Bercermin pada Generasi Salaf

11 Mei 2011 0 komentar

Sekali-kali tidak akan pernah baik (generasi) akhir ummat ini, melainkan dengan apa yang telah menjadikan generasi awalnya baik
-Imam Malik-
            Di zaman dahulu, kita sering mendengar kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang hidup di zaman sebelum kita, para pendahulu kita, adalah orang-orang yang telah menjadi legenda. Nama mereka yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang telah menorehkan tinta emas di atas lembaran ummat ini.
            Kita mendengar bagaimana besarnya kasih sayang Abu Bakar ash-Shiddiq, keteguhan Umar bin Khattab, kelembutan Utsman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib –rahimahumullah ajma’in- menjadi sebuah ‘dongeng pengantar tidur’ bagi kita yang hidup di zaman ini. Membayangkan bagaimana pengorbanan dan perjuangan mereka, bagaimana cucuran keringat dan darah mereka, menjadi sebuah tonggak lahirnya sebuah peradaban besar, yang kemudian menjadi sebuah pusaran energi terbesar dalam sejarah manusia. Membayangkan hal-hal besar seperti itu, tentang bagaimana ketulusan Abu Bakar yang menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah, tentang Thalhah bin Ubaidillah yang rela menjadi tameng hidup demi Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang keluarga Yasir yang menjadi simbol pengorbanan, bagi kita yang hidup di zaman sekarang tampaknya hal itu hanyalah sebuah kisah karangan belaka, sebuah kisah yang dibuat-buat tentang adanya manusia super dari langit. Padahal, mereka yang kita anggap ‘Superman’ itu adalah manusia biasa, yang mampu menembus batas egoisme dalam demi mereka menuju jannah. Mereka yang telah menjadi pendahulu kita adalah sebaik-baiknya generasi, dan bukan sefiksi-fiksinya generasi.

Ebook #2 Cafe Sejenak: Untukmu yang Mencari Cinta

7 April 2011 0 komentar

            Alhamdulillah, kali ini Cafe Sejenak kembali menghadirkan sebuah karya singkat yang merupakan kumpulan posting yang bertema tentang Cinta. Karya yang sangat singkat ini diharapkan menjadi penumbuh jiwa seorang muslim yang kuat dan bukan yang lemah hanya karena cinta.
            Ebook singkat yang kebanyakan merujuk kepada karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah ini diharapkan menjadi sebuah penyegar jiwa dan membuat kita melangkah kea rah yang lebih baik.
            Dan terakhir, penulis menyatakan terimakasih atas masukan dan kritikan atas ebook ini.
            Silakan download di sini
            Atau bisa langsung baca di sini

Ketika Cinta Bertasyabbuh

20 Maret 2011 0 komentar

Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat
-Ibnu Taimiyah-
Patut dipertanyakan, bagaimana bisa perspektif remaja zaman sekarang mengenai cinta begitu seragam. Cinta selalu  digambarkan sebagai satu hal yang indah, sebagai suatu hal yang paling menyejukkan. Yang manisnya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada susu. Padahal cinta itu begitu luas, perlu konsistensi dalam hal konsekuensi cinta. Namun kebanyakan memahami sebagai sebuah permainan belaka.
            Pandangan mengenai cinta saat ini begitu ringan di mata remaja. Dan lagi, dalam hal cinta ternyata kebanyakan orang berkiblat pada satu hal: Barat.
            Tradisi cinta gaya Eropa dan Amerika kali ini semakin dipuja. Budaya cinta ala hedonis dan para pecinta dunia kini makin menggila. Tidak lagi merambah pada orang dewasa dan remaja, bahkan hingga anak-anak yang umurnya masih hijau, yang dengan mudahnya bertuturkata mengenai cinta, yang dengan ringannya memuja cinta, yang dengan tidak ada rasa berdosa mereka memamerkan kecintaan mereka pada lawan jenis. Apakah ini gambaran masa muda generasi sekarang? Bila sekarang saja sudah begini, maka bagaimana dengan masa mendatang?