Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin: Hukum Merayakan Hari Ibu

22 Desember 2010 2 komentar
Pertanyaan:
Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 22 Desember. Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?
Jawaban:
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari'atkan adalah bid'ah dan tidak pernah dikenal pada masa para salafus shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka di samping itu bid'ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Hari raya-hari raya yang disyari'atkan telah diketahui oleh kaum muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum'at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan batil dalam hukum syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ,

Macam-macam Cinta

19 Desember 2010 0 komentar
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
-Hamka-
Cinta? Mau membicarakan tentang apa? Kisah cinta sinetron? Kisah cinta romantis dan dramatis? Atau happy ending? Tenang, cinta itu sangatlah luas. Sementara itu, bila cinta hanya dibatasi dengan cinta yang sering kita temui dalam roman picisan, maka hal itu tentu saja sebuah kesalahan yang besar. Karena dengan itu berarti cinta itu adalah ibadah kepada hawa nafsu. Na’udzubillahi min dzalik! 
            Pembatasan mengenai cinta itu benar-benar sebuah kesalahan fatal. Karena itu berarti bahwa pandangannya sempit dan hanya dari satu sisi. Bisa dari sisi sinetron, sisi roman picisan, atau sisi puteri Disney. Pernahkah kita berpikir bagaimana melihat cinta itu dari seluruh sisi sehingga kita bisa memahaminya secara sempurna? Karena pemahaman kebanyakan orang mengenai cinta di zaman sekarang begitu dangkal. Lalu, apa solusinya?

Membangun Identitas Peradaban

12 Desember 2010 0 komentar
Bukankah sebagai seorang muslim, maka kita harus memiliki sebuah identitas? Layaknya seorang pelajar yang tengah menghadapi ujian nasional. Apabila ia tidak memiliki tanda pengenal, kartu peserta, atau suatu hal yang menunjukkan identitasnya, maka apa yang terjadi? Bisa jadi pelajar itu tidak bisa mengikuti ujian nasional, minimal akan dipersulit.
            Begitu pula dengan kita, kaum muslimin. Sesungguhnya kita hidup di dunia ini adalah ujian. Dan apabila kita hidup tanpa suatu tujuan yang jelas, tanpa sebuah identitas yang menunjukkan “siapa kita, siapa mereka” di mata Allah dan di hadapan seluruh makhluk, maka apakah kita akan meraih sebuah hasil yang memuaskan? Hasil dari perjuangan, ibadah, dan kerja keras kita di dunia seumur hidup kita. Maka apakah kita mau nanti menjadi orang yang merugi? Na’udzubillah min dzalik.