Hukum Berdoa Ketika Sujud dengan Ayat-ayat Al-Qur'an

16 September 2011 0 komentar

Pertanyaan:
Kami sudah mengetahui, bahwa membaca Al-Qur‘ân ketika sujud tidak dibolehkan, akan tetapi ada beberapa ayat dalam Al-Qur‘ân yang berisi doa.
Bagaimanakah hukum membaca doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur‘ân ketika sujud?
Jawaban :
Itu tidak mengapa, apabila dia membawakannya sebagai doa bukan sebagai bacaan Al-Qur‘ân.
Al-Lajnatud-Dâ‘imah lil Buhûts al-Ilmiyyah wal-Iftâ‘
Ketua: Syaikh bin Bâz.
Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur-Razaq ‘Afifi.
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghadyan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ûd.
Rujukan:
Fatâwâ al-Lajnah, 6/441, dimuat juga dalam Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII. Dikutip dari majalah-assunnah.com
Diedit oleh Jundullah Abdurrahman Askarillah, dimuat ulang di CafeSejenak.
           

Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Tertulis, Kenapa Mereka Disiksa?

15 September 2011 0 komentar

Pertanyaan:
"Apakah perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di Lauh Mahfudz ? Apabila benar, maka bagaimana Allah menyiksa mereka ..?"
Jawaban:
Benar, perbuatan orang-orang kafir telah tertulis sejak zaman azali, bahkan perbuatan semua manusia telah tertulis sejak dia berada di perut ibunya, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu ia berkata ; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (yang benar lagi dibenarkan) bercerita kepada kami.
"Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi 'alaqah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari pula. Lalu diutuslah kepadanya seorang malaikat, dan diperintahkan dengan empat kalimat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka atau bahagia."

Sudah Mengaku Bersyukur?

3 September 2011 0 komentar

...Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji
(QS. Luqman: 12)
            Pria itu berjalan petantang-petenteng. Gaya parlente, baju mewah, langkah congkak, harta berlimpah, budak dan dayang-dayang dengan setia mendampingi di belakangnya. Hampir semua orang takjub padanya sembari berkata, “Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”
            Ya, Qarun nama pria penikmat dunia itu. Perlambang kesohoran dan kemegahan di zamannya. Bayangkan, kunci-kunci hartanya tidak dibawa dengan dimasukkan kantong seperti sekarang, tapi kunci itu bahkan sampai dipikul oleh orang-orang yang kuat. Kuncinya saja sudah sebesar itu, bagaimana dengan gudang hartanya?
            Pesaing Fir’aun dan Haman dalam hal keduniaan ini dengan sombongnya memamerkan apa yang ia ‘miliki’ kepada kaumnya. Melihat adegan itu, berkatalah kaumnya, “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”