya ia berjumpa dengan Nabi SAW dan kedua adalah hari dimana Beliau shallallaahu 'alaihi wasallam wafat.
Jika ia mengenang hari pertama ia berjumpa Rasul, ia menjadi gembira dan semangat seolah ia menghirup aroma semerbak. Namun bila teringat hari yang kedua maka ia menjadi sedih dan menangis. Malah ia mampu membuat manusia yang berada di sekelilingnya saat itu menjadi menangis juga. Sering kali ia berkata : ” Aku melihat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam saat beliau datang kepada kami, dan akupun melihatnya saat Beliau wafat. Sampai kini aku belum menemukan hari lain seperti kedua hari tersebut. Pada hari Beliau datang ke Madinah, Beliau mampu menerangi semuanya....dan pada hari ia hampir melangkah menuju sisi Tuhannya, maka seolah semuanya menjadi gelap. Kali terakhir aku melihat Beliau adalah hari senin di saat tirai kamar Beliau di buka, aku melihat wajah Beliau seolah lembaran kertas. Saat itu semua orang berdiri di belakang Abu Bakar seraya memandang kearah Beliau. Hampir saja mereka tak kuasa menahan diri, lalu Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka untuk tenang. Lalu wafatlah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam di penghujung hari itu. Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan hati kami melebihi wajah Beliau saat kami mengubur jasad Beliau shallallaahu 'alaihi wasallam dengan tanah.”

    Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sering kali mendoakan Anas bin Malik , salah satu doanya adalah; ” Ya Allah, berikanlah ia harta dan keturunan dan berkahilah hidupnya.”
Allah Subhanahu wa ta'ala  mengabulkan doa Nabi-Nya, dan Anas menjadi orang dari suku Anshar yang paling banyak hartanya. Ia juga memiliki keturunan yang amat banyak yang jumlahnya melebihi 100 orang. Allah SWT memberikan keberkahan pada umurnya sehingga ia hidup 1 abad lamanya ditambah 3 tahun lagi. Anas ra senantiasa berharap syafaat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam untuk dirinya pada hari kiamat.
Sering kali ia berucap : ” Aku berharap dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada hari kiamat sehingga aku dapat berkata kepada Beliau: ” Ya Rasulullah, inilah pembantu kecilmu, Unais.”

      Ketika Anas mulai jatuh sakit menjelang kematiannya, ia berujar kepada keluarganya: ” Talqinkan aku dengan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAHU MUHAMMADUN RASULULLAH.” Ia terus mengucapkan kalimat tadi hingga ia mati. Ia berwasiat kepada keluarganya tentang sebuah tongkat kecil milik Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam agar tongkat tersebut dikuburkan bersamanya. Maka tongkat itupun diletakkan di sisi tubuhnya.

     Selamat kepada Anas bin Malik atas anugerah kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya. Ia pernah hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam selama 10 tahun lamanya. Ia juga termasuk perawi hadits Rasul terbanyak pada urutan ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Semoga Allah Subhanahu wata'ala membalas kebaikan dirinya dan ibunya atas jasa baik mereka terhadap islam dan kaum muslimin.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar