Antigalau

16 Mei 2013 0 komentar

Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci.”
(HR. Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Sebagai manusia, kita sudah diciptakan dengan sempurna oleh Rabb kita dengan yang namanya fitrah. Entah itu fitrah untuk makan, tidur, lapar, dan yang lainnya. Fitrah ini sudah ditentukan kadarnya, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, karena jika tidak maka pasti akan ada yang namanya ketidakseimbangan, dan tentu tidak akan menjadi sempurna. Termasuk juga fitrah untuk mencintai dan dicintai.


Rasa cinta yang ditanamkan Allah di dalam hati-hati manusia merupakan karunia besar bagi kita. Bagaimana tidak, jika bukan karena fitrah cinta ini, bagaimana jiwa kita bisa terpelihara? Bagaimana hati akan hidup bila cinta tidak mengalir dalam tubuh kita? Bagaimana hidup kita akan lurus jika tanpa cinta? Bagaimana pun, cinta adalah perasaan suci, yang Allah tanam agar kita menjadi sempurna.


Namun seringkali perasaan suci ini malah menjadi penyakit yang menjadi, dan ini banyak melanda generasi remaja kita. Darah muda yang bergejolak itu justru terkadang membuat cinta yang sejatinya meluruskan akal menjadi fitnah bergolak. Kadar cinta yang telah diatur malah rusak, kacau diamuk nafsu berombak. Memang tak bisa dipungkiri, ketika menginjak usia remaja maka saat itulah cinta menyapa hangat. Perasaan cinta yang indah untuk pertama kalinya baru terasa besar di dalam hati kecil itu. Rasanya? Deg-degan, tak karuan, hingga cenat-cenut. Nah, ketika kita tidak tahu bagaimana menyikapinya, dunia mengenal kosakata baru untuk kasus ini: Galau.