Memanfaatkan Waktu Ala Generasi Salaf

9 Oktober 2011 0 komentar

"Waktu akan semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah untuk kita lalaikan"
-Yahya bin Muhammad bin Hubairah, dicantumkan dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah I/281-
    Ibnul Jauzi rahimahullah, salah satu ulama kaum muslimin mengisahkan,
      “Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya melakukan kunjungan sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebut itu sebagai bentuk ‘pelayanan’. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan yang tidak berguna. Kadang diselingi dengan menggunjing orang lain.
        Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan di masyarakat kita sekarang. Terkadang acara itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diri pun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari raya ‘Id. Kita bisa melihat orang-orang saling mengunjungi ke rumah teman atau kerabatnya. Tidak cukup hanya dengan ucapan selamat dan sejenisnya, tapi mereka menyelinginya dengan membuang-buang waktu seperti yang saya paparkan.

Karena Masih Ada yang Lebih Berharga

8 Oktober 2011 1 komentar

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar...
(QS. Al Baqarah: 155)
Seorang lelaki bermuram durja karena masalah yang sedang dihadapinya. Merasa kesulitan, ia berharap mendapat solusi dari salah satu tabi’in yang mulia, Yunus bin Ubaid (wafat 139 H). Setelah lelaki gundah itu mengadukan segala kesulitannya, Yunus bin Ubaid pun berkata,
“Apakah engkau senang memberikan penglihatanmu untuk dibeli dengan seratus ribu dirham)” Laki-laki itu menjawab, “Tidak” Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan pendengaranmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak”. Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan lidahmu?” Laki-laki itu  menjawab, “Tidak”. Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan otakmu?” Dia berkata, “Juga tidak, meskipun sedikit” Lalu ia mengingatkannya pada nikmat-nikmat Allah yang lain atas dirinya.

Bagaimana Menyikapi Ketergelinciran dan Kesalahan Para Ulama

2 Oktober 2011 0 komentar
Sesungguhnya, wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati dan memuliakan para ulama, bersikap lapang dada terhadap perselisihan yang terjadi diantara mereka dan selainnya, serta memberikan udzur terhadap mereka yang melakukan kekeliruan di dalam keyakinan mereka
-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Majmû’ Fatawa wa Rosâ`il al-‘Utsaimîn (26/90-92)-
          Beberapa perselisihan ummat ini disebabkan oleh beberapa hal. Berbeda manhaj, beda madzhab, dan banyak perbedaan lainnya. Dan sekarang yang harus kita ikuti adalah manhaj salaf, manhaj (cara/jalan hidup) yang kita teladani dari pendahulu kita yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat serta yang mengikuti jalan mereka. Sebagaimana hadits,
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)