Tampilkan postingan dengan label ingatkah anda?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ingatkah anda?. Tampilkan semua postingan

Karena Kita Butuh Hidayah

26 September 2012 0 komentar
Kebutuhan seorang hamba pada hidayah melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu, dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas
-Imam Ahmad bin Hanbal, Miftah Daaris Sa’adah-
Sebagai seorang muslim, kita sudah seharusnya tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Ya, jika hidup tanpa tujuan maka apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita usahakan? Sesungguhnya, tujuan hidup kita di dunia ini hanya satu: Beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya,

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Setelah mengetahui tujuan kita tersebut, lantas apa yang kita butuhkan? Apa yang kita perlukan untuk mencapai tujuan tersebut? Tentu saja yang kita butuhkan adalah petunjuk. Ya, bayangkan ketika seseorang berjalan menuju suatu tempat tapi tidak memiliki petunjuk arah, maka sungguh ia akan tersesat. Begitu pun hidup kita. Sebagai seorang muslim, maka tujuan kita adalah beribadah kepada Allah, dan dalam menuju tujuan tersebut, kita butuh petunjuk. Atau dalam bahasa kita disebut sebagai hidayah.

Karena Semua Ada Hikmahnya

12 Juli 2012 0 komentar
Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barangsiapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya
-HR. Tirmidzi-
Kini, mari kita sejenak menengok sejarah kita di belakang. Kita mundur kembali ke masa Daulah Bani Umayyah. Saat itu hiduplah seorang lelaki yang tinggal di Bashrah. Ia merupakan salah satu komandan perang bawahan Ubaidillah bin Ziyad (gubernur Kufah dan Bashrah). Suatu hari lelaki itu jatuh dari atap rumahnya hingga menyebabkan kedua kakinya patah. Tak ayal, hal itu merupakan musibah yang berat bagi sang komandan. Bayangkan, sebelumnya ia adalah seorang komandan perang yang gagah perkasa, namun dalam sekejap berubah menjadi seorang yang bahkan berdiri saja tidak bisa.
Maka Abu Qilabah datang untuk menjenguknya, ia berkata pada sang komandan, “Aku berharap semoga engkau mendapatkan kebaikan.” Ia menjawab, “Wahai Abu Qilabah, kebaikan apa yang didapatkan dari dua kakiku yang patah semua?” Abu Qilabah menjawab, “Apa yang tertutupi dari dosa-dosamu jumlahnya akan lebih banyak.”

Terimalah Kebenaran dari Manapun Asalnya

7 Januari 2012 2 komentar
Ambillah hikmah dari orang yang kamu dengar. Sungguh, ada orang yang berkata dengan hikmah padahal dia bukan ahli hikmah, sehingga hikmah yang diucapkannya itu laksana anak panah yang dilontarkan oleh seseorang yang bukan pemanah
-Abdullah bin Abbas, Shifatush Shafwah I/757-
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mengutil makanan zakat tersebut. Aku pun menangkap seraya mengancamnya, “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” Orang yang mencuri itu berkata, “Aku butuh makanan sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yg sangat.”
Karena alasan tersebut aku melepaskannya. Di pagi hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat tawananmu semalam?”, “Wahai Rasulullah ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepada hingga aku melepaskannya” jawabku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Dia akan kembali.”

Memanfaatkan Waktu Ala Generasi Salaf

9 Oktober 2011 0 komentar

"Waktu akan semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah untuk kita lalaikan"
-Yahya bin Muhammad bin Hubairah, dicantumkan dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah I/281-
    Ibnul Jauzi rahimahullah, salah satu ulama kaum muslimin mengisahkan,
      “Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya melakukan kunjungan sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebut itu sebagai bentuk ‘pelayanan’. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan yang tidak berguna. Kadang diselingi dengan menggunjing orang lain.
        Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan di masyarakat kita sekarang. Terkadang acara itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diri pun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari raya ‘Id. Kita bisa melihat orang-orang saling mengunjungi ke rumah teman atau kerabatnya. Tidak cukup hanya dengan ucapan selamat dan sejenisnya, tapi mereka menyelinginya dengan membuang-buang waktu seperti yang saya paparkan.

Untukmu yang Terasingkan

5 Juli 2011 3 komentar

Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api
(HR Tirmidzi no. 2140)
Hidup di zaman sekarang memang rasanya sulit. Berjuang di tengah kondisi yang semakin parah, ditambah hegemoni hedonis di seluruh dunia. Menebar fitnah menggoyahkan iman. Membuat satu pertaruhan bagi diri seorang muslim: tetap teguh dalam keIslaman mereka atau tidak.
            Terjebak di antara arus zaman, memang menjadi sebuah pilihan sulit. Ketika dunia berjalan semakin berlawanan arah dengan agama, maka dituntut oleh tiap diri masing-masing untuk ikut memilih, terseret arus atau melawan arus.
           Sebenarnya problematika ini bukanlah terjadi di zaman ini saja, tidak hanya ada pada kondisi sekarang. Ya,semua kisah ini. Kisah antara keterasingan yang Haq dan yang bathil, pertentangan yang benar dan yang salah telah terjadi semenjak yang haq itu ada. Semenjak Adam diciptakan dan Iblis yang inkar kepada Allah masih berada di langit sana. Ketika itu Iblis berkata,

Intelektualitas

14 Mei 2011 0 komentar

Di dalam hati setiap manusia, tentu memiliki perasaan yang menunjukkan bahwa ia adalah insan yang sempurna. Berbagai perasaan dalam dada itu merupakan karunia Allah yang telah menjadikan makhluk-Nya yang paling sempurna. Kita –qaddarallah- telah membangun berbagai peradaban yang jatuh bangun dalam sejarah manusia. Namun, bila dilihat semua sama. Setiap peradaban yang ada, setiap kekuasaan yang telah terbangun, memiliki satu poin penting: intelektualitas.
            Bagaimana kita berpikir, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita berkelakuan. Semua menunjukkan siapa kita di hadapan dunia dan siapa kita di hadapan Rabb alam semesta.

Bercermin pada Generasi Salaf

11 Mei 2011 0 komentar

Sekali-kali tidak akan pernah baik (generasi) akhir ummat ini, melainkan dengan apa yang telah menjadikan generasi awalnya baik
-Imam Malik-
            Di zaman dahulu, kita sering mendengar kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang hidup di zaman sebelum kita, para pendahulu kita, adalah orang-orang yang telah menjadi legenda. Nama mereka yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang telah menorehkan tinta emas di atas lembaran ummat ini.
            Kita mendengar bagaimana besarnya kasih sayang Abu Bakar ash-Shiddiq, keteguhan Umar bin Khattab, kelembutan Utsman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib –rahimahumullah ajma’in- menjadi sebuah ‘dongeng pengantar tidur’ bagi kita yang hidup di zaman ini. Membayangkan bagaimana pengorbanan dan perjuangan mereka, bagaimana cucuran keringat dan darah mereka, menjadi sebuah tonggak lahirnya sebuah peradaban besar, yang kemudian menjadi sebuah pusaran energi terbesar dalam sejarah manusia. Membayangkan hal-hal besar seperti itu, tentang bagaimana ketulusan Abu Bakar yang menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah, tentang Thalhah bin Ubaidillah yang rela menjadi tameng hidup demi Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang keluarga Yasir yang menjadi simbol pengorbanan, bagi kita yang hidup di zaman sekarang tampaknya hal itu hanyalah sebuah kisah karangan belaka, sebuah kisah yang dibuat-buat tentang adanya manusia super dari langit. Padahal, mereka yang kita anggap ‘Superman’ itu adalah manusia biasa, yang mampu menembus batas egoisme dalam demi mereka menuju jannah. Mereka yang telah menjadi pendahulu kita adalah sebaik-baiknya generasi, dan bukan sefiksi-fiksinya generasi.

Ketika Cinta Bertasyabbuh

20 Maret 2011 0 komentar

Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat
-Ibnu Taimiyah-
Patut dipertanyakan, bagaimana bisa perspektif remaja zaman sekarang mengenai cinta begitu seragam. Cinta selalu  digambarkan sebagai satu hal yang indah, sebagai suatu hal yang paling menyejukkan. Yang manisnya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada susu. Padahal cinta itu begitu luas, perlu konsistensi dalam hal konsekuensi cinta. Namun kebanyakan memahami sebagai sebuah permainan belaka.
            Pandangan mengenai cinta saat ini begitu ringan di mata remaja. Dan lagi, dalam hal cinta ternyata kebanyakan orang berkiblat pada satu hal: Barat.
            Tradisi cinta gaya Eropa dan Amerika kali ini semakin dipuja. Budaya cinta ala hedonis dan para pecinta dunia kini makin menggila. Tidak lagi merambah pada orang dewasa dan remaja, bahkan hingga anak-anak yang umurnya masih hijau, yang dengan mudahnya bertuturkata mengenai cinta, yang dengan ringannya memuja cinta, yang dengan tidak ada rasa berdosa mereka memamerkan kecintaan mereka pada lawan jenis. Apakah ini gambaran masa muda generasi sekarang? Bila sekarang saja sudah begini, maka bagaimana dengan masa mendatang?

Untukmu yang Dimabuk Asmara

12 Maret 2011 1 komentar

Gejolak cinta merupakan jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus. Disebabkan berbeda dengan jenis penyakit lain, baik dari segi bentuk, penyebabnya maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan
(Ibnul Qayyim al-Jauziyah)

Seseorang sudah tentu memiliki perasaan. Ya, perasaan yang berasal dari hati. Yang menandakan bahwa kita hidup, yang menandakan bagaimana kemuliaan kita sebagai manusia, yang menunjukkan bagaimana kita sebagai maklhuk yang sempurna. Ya, hati dan nafsu merupakan salah satu pemberian Allah yang paling besar. Bayangkan bila dunia ini berjalan namun sama sekali tidak ada perasaan dalam kehidupan. Bayangkan saja bila bumi ini berputar namun sama sekali tidak ada hati dalam setiap waktu. Maka bagaimanakah jadinya hidup ini?
            Setiap perasaan atau nafsu merupakan satu alat yang paling penting selain akal. Karena bila seluruhnya kita ukur lewat nalar belaka, maka tentu hidup ini tidak akan pernah seimbang, tidak akan pernah sempurna. Dalam setiap pengambilan keputusan, kita butuh dua komponen. Yaitu akal dan hati atau perasaan. Namun, bagaimana bila ternyata perasaan yang kita miliki telah terjangkit virus? Telah terkena wabah penyakit yang menular? Maka tentu saja hidup ini tidak lagi seimbang.
            Dan tentu saja dalam hal ini terdapat berbagai macam penyakit hati. Namun yang paling sering menjangkiti kita (terutama kawula muda) adalah mabuk asmara (al-Isyq).

Untukmu yang Patah Hati: Sebuah Risalah Tentang Cinta

7 Maret 2011 2 komentar

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu...
-Ali bin Abi Thalib-

Kita telah sering mendengar sepatah kata yang mampu menyihir hati menjadi bergetar karenanya, cinta. Sebuah kata yang berhasil menjadi tonggak kehidupan di dunia, cinta. Yang menjadi sebuah perasaan damai yang bersemayam di hati setiap insan, cinta. Satu kata yang telah mewarnai hidup setiap manusia, cinta.
            Kata yang telah membangunkan insan-insan yang tidur, yang menyadarkan orang-orang yang terlelap, dan yang membangkitkan orang-orang yang patah semangat. Itulah yang sering disebut cinta.
            Cinta yang indah, yang membuat dunia ini sempit bagai milik berdua, yang menjadikan bumi tempat berpijak bagai karpet merah dan permadani mewah, yang menjadikan langit bagai pantulan wajah yang dicinta, yang membuat lautan bagai lukisan tentang keindahan yang dicinta, yang membuat kicauan burung bagai panggilan dari sang pecinta

Cinta dan Nikmatnya Dunia

23 November 2010 0 komentar

            Sebenarnya, mengapa banyak orang merasa nikmat ketika sedang jatuh cinta? Bahkan entah sudah berapa banyak lagu dan lirik picisan yang dibuat untuk menggambarkan indahnya percintaan itu. Cinta saat ini sudah banyak dipuja, terutama oleh kawula muda.
            Namun, rupanya keindahan cinta yang mereka lihat itu hanya sedikit yang mampu menjabarkan keindahan cinta tersebut. Keindahan yang mereka gambarkan hanyalah keindahan semu yang hampir disuguhkan di tiap roman picisan. Sebenarnya, apa esensi dari keindahan cinta tersebut? Dan bagaimana mewujudkan keindahan cinta itu dalam kenyataan hidup yang kita lalui?

Kepada Para Aktivis Dakwah: Jadilah Legenda!

6 November 2010 1 komentar
Dakwah, adalah pekerjaan kita bersama. Sebuah proyek besar yang merupakan kelanjutan dari pekerjaan para legenda pendahulu kita. Sebuah proyek yang memiliki satu visi yang jelas: mengubah dunia ke arah yang lebih baik.
            Dakwah, bukan pekerjaan sembarangan. Tapi dakwah adalah pekerjaan yang luar biasa. Dakwah adalah sesuatu yang besar. Pengaruhnya tidak pernah sedikit selama lintasan zaman. Semenjak Nabi Adam menyeru kepada anak-anaknya, Nabi Nuh kepada kaumnya, Nabi Ayyub kepada isterinya, Nabi Musa kepada Fir’aun dan pengikutnya, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia.

Bergeraklah!

17 Oktober 2010 0 komentar

...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...
(QS ar-Ra’d: 13)
Di dunia ini, entah sudah berapa banyak orang yang menemui kegagalan. Kehidupan mereka berantakan dan tidak menentu. Beragam faktor pun turut dipersalahkan sebagai biang keladi dari masalah ini. Mulai dari ketiadaan lapangan kerja, kuota yang makin terbatas, persaingan yang makin kejam, dan lain-lain.
Tetapi, harus dilihat dan diperhatikan sekali lagi oleh kita. Latar belakang yang sama dari tiap individu yang menyatakan bahwa diri mereka telah gagal. Apakah mereka semua tidak berpendidikan? Tentu tidak. Justru di antara mereka ada yang mendapatkan berbagai gelar prestisius dari berbagai universitas bergengsi.

Dzikrul Maut dan Amal Terbaik

13 Oktober 2010 0 komentar
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
 (QS Al-Mulk: 1-2)
Sesungguhnya seluruh makhluk hidup itu tentu saja akan merasakan yang namanya kematian. Kematian yang datang untuk memisahkan diri kita dari kehidupan dunia. Pernahkah kita memikirkannya?
Kematian tentu saja adalah perkara ghaib yang tidak bisa ditebak kapan datangnya. Karena memang hanya Allah saja yang tahu akan hal itu. Mungkin saja, tanpa kita sadari, kita saat ini sedang berjalan menuju hal itu. Seiring berputarnya waktu, berputar pula rotasi kehidupan kita. Hingga makin lama, roda kehidupan itu terus bergulir menuju satu arah: kematian.

Siapa yang Bisa Menjamin?

12 Agustus 2010 0 komentar

Siapa yang bisa menjamin kalau kita bisa bertemu dengan Ramadhan yang akan datang?

Sekarang adalah bulan Ramadhan, satu dari dua belas bulan yang ada. Satu bulan yang benar-benar bermakna dan amat bernilai harganya. Di bulan inilah al-Qur’an dan kitab-kitab lainnya diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan bathil. Bulan di mana malam yang lebih mulia dari seribu b ulan itu ada. Ya, bulan yang sangat mulia ini hanyalah sebentar, hanya sekali dalam setahun. Hanya beberapa kali dalam rentang hidup kita yang fana di dunia ini. 
       Dan saat ini, sudah saatnya kita mengingat lagi. Mengingat apa saja yang telah kita lakukan selama di bulan Ramadhan kali ini. Kembali membuka lembar introspeksi diri kita. Cobalah, kita kembali buka catatan hidup kita beberapa tahun yang lalu, ketika kita melewati Ramadhan yang lalu dengan berbagai aktifitas. Lalu, cobalah hubungkan dengan keadaan anda di bulan Ramadhan saat ini. Adakah yang berbeda?

Nikmatnya Keimanan

1 Agustus 2010 0 komentar

Sebenarnya, nikmat apa yang paling utama? Nikmat apa yang sering kita lupakan? Nikmat apa yang jarang kita syukuri? Mungkin banyak yang akan menjawab nikmat kesehatan. Namun, ternyata ada satu nikmat yang jauh lebih penting dan lebih bermanfaat bagi kita yang justru jarang kita syukuri. Nikmat apa itu? Jawabannya adalah nikmat iman.
            Mengapa nikmat iman itu penting?
            Nikmat iman sebenarnya adalah karunia Allah yang paling mulia. Bayangkan saja, dengan keimanan yang tertancap di hati, maka kehidupan ini akan berjalan dengan lancar dan mulus. Dengan keimanan ini, kehidupan kita akan menjadi sejuk. Bayangkan bila di kehidupan ini tidak ada rasa keimanan yang tumbuh di hati manusia. Bagaimana jadinya dunia ini? Iman itu bagaikan penunjuk arah. Bila tidak ada keimanan, maka bagaimana kehidupan akan berjalan? Kehidupan akan menjadi tanpa arah bila keimanan itu tidak ada.

Sekilas Nasihat: Rasa Malu

22 Juli 2010 0 komentar

            Kalau kita melihat ke jalanan di mana banyak orang yang berlalu lalang, apa yang kita lihat? Yah, tentu saja ada banyak orang di sana. Mulai dari karyawan kantoran, pelajar, mahasiswa, sampai pengangguran. Namun, ada satu hal yang membuat saya tertegun ketika melihatnya. Apa itu? Jawabannya adalah wanita. Loh, apa itu berarti kalau mata saya jelalatan? Tentu tidak. Ada satu hal yang lebih spesifik dari itu, apa itu? Jawabannya adalah aurat.
            Ya, bukan berarti saya memperhatikan atau melihat dengan seksama aurat itu, tapi saya Cuma prihatin, mengapa masih banyak wanita yang dengan entengnya mengumbar aurat di depan massa? Mengapa masih banyak wanita yang dengan mudahnya memamerkan keindahan tubuhnya di depan umum? Tidakkah ia punya rasa malu?

Antara Maksiat, Kerusakan, dan Perbaikan

10 Juni 2010 0 komentar


Dunia ini benar-benar mengalami sebuah guncangan yang besar. Musibah dan bencana alam yang terjadi di berbagai penjuru negeri sepertinya sudah tidak lagi asing bagi kita. Di mana-mana sudah banyak terjadi gempa bumi, longsor, banjir bandang, kebakaran, dll. Dan seiring berjalannya waktu ternyata banyak orang yang pada akhirnya sadar. Bahwa sebenarnya kerusakan itu sebagian besar disebabkan oleh rusaknya lingkungan. Dengan itu pula wacana ‘go green’ semakin gencar digulirkan. Ternyata, banyak juga orang yang sadar.
            Namun yang perlu kita sadari sebagai seorang muslim, maka sudah seharusnya kita merenung. “Mengapa begitu banyak bencana dan kerusakan di muka bumi? Apakah sudah turun adzab Allah kepada manusia?”. Apa sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu? Sesungguhnya, Allah telah menjawab hal itu dalam kitabNya yang mulia, al-Qur’an:

Love: the True Story

8 Juni 2010 2 komentar

Kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang
-Kahlil Gibran-
Apa yang pertama kali anda rasakan ketika anda mendengar kata “cinta”? bagaimana perasaan anda setelah mendengar kata itu? Apakah hati anda berdesir atau mungkin hati anda mengharu biru? Mungkin banyak anggapan tentang tema kali ini. Mungkin ada yang menganggap saya sedang jatuh cinta, atau mungkin menganggap bahwa saya adalah orang yang melankolis. Ya, mungkin anggapan-anggapan aneh dan tidak berdasar itu saya hadapi dengan tegar. Namun, ada apa dengan cinta? (ini bukan meniru nama film. Tapi ini adalah satu pertanyaan yang realistis dan harus dijawab)
            Cinta adalah perasaan dasar setiap manusia. Bukan begitu? Bukankah seluruh orang pernah merasakan yang namanya cinta? Bukankah setiap orang butuh kehangatan pihak lain dengan cinta?

Kepedulian dan Solidaritas Seorang Muslim

3 Juni 2010 0 komentar

Gambaran untuk saling mencintai, kasih sayang dan saling menolong di antara orang-orang yang beriman adalah bagaikan satu badan. Jika ada anggota badan yang sakit maka yang lain juga turut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur di waktu malam
HR Bukhari dan Muslim
Tragedi Mavi Marmara sudah seharusnya membuka mata kita kepada masalah yang dihadapi umat ini, solidaritas. Kita sebagai umat Islam, umat yang satu. Sudah seharusnya bersatu. Mengapa? Karena kita bersaudara! Namun sekarang apa yang terjadi? Kaum muslimin yang ada di seluruh belahan dunia ternyata terpecah belah. Kita, kaum muslimin yang hidup saat ini, rupanya telah menutup mata terhadap apa yang terjadi dengan saudara kita yang lain di luar sana. Kita terlalu lalai memperhatikannya. Apakah itu adalah sikap muslim sejati? Apakah itu adalah sikap kaum yang mengaku bersaudara satu sama lain?